Aris yang menikahi Sania harus menerima kenyataan bahwa Sania adalah perempuan keras kepala yang susah di atur.
Karena keras kepala Sania, akhirnya rumah tangga mereka jadi berantakan.
Sania hamil tanpa diketahui siapa yang menghamilinya. Hal itu membuat Sania merasa kotor di depan semua orang, termasuk suaminya, hingga Aris yang tulus mencintai Sania harus berjuang keras menyakinkan istrinya bahwa ia menerima Sania dengan keadaan apapun.
Tapi bagaimanakah kelanjutannya? Apakah Aris berhasil meyakinkan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
"Kita pulang dulu ya Del." Ucap Sandra melambaikan tangannya pada Adel yang mengantar mereka ke pintu gerbang.
"Iya hati-hati,, jangan sampai di culik sama supir taxinya!!" Ucap Adel terkikik.
Adel akan masuk kembali ke rumahnya ketika sebuah mobil hitam berhenti di dekatnya. 'Mobil siapa tuh?' Gumamnya menunggu seseorang turun dari mobil itu.
"Kak Amran!" Seru Adel begitu melihat siapa yang turun dari atas mobil.
"Kak Amran ada apa kemari?" Tanya Adel dengan gaya genitnya.
"Apa kakakmu ada di dalam!" Tanya Amran dengan suara khasnya.
'Ya Ela,, kenapa sih semua yang mengelilingi Kak Sania itu cowok ganteng semua? Kenapa gak ada satu pun yang tertarik sama aku?' Gumam Adel dengan kesal "Ada di dalam kok Kak."
"Apa dia baik-baik saja?" Lagi tanya Amran.
"Hmm, iya baik. Tapi dia ngidam macam-macam jadi setiap hari selalu membuat keributan." Ucap Adel.
"Sania hamil?" Amran mengerutkan keningnya.
"Kakak belum tahu?" Adel balik bertanya.
"Tidak."
"Emangnya Kakak juga gak tahu kalau Kak Sania udah menikah?"
"Menikah?" Amran begitu heran.
"Iya, Kak Sania udah menikah sama Kak Aris."
Amran terdiam mencernah ucapan Adel sebelum tanpa permisi kembali ke mobilnya dan tancap gas meninggalkan ruang mewah itu.
"Ya ampun, percuma ganteng kalo gak ada sopan santun!" Koreksi Adel atas sikap Amran yang seenaknya.
Adel kembali masuk ke dalam rumah dan mendapati Aris sedang berdiri di pintu kamar Sania memegang sebuah toples.
"Ngapain berdiri di situ Kak? Kenapa gak masuk?" Tanyanya.
"Oh, ini nunggu kakak kamu bukakan pintu." Jawab Aris dengan senyuman mempesonanya.
'Ya ampun senyuman Kak Aris adalah yang terbaik. Beda banget sama pria yang baru saja ku temui.' Ucap Adel dalam hatinya.
"Ya udah ya Kak, aku ke kamar dulu."
"Iya Dek." Ucap Aris memperhatikan gadis SMA itu menjauh darinya.
"Sayang, bukakan pintunya dong.." ucap Aris lagi sambil mengetuk pintu kamar Sania.
Pintu kamar Sania segera terbuka menampakkan Sania dalam gaun rumah berwarna biru muda dengan rambut basahnya. "Kenapa teriak-teriak? Aku baru saja mandi." Ucap Sania dengan raut wajah kesalnya.
"Sayang ini aku udah tangkap lalatnya. Memangnya mau diapakan?" Tanya Aris.
"Kamu nangkap lalat? Buat apa coba? Emang tidak ada kerjaan lain?" Tanya Sania kebingungan.
"Ya ampun sayang, kamu yang suruh aku tadi." Kata Aris dengan wajah pasrahnya.
"Kok kamu jadi nyalahin aku Mas?"
"Ehh,, nggak sayang, aku yang salah. Oh ya udah aku bantu kamu ngeringin rambutmu ya. Itu airnya udah netes kemana-mana."
"Ya udah, tapi bersihin dulu tangan kamu." Ucap Sania berjalan ke dalam kamarnya.
"Ok sayang."
"Hah,, Kak Sania benar-benar gak bersyukur ya dapetin suami ganteng plus baik kayak Kak Aris, masa dibentak sama di suruh-suruh gitu!" Ucap Adel dengan kesal lalu menutup rapat pintu kamarnya.
Aris sementara mengeringkan rambut Sania saat ponsel Sania berbunyi. Tertulis nomor tak di kenal di sana.
Nomornya berdering beberapa kali, tapi Sania tidak menghiraukannya.
"Sayang, itu ponsel kamu bunyi." Kata Aris.
"Biarkan saja." 'paling itu telpon dari Amran.'
"Tapi mungkin saja penting." Lagi kata Aris.
Akhirnya Sania meraih ponsel itu dan mengangkat telponnya.
"Halo?" Ucap Sania tanpa ada jawaban.
"Halo?" lagi ucapnya sebelum memindahkan ponselnya dari telinganya lalu memasukkannya dalam mode speaker.
"Silahkan bicara." Ucapnya lagi.
"Matikan saja Sayang. Mungkin orang iseng." Kata Aris ketika sudah lama dan tidak ada yang bicara dari dalam.
Sania segera menutup telpon itu membuat sang penelpon yang sedang duduk di ruang tamu apartemennya menjadi marah.
"Sialan!!! Sial!!" Teriaknya melempar ponselnya ke lantai.
"Aris! Beraninya kamu mengambil hakku!? Kamu akan tahu akibatnya!" Geram Amran lalu menoleh ke arah asistennya yang sedari tadi berdiri menunggunya.
"Aku mau Aris, suami Sania segera kalian lenyapkan!"
"Baik Tuan." Jawab sang Asisten.
"Apa lagi? Cepat pergi sekarang dari hadapanku!" Bentak Amran merasa sangat kesal.
Asisten itu segera berbalik dan kembali berhenti ketika Amran kembali berkata "Tunggu. Pesankan aku seorang wanita."
"Baik Tuan."
...
Hari ini Agus tidak pergi ke kantor, ia memilih bekerja dari rumah.
"Ayah." Ucap Sania memasuki ruang kerja Agus.
"Ada apa sayang?" Tanya Agus sambil melihat putrinya.
"Ayah aku ingin meminta sesuatu." Ucap Sania dengan manja seraya mendekat ke ayahnya.
"Apa yang putri Ayah inginkan hmm?" Tanya Agus.
"Ayah, aku ingin meminjam tangan ayah sebentar." Ucap Sania.
"Sayang, kau membuat Ayah ingin tertawa. Ini tangan Ayah," ucap Agus mengulurkan tangannya pada Sania.
"Terima kasih Ayah." Ucap Sania memegang tangan Agus dan menempelkannya ke perutnya.
"Hahaha.. kenapa kau tidak bilang dari tadi huh? Jadi cucu Ayah merindukan kakeknya ya.." ucap Agus tersenyum lepas.
"Maaf Ayah, pekerjaan Ayah jadi terhalang." Ucap Sania.
"Tidak masalah sayang, Ayah akan mengorbankan apa pun hanya untuk cucu Ayah.
'Ya Tuhan, maafkan Sania. Padahal Ayah sepertinya tahu kalau anak dalam kandunganku ini bukan anakku bersama Aris. Tapi Ayah tetap mau menerimanya dengan tulus.' Air mata Sania menumpuk di pelupuk matanya.
"Sayang, Ayah punya kabar bagus untukmu." Lagi Ucap Agus sambil terus menempelkan tangannya pada perut Sania yang sedikit membuncit.
"Apa itu Ayah." Tanya Sania dengan penasaran.
"Pokoknya kamu akan menyukainya, tapi kita harus menunggu suami kamu dulu."
"Ayah, jangan membuatku penasaran." Ucap Sania merengek.
"Tidak sayang, Ayah sengajah mengatakannya sekarang supaya kamu memikirkannya sampai suamimu pulang nanti."
"Ayah rese deh!"
"Sabar sayang, sebentar lagi Aris akan pulang. Ini sudah jam pulang SMP." Kata Agus tersenyum.
"Baiklah Ayah, aku akan menunggu saja." Ucap Sania tersenyum bahagia.
Tok tok tok...
"Masuk." Ucap Agus ketika seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
"Tuan, itu,, di bawah ada polisi." Ucap Bibi Sani dengan panik.
"Polisi Bi?" Tanya Agus mengerutkan keningnya.
"Iya Tuan, mereka mencari Tuan dan Non Sania." Lagi kata Bibi Sani.
"Ada apa yah Ayah?" Tanya Sania sambil berjalan dituntun Agus.
"Tenang sayang, mungkin ada sesuatu tentang proyek Ayah." Ucap Agus meski ia juga kaget kalau polisi sampai mendatanginya ke rumah.
"Selamat Siang." Ucap Agus ketika mereka sudah dekat dengan petugas.
"Selamat siang. Dengan Tuan Agus Loran Nyonya Sania Mandana? "
"Ya, Saya Agus Loran dan ini putri saya Sania Mandana, ada yang bisa kami bantu?"
"Begini Pak. Kami kemari untuk memberi tahu bahwa Aris Mandana Baru saja mengalami kecelakaan."
"Ap,, apa?" Sania segera meneteskan air matanya lalu seluruh badannya menjadi lemas dan terjatuh ke pelukan Agus.
"Sayang,," Agus segera menggendong putrinya lalu membaringkannya di sofa ruang tamu.
Ketika Sania terbangun, hanya ada Bibi Sani dan Adel yang menjaganya di kamarnya.
"Non, Non Adel sudah sadar." Ucap Bibi Sani merasa lega.
"Kak, bagaimana perasaan Kakak?" Adel juga ikut memegang tangan Sania.
"Bi,,," Adel segera bangun dan duduk.
"Iya Non, apa ada yang sakit Non?" Tanya Bibi Sani dengan panik.
"Bi, bagaimana Mas Aris Bi?" Tanya Sania dengan panik. Air matanya bercucuran deras di pipinya.
"Non jangan kuwatir, Nyonya dan Tuan sudah pergi ke rumah sakit. Mereka akan mengabari sebentar lagi."
"Tidak, aku harus ke rumah skait sekarang juga." Ucap Sania segera turun dari tempat tidur.
"Aduh Non, mohon jangan siksa bayi di perut Non. Tolong menunggu saja di sini." Bibi Sani menjadi panik.
"Iya Kak, kalau ponakan aku kenapa-napa bagaimana?" Adel sangat panik, apa lagi ia yang ditugaskan menghalangi Sania agar tidak pergi ke rumah sakit.
"Tidak. Pokonya aku harus pergi sekarang!" Sania mengabaikan dua orang yang sedang berceloteh untuk menahannya dan berjalan ke luar kamarnya.
'Mas, tolong baik-baik saja, aku akan segera menemuimu.' Gumam Sania dengan panik menuruni tangga.
semangat terus berkarya 👍
asal usul 2 keluarga yang tengyata memiliki kekuasaan belum dijelaskan
nasib Dokter Sanya juga gaada kelanjutannya