Menceritakan seorang gadis yang berusia 22 tahun yang bernama ASKIA PUTRI HUMAIRA, seorang muslimah cantik yang hidup dengan kesederhanaannya, memiliki sifat yang ceria dan ramah pada setiap orang.
Kehidupannya berubah saat dirinya dijodohkan dengan seorang pria yang tak pernah menganggap dirinya sebagai tempatnya pulang.
Berharap Cinta setelah menikah, malah poligami yang ia dapatkan.
Tiada hari tanpa Air mata.
Akankah dirinya bisa bertahan dengan pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-25
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Farhan terbangun dari tidurnya karna merasa kelaparan,
ia mengerjab kan matanya, keadaan apartemen ini masih sama seperti tadi sore, berantakan.
Farhan bangkit dari duduknya ia berjalan kearah dapur bermaksud untuk memasak,
ya... selama ia tinggal di apartemen ini Farhan sudah belajar memasak, hidupnya yang dulu mewah kini sudah tidak ada lagi, hidupnya yang dulu tak pernah sekalipun memegang peralatan dapur kini ia sudah sangat hafal dengan peralatan tersebut.
saat ia membuka lemari es itu tak ada satupun bahan yang bisa di masak di sana hanya ada sebotol air mineral yang ada, kembali ia menghela nafas nya, ia mengambil botol itu dan meminumnya hingga tandas.
Farhan menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya, ia mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersih kan tubuhnya yang sudah terasa lengket kembali.
Setelah beberapa menit ia keluar dengan pakaian sudah terganti, ia berjalan menuju ranjangnya namun matanya tanpa sengaja melihat beberapa amplop berwarna putih di atas nakas, ia mengambil amplop itu dan membuka salah satunya, ia membacanya kemudian ia mengenal nafasnya kembali, ya itu adalah surat listrik yang sudah menunggak selama hampir 5 bulan, dan ia kembali mengambil amplop lainnya dan di sana ia bisa melihat di sana juga ada surat penunggakan air dan lainnya, kemudian ia menjatuhkan dirinya di atas ranjang, mata nya menatap langit langit kamarnya menerawang jauh kedepan.
Tak terasa sebening kristal mengalir dari pelupuk matanya,
seumur umur seorang tuan muda Farhan menjatuhkan air matanya.
sungguh kali ini dia sangat menyesali dengan keputusan nya dulu yang memilih Nara dan lebih meninggalkan Askia yang tulus hidup bersama nya.
Ia kembali meneteskan air matanya saat semua perlakuan dan kata kata kasar yang selalu keluar dari mulut nya mencaci Askia,
dan saat kedua orang tua nya membuangnya begitu saja karna kesalahannya telah memilih Nara,
perempuan yang berstatus istrinya, perempuan yang ia pikir akan mencintai dan menerima nya dalam keadaan apa pun, namun ia salah sungguh kesalah yang besar, Nara tidak benar benar mencintai nya melainkan mencintai harta dan uang nya.
Farhan menghapus air matanya, ia meraih ponsel yang ada di atas nakas dekat dengan ranjangnya,
ia mencoba menghubungi istrinya namun tak ada jawaban, bahkan kali ini nomor itu sudah tidak aktif lagi.
Farhan menghela nafas, kemudian ia menghubi nomor yang telah lama ia tak hubungi,
dengan ragu ia memanggil nomor tersebut, hingga sambungan itu tersambung.
"Mama,"
______
Pagi hari nya.....
Kediaman HERMANSYAH
"Sayang, jangan lupa salam buat bunda nya Nia yah??" ujar Ummi Rini di sela sela makan mereka.
"Iya, insya Allah Mi, nanti Kia sampaikan" sahut Kia sambil sesekali menyuapi makan kedalam mulut keponakan kecil nya Rara.
"Pinter, Rara hari ini Rara main sama aunty ya??" ujar Askia. gadis kecil itu mengangguk dengan antusias.
"Dek Rara biar kakak bawa saja" ujar Nor.
"Tidak apa apa kak, biar Kia aja yang menjaga nya, kakak dan bang Samir pergi lah ke malaysia untuk mengurus pekerjaan disana" sambung Askia.
"Tapi.."
"Yang di katakan Kia benar, kamu dan Samir pergilah nak, Rara biar Kia yang jaga, lagian di sini juga ada Ummi dan Abi kan" ujar Ummi Rini tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, maaf merepotkan adek" ujar Nor tak enak hati.
Setelah selesai sarapan, mereka mengantar samir dan Nor ke bandara, dan setelah kepergian mereka Askia berpamitan untuk mengunjungi Nia kerumah nya dia juga membawa Rara bersama nya.
Tak beberapa lama perjalanan Askia sampai di rumah Nia.
"Assalamu'alaikum" ujar Askia di depan rumah yang berlantai dua itu.
"Wa'alaikumsalam Kia..." sahut seseorang dari dalam seraya membukakan pintu.
"BUNDA!!" ujar Askia langsung memeluk bunda dari sahabatnya itu denan erat.
dan di balas dengan penuh senyum oleh bunda Nia yang bernama Sinta.
"Bunda sangat merindukan Kia, udah lama Kia tidak mengunjungi bunda" ucap bunda Sinta setelah melepaskan pelukannya.
"Maaf bunda, akhir akhir ini Kia sibuk, Kia juga sangat merindukan bunda, oya bunda ummi juga mengirim salam pada bunda" sahut Kia.
"Benarkah?? Wa'alaikumsalam" sahut bunda Sinta.
"Eh ada Rara juga, hallo sayang" sapa bunda Sinta pada gadis kecil yang ada di sebelah Askia.
"Hallo oma" sahut gadis kecil itu dengan suara manisnya.
bunda Sinta langsung menggendong gadis kecil itu.
"Ayo masuk nak, Nia ada di dalam dia sedang bersiap siap" Askia melangkah masuk mengikuti bunda Sinta dari belakang.
Tak berapa lama Nia turun dari tangga, sejenak mereka berbincang bincang, kemudian mereka berpamitan pada bunda Sinta dan kemudian mereka menuju ketempat yang sudah di janjikan.
Sedangkan di tempat lain..
untuk pertama kalinya selama hampir satu tahun ini ia pergi dan kini kembali menginjakan kakinya di depan rumah orang tuanya.
Dengan perasaan gugup Farhan mengetuk pintu rumah itu dan tak lama pintu itu terbuka dan muncul lah seorang wanita setengah baya yang masih terlihat cantik yang selama ini sangat ia rindukan.
Air bening yang sejak tadi ia tahan keluar tanpa persetujuan darinya.
Begitu juga dengan wanita yang ada di hadapannya juga meneteskan air matanya, semarah marah nya ia terhadap putra nya, kembali lagi ia tetap seorang ibu yang telah melahirkan anaknya.
"Al" ujar mama Wina langsung memeluk putra nya dengan erat.
begitu juga dengan Farhan ia membalas pelukan mama nya.
"Mama, maafkan Al" ujarnya lirih.
"Iya sayang.. mama udah maafin kamu" ujar Wina setelah melepaskan pelukannya pada Farhan.
Ia menatap putra satu satu nya ini dengan tatapan sedih, berat badan anaknya telah menurun sangat drastis bahkan kantong matanya terlihat sangat jelas.
ia meraih wajah putranya dan kembali air matanya terjatuh.
"Siapa mah pagi pagi yang da..." ucapan Papa Alex terhenti saat melihat sosok yang ada di hadapannya.
"Kenapa kamu disini??" ujar Papa Alex dengan nada yang tidak suka.
"Papa!! Kenapa papa bicara seperti itu?? Al anak kita wajar jika dia kesini" ujar Wina.
"Anak?? Apa selama hampir setahun ini dia menganggap kita sebagai orang tuanya??" tanya Alex menunjuk kearah Farhan.
"Papa, maafin Al pah, Al tahu Al salah pah, Al udah ngecewain papa dan mama, Al udah membuat papa dan mama malu sama keluarga Abi Herman, Al benar benar minta maaf pah" Ucap Farhan dengan tulus pada Alex, bahkan ia bersimpuh di kaki sang ayah dengan derai air mata.
Wina yang melihat sang anak yang sudah sadar akan kesalahannya pun ikut menangis.
Alex yang melihat itu memejamkan matanya, Sebenarnya ia tidak tega melihat keadaan sang putra seperti saat ini ia tahu selama ini ia sudah kejam terhadap putra nya, ia memblokir seluruh aset yang di miliki putra nya bahkan ia membuat anaknya tidak di terima di berbagai macam pekerjaan, itu ia lakukan sebagai hukuman agar membuat sang anak sadar mana yang baik dan buruk untuk darinya.
Walapun ia telah menghukum putra nya itu tidak berarti ia tutup mata terhadapnya, ia tahu betul bagaiman selama ini putra nya itu menjalin hidupnya saat bersama Nara, ia tahu tahu semua nya.
Ia meraih tubuh putra nya itu, "Bangunlah nak, papa sudah memaafkan mu" ujar Alex memeluk putra nya.
"Nak papa dan mama sudah lama memaafkan mu, papa dan mama melakukan ini semua demi kamu, agar kamu bisa melihat mana yang baik dan yang buruk untuk mu" sambung Alex setelah melepas pelukannya.
"Iya, Al tahu pah, dan sekarang Al sadar kalau Nara itu selama ini bukan mencintai Al melainkan mencinta uang Al dan sekarang Al menyesali semua itu, Al menyesal udah mengambil keputusan yang salah" ucap Farhan.
"Nak besok cobalah menemui Askia dan minta maaf lah pada nya, karna selama ini dialah yang kau sakiti" sambung Wina mengelus pundak putra nya.
"Baik mah Al akan coba menemui nya dan meminta maaf pada nya".
"Lalu, bagaimana hubungan mu dengan Nara??" tanya Alex.
"Al akan mengugat nya besok sesuai keinginan nya pah" sahit Farhan.
Mereka hanya menganggukkan kepalanya, kemudia Wina mengajak mereka masuk kedalam.
BERSAMBUNG......
jangan lupa tinggalkan jejak kalian sayang sayangku 😘 😘 😘 TERIMAKASIH
Humaira yg Sabar yah...
Lanjuuut Thooor..