Bagaimana jadinya jika seorang wanita yang mengidam-idamkan seorang laki-laki sudah sekian lama, tiba-tiba saja ia bisa menikahi laki-laki tersebut, apakah ia bisa mendapatkan hatinya atau kah semuanya hanya cerita sesaat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TISSA TTS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memaksa Ke Pesta
Akhirnya Lara bisa benar-benar tertidur pulas, kali ini Rigo tak mengganggu istirahat Lara.
"Benar-benar sial!" Desis Rigo dengan menatap Lara yang berbaring di atas sofa kamar hotel, ia segera membawa ponsel yang berada si saku celananya menekan tombol panggilan.
Memanggil: Kakek Tua Bangka
"Kakek!"
"Mana Lara?" Sahut Kakek Alban tak membiarkan Rigo berkata terlebih dahulu.
"Dia sakit!" Jawab Rigo.
"Sakit?" Kakek Alban terkejut
"Apa yang kau lakukan, kenapa bisa sakit, kau tidak menjaganya dengan baik?" Kakek Alban mencoba menginterogasi cucu kesayangannya itu.
"Menyebalkan sekali, kau lebih peduli pada wanita sialan itu di bandingkan dengan cucumu sendiri!" Rigo terlihat mendesah kesal.
"Wanita sialan katamu? dia itu istrimu Rigo, jangan berkata seperti itu pada istrimu sendiri!" Sebuah peringatan untuk Rigo dari Kakek Alban.
Rigo hanya memutar kedua bola matanya mendadakan ia tidak terima dengan ucapan sang Kakek.
"Mana istrimu aku ingin bicara dengan nya!" Perintah Kakek Alban.
"Dia sedang tidur!"
"Tidur??"
"Kakek, aku sudah bilang dia sedang sakit!"
"Bagaimana dia..?" Pertanyaan Kakek Alban terpotong.
Kali ini Rigo tak memberi jeda pada kakek Alban.
"Aku ingin menjelaskan hal ini, tapi kakek terus saja memotong penjelasanku, berkata kesana kemari, tolong dengarkan aku dulu kakek tua!"
"Cucu kurang ajar!" Kakek Alban terlihat kesal, Tapi akhirnya dia pun mengalah membiarkan Rigo menjelaskan.
"Wanita itu sakit..!"
"Wanita?" Kakek Alban tidak terima.
"Katakan dia istrimu!"
Rigo menghela Nafas.
"Terserah padamu! dia sakit, dia bilang sakit kepala dan sakit perut, sepertinya semalam dia meminum kopi milikku, akibatnya lambungnya yang kena, dia bilang tidak sanggup jika harus datang ke acara pesta!"
"Ini bukan akal-akalanmu kan Rigo!"
"Tentu saja bukan, untuk apa aku repot-repot membuatnya sakit, dia sehat saja aku sangat kerepotan!"
"Tut, tut. tut!"
"Dasar kakek tua! Seenaknya menutup telepon!"
***
Waktu menunjukkan pukul 12.00
Lara masih terlihat meringkuk di atas kursi.
Ia mengerjapkan matanya ketika Kakek Alban datang kekamar hotel dengan membawa seorang dokter.
"Dia akan baik-baik saja tuan!" Ucap Dokter setelah memeriksa kesehatan Lara.
"Apa anda yakin dokter!" Kakek Alban masih ragu.
"Saya sudah memberikan suntikan obat untuk menurunkan asam lambungnya!" Setelah itu Dokter juga meresepkan obat untuk Lara dan memberikannya pada Rigo.
Setelah Dokter meninggalkan kamar hotel.
Lara terlihat bangun dari tidurnya, ia menyandarkan punggungnya di atas sofa.
"Kakek maaafkan aku, aku membuat kakek khawatir!"
"Tidak apa-apa Lara!" Kakek Alban menatap iba pada Lara.
"JIka laki-laki ini berbuat hal yang tidak menyenangkan, katakan saja pada kakek, kakek pasti akan membuat perhitungan!"
Lara Menggangguk, dengan wajah pucatnya menatap Rigo dengan penuh kemenangan.
"Apa yang berandalan ini lakukan padamu hingga membuat kau sakit begini Lara?"
"Apa dia yang menyuruh mu tidur disini?"
"Dia tidak memberi makan?"
Lara tidak menjawab.
"Dasar pengadu!" Ucap Rigo dengan menatap kesal pada Lara.
"Apa maksudmu, Aku tidak mengatakan apapun!" Lara masih bisa Protes di tengah-tengah rasa sakit nya.
Kakek Alban menggelengkan kepalanya.
"Jika terjadi lagi hal seperti ini, kau membiarkan istrimu tidur di sofa, dan kau tak memberinya makan!" Aku pastikan akan menghajarmu dengan kedua tinju ku ini.
"Tidak, tidak kakek, aku.. aku!" Mendengar Lara berkata, Rigo melebarkan kedua matanya, memberi kode untuk tak menjawab perkataan kakek, seketika Lara membisu.
"Pastikan kedua tinju mu itu bertenaga kakek tua!"
Kakek Alban berjalan mendekati Rigo, mengepalkan satu tangannya ke arah muka Rigo.
"Cukup untuk mematahkan hidungmu tuan muda!"
"Akan aku nantikan kakek tua!"
"Lara, Kakek pergi dulu, jangan segan menghubungiku jika dia kurang ajar padamu!"
"Baik kakek, terimakasih banyak kakek sudah kemari!"
Terlihat kakek Alban melangkahkan kakinya keluar kamar, di ikuti dengan sakertarisnya yang sedari tadi berdiri di dekat pintu.
"Permisi tuan!"
"Pastikan kakek tua itu memakan obatnya!" Perintah Rigo pada sekertaris kakeknya.
"Baik tuan!"
Hubungan kakek Alban dan Rigo memang seperti itu, saling memaki jika bertemu tapi diam-diam saling memperhatikan.
Sebetulnya Acara pesta akan di Cancel oleh kakek Alban, tapi karena Lara merasa tidak enak, jadi Lara mengatakan akan datang ke acara pesta, pesta yang akan di mulai jam 08.00 malam nanti, dan tempatnya pun berada di ballrom hotel tempat Rigo dan Lara menginap.
"Kau bisa berdiri?"
"Tentu saja bisa, sakit seperti ini tidak akan membuatku lumpuh!" Jawab Lara.
"Pergi ke meja makan!" Perintah Rigo.
"Untuk apa?"
"Kau tidak lihat kakek tua bangka ke sayanganmu itu membawa begitu banyak makanan, itu tugasmu untuk menghabiskannya!"
Lara menatap ke arah meja makan.
" Ya tuhan!" Lara terkejut melihat meja makan ber isi berbagai makanan, Nasi, sayuran, lauk pauk, buah, buah-buahan, puding, cheescake, roti coklat dan makanan lainnya yang membuat isi dapur telihat penuh.
"Bagaimana mungkin aku menghabiskannya sendirian, itu juga tugasmu tuan Rigo!"
"Aku tidak meminta nya!"
"Cepat makan!" Rigo memberi perintah dengan kasar.
Lara menatap kesal ke arah Rigo.
"Kau lihat aku sedang sakit tuan Rigo, bisa tidak bersikap manis sedikit saja, mendengarmu bicara membuat kepalaku tambah pusing!" Lara kemudian berjalan ke arah meja makan, di meja makan bukannya memasukan makanan ke dalam mulutnya, Lara hanya menatap makanan dengan tatapan kosong.
"Makanan itu tidak akan pernah bisa masuk ke dalam mulutmu jika kau hanya menatapnya seperti itu Nyonya!" Rigo tak berhenti ber komentar.
"Biasanya aku sangat bersemangat jika melihat kue Cheese Cake itu, tapi melihatnya saja membuat aku mual sekarang, aku sangat sedih!" Ucap Lara.
"Kau harus tetap makan, apa kau ingin aku di marahi si tua bangka itu lagi?"
Lara menatap ke arah Rigo, raut wajahnya menyeringai.
"Aku sangat menantikannya, kau di marahi habis-habiskan oleh kakek!"
"Kau sudah gila!"
****
Lara dan Rigo terlihat sedang bersiap di kamar hotelnya di bantu oleh MUA Profesional yang memang sudah di pesan sebelumnya.
Olesan make up telah menempel pada wajah Lara, ia pun telah memakai gaun pernikahan yang sederhana namun terlihat elegan membuat Lara sangat anggun di buatnya.
"Nona Anda sangat cantik!"
"Terimakasih!" Ucap Lara menyeringai, wajah pucatnya kini bahkan tertutupi oleh riasan yang menempel pada pipi nya.
Dua pasang mata terlihat memperhatikan ke alah Lara, namun tanpa sebuah komentar
"Bisa cepat?"
"Kakek tuamu dari tadi menelepon, aku sangat risih!"
"Crewet sekali!" Ucap Lara dengan suaranya yang masih terdengar Lemas.
"Ayo!"
Setelah itu perias pengantin berjumlah 3 orang itu ikut mengekor di belakang Lara dan Rico, memegangi gaun Lara yang bagian bawahnya mengenai Lantai.
"Kenapa memlih gaun panjang begini? merepotkan sekali!" Protes Rugi di dalam lift.
"Jangan protes padaku, bukan aku yang memilih!"
"Bisa tidak jangan berbicara dulu, aku tidak punya tenaga untuk berdebat denganmu, kau ingin aku pingsan disini!" Protes Lara merasa kesal.
"Pingsan saja, biar lebih mudah membuangmu!"
Tubuh Lara tiba-tiba berguncang, kepalanya berat kembali, ia hampir ambruk, Rigo segara menahannya.
Perias pengantin hanya tersenyum memperhatikan nya.
"Merepotkan sekali!"
"Diam, atau aku pingsan di sini!"
padahal tiap hari diintip