💐💐 NOTED DARI AUTHOR, HATI - HATI DARAH TINGGI KALO BACA NOVEL INI💐💐😜
***
Mencintai dan Dicintai
Menyakiti dan Tersakiti
---
Malik dan Kania, disatukan dalam perjodohan namun tidak dalam suatu tekanan. Menerima dengan lapang dada perjodohan yang dilakukan oleh Kakeknya Malik atas dasar bakti pada sang kakek.
Tak ada benci pada awalnya meski butuh waktu saling menerima hingga rasa cinta diantara mereka mulai tumbuh dan bersemi.
Namun badai sedikit demi sedikit mulai menghantam mahligai rumah tangga mereka.
Akankah Malik dan Kania berpisah pada akhirnya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emaknya Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AC – 25
Happy reading ...
----
“Wakil aku!. Kamu pindah posisi jadi wakil aku di Perusahaan ini.” Ucap Malik pasti. “Kamu jadi wakil aku sekarang.”
Kania membulatkan matanya.
“Apa?!.” Tak percaya dengan pendengarannya. “Ga salah ngomong kamu, M?.”
“Engga!.” Sahut Malik.
“Jadi wakil kamu?.” Kania memastikan ucapan Malik. “Lalu Dimas?.”
“Kenapa dengan Dimas?.”
“Kalau aku jadi wakil kamu, kasian Dimas dong aku geser posisinya.”
“Apa sih kamu, Sayang?.” Malik terkekeh.
“Ish, malah ketawa. Aku lagi serius ini.” Protes Kania.
“Dimas itu tangan kanan aku. Orang kepercayaan aku. Bukan Wakil CEO.”
“Lah bedanya apa?.”
“Dia seksi repot!. Udahlah pokoknya mulai sekarang kamu jadi wakil aku di Perusahaan ini. Titik.”
“Terus?.”
“Terus, terus awas nabrak.” Malik berdiri sambil setengah terkekeh. “Ayo kita liat ruangan kamu.”
“M, aku belum selesai ngomong ih!.” Protes Kania kala Malik mulai menarik pelan tangannya, menggandeng ke ruangan yang tadi dia bilang.
“Nanti aja aku jelasinnya.” Ucap Malik sembari menggiring Kania ke sebuah ruangan yang dekat dengan ruangan pribadinya.
“Halo Ibu Wakil Direktur.” Sapa Dimas yang sudah berada di ruangan tersebut. “Gimana suka ga sama ruangan barunya?.”
“Bukannya ini ruang meeting pribadi kamu, M?.”
“Tadinya. Sekarang ini jadi ruangan kamu.”
“Em Dimas.” Panggil Kania pada tangan kanan suaminya itu.
“Ya?.”
“Kalo aku jadi wakilnya Malik, terus kamu gimana?.”
“Maksudnya?.” Dimas gagal paham dengan pertanyaan Kania. Ia menoleh pada Malik, bertanya juga maksud dari istri Bos merangkap sahabat itu dengan kepalanya.
“Kania pikir dia menggeser posisi lo!.” Ucap Malik.
Dimas nampak sedikit terkejut, namun kemudian laki – laki itu terkekeh.
“Ada – ada aja lo Kania. Gue bukan wakilnya Malik lah.”
“Nah terus?. Selama ini kan kamu selalu dampingin Malik, Dim?.”
“Justru itu, gue ini tim horenya suami lo itu. Bukan wakilnya.”
Malik tersenyum pada Kania. “Nah kan, udah aku bilang tadi.”
“Malik selama ini memang ga punya wakil resmi di Perusahaan.” Dimas mulai menjelaskan. “Karena gue ini udah cukup sebenarnya.”
“Oh gitu. Terus kenapa sekarang kamu jadikan aku wakil kamu, M?.” Ucap Kania seraya bertanya pada Malik.
“Karena laki lo takut istrinya diambil orang.”
“Hah?.” Kania bingung dengan ucapan Dimas.
“Ga usah didengerin.” Sahut Malik.
Dimas terkekeh. “Bos gue ini cemburu Kania, sama cinta pertama lo itu yang di kantor cabang Bandung. Makanya dia ga mau lagi lo di regional. Jadilah posisi wakil CEO diterbitkan.”
“Beneran M?.” Kania terkejut dengan penjelasan Dimas. “Sampe segitunya.” Kini ia ikutan terkekeh.
Malik menatap sebal pada Dimas dan Kania. “Terserahlah!. Pokoknya kamu sekarang wakil aku, Kania. Suka atau tidak suka.”
“Ya ampun sayang, kamu cemburu sama Andro?.” Kania menangkup wajah Malik, lupa kalau ada Dimas disitu.
“Aish, ini pasangan suka seenaknya kalo mau mesra – mesraan.” Dimas menggerutu dalam gumamannya. “Okelah pasangan yang sedang dimabuk asmara, gue keluar dulu.”
Kania seketika menoleh pada Dimas. “Ehehe, sorry Dim. Lupa ada kamu.” Ia terkekeh.
“Sama aja lo sama laki lo, suka pamer kemesraan.” Ucap Dimas sambil berlalu.
Kania masih terkekeh. “Iya maap, maap.”
“Yuk ah.” Dimas pun berlalu meninggalkan Malik dan Kania di ruangan Kania yang baru.
Kembali pada Malik dan Kania yang sudah tinggal berdua.
“Masih ga percaya ternyata ya sama aku?.” Ucap Kania menatap Malik mencari kebenaran dimanik mata suaminya yang sedang menggunakan kacamata saat itu.
“Hanya berjaga – jaga.”
Malik merengkuh pinggang Kania. Menatap istrinya yang kini sudah melingkarkan kedua tangan dilehernya.
“Bapak Malik Abraham ini ternyata cemburuan toh.” Ucap Kania setengah terkekeh.
“Baru tau?. Mau marah?.”
Kania malah terkekeh geli sambil menutup mulutnya dengan satu tangan, sementara satu tangan lainnya masih bergelayut manja dileher Malik.
“Apanya yang lucu?.” Tanya Malik
“Kamu!.” Jawab Kania. “Kamu cemburu gini malah lucu, Sayang.”
“Dasar.” Malik memencet pelan hidung Kania.
“Tapi aku bahagia kalau kamu cemburu.” Ucap Kania sambil tersenyum. “Berarti cinta kamu beneran sama aku.”
“Kamu nih. Masih aja meragukan perasaan aku.” Sahut Malik.
“Hanya memastikan.”
“Jadi cemburu aku sudah cukup menjadi bukti?.”
“I love you.” Kania mengecup bibir Malik, membuat laki – laki itu tersenyum bahagia.
“I love you more.” Sahut Malik lalu giliran ia yang mencium Kania. Hanya sebentar, karena sadar mereka masih di kantor.
Hari masih panjang, Malik pun menjelaskan segala hal tentang jabatan Kania sekarang. Laki – laki itu setidaknya kini bisa merasa tenang dengan Kania yang menjadi wakilnya di Perusahaan.
Jadi Kania tidak akan ada kontak langsung dengan pria yang bernama Andro itu.
“Untuk sementara itu saja dulu ya, Sayang? ....” Ucap Malik sesaat setelah menjelaskan beberapa hal pada Kania.
“Oke, Pak Bos. Terima kasih atas penjelasannya.” Ucap Kania sambil tersenyum memandangi suaminya.
Malik tersenyum, membelai sayang kepala Kania. “Ya udah aku tinggal dulu kalau gitu ya?, kalau ada apa – apa kamu langsung masuk aja ke ruangan aku.”
“Siap Bos.” Sahut Kania.
“Love you.” Malik mengecup pucuk kepala Kania lalu bergegas kembali ke ruangan pribadinya.
“Love you more.” Sahut Kania.
---
Author’s POV on
Beberapa bulan dilewati dengan bahagia oleh Malik dan Kania dalam pernikahan mereka. Menjalani rutinitas pun tak banyak yang berbeda. Berjalan seperti biasa. Sering berkencan, pergi ke tempat – tempat layaknya orang pacaran. Karena sebelum menikah mereka tak melewati fase itu.
Meski ada waktu tiga bulan sebelum pernikahan mereka dulu, namun jarang sekali kedua orang itu bertemu. Pergi berdua bisa dihitung dengan jari, itupun selalunya hanya sekedar duduk di Coffee Shop tak banyak mengobrol. Tanpa kemesraan, hanya rasa canggung. Sekedar mengikuti saran para orang tua untuk sering – sering pergi bareng agar tercipta chemistry diantara keduanya.
Dijodohkan, meski tanpa ada cinta sejak awal, namun juga Malik dan Kania tak membenci satu sama lain. Mereka ikhlas menerima permintaan Kakek Abraham yang menginginkan adanya pernikahan diantara mereka berdua.
Menerima dan menjalani kehidupan rumah tangga dengan ikhlas, membuat Malik dan Kania menjadi terbiasa dengan kehadiran satu sama lain, hingga cinta datang menghampiri keduanya.
Menikmati tiap waktu kebersamaan dengan rasa bahagia dan menumbuhkan rasa saling percaya.
Author’s POV off
---
“Udah ada tanda – tanda Malik Junior coming soon belom?.” Tanya Dimas saat dia dan Malik sedang berada di satu Coffee Shop dalam salah satu Mal di Jakarta selepas meeting dengan salah satu kolega Perusahaan Abraham.
“Belum.” Sahut Malik. “Gue juga ga buru – buru kok. Sekasihnya aja dari Yang Diatas.”
“Hmm.”
“Mending lo nikah sono. Mumpung si Kania belum hamil. Jadi bisa bantuin nanti.” Celetuk Malik.
“Hahahaha.” Dimas tergelak.
Malik menatapnya malas.
“Bukannya mikir, malah ketawa.” Ucap Malik yang sebal pada laki – laki di depannya itu.
“Nikah, pacar aje gue ga punya!.”
“Ya cari makanya sono. Ga usah sok sibuk sama kerjaan!.”
Lagi – lagi Dimas tergelak.
“Yuk ah jangan lama – lama. Kasian Kania nanti nyariin gue.”
“Ca elah. Bucin... Bucin....”
“Bucin sama istri sendiri, justru lebih bagus kan?.”
“Ya ..... ya .... Asal Bos bahagialah!.”
Malik tersenyum tipis mendengar ucapan Dimas. Mengedarkan sebentar pandangannya ke sekeliling.
“Btw Lik, dia pernah hubungin lo lagi sejak lo nikah?.”
“Siapa?.” Malik menjawab namun tak menoleh pada Dimas. Laki – laki itu seperti sedang menegaskan pandangannya.
“Ya ilah, belaga lupa apa lupa beneran?.” Goda Dimas. “Itu Ri....” Dimas tidak melanjutkan ucapannya karena Malik bersuara lagi.
“Rika? ....” Malik menyebutkan sebuah nama.
“Iya Rika. Dia pernah hubungi lo lagi sejak lo nikah?.” Dimas masih bertanya. “Woy!.”
Malik sedikit terkejut dan langsung menoleh pada Dimas. “Lo ngomong apa barusan?.”
“Haduuuh, ni orang. Pasti lagi ngelamun yang mesum – mesum ama si Kania.” Dimas terkekeh, karena Malik nampak sedang melamun tadi.
“Sembarangan aja lo!.”
“Ya abis gue ajak ngomong lo malah ngelamun.”
“Ya udah yuk ah. Balik ke kantor sekarang.” Malik berdiri dari duduknya setelah mengkode pelayan untuk membawakan tagihan atas minuman mereka.
Dimas pun bergegas berdiri dan mengikuti Malik setelah Bos sekaligus sahabatnya itu membayar minuman.
Rika .... kamu ada di Jakarta sekarang?. Batin Malik.
-----
TBC ....
Dlu wajar Kania marah dan kecewa tp dia Menghindari masalah itu yg disesali dari Kania, kalau masih cinta dan perluas diperbaiki kenapa tdk dioertahankan krn pada dasarnya Malik tdk menyentuh Erika, tp Kania memlih mengakhiri dan menghindar. kalau masih mencintai kenapa cari org lain utk pelampiasan itu namanya kamu menyakiti org lain dan melibatkan Jhon dalam masalah mu padahal hati kamu belum move on. seandainya Kania sdh ikhlas dgn perpisahan dan sdh move on barulah memulai hubungan baru bukan cari pengganti dan pd akhirnya kau menyakitinya yg ga tahu masa lalumu.
mntul thorr
smngtt trz thorr dg karya" nya dn sukses sll
trlepas malik da,alsn mnikhi rika ...hrsny jgn lh ap pun itu alsn nya sm sj mnghkianati prnikh ny dg kania... mna ad istri d madu dsarr mlik egois dn muna