"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"
Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.
Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jual
Samuel telah melakukan pengulangan ini sebanyak 21 kali. Dua puluh satu siklus yang membakar habis kewarasannya hingga mentalnya benar-benar hancur lebur.
Kini, ia kembali terlempar ke dalam ruang hampa serba putih—gerbang pembatas antarwaktu. Di tempat ini, Samuel sudah bersiap untuk memulai siklus kencan hambar berikutnya bersama Riza. Melalui puluhan pengulangan yang melelahkan itu, Samuel memang berhasil mengenal Riza jauh lebih dalam. Bahkan, pada beberapa siklus terakhir sebelum ini, ia sempat mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk mengutarakan perasaan yang sesungguhnya kepada wanita itu. Namun, cinta di dalam lingkaran waktu terkutuk ini tidak lebih dari sekadar pelarian semu.
Di tengah kesunyian ruang putih itu, sebuah langkah kaki terdengar pelan. Sosok ibu Samuel muncul, berjalan mendekat ke arah anaknya yang sedang duduk termenung.
"Samuel... Oh, Samuel..."
Samuel yang sedang melamun mendongak. Matanya membelalak seketika. "I-ibu...?"
Wajah ibunya tampak dirundung kesedihan yang amat mendalam. Samuel terkejut, namun tubuhnya terlalu mati rasa untuk memberikan respons kehidupan yang lain. Saat sang ibu kian mendekat, Samuel memaksa kakinya untuk berdiri. Mereka kini saling berhadapan.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Samuel, memecah keheningan ruang astral.
"SAMUEL! Apa kau tahu arti dari namamu?!" Suara ibunya bergetar, air mata mulai luruh membasahi pipinya. Tanpa menunggu jawaban dari bibir anaknya yang kelu, wanita itu terisak, "Harapan..."
Tangis sang ibu pecah hingga tubuhnya terduduk lemas di lantai. Samuel tersentak. Rasa bersalah mendadak menusuk dadanya. "Ibu... kenapa, Bu? Samuel gak kenapa-napa kok, Bu," bisiknya, mencoba menenangkan.
Namun, saat Samuel menoleh ke sebelah kiri, jantungnya kembali mencelos. Di sana, duduk sesosok pria dengan pembawaan yang sangat tenang. "Ayah...?"
Berbeda dengan sang ibu, ayahnya menatap Samuel dengan pandangan yang dalam namun teduh. "Samuel... apakah kau sadar dengan apa yang telah kau perbuat selama ini?"
Samuel terbungkam, tidak mampu menjawab.
Ibunya kembali bersuara di sela tangisnya, "Samuel, anakku... Akhir-akhir ini, di setiap pengulangan waktu, kau hanya hidup di dalam kekosongan. Kebenaran memberikanmu kekuatan ini bukan untuk tujuan sepele seperti ini!"
Mendengar kalimat ibunya, sekat pertahanan di dada Samuel jebak. Rasa frustrasi dan trauma yang ia pendam selama 21 lini masa mendadak meledak menjadi amarah yang beringas.
"Bukan untuk ini?! Lantas untuk apa?!" bentak Samuel, napasnya memburu brutal. "Setiap kali aku menggunakan kekuatan bajingan ini, aku selalu tersiksa! Ketika aku mencoba bercerita kepada orang lain, aku dihujat gila! Cuma Ahmad yang percaya, tapi apa balasannya?! Bahkan saudaraku sendiri diancam! Dan Mas Dimas... orang yang selama ini aku anggap sebagai ayah kandungku sendiri, ternyata adalah musuh utamaku!"
Samuel melangkah maju dengan tubuh gemetar hebat. "Kalau dunia ini pada dasarnya adalah pertukaran yang setara, maka apa yang aku alami ini sama sekali tidak setara! Apanya yang setara, hah?! Haha... Terkurung selama empat hari di dalam ruangan gelap, kelaparan, dan dikelilingi oleh mayat-mayat yang membusuk! Lalu apa? Kalaupun aku berhasil menyelesaikan kasus ini, apa untungnya?! Hukum pertukaran setara akan tetap berjalan, kan?! Siapa lagi yang bakal mati kali ini?! ORANG BERHARGAKU LAGI! Hahahahahaha! Gila... Dunia ini memang gila! Hahahahaha!"
Seiring dengan hancurnya kondisi mental Samuel, distorsi ruang astral mulai terjadi. Energi hitam pekat menguar dari tubuhnya. Perlahan, wujud manusia Samuel terkoyak, terdistraksi secara mengerikan hingga ia bermutasi menjadi sosok monster bayangan yang menyeramkan—manifestasi dari rasa sakit dan stres pascatrauma yang menggerogoti jiwanya.
"Samuel..."
Panggilan lembut dari ibunya memecah kegelapan itu. "Samuel, ingatkah kau saat masih berumur lima tahun? Kau pernah mengatakan hal yang sangat mirip dengan apa yang kau ucapkan saat ini. Waktu itu kau bilang: 'Enggak adil... kalau ini yang Ibu maksud setara, kenapa Kakak dan aku dapat mainan yang sama?'" Ibunya tersenyum tulus, menatap sang anak tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Sang ayah menyambung, berdiri dan mendekat. "Samuel... mungkin Ayah dan Ibu jarang ada di dalam kehidupanmu. Tapi Samuel, dunia ini memang tidak adil, itu sebuah kebenaran. Dan apakah ketidakadilan itu setara? Iya. Di dunia ini, kita selalu butuh mengorbankan sesuatu untuk ditukarkan dengan sesuatu yang lain. Tapi bukan berarti kau harus menyerah dan bersembunyi di dalam garis waktu."
Pelan-pelan, wujud monster yang menyelimuti tubuh Samuel menyusut. Ia kembali menjadi manusia biasa, lalu jatuh berlutut. Tangisnya pecah sejadi-jadinya. Samuel menangis histeris, meluapkan seluruh emosi, rasa lelah, dan beban berat yang selama puluhan siklus ini ia pikul seorang diri. Di tengah tangisan itu, kedua orang tuanya maju dan mendekap tubuh Samuel erat-erat.
Di dalam dekapan hangat yang sudah sangat lama tidak ia rasakan, ibunya berbisik, "Jual kekuatanmu kepada Ibu... Sebagai gantinya, kau tidak akan lagi terikat oleh takdir ataupun kutukan waktu ini selama satu bulan penuh."
Samuel tersentak di dalam pelukan. Ia mendongak dengan mata sembap. "Aku... aku bisa melakukan itu?"
Ibu dan ayahnya tersenyum hangat, lalu mengangguk serentak. "Ya, kau bisa."
Mendengar jawaban itu, secercah harapan yang sempat mati di dalam diri Samuel mendadak menyala kembali. Sinar di matanya yang redup kini kembali tajam. Ia memiliki satu kesempatan terakhir untuk menyelesaikan konspirasi ini dengan tangannya sendiri, sebagai seorang manusia utuh, tanpa bayang-bayang kutukan pertukaran setara.
"Kalau begitu... aku jual," ucap Samuel mantap.
Sesaat setelah kalimat itu terucap, ruang serba putih di sekelilingnya retak dan hancur berkeping-keping bak kaca yang dipukul gada.
Wush!
Samuel tersentak bangun, napasnya tersengal-sengal di atas kasur rumah sakit. Bau antiseptik menyengat indra penciumannya. Kali ini, rasa lelah dan kepasrahan di wajahnya telah hilang total. Samuel mengepalkan kedua tangannya yang kuat.