NovelToon NovelToon
SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Patahhati / Perjodohan / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:75k
Nilai: 4.9
Nama Author: Nieyha

Perkenalkan namaku Jovan. Sedari kecil aku hanya memiliki seorang Ibu yang biasa ku panggil Mak Silah. Kata Emak ayahku meninggal di usia 7 bulan aku dalam kandungan.

Dengan hidup kami yang serba kekurangan. Aku bisa melanjutkan pendidikan karena rekomendasi beasiswa dari seseorang. Tapi aku tak tahu siapa seseorang yang telah berjasa dalam hidupku.

Hingga suatu saat aku jatuh cinta dengan anak orang kaya. Namanya Jessy. Gadis cantik dengan sejuta pesona. Dialah orang yang selalu menganggapku ada dari sekian banyak orang menganggapku seperti tak nampak.

Namun secara terang-terangan emak meminta aku untuk menjaga jarak dengannya karena papanya meminta aku menjauhinya. Kalau ingin beasiswa dan pendidikanku tetap berlanjut. Karena kenyataan yang ku dapat, ternyata papa Jessy lah seseorang yang berjasa dalam hidupku itu.

Adilkah ini untukku Tuhan? Penasaran bukan dengan kelanjutan kisah hidupku? Yuk kepoin 👉👉👉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nieyha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 JOVAN TAK SADARKAN DIRI

Jessy turun dari dalam taksi. Setelah memberikan beberapa lembar uang kertas pada Pak sopir. Beruntung Bagas hanya merampas ponselnya. Tidak dengan tasnya. Kalau sampai tasnya pun di ambil mau bayar apa dia?

Sengaja memilih taman sebagai tempat tujuannya adalah karena disitulah Jessy merasa ketenangan. Di tempat itulah dari sejak SD Jessy selalu merenung. Kalau dulu soal orang tuanya yang tiap hari uring-uringan. Sekarang soal Bagas yang membuatnya tidak nyaman.

Dan hal yang tidak mungkin membuat ia langsung pulang ke rumah adalah pasti Bagas langsung ke rumah menemuinya. Ia sangat malas bertemu Bagas saat ini. Setelah apa yang dilakukannya tadi secara paksa.

Tanpa mengedarkan pandangan terlebih dulu, ia memilih duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon. Berharap orang lain tidak akan menemukannya. Disitulah Jessy menangis sejadi-jadinya.

Hingga tak menyadari seseorang menyodorkan sebuah sapu tangan miliknya. Jessy malu, segera mengusap air matanya tanpa melihat siapa orang yang memberinya sapu tangan.

"Menangislah jika itu membuatmu lebih tenang!", suara itu sangat Jessy hafal betul.

Ia mendongak ke atas. "Jo....?", ucapnya menggantung.

"Apa aku boleh duduk?", tanyaku. Melihat Jessy seperti itu aku tak tega.

Jessy mengangguk sambil terus terisak. Tanpa sadar ia bersandar di bahuku sambil meluapkan semua isi hatinya. Menceritakan semua perlakuan tentang Bagas yang membuatnya tidak nyaman.

Aku merasa risih. Baru pertama kali ini ada gadis yang tanpa jijik bersandar di bahuku. Namun aku juga tidak menolak. Aku takut menyinggung Jessy dn menganggap aku tak simpati pada masalah yang dihadapinya.

Jessy terus bercerita tanpa meminta pendapatku. Dan aku memang tidak ada hak untuk menasehatinya. Siapa aku? Lagipula aku tahu ini urusan pribadinya dengan Bagas dan keluarga mereka yang sepakat menyatukan mereka.

Flash back on.

Tadi Dodi ke rumahku mengajakku ke sebuah taman untuk melihat pertandingan bola volly. Ia menjemputku dengan motornya.

Meski Dodi sering bersepeda ke sekolah tapi untuk hal tertentu ayahnya mengizinkannya untuk mengendarai motor. Seperti sore ini. Karena yang bertanding bola volly adalah sepupu Dodi.

Setelah bubar pertandingan itu, aku melihat sosok yang sangat aku kenal duduk sendirian di sebuah kursi panjang.

Untuk memastikan sosok itu, aku mendekatinya setelah pamit bersama Dodi. Tadinya Dodi ingin ikut denganku, tapi karena tahu itu adalah Jessy, Dodi mengurungkan niatnya.

Dan dia pamit pulang lebih dulu dan segera pergi dengan sepupunya.

Flash back off.

"Maaf Jo, ceritaku sedikit ngelantur!", ucap Jessy setelah sadar sejak tadi bersandar di bahuku.

"Tidak apa-apa. Mungkin bisa membuatmu lega. Aku siap mendengarnya".

"Terimakasih Jo! O ya kenapa kamu bisa disini?", tanya Jessy.

Dan aku menjawab dan menjelaskan kepada Jessy mengapa aku disini. Kami menghabiskan waktu untuk bercerita semasa SD. Bagaimana kami awal bertemu, Jessy menjadikanku sahabatnya dan memanggilku dengan sebutan Kak Jo.

Namun sekarang gadis itu sudah sangat nyaman memanggilku dengan sebutan nama. Dan itu sangat membuatku nyaman.

Di rumah.

Terlihat Bagas kesal menunggu Jessy karena hampir maghrib belum juga kembali pulang. Ia masih menunggu di rumah Jessy sambil mondar mandir. Sambil merutuki kebodohannya yang telah merampas ponsel Jessy hanya karena mendapat pesan dari Amel.

Karena hanya dengan ponsel itulah Bagas bisa mengetahui dimana keberadaan Jessy kekasihnya. Namun bukan Bagas namanya kalau tidak dengan licik.

Ia bisa dengan mudah mendapat informasi dari para sahabatnya yang tersebar dimana-mana. Seperti saat ini, ia mendadak mendapat panggilan dari Andi.

Andi dengan sengaja memberitahu keberadaan Jessy. Dengan mengirimkan foto Jessy sedang bersandar di bahu seseorang. Meski tidak terlihat dengan jelas siapa pemilik bahu itu karena foto di ambil dari kejauhan.

Bagas yang hafal pakaian apa yang dikenakan Jessy tadi membuatnya sangat yakin Andi tidak sedang berbohong padanya.

Itulah Andi. Sengaja membuat keruh hubungan Bagas dengan Jessy. Karena prinsipnya kalau ia tidak bisa bersama orang yang dia suka, maka Bagas pun juga tidak boleh bahagia.

Di taman.

Mereka berdua masih asyik mengobrol. Meski hari sudah mulai senja. Tapi pertemuan mereka seakan tidak rela berakhir.

Jessy secara terang-terangan bercerita alasannya mendiamkanku selama di sekolah. Sampai sebuah pertanyaan dariku yang menanyakan apa maksud Jessy memberikan kalung waktu itu.

Tapi belum sempat mendapat jawaban, sebuah tangan meninju wajahku dari arah samping. Membuatku jatuh tersungkur karena tanpa persiapan. Dan Bagas tiba-tiba datang dari arah belakang.

Bagas masih melayangkan tinjunya lagi. Sementara aku yang babak belur karena mendapat pukulan bertubi-tubi, disitulah Jessy histeris.

Hendak menolongku namun lengannya berhasil di cengkeram oleh Bagas. "Jangan coba-coba Lo ganggu cewek gue tengil! Sekali lagi Lo bersama Jessy, tamat riwayat Lo!", ancam Bagas sambil menunjuk diriku.

Aku yang masih kesakitan, mencoba untuk bangkit. Namun karena diriku yang sangat lemah ini tiba-tiba pandanganku menjadi buram dan aku sama sekali sudah tak ingat apa-apa lagi.

Dan entah berapa lama aku pingsan. Karena aku membuka mataku sudah berada di sebuah kamar yang tak asing bagiku. Ya, aku terbaring di kamar Dodi.

"Nak, kamu sudah sadar?", terlihat ibu Dodi pertama kali menanyaiku dengan mata berbinar. Tampak ketulusannya sangat mengkhawatirkanku.

Lalu aku menoleh ke kanan, disitu ada Dodi dan ayahnya sedang tersenyum padaku. Sambil tangannya mengelus lenganku.

"Ini jam berapa? Kenapa saya bisa berada disini?", tanyaku pada ibu Dodi.

Kemudian Dodi bercerita ia menemukannya dalam keadaan pingsan. Karena ketika dirinya pamit pulang, sebenarnya ia tidak pulang dan malah menuruti sepupunya yang minta di traktir semangkuk bakso olehnya.

Setelah cukup kenyang dan hendak pulang, barulah sepupunya tersadar kalau tasnya tertinggal di gedung dekat taman tadi. Sehingga mengharuskan Dodi putar arah dan mengambil tas itu kembali.

Ketika mengambil tas, ia malah mendapati aku sudah terkapar tak sadarkan diri. Sehingga Dodi meminta bantuan ayahnya untuk menjemput menggunakan mobil.

Dan membawaku ke rumahnya untuk di periksa dengan memanggil dokter pribadi keluarga kakeknya.

"Ini jam delapan malam. Lebih baik kamu tidur disini saja biar aku yang mengabari emakmu!", ucap Dodi.

"Boleh aku minta tolong? Jangan bilang keadaanku pada Emak. Beliau pasti akan sedih. Bilang saja aku hanya menginap disini", pintaku.

Dodi mengangguk dan hendak pergi ke rumahku. Karena belum ada ponsel atau telepon di rumahku. Yang mengharuskan Dodi harus kesana malam-malam begini.

Langkah Dodi berhasil di cegah ayahnya. "Biar ayah saja yang kesana, sekalian ayah mau membeli tanaman hias di daerah sana".

"Maaf merepotkan Pak!", ucapku merasa tidak enak.

Ayah Dodi seakan tahu apa yang aku rasakan. Dia pun menjawab. "Tidak perlu merasa sungkan. Anggap saja aku juga orang tuamu!", pintanya. Sungguh aku sangat berterimakasih dipertemukan dengan keluarga ini.

1
Inyoman Raka
belajar lah menerima kintan jo drpada ngejar janda hehe
Inyoman Raka
thor bahusan kintan sama jovan nya, dripad sajessyi
Inyoman Raka
lebih baik dicintai dari pd mengejar org yg vak membalssss cintamu
Inyoman Raka
anak dibawah umur jangan nyetir thor
Inyoman Raka
jopan cepat dewasa ya
Inyoman Raka
bagus ,tapi terlalu miskin yg diangkat
abdan syakura
Good Jovan!!
Baarakallahu fiika
abdan syakura
Assalamu'alaikum
mampir kak...
Tp ..awalny sdh menderita....
😭😭😭😭😭
Alamsyah
Luar biasa
Alamsyah
Lumayan
zoro
sedihh siott. bagi jessy kat aku
zoro
kinta bagi dgn aku je
zoro
bagi je lah kintan dgn aku
zoro
sedihh dowh
zoro
guys tutut tu apa ????
Tarfin Alfa Rizky
hambar
Haryoso
bagus
LANANG MBELING
bentar lagi cerai lagi
LANANG MBELING
kalo bagian ini khayalannya terlalu thor wkwkwkkw
Miksiba Andri
aku mbrebes mili....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!