Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Lagi
"Halah, itu aturan kamu, bukan aturanku. Sekarang cepat berikan saja," bentak Dewi.
"Mbak, tetap nggak bisa," jawab Naresta dengan tenang. "Terserah Mbak mau marah atau tidak. Tapi saya tidak bisa memberikan utang lagi sebelum utang yang sebelumnya lunas."
Mendengar suara Dewi yang semakin keras, Dimas refleks mundur selangkah dan bersembunyi di belakang tubuh Rina.
Rina langsung menggenggam tangan suaminya untuk menenangkannya.
Sementara itu, Elvan yang sedang berdiri di dekat rak roti juga tampak ketakutan. Ia perlahan berjalan mendekati Naresta, lalu berdiri di belakang istrinya sambil menundukkan kepala.
Melihat pemandangan itu, Dewi mengernyitkan dahinya.
"Ini apa lagi?"
Pandangannya menyapu ke arah Rina dan Dimas.
"Oh..."
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis.
"Jadi lagi reunian penyandang autisme, ya?"
Rina sontak memeluk lengan Dimas yang mulai gemetar.
Sementara Elvan semakin menundukkan kepalanya.
Naresta yang mendengar ucapan itu langsung menghela napas panjang.
"Mbak Dewi."
"Apa?"
"Tolong jaga ucapan Mbak."
"Loh, memangnya saya salah?"
Dewi menunjuk ke arah Elvan dan Dimas.
"Memang mereka berdua penyandang autisme, kan?"
"Iya."
"Ya berarti saya nggak bohong."
Naresta menatap Dewi dengan wajah yang mulai serius.
"Yang salah bukan karena Mbak mengatakan mereka penyandang autisme."
"Lalu?"
"Yang salah adalah cara Mbak mengatakannya, seolah-olah kondisi mereka adalah bahan ejekan."
Suasana toko mendadak menjadi sunyi. Rina hanya bisa memeluk suaminya lebih erat, sementara Elvan berdiri di belakang Naresta dengan tangan yang mulai bergetar.
"Suara Mbak membuat mereka takut," ucap Naresta sambil melirik ke arah Elvan dan Dimas yang sama-sama tampak ketakutan.
"Siapa suruh berkeliaran di toko?" balas Dewi dengan nada ketus.
"Mereka tidak berkeliaran."
"Lalu ngapain di sini?"
"Mereka hanya membeli roti."
Dewi mendengus pelan.
"Alah, alasan saja."
Naresta menggeleng.
"Bukan alasan, Mbak."
Ia menunjuk ke arah rak roti yang berada di dekat Dimas.
"Mereka datang sebagai pelanggan, sama seperti Mbak."
"Terus kenapa?"
"Berarti mereka berhak mendapatkan pelayanan yang sama. Tanpa dihina, tanpa ditertawakan, dan tanpa dibuat takut."
Rina menggenggam tangan Dimas yang masih bersembunyi di belakangnya.
Dimas terus menundukkan kepala. Bahunya tampak sedikit gemetar karena suara Dewi yang keras.
Naresta kembali menatap Dewi.
"Mbak boleh marah kepada saya karena masalah utang. Tapi jangan libatkan mereka. Mereka tidak ada hubungannya dengan persoalan kita."
Suasana di dalam toko kembali hening. Aya yang sejak tadi menata barang pun menghentikan pekerjaannya. Semua orang menunggu bagaimana Dewi akan menanggapi ucapan Naresta.
"Kalau nggak mau dihina, jangan dibawa keluar, dong," ucap Dewi tanpa rasa bersalah.
Naresta menghela napas pelan. Ia menatap Dewi dengan sorot mata yang mulai dipenuhi kekecewaan.
"Suami Mbak sesempurna apa, sih?" tanya Naresta pelan.
Dewi terdiam sesaat.
"Sampai Mbak merasa berhak menghina suami orang lain?"
Dewi langsung mengerutkan dahinya.
"Loh, kok jadi bawa-bawa suami saya?"
"Karena Mbak terus membandingkan."
Naresta melanjutkan dengan tenang.
"Memangnya suami Mbak tidak punya kekurangan?"
Dewi tidak menjawab.
"Atau jangan-jangan, suami Mbak memang manusia paling sempurna di dunia?"
"Tidak ada manusia yang sempurna."
"Nah, itu jawabannya."
Naresta menatap Dewi tanpa sedikit pun meninggikan suara.
"Kalau suami Mbak saja punya kekurangan dan tetap Mbak cintai, kenapa Mbak tidak bisa menghargai suami saya dan suami Mbak Rina?"
Rina yang mendengar ucapan itu menundukkan kepalanya. Tangannya menggenggam erat tangan Dimas.
Naresta melanjutkan,
"Mas Elvan dan Mas Dimas memang penyandang autisme. Tapi mereka juga suami yang dicintai oleh istrinya. Jadi, tolong berhenti menganggap mereka tidak pantas berada di luar rumah hanya karena kondisi yang mereka miliki."
Suasana toko kembali hening. Dewi hanya terdiam sambil mengepalkan tangannya, sementara Elvan dan Dimas masih berdiri di belakang istri mereka dengan wajah yang dipenuhi rasa cemas.
Naresta menarik napas pelan, berusaha tetap menahan emosinya.
"Sekarang, lebih baik Mbak pergi."
Dewi menatapnya tajam.
"Maksud kamu mengusir aku?"
"Iya. Saya juga berhak menjaga kenyamanan pelanggan lain."
Naresta melirik ke arah Rina, Dimas, dan Elvan yang masih terlihat tegang.
"Mereka datang ke sini untuk berbelanja, bukan untuk mendengar hinaan."
Dewi mendecak kesal.
"Berani juga kamu sekarang."
Naresta tetap berdiri tegak di belakang meja kasir.
"Dan satu lagi. Saya tidak akan memberikan utang lagi sebelum utang yang lama dilunasi. Selama sisa utang Mbak yang satu juta rupiah itu belum dibayar, saya tidak bisa memberikan utang baru."
Wajah Dewi memerah karena menahan amarah.
"Kamu akan menyesal!"
Naresta tersenyum tipis.
"Saya hanya menjalankan aturan toko. Aturannya berlaku untuk semua pelanggan tanpa terkecuali."
"Cih!"
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan melangkah keluar dari toko.
Kring!
Suara bel pintu kembali terdengar saat Dewi meninggalkan toko.
Barulah suasana di dalam toko perlahan kembali tenang. Naresta mengembuskan napas panjang, lalu menoleh ke arah Rina, Dimas, dan Elvan.
"Maaf ya, sudah membuat kalian tidak nyaman."
Rina menggeleng pelan.
"Bukan salah Mbak. Terima kasih... karena sudah membela kami."
Naresta tersenyum lembut kepada Rina.
"Tidak usah berterima kasih."
Rina menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Itu memang sudah tugas saya. Kita semua sama. Sama-sama ingin melihat orang yang kita sayangi merasa aman."
Rina mengangguk pelan sambil mengusap sudut matanya.
"Terima kasih, Mbak Naresta."
Naresta hanya membalas dengan senyum hangat, lalu menoleh ke arah Elvan. Pria itu masih berdiri di belakangnya dengan kepala tertunduk.
Naresta mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas, lalu membukanya.
"Mas."
Elvan perlahan mengangkat wajahnya.
"I-iya... S-sayang?"
"Minum dulu, Mas."
Naresta menyerahkan botol air itu ke tangan suaminya.
"Tidak apa-apa. Aku di sini.Jangan takut, ya."
Elvan menerima botol itu dengan kedua tangan yang masih sedikit gemetar.
"M-makasih... S-sayang..."
"Iya."
Naresta mengusap pelan lengan Elvan untuk menenangkannya.
"Tidak ada yang akan menyakiti Mas."
"Aku akan selalu menjaga Mas."
Mendengar itu, Elvan mengangguk pelan.
"I-iya..."
Di sisi lain, Rina menatap pemandangan tersebut dengan haru. Ia kemudian menoleh kepada Dimas yang masih tampak cemas.
"Mas Dimas."
Dimas perlahan mengangkat kepalanya.
"Minum dulu, ya."
Dimas mengangguk kecil.
"I-iya..."
Suasana toko yang sempat tegang perlahan kembali hangat. Aya yang melihat semuanya dari kejauhan tersenyum tipis, merasa lega karena keadaan akhirnya kembali tenang.