NovelToon NovelToon
The Brides Of Alves (Menikahi Tuan Arogan)

The Brides Of Alves (Menikahi Tuan Arogan)

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Badboy / Tamat
Popularitas:198.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Cewen

Raavero Alves ... Pengacara tampan, maskulin, angkuh, obsesif dan agresif, melakukan dua kesalahan fatal dalam hidupnya. Dia menikahi Rania Alexander untuk sebuah kesepakatan damai dan membawa pulang mantan kekasihnya ke Kediaman Alves, dua hari selepas pernikahannya dengan Rania.

Rania Alexander ... Seorang Wedding Planner. Dia gadis angkuh, cantik, ambisius dan pantang menyerah berjuang untuk menolak pernikahannya dengan Raavero. Dia sedang membangun karirnya dan muak pada pria.

Sementara sang mantan kekasih, berusaha untuk menempatkan kembali posisinya seperti semula saat masih menjadi kekasih Raavero.

Perang dingin di antara keduanya, ditambah sikap anti-pati Ibunda Raav pada Rania, memperburuk keadaan.

Raavero berada di antara dua pilihan, di antara tiga wanita dengan kerumitan mereka masing-masing. Dia hanya harus memilih satu di antara keduanya. Wanita yang dia cintai atau wanita yang melahirkan puterinya?


***********************************************
Dengan rendah hati mohon kritik dan sarannya untuk Author agar lebih baik lagi dalam menulis.

Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, favorit, share, vote agar Author lebih semangat menulis. Makasih untuk dukungannya.

by Senja Cewen...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Cewen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25 Malam Penuh Tragedi...

"Oh ... betapa aku ingin menghabiskan masa tua di tempat ini," ucap Pieter penuh syukur sembari menghirup udara segar khas pedesaan. "Terima kasih, Rania. Kamu telah meluangkan waktumu dan menemani ayah kemari," lanjutnya menerima secangkir kopi dari Rania.

Dari tepian gelas, Pieter menghirup aroma kopi. "Hmmmm, menakjubkan. Udara segar, pemandangan asri ... ini pasti hari terbaik dalam hidupku. Kita bisa panjang umur, jika disuguhi pemandangan seperti ini tiap pagi."

Pieter tak berhenti mengucap syukur. Pria itu lantas duduk di kursi santai depan Vila. Rania kembali dari dalam dapur. Ada teko teh dan tiga buah cangkir di tangannya.

"Mengapa Ayah mulai minum kopi pahit? Tekanan darah Ayah mungkin akan kembali tinggi!"

"Kata orang kopi manis membunuh dan kopi pahit menyelamatkan," sanggah Pieter kembali menyeruput kopinya. "Aaakkkhh, luar biasa damainya jiwaku."

Mereka berada di sebuah pedalaman terpencil. Setelah menyelesaikan 'prewedding'- nya bersama Andrew, Rania memutuskan memenuhi permintaan sang Ayah untuk liburan bersama selama sepekan. Mereka akhirnya berkendara 5 jam menuju sebuah desa terpencil tanpa jaringan internet dan hidup damai sudah hampir 4 hari.

Vila yang mereka sewa berupa pondokan kecil beratap alang-alang dengan view sebuah sungai jernih dan pematang sawah yang hijau. Petak-petak sawah berjejer sejauh mata memandang diselingi pepohonan kelapa, sungguh mempesona. Air sungai sangat jernih dan beberapa jenis ikan terlihat hilir mudik di dasarnya.

"Kakak Ipar, aku dapat satu!"

Summer menjerit riang mengangkat hasil tangkapannya dan memamerkannya pada Rania.

Gadis itu meloncat-loncat kegirangan. Dia seakan-akan baru saja berhasil memancing sebongkah berlian. Saking bahagianya, tanpa sengaja ia melompat ke dalam lengan kekar Don Huan, membuat Pria itu salah tingkah. Rania memperhatikan keduanya dari teras vila. Mereka seperti orang yang sedang jatuh cinta. Oh, jangan sampai terjadi. Margareth akan menyulitkan keduanya.

"Mengapa Summer ikut denganmu? Apa Margareth ijinkan kamu membawanya serta? Margareth sangat membenci kita," tanya Pieter mengangguk ke arah Summer.

Summer melompat turun dari pelukan Don Huan dan menjauhinya. Wajahnya kemerah-merahan.

"Summer memaksa, Yah" sahut Rania. "Aku tak ingin dia ikut. Aku takut sesuatu yang buruk menimpanya dan aku akan disalahkan lagi. Hubunganku dengan Raavero membaik dan itu bagus untuk kami berdua. Aku sayang padanya."

Bayangan Raavero terlukis dalam benak Rania. Empat hari tak melihat pria itu, Rania benar-benar tersiksa.

Kejujuran Rania tidak mengejutkan Pieter. Pieter mungkin tahu kedua anaknya itu saling menyukai. Mereka cuma butuh waktu untuk meluruskan kesalah-pahaman.

"Apa kita perlu mempercepat liburan ini dan segera balik agar kamu bisa bersama suamimu? Ataukah kalian bertiga boleh pulang. Ayah masih ingin menikmati kedamaian ini. Aku berharap Alexander dan Alves bisa kembali bersahabat seperti dulu," ujarnya penuh harapan.

"Ayah ... bisakah ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi dulu? Aku harus tahu begitupun Raavero. Apakah kesalah-pahaman ini akan diteruskan pada anak-anak kami?"

Pieter menghela napas panjang. Rania mulai mengungkit peristiwa kelam itu lagi.

"Aku ingin liburan yang tenang dan damai, Rania. Semoga arwah Robertus beristirahat dalam kedamaian abadi," tukas Pieter Alexander seraya membuat tanda salib. Pria itu masih tidak ingin bicara padahal Rania sangat ingin tahu.

"Raavero sedang menyelidiki kasus ini sekarang. Dia menuruti kehendak Ayah. Aku pikir Raav juga ingin tahu kebenarannya," beber Rania membuat Ayahnya terkejut.

"Benarkah?"

Rania menuangkan teh ke dalam cangkir dan meneguk sedikit.

"Dia sedang mengumpulkan bukti, Yah. Pria yang di penjara sepertinya bukanlah pembunuh sesungguhnya. Pria itu hanyalah alibi seseorang. Namun, seseorang di sini, pasti punya dunia dalam genggamannya. Itulah mengapa Raavero sedikit kesulitan."

"Yah itu benar, bukan dia pelakunya. Soal ini, Margareth lebih tahu. Aku harap, dia terbuka pada Raavero, sehingga Raavero bisa menemukan pembunuh sesungguhnya." angguk Pieter membuat Rania kaget.

"Apa maksud Ayah? Aku tak mengerti," tanya Rania heran.

"Malam itu, Margareth ditemukan bersama jasad Robertus dan ditangannya terdapat senjata untuk membunuh Robert. Margareth-lah tersangka utamanya, akan tetapi Ayah Margareth menyewa orang lain untuk menyelamatkan Puterinya itu. Aku juga yakin bukan Margareth pembunuhnya. Meskipun, Robertus menyakitinya secara luar biasa, wanita itu tetap mencintainya. Margareth hanya telah difitnah," urai Pieter mulai membuka kembali kisah tragis malam ketika Robertus tewas. Pieter menyeruput kopinya yang sisa sedikit, seakan hendak mengumpulkan semua ingatannya kembali.

"Robertus punya banyak wanita simpanan. Kamu tahu, Rania ... perawakan Robertus rupawan persis Suamimu itu. Robertus kaya, tampan, royal, matang dan digilai banyak wanita. Dia kemudian kecanduan, hingga membuatnya terlibat banyak masalah. Untungnya dia punya banyak uang. Jadi, dia terus hidup bergelimang wanita sampai dia bertemu seorang gadis lugu bernama Lisa. Emmm, Lisa itu muda belia, cantik seperti malaikat dan berasal dari kalangan kelas atas. Keduanya lalu jatuh cinta.

"Lisa begitu terpedaya pesona Robertus, sehingga mengabaikan status Robertus yang telah memiliki istri dan juga anak. Mereka diam-diam merajut cinta dan kemudian dia melahirkan seorang Putera. Margareth sungguh terpukul kala itu, tetapi tak sanggup ambil tindakan. Dia sedang punya balita, Summer. Ini Menyedihkan. Aku sama sekali tak menolong Margareth," Pieter tersenyum kecut.

"Ayah Lisa yang merasa malu dan terhina atas kelahiran di luar pernikahan itu, menjadi sangat marah. Dia mengusir Lisa juga Anak Lisa dari rumahnya. Robertus lantas membawa Putera Lisa pada Margareth, sementara Lisa hilang tanpa jejak. Kemungkinan Lisa dimaafkan dengan syarat membuang Puteranya itu dan Lisa dibawa keluar negeri oleh Ayahnya. Beberapa isu beredar, wanita itu gila dan berada di Rumah Sakit Jiwa." Pieter berhenti sejenak, merenung sebelum melanjutkan kisah itu.

"Beberapa tahun kemudian, terjadi penyerangan dan perampokan di rumah Robertus. Aku kebetulan ada di sana malam itu. Robertus memberiku banyak uang karena berhasil mengurus semua wanita-wanitanya."

"Mengurus wanita-wanitanya?" sela Rania ingin tahu.

"Yah, Ayah memberi mereka banyak uang 'tutup mulut' dan menyuruh mereka mulai hidup baru tanpa boleh menyebut nama Robertus. Itu memalukan.

Robertus akhirnya akan bertobat dan hidup damai bersama ketiga anaknya dan Margareth. Mereka berencana memulai ulang dari awal. Jadi, aku diundang untuk merayakan keputusan hebatnya itu. Kami agak mabuk malam, jadi aku tak ingat persis kejadiaanya. Aku memilih pergi ke lantai dua untuk berbaring. Tengah malam, terjadi keributan dan aku terlalu mabuk untuk bangun. Ku pikir itu cuma mimpi. Lalu Raavero menangis Ketakutan dan membangunkanku. Robertus telah meninggal dengan banyak luka tusukan dan Margareth memegang senjata mengerikan itu di tangannya. Putera kedua mereka menghilang. Meskipun, Polisi telah menemukan pelaku dan memenjarakannya, hingga kini pembunuh sebenarnya masih misteri."

"Lalu mengapa Ayah merampok harta Raavero?"

"Aku tergiur. Ibumu terus mengeluh tentang uang. Jadi, aku ingin buat dia terkesan. Aku mengarang cerita tentang kata-kata wasiat Robertus sebelum meninggal, menjadi Ayah angkat Raavero dan mengelolanya hingga Raavero Alves berumur 17 tahun. Aku membawa kalian tinggal di Kemah Alves. Ingat? Robertus punya banyak harta dan aku adalah partner bisnis, teman, saudara dan orang kepercayaannya. Faktanya, dia memang menitipkan padaku untuk mengurus Margareth dan anak-anak, jika dia lebih dulu meninggal. Aku kebetulan tahu tiap jengkal harta, properti mereka. Itu kesalahan dan mengingatnya, aku benar-benar merasa sangat buruk."

"Apakah kemungkinan Putera kedua itu diculik oleh Kakeknya?"

"Tak ada yang tahu. Aku sempat menduga, Ayah Margareth menculik anak itu. Tetapi, tak mungkin beliau membuat Puterinya sebagai pembunuh. Non sense-lah. Kemungkinan Ayah Lisa, tetapi aku tak yakin. Mereka telah membuang Putera Lisa dan menganggapnya sudah mati. Anak laki-laki itu tidak terekspos sebagai Putera gelap Robertus. Dia adalah Putera Kedua Margareth. Kalau tak salah namanya James."

"Selama ini ku pikir Ibu Margareth lari keluar negeri karena Ayah Raavero jatuh bangkrut."

"Yah, itu cerita bohongku padamu. Aku tak mungkin menceritakan kisah perampokan dan pembunuhan itu. Aku sendiri merampok harta Raavero. Raavero selalu curiga padaku. Dia selalu bertanya mengapa aku tak menyelamatkan orangtuanya di malam itu? Aku mabuk akibat terlalu banyak minum," cerita Pieter Alexander sedih.

"Ketika kasus ini dibuka kembali, aku mungkin akan diperiksa juga. Ada isu bahwa aku berada dibalik kematian Robertus. Akulah penyebab Robertus meninggal," pungkasnya penuh beban.

"Aku yakin suatu saat kebenaran akan terungkap, Ayah."

"Semoga Raavero menemukan sesuatu!" Pieter menimpali penuh harap.

"Don, Sam, hey ... kemarilah! Teh-nya nanti dingin!" seru Rania.

1
✨Susanti✨
bagussss
widya widya
Baca ulang... Baca ulang
widya widya
Baca ulang karena kangen sama Author.. blm ada karya baru
widya widya
Baca ulang karena kangen sama Author
Nurlaela
selalu terpukau dengan karya2 senja cewen..mengaduk2 perasaan..bikin terharu, sedih, bahagia dan cinta..lengkap rasanya
Nurlaela
paling benci dg karakter laki2 yg plin plan...
bunga cinta
dan tamat
bunga cinta
tapi boong
bunga cinta
cieeee
bunga cinta
balik ke sini lg
bunga cinta
miris
bunga cinta
Luar biasa
bunga cinta
Lumayan
bunga cinta
suka
bunga cinta
alurnya keren
iwndoareoxk
lanjutt
widya widya
ceritanya bagus ..
Yang
kereeeeeeen
Suezie Anggel
i love u karya mu thor
Mooie Jkt
Selalu kagum dengan gaya bahasa Author Senja... Gaya ceritanya hidup.. ga bertele2.. dan ga lambat temponya... 🌻🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!