Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Sofia, aku dengar dari Siho, hubungan mu dan Zavier tidak baik-baik saja," kata sang kakek tiba-tiba membuka pembicaraan dengan Sofia yang kini duduk di bawah rumput sampai kursi roda nya.
Sofia teridam dan menatap sang kakek dengan sedikit mendongak, dia kebingungan harus bicara apa, dia khawatir jika salah bicara Zavier akan marah dan menyiksa nya lagi.
"Aku cukup trauma dengan laki-laki kasar, apa yang harus aku katakan kepada kakek sekarang?" Batin Sofia.
"Hahah, kakek tau kau pasti sangat jengkel dengan sikap dingin nya kan, makanya kalian bertengkar, sudah, jangan khawatir, kalian hanya belum saling mengenal satu sama lain mungkin belum terlalu jauh memahami kepribadian masing-masing," ujar kakek Wiliam sambil tertawa kecil.
"Emm, emang nya apa yang di katakan Siho kepada kakek?" tanya Sofia penasaran.
"Katanya, dia tadi malam menemui mu yang keluar dari kamar Zavier dalam keadaan menangis, dia menduga kalau kalian bertengkar," kata Kakek Wiliam menjelaskan.
"Ah, begitu ya," ujar Sofia lagi.
"Ya, mungkin dia juga khawatir akan hubungan kalian yang masih baru,dia juga khawatir dengan sikap Zavier yang mungkin membuat mu akan segera bosan," tak ada hentinya Kakek Wiliam membicarakan soal sifat Zavier kepada Sofia.
"Kakek tidak perlu khawatir, aku ini baru dua puluh tahun, mungkin agak belum cocok menjadi seorang istri, jadi kami bertengkar sedikit, tapi tenang saja, kami sudah baikan," ujar Sofia berbohong kepada sang Kakek agar beliau tak khawatir.
"Kalau kalian belum bisa mengerti satu sama lain Kakek paham, yang kau katakan mungkin benar kau memang masih labil, tapi Zavier, dia sudah berusia dua puluh tujuh tahun, namun sikap nya benar-benar tidak bisa berubah," kakek Wiliam mengelengkan kepala nya sambil menatap kosong ke depan terlihat ada yang membuat ia ragu dengan sikap sang cucu.
"Kenapa kakek begitu khawatir? Dia memang pemarah, tapi sepertinya dia sudah sangat dewasa, hanya saja aura nya sebagai seorang CEO itu sedikit kental dia agak galak dan juga dingin," kata Sofia yang sebenarnya memang tak mengenal siapa Zavier.
Jika di bilang seratus persen, Sofia hanya mendapatkan dua atau tiga persen saja tentang diri Zavier ini.
"Sofia apakah kau sudah banyak mengetahui tentang kehidupan Zavier?" tanya kakek Wiliam mulai membuka obrolan baru.
Sofia menatap wajah sang kakek dan kemudian mengelengkan kepala dengan pelan.
"Sepertinya dugaan ku benar, kalian ini sudah berhubungan sejak lama, tapi Zavier tidak pernah mengatakan apapun kepada mu Tebet kehidupan nya ya," ujar kakek Wiliam sambil menatap Sofia.
Hal ini tentu saja membuat Sofia penasaran dengan ucapan sang kakek.
"Memang nya kenapa kek? Maksud ku ada apa dengan kak Zavier?" Tanya Sofia tertarik untuk mengetahui lebih lanjut soal Zavier dari sang kakek, ia pikir ini tak ada salahnya.
"Zavier sudah yatim piatu sejak usia nya menginjak angka delapan belas tahun, dan dia juga sangat benci akan musim dingin, kau juga harus tau, kalau dia juga memiliki trauma akan hujan deras dan juga badai petir, dia juga punya rasa benci yang berusaha ia lawan dengan cukup keras pada dirinya sendiri," kata kakek Wiliam yang mulai menjelaskan kisah hidup Zavier kepada Sofia.
Sofia terdiam ia tak menyangka kalau seorang laki-laki tampan dan tangguh serta terlihat tegar seperti Zavier juga punya masa lalu yang cukup kelam dan itu dia simpan rapat-rapat seolah tak ingin ada yang bisa melihat kelemahan dirinya.
"Meningal? Bagaimana bisa kedua orang tua kak Zavier meningal dan apa hubungannya dengan musim dingin kek?" Sofia yang penasaran mulai meminta sang kakek menceritakan lebih detail tentang Zavier.
"Mereka kecelakaan saat ingin menuju bandara untuk berangkat ke Korea, saat itu Zavier baru saja lulus sekolah dan dia sangat mencintai atau menyukai musim dingin, ia pun meminta kedua orang tuanya untuk membawa dirinya ke Korea sebagai liburan musim dingin atas hadiah kelulusan nya dengan nilai yang sangat baik, kedua orang tuanya pun menyetujui permintaan itu, dan mereka berangkat, namun di tengah perjalanan terjadi badai petir dan hujan deras, membuat mobil mereka oleng dan akhirnya kecelakaan," kata Kakek Wiliam dengan tata yang kosong ia seolah mengingat kejadian tersebut di mana ia kehilangan anak dan menantunya secara bersamaan dan harus membesarkan Zavier yang penuh trauma.
Hati Sofia seketika tersentuh mendengar cerita Kakek Wiliam, dia tidak pernah menyangka kalau seseorang seperti Zavier punya masa lalu seburuk ini, malah kalau di pikir-pikir lebih buruk dari kehidupan nya.
"Dia sebenarnya sangat baik dan hangat, hanya saja hal itu mengubah seratus persen hidup nya," kata sang kakek meneruskan ceritanya.
"Aku paham, kakek tolong jangan bersedih, lupakan saja semuanya," kata Sofia khawatir melihat wajah sedih kakek Wiliam.
"Sofia, kemarilah, ulur kan tangan mu kepada ku," kata kakek Wiliam sambil mengulurkan tangannya kepada Sofia.
"Untuk apa kek?" tanya Sofia lagi dengan wajah bingung.
"Sudah lah berikan tangan mu, kau akan mengetahui nya nanti," kata kakek Wiliam sambil tersenyum.
Sofia pun kemudian mengulurkan tangannya kepada sang kakek.
Entah dari mana kakek Wiliam mengeluarkan sebuah cincin berlian yang terlihat sangat indah dan berkilau, dia kemudian memasangkan cincin tersebut ke jari Sofia.
"Sofia cucu ku, kau sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga Atharyan, kau juga memiliki nasip yang sama seperti Zavier, kalian sama-sama tidak punya orang tua, kakek harap kau bisa mendatangkan kembali kehangatan untuk Zavier, ubah lah dia buat dia bahagia bersama dengan mu, ini adalah cincin pernikahan mama nya Zavier yang aku simpan untuk wanita yang menjadi istri Zavier,dan sekarang seperti nya aku sudah berhasil menemukan orang itu, kau adalah pemilik baru nya sekarang," kata kakek Wiliam sambil tersenyum ia mengelus tangan Sofia.
Begitu terlihat jelas kalau Kakek Wiliam sangat menyayangi Sofia, dia bahkan berharap kalau Sofia adalah orang yang akan mampu mengubah Zavier jadi kembali hangat dan bisa merasakan apa itu kelaurga lagi.
Kakek Wiliam bahwa menyerah kan satu-satunya peninggalan mama Zavier yang selama ini ia simpan kepada Sofia.
Jantung Sofia berdegup kencang saat melihat cincin tersebut, dia tidak pernah menyangka kalau ini akan terjadi, rasa bersalah pun kini muncul di hatinya, ia merasa kalau telah membohongi sang Kakek yang begitu percaya terhadap dirinya.
"Kakek tapi aku tidak pantas menerima ini, aku mohon jangan berikan ini kepada ku," ucap Sofia hendak melepaskan cincin tersebut dari jari nya.
"Sofia, aku mohon, usia ku ini sudah tidak lama lagi, aku percaya kepada mu, aku tidak ingin kau melepaskan nya, jika Ig terjadi aku akan sangat sedih," ucap Kakek Wiliam memegang pundak Sofia.
Lagi-lagi hal ini membuat Sofia diam, rasanya dia ingin menagis dan memohon maaf kepada sang Kakek karena telah melakukan pernikahan kontrak ini dengan Zavier.
Bersambung ....
gak guna!