Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Gedung pencakar langit berlogo Sulaiman Properti yang menjulang tinggi di kawasan bisnis Jakarta Pusat tampak berkilau diterpa matahari pagi. Mobil sedan mewah yang membawa Fahri dan Zara perlahan berhenti tepat di depan lobi utama yang berlapis marmer hitam impor.
Begitu pintu mobil terbuka, suasana lobi yang tadinya sibuk oleh hilir mudik karyawan mendadak sunyi senyap. Di dekat pintu kaca besar, Haji Sulaiman sudah berdiri kokoh didampingi oleh barisan jajaran direksi dan sekretaris korporasi yang membungkuk sangat hormat.
"Selamat pagi, Pak Fahri, Ibu Zara," sapa Pak Darma, sekretaris pribadi keluarga, dengan suara baritonnya yang mantap.
Haji Sulaiman melangkah maju, menepuk pundak Fahri yang kini sudah gagah berbalut jas formal. "Abah sengaja turun ke lobi buat menyambut kamu. Hari ini, seluruh mata di gedung ini akan melihat siapa pemimpin masa depan mereka."
Fahri hanya tersenyum tipis penuh wibawa, mengangguk takzim pada ayahnya. Namun, ketegangan formalitas dunia korporat itu tidak bertahan lama. Begitu Fahri berbalik menatap Zara yang berdiri di sampingnya dengan wajah agak pucat karena canggung menjadi pusat perhatian ratusan pasang mata, jiwa acts of service seorang Fahri Ahmad langsung keluar tanpa bisa dibendung.
Fahri tiba-tiba berlutut dengan satu kaki di atas lantai marmer lobi, tepat di depan ujung sepatu Zara.
Gasps!
Suara pekikan tertahan serempak terdengar dari barisan staf wanita dan sekretaris yang berbaris di lobi. Beberapa manajer bahkan sampai melongo, tidak percaya melihat seorang putra mahkota konglomerat properti terbesar yang baru saja datang, langsung berlutut di hari pertama kerjanya.
"F-Fahri... kamu ngapain?!" bisik Zara panik setengah mati, wajahnya seketika merona merah padam karena menjadi tontonan massal. "Bangun, ih! Malu dilihatin ayah kamu sama orang-orang!"
Fahri sama sekali tidak memedulikan kasak-kusuk di sekitarnya. Dengan gerakan tangan yang sangat lembut dan telaten, ia meraih ujung tali flat shoes Zara yang rupanya terlepas sejak turun dari mobil tadi. Ia mengikatnya membentuk simpul pita yang sangat rapi.
"Tali sepatunya lepas, Love," ucap Fahri dengan suara yang cukup jelas, sengaja menekankan panggilan baru mereka hingga membuat beberapa sekretaris muda di belakang mereka saling berpegangan tangan karena baper massal. "Nanti kalau kamu tersandung terus jatuh, lantai marmer Abah bisa retak karena gak kuat menahan beban keimutan kamu."
"Fahri Ahmad! Ih, bener-bener ya!" gumam Zara menahan geram, tangannya meremas pelan ujung jilbabnya demi menahan rasa malu sekaligus deg-degan yang luar biasa.
Setelah selesai, Fahri bangkit berdiri tanpa beban, menepuk lutut celana kainnya yang sedikit berdebu. Belum selesai sampai di situ, ia meraih tas kecil milik Zara dari tangan istrinya, lalu menyandangkannya di pundak jasnya sendiri tanpa rasa gengsi sedikit pun.
Ia kemudian menggenggam jemari tangan kanan Zara dengan sangat erat, mengunci sela-sela jarinya, lalu menoleh ke arah Haji Sulaiman yang sejak tadi hanya geleng-geleng kepala menahan tawa melihat kelakuan putranya.
"Ayo, Bah. Fahri sudah siap masuk ruang kerja," ucap Fahri dengan nada tegas, kembali ke setelan wibawanya seolah aksi bucinnya barusan adalah hal paling normal di dunia.
Haji Sulaiman terkekeh, melambaikan tangan memberi isyarat agar rombongan mulai bergerak menuju lift khusus direksi. "Dasar buaya Tasik. Ayo, jalan!"
Sepanjang langkah mereka menuju lift eksekutif, kasak-kusuk heboh langsung meledak di seisi lobi kantor pusat. Kabar tentang putra mahkota Haji Sulaiman yang sangat tampan, berpeci miring, namun luar biasa memanjakan istrinya langsung menyebar ke seluruh grup chat karyawan dalam hitungan detik.
Sementara Zara hanya bisa menunduk pasrah, menyembunyikan senyuman manis yang perlahan terukir di bibirnya akibat perlakuan Fahri yang selalu berhasil membuatnya merasa menjadi wanita paling berharga.
***
Jarum jam dinding di ruang kerja eksekutif barunya menunjukkan pukul dua belas tepat. Fahri menutup laptopnya, lalu merenggangkan otot-otot lehernya. Ia menoleh ke arah sofa besar, di mana Zara sejak tadi duduk menunggunya sambil membaca beberapa majalah interior.
"Yuk, Love. Jam makan siang," ajak Fahri sambil tersenyum, beranjak dari kursi kebesarannya. Jas necisnya masih melekat sempurna, memancarkan aura wibawa yang kuat. "Saya tahu tempat makan steak paling enak di dekat sini. Kamu pasti suka."
Zara mendongak, baru saja hendak membalas senyuman Fahri ketika ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar pendek. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor ayahnya.
Ayah:
Zara, pulang ke rumah sekarang! Pengacara Reza datang lagi membawa polisi. Mereka mau menyita aset rumah kalau tidak ada jaminan siang ini juga! Kamu harus ke sini sekarang, bawa suamimu!
Wajah Zara seketika memucat. Tubuhnya gemetar hebat hingga ponselnya hampir terlepas dari genggaman. Pikirannya langsung dipenuhi kepanikan luar biasa. Bayangan rumah masa kecilnya digeledah dan ayahnya diseret ke penjara membuat dadanya sesak.
"Fahri... aku gak jadi makan," ucap Zara terbata-bata, langsung bangkit berdiri dengan mata berkaca-kaca. "Aku harus ke rumah Ayah sekarang juga. Situasinya gawat banget!"
Fahri langsung tanggap. Senyum usilnya lenyap, digantikan sorot mata yang tajam dan fokus. "Ada apa?"
"Pengacara Reza bawa polisi ke rumah Ayah... mereka mau melakukan penyitaan siang ini," tangis Zara pecah. "Aku harus ke sana, Fahri!"
"Oke, kita ke sana sekarang," jawab Fahri mantap. Namun, bukannya langsung berjalan menuju lift eksekutif tempat mobil sedan mewah mereka menunggu, Fahri justru melangkah menuju ruang istirahat pribadi yang ada di dalam ruang kerjanya.
"Fahri, ayo! Kenapa malah masuk ke kamar?" seru Zara panik, menyusul suaminya ke ambang pintu.
Di dalam kamar istirahat itu, Zara tertegun. Fahri dengan cepat menanggalkan jas hitam mahalnya, melonggarkan dasinya, dan mengganti kemeja putihnya dengan sebuah kemeja koko putih polos bertekstur kain biasa. Celana kain formalnya pun diganti dengan celana bahan hitam longgar yang biasa dipakai para santri. Terakhir, ia mengambil sebuah jaket kain sederhana dan memasang peci hitamnya kembali ke setelan pabrik: miring ke sebelah kanan.
Dalam hitungan tiga menit, sosok putra mahkota konglomerat properti itu lenyap total, kembali berganti menjadi sesosok ustadz kampung yang bersahaja dari Tasikmalaya.
"Fahri... kenapa kamu malah ganti baju kayak gini?" tanya Zara bingung di sela kepanikannya. "Di bawah kan ada mobil mewah dari ayah kamu, ada sopir juga."
"Gak usah pakai mobil Abah," sahut Fahri santai sambil mengantongi ponselnya. "Keluarga kamu, Ayahmu, dan si Reza mereka semua belum ada yang tahu siapa saya sebenarnya, kan? Mereka cuma tahu saya ini Fahri, santri melarat dari Cisayong yang nekat nikahin kamu."
Fahri melangkah mendekati Zara, menggenggam jemari istrinya untuk menenangkan badai di dalam dada wanita itu.
"Biarkan tetap seperti itu untuk beberapa jam ke depan. Kita lihat seberapa tinggi ego mantan suamimu itu kalau melihat ustadz kampung ini datang tanpa bawa apa-apa."
Fahri melambaikan tangan ke arah Pak Darma yang berdiri di luar ruangan, memberi isyarat rahasia dengan jarinya, lalu mengajak Zara turun melalui lift umum karyawan. Mereka tidak menuju lobi utama, melainkan keluar melalui pintu samping gedung dan langsung memesan sebuah taksi online Avanza putih yang biasa beroperasi di ibu kota.