NovelToon NovelToon
Hutang Kepada Mr. Devil

Hutang Kepada Mr. Devil

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Wardah Rose

Gwen adalah seorang dokter spesialis jantung di salah satu rumah sakit di tengah kota New York. Di suatu siang yang sibuk, dia mendapatkan seorang pasien. Seorang pria tua yang mendapatkan serangan jantung. Gwen berhasil menyelamatkan nyawanya, sehingga pria itu sangat berterima kasih. Ia menghadiahi Gwen tiket pesawat dan sebuah vila di Bali.

Saat sampai di vila, betapa terkejutnya Gwen ketika menyadari bahwa dia tidak akan tinggal sendiri. Karena pria tua itu ternyata belum memberitahu cucunya kalau vila itu akan diberikan kepada Gwen.

Zachary, nama si cucu. Pria yang tampan, dan arogan. Sedang asyik mencumbu seorang wanita di dekat kolam renang.

KARYA:
1. Hutang Kepada Mr. Devil (end)
2. Aku Bukan Malaikat (end)
3. My Arrogant Prince (ongoing)
4. Kesempatan Kedua (otewe)

Salam kenal dari author penggemar Happy ending story 😊✌️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pantai

25

Yang dilakukan Samantha sore hari adalah rapat dengan Farah. Mereka akan menuju ke hotel tempat kru dan model menginap. Gwen memang bukan bagian dari tim, tapi gadis itu selalu diikutsertakan oleh Samantha karena tidak enak meninggalkannya sendirian di vila, takut kalau gadis itu akan bosan dan kesepian.

Rupanya Gwen tak sebosan yang Samantha kira. Saat beberapa kru rapat, Gwen asyik berbalas chat dengan temannya. Lalu ponselnya berdering. Gwen terlihat sangat riang. Percakapan dengan seseorang di telepon memakai bahasa Inggris, tapi Samantha dan Farah tahu kalau Gwen mendapatkan kabar bahwa temannya juga akan pergi ke Bali. Dan besok malam mereka akan bertemu.

Gwen dan kedua temannya kembali ke vila sewaktu hari sudah malam. Gwen sudah bersiap untuk tidur tapi berita menyenangkan tadi sore menahan kantuknya. Dia pergi ke balkon sambil duduk menikmati angin malam. Rupanya seseorang yang kamarnya bersebelahan dengan Gwen juga sudah berada di balkon.

“Belum tidur?” sapanya.

“Belum,” jawab Gwen singkat.

“Apa kamu ga mau nanya kabarku? Apa aku udah dapat hotel, misalnya.”

Gwen memandang wajah Zach, beberapa anak rambut yang basah menandakan kalau pria menarik yang berdiri di balkon sebelahnya baru selesai mandi.

“Bukan urusanku,” jawab Gwen kemudian.

“Aww, kamu sadis banget.” Zach melakukan gerakan seakan dadanya terluka. “Hei, Kitty. Apa kamu tahu kalau semalam aku ngimpiin kamu? Kayanya alam semesta sedang berbaik hati. Kamu dibawa ke sini tanpa usaha dari tanganku.”

“Oh ya. Aku mau nanya, sejak kapan kamu kenal Kakek?”

“Empat bulan yang lalu.”

Zach tampak berpikir lalu berkata, “Bagaimana ceritanya kok Kakek ngasih vila ini ke kamu?”

Gwen menatap wajah Zach dan menjawab, “Tanya saja Kakek kamu. Aku mau tidur.”

“Hei, kok aku dicuekin!” teriak Zach.

Sewaktu di kamar Zach segera menyalakan ponsel lalu menghubungi kakeknya. Sesuai dengan prediksi Zach, si Kakek mengomelinya. Zach terima saja siraman rohani selama satu jam dari Kakek Ahmad karena dia harus berhasil mendapatkan nomer Gwen. Gadis itu menolak diajak bicara apalagi dimintai nomer telpon. Tanya ke Samantha pun malah diomeli panjang kali lebar kali tinggi, tak dapat pula nomernya.

Zach menunggu esok hari untuk mengirim pesan, tidak lucu kalau tiba-tiba mengirim pesan langsung diblokir oleh Gwen.

***

Gwen seperti biasa bangun lebih dulu daripada yang lainnya, ia segera pergi ke dapur untuk membantu Bu Sari memasak. Dia memang terbiasa memasak untuk orang banyak, karena di New York rumahnya adalah panti asuhan.

Gwen menyadari kalau Zach sudah turun dan berdiri di samping kulkas, memperhatikan Gwen dan Bu Sari. Atau hanya Gwen saja yang Zach perhatikan, Gwen tak peduli. Setelah beberapa masakan matang, Zach mendekat. “Apa ini boleh kubawa ke sana?” tanya Zach kepada Gwen. Ia memegang piring tempat ayam goreng.

“Iya,” jawab Gwen singkat.

Setelah meletakkan piring, Zach kembali lagi ke dapur. “Sini, biar aku aja,” ujarnya kepada Gwen dengan menengadahkan telapak tangan, meminta centong nasi yang dipegang Gwen. Zach memindahkan nasi dari rice cooker ke bakul yang terbuat dari bambu. Setelah itu Zach meletakkan bakul nasi itu ke ruang tengah lagi dan kembali lagi ke dapur. Zach membawakan piring-piring, sendok, bahkan cobek yang berisi sambal. Bu Sari sampai keheranan dibuatnya.

“Kamu duduk aja, kan tadi sudah capek masak,” kata Zach kepada Gwen. Dia menurut lalu duduk di depan meja.

Gwen mengambil ponsel lalu mengetik pesan kepada Farah dan Samantha untuk turun karena sarapan sudah siap. Tiba-tiba di hadapannya diletakkan secangkir teh hangat. Gwen melihat ke Zach yang sedang tersenyum.

“Terima kasih sudah memasak sarapan untukku.”

Gwen meletakkan ponselnya. “Terima kasih kembali.” Ia tahu kalau Zach sedang bermain peran sebagai gentleman untuk menarik perhatiannya, tapi Gwen tetap menanggapi. Tak ada salahnya bersopan-santun, atau berbasa-basi.

“Apa kamu nanti berangkat sama mereka?” tanya Zach setelah duduk di hadapan Gwen.

Gwen menggeleng. “Kenapa?”

“Ah tidak, kupikir kamu nanti ke hotel sama yang lainnya. Kalau ke hotel bisa bareng aku aja.”

“Mereka ada kerjaan, aku ga mau ganggu.”

“Kalau gitu, apa kamu di vila terus?”

“Gak juga.”

Zach mencondongkan badannya ke depan. “Kalau boleh tahu, kamu mau ke mana? Aku bisa antar soalnya aku hapal daerah Bali.”

“Oh. Kamu sering ke sini?”

“Iya. Hobiku surfing, jadi sering banget ke sini. Di kamarku itu ada banyak barang buat surfing. Kalau kamu mau bersihkan kamar itu bilang ke aku dulu. Biar aku pindahin barang-barangnya.”

“Oh. Ok.”

Pembicaraan mereka terputus karena Samantha dan Farah turun. Pagi itu Samantha dan Farah sudah sibuk, mereka akan ke hotel karena para model akan tiba.

***

Dari balkon kamar Gwen bisa terlihat pantai Sanur yang indah.

“Kamu mau ke sana?” tanya Zach tiba-tiba. Gwen tak tahu kalau Zach sudah ada di balkon kamar sebelah dan memperhatikannya dari tadi. “Aku bisa antar kamu, sekalian pergi surfing. Ombaknya kaya manggil-manggil gitu.”

Gwen tertawa samar.

“Mumpung masih pagi, ga terlalu panas. Aku ambil peralatan dulu, kamu tunggu di bawah.”

Gwen merasa konyol karena Zach memutuskannya tiba-tiba. Seakan-akan Gwen akan ikut dengannya ke pantai. Zach segera menghilang dari balkon. Gwen lalu keluar dari kamarnya dan berdiri di depan kamar Zach.

“Masuklah, ini kamar kamu juga,” ujar Zach ambigu. Gwen tidak pernah masuk ke kamar teman laki-laki sebelumnya. “Kan vila ini sudah jadi punya kamu,” lanjut Zach.

Gwen bilang, “Excuse me.” Lalu masuk ke kamarnya, oh kamar Zach.

Gwen memperhatikan beberapa poster surfing tertempel di dinding, tiga papan surfing bersandar di sudut kamar. Lalu beberapa foto Zach berjajar di atas laci.

“Ini ... Rockaway Beach?” tanya Gwen ketika melihat salah satu foto.

“Iya, kamu tahu?”

Tentu saja Gwen mengenali pantai itu karena dia sering ke sana mengajak anak-anak panti untuk berwisata gratis.

“Sepertinya itu foto sepuluh tahun lalu, aku lupa kalau masih simpan foto itu.” Zach mendekati Gwen lalu mengambil foto itu. “Ada kenangan menarik sewaktu foto ini diambil.” Gwen terlihat penasaran meskipun tidak mengatakannya. Zach bisa menangkap isyarat dari gerakan alis Gwen.

“Sepuluh tahun lalu ada lomba surfing. Namaku udah dipanggil, tapi ternyata pas berenang menunggu ombak, kulihat ada seseorang yang mau tenggelam. Jadi aku berenang mendekatinya dan menyeretnya ke tepi pantai. Gadis itu sudah tak bernapas jadi cepet-cepet aku kasih CPR. Beruntung, sekitar lima menit kemudian dia bernapas kembali.

Sebenarnya lomba itu sistem gugur. Tapi karena aku tadi menolong seseorang jadi juri kasih kesempatan aku surfing lagi. Sayangnya kakiku tiba-tiba berdarah. Aku tidak ingat kenapa karena sebelumnya fokus untuk menyelamatkan gadis itu. Cedera itu berpengaruh ke penampilanku. Jadinya aku kalah, deh.”

Pemuda bernama Zach, pantai Rockaway Beach, sepuluh tahun lalu, ingatan Gwen terpanggil kembali.

-------------------------------------------------------------------------------

Bonus

Rockaway Beach, NY.

Credit: The New York Times

1
luh jingga
masih manggil kity pdahl bkan adiknya 🤦‍♀️
Sunny Kwok
Luar biasa
buna
woow🥵🥵😂😂😂
buna
nafeera kali, kan yg model nafeera
Fitrianinaim_queen03
Theo 😘 very very nice
Fitrianinaim_queen03
pengen ketawa tapi takut Tossa 🤣🤣🤣
Partiah Yake
suka banget bacanya
Partiah Yake
aku wis mbarin diawali, kan lagi haid paling tidak jadi uhukkk uhukkk
Sastri Dalila
👍
bank sha one
imajinasiku foto ZACH kurang greget
bang Diesel lope lope bang
Irra Ajahh
menghalu nya lebih riel yh ada gambar ny juga
Ran Aulia
😍👍
Narayana Shikamaru
kan s'gwen mo ngmong sswtu sma samy,tpi ga dlnjutin mo ngmong paan..jdi nggantung cerita ny🥴
Lilik24
lumayan utk dibaca
Rita Rita
ga sia 2 aq marathon sampai pagi baca novel mu thor......the best
NOiR🥀
apa tu ongkang ongkang kaki pertama kali kk baca karya menarik
Lidya carlton
umur? aman thor 😁buat yg agak panas ga pa2🤭🤭🤭
Lidya carlton
sangat suka bonus nya makasih thor
Sandisalbiah
mungkinkah vino kerjasama dgn sandra.. 🤔🤔🤔
Fatimah Azzahra
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!