Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Kenapa Bukan Hadiah Ulang Tahun?
Kue kerupuk petai itu tidak langsung membawa bencana.
Ia disimpan Sekar di rak dapur Rumah Tan dengan penuh kehormatan, tepat di antara oatmeal rendah gula milik Ardian dan sekotak biskuit tawar untuk staf. Ardian melihatnya setiap kali melewati dapur.
Bungkus hijau itu seperti bom yang menunggu waktu.
Namun sebelum petai sempat menyerang, masalah lain datang.
Paket.
Paket pertama tiba dua hari setelah mereka pulang dari RS Samudera.
Kotaknya cukup besar, dibungkus rapi, dan nama penerimanya Budiman Sekar. Staf rumah membawanya ke ruang tengah saat Ardian sedang membaca laporan perusahaan di tablet. Sekar yang baru selesai mencatat jadwal pijat langsung berlari kecil.
"Paket saya!"
Ardian tidak mengangkat wajah.
Tetapi matanya berhenti di baris laporan yang sama selama tiga puluh detik.
Ulang tahunnya tinggal seminggu lebih sedikit.
Sekar memang belum pernah bertanya tanggal ulang tahunnya secara langsung. Tetapi Darren pasti bisa membocorkannya. Rio juga bisa. Bahkan staf rumah bisa. Dan beberapa hari terakhir Sekar sering melihat kalender di ponselnya dengan wajah sangat serius.
Kotak sebesar itu...
Ardian menunggu.
Sekar membuka paket dengan gunting kecil. Dari dalam keluar sebuah tempat tidur kucing berbentuk donat warna krem, lembut, bulat, dan sama sekali tidak mungkin digunakan manusia.
Ardian menatap benda itu.
"Untuk siapa?"
"Untuk kucing oranye yang suka lewat taman belakang," jawab Sekar cerah. "Kasihan dia tidur di pot tanaman."
Ardian diam.
"Pak Tan kenapa?"
"Tidak."
"Tidak suka kucing?"
"Tidak peduli."
Sekar memeluk tempat tidur kucing itu. "Nanti kalau dia mau masuk, kita taruh dekat melati. Jangan diusir ya."
"Halaman itu bukan hotel kucing."
"Belum."
Paket kedua datang sore harinya.
Kali ini kotaknya lebih kecil, tetapi lebih berat. Ardian sedang di ruang kerja saat mendengar Sekar berseru dari dapur. Ia memutar kursi roda keluar, sangat pelan, seolah hanya kebetulan melewati sana.
Di meja dapur, Sekar membuka paket berisi beberapa botol saus, keju slice, acar mentimun, roti burger, dan daging patty beku.
Ardian menatap semua itu.
"Kamu membeli makanan cepat saji beku?"
"Bahan burger."
"Untuk siapa?"
Sekar menjawab dengan sangat wajar, "Pak Darren."
Ardian menatapnya.
Sekar tidak sadar bahaya. "Dia kemarin bilang kangen hamburger setelah drama toilet. Saya pikir nanti kalau dia stres, saya bisa bikin beberapa."
"Beberapa."
"Iya. Mungkin lima atau enam."
"Untuk Darren."
"Iya."
Hening.
Sekar mengangkat satu bungkus keju. "Pak Tan mau juga? Bisa pakai roti gandum, patty ayam, saus rendah gula."
"Tidak."
Kata itu terlalu cepat.
Sekar berkedip. "Baik."
Darren masuk ke dapur tepat pada saat yang salah. "Ada yang sebut namaku?"
Ardian menoleh perlahan.
Darren langsung berhenti. "Aku salah waktu ya?"
Sekar mengangkat roti burger. "Pak Darren, nanti saya coba bikin hamburger."
Mata Darren berbinar. "Mbak Sekar, kamu malaikat."
Suhu dapur turun.
Ardian berkata, "Dia pengasuh."
"Malaikat pengasuh."
"Darren."
"Baik, pengasuh saja."
Sekar tidak mengerti kenapa dua bersaudara itu tiba-tiba seperti sedang bertarung memakai suhu udara.
Paket ketiga datang keesokan paginya.
Kotaknya kecil. Terlalu kecil untuk tempat tidur kucing, terlalu rapi untuk bahan makanan. Staf rumah menyerahkannya kepada Sekar saat Ardian sedang sarapan dada ayam panggang dalam wrap gandum.
Sekar menerima paket itu dengan wajah yang, menurut Ardian, mencurigakan.
Ia bahkan memeluk kotaknya sebentar.
Ardian meletakkan gelas air. "Apa itu?"
"Barang kecil."
"Aku bisa melihat itu kotak."
"Berarti fungsi mata Pak Tan baik."
Ardian menatapnya.
Sekar membuka kotak di ujung meja. Dari dalamnya keluar mangkuk kecil stainless, snack kucing, dan kalung kecil dengan gantungan berbentuk ikan. Di gantungan itu tertulis: Si Oranye.
Ardian menatap tulisan itu lebih lama daripada yang pantas.
"Kamu memberi nama kucing liar."
"Kalau sering datang, berarti sudah separuh keluarga."
"Tidak."
"Pak Tan tidak perlu mengaku. Nanti kalau dia tidur di kasur donat, kita foto untuk kulkas bagian kiri."
"Kulkas bukan album kucing."
"Belum."
Darren yang kebetulan masuk untuk mencari kopi langsung melihat kalung itu. "Si Oranye? Lucu! Aku mau foto dengan dia."
Ardian menoleh. "Kamu kerja?"
"Aku baru turun lima menit."
"Naik lagi."
Darren memeluk cangkir kosongnya. "Koko kenapa sensitif setiap ada makhluk hidup yang dapat perhatian Mbak Sekar?"
Sekar berhenti memasukkan snack kucing ke kotak.
Ardian berkata dingin, "Karena rumah ini bukan kebun binatang."
Darren mengangguk pelan. "Aku tidak bilang kucingnya."
Ruang makan menjadi sunyi.
Sekar menatap Darren.
Darren menatap lantai.
"Aku naik lagi," katanya, lalu kabur sebelum kursi roda punya alasan mengejarnya.
Malam itu, setelah Sekar selesai jadwal terapi dan kembali ke kamar staf, Ardian membuka aplikasi delivery.
Ia mengetik hamburger.
Ia melihat puluhan pilihan, memilih restoran dengan rating tinggi, lalu memasukkan jumlah.
Seratus.
Aplikasi meminta konfirmasi ulang.
Ardian menekan bayar.
Setengah jam kemudian, gerbang Rumah Tan menerima parade kurir makanan. Darren yang sedang menonton video di ruang tengah hampir jatuh dari sofa saat melihat kotak burger menumpuk di meja makan.
"Ini apa?"
Staf menjawab, "Pesanan untuk Pak Darren."
"Dari siapa?"
Ardian muncul di pintu dengan wajah sangat tenang. "Makan."
Darren melihat gunungan burger.
Lalu melihat Ardian.
"Koko, aku salah apa?"
"Kamu ingin hamburger."
"Aku ingin satu!"
"Sekarang kamu punya seratus."
Sekar datang dari koridor, melihat meja makan, lalu membeku. "Ini... acara kantor?"
Darren menunjuk Ardian dengan tangan gemetar. "Koko cemburu."
Ardian menatapnya.
Darren cepat mengganti kalimat. "Maksudku, Koko sangat dermawan."
Sekar mengambil satu kotak, membukanya, lalu melihat burger yang masih hangat. "Sayang kalau mubazir. Kita bagikan ke satpam, staf, sopir, dan bodyguard. Pak Darren boleh makan dua."
"Kenapa aku cuma dua dari seratus?"
"Karena besok dokter jantung tidak mau menerima pasien karena dendam burger."
Ardian duduk diam di ujung meja. Ia tidak menyentuh burger.
Sekar membawa satu kotak kecil ke arahnya. "Saya buatkan versi lebih aman besok. Yang ini tidak cocok untuk Pak Tan."
"Tidak perlu."
"Perlu. Jangan kalah dari Pak Darren."
Ia bicara ringan, tetapi kalimat itu jatuh ke tempat yang aneh.
Ardian menatapnya. "Aku tidak bersaing dengan Darren."
Sekar tersenyum. "Tentu tidak."
Darren di belakangnya berbisik pada staf, "Dia bersaing."
Ardian melempar tatapan.
Darren langsung mengangkat dua burger sebagai tameng.
Malam itu, setelah semua burger dibagikan dan Rumah Tan berbau roti panggang, Ardian membuka WhatsApp. Ia tidak berniat mengirim pesan. Ia hanya membuka kontak HappyPuppy, seperti kebiasaan buruk yang baru tumbuh.
Di bawah nama kontak itu, status WA Sekar berubah.
Hitung mundur hari ke-7.
Ardian menatap tulisan itu lama.
Hari ke-7 menuju apa?
Ulang tahunnya?
Atau sesuatu yang sama sekali bukan untuknya lagi?