NovelToon NovelToon
Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Contest / Tamat
Popularitas:147k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ratih mirna sari

Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.

Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.

Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.

Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.

Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal bertemu

Bima baru saja pulang dari masjid setelah menunaikan shalat isya berjamaah, dia tidak melihat mobilnya ada di halaman, mungkin sang ayah belum kembali. Bima sempat tidak habis pikir terhadap ayahnya itu, kenapa dia sampai membentak Sheerin seperti tadi? Iya Sheerin memang bersalah dalam hal ini, tapi kan tidak perlu sampai bersikap kasar juga. Ayahnya itu dari dulu tidak pernah berubah, waktu yang berlalu tidak bisa menghilangkan sifat pemarah dari dalam dirinya.

Jangankan Sheerin yang orang lain, Bima saja yang anaknya sendiri jika melakukan kesalah sekecil apapun pasti akan dimarahi ayahnya, bahkan Bima sering mendapat pukulan dan tamparan. Maka sebab itu sekarang sebisa mungkin Bima tidak pernah melakukan kesalahan, itu terbukti, selama beberapa tahun kebelakang kemarahan ayahnya seperti menghilangkan. Dan sekarang penyakitnya itu kembali kambuh lagi saat berhadapan dengan Sheerin.

Berarti sekarang yang sedang berada dalam bahaya adalah Sheerin, jika dia terus menerus melakukan kesalahan, bukan tidak mungkin ayahnya akan berani mengangkat tangan kepada perempuan itu.

Tiba-tiba saja Bima jadi mencemaskan Sheerin, jangan sampai dia kembali melakukan kesalahan. Dengan langkah panjang dia memasuki rumahnya itu, hal yang pertama di lakukan nya adalah mencari keberadaan Sheerin.

Tidak sulit menemukan seseorang di dalam rumah sederhana itu, saat melewati ruang tengah, Bima melihat sosok yang sedang di carinya sedang berhadapan dengan televisi yang menyala. Tapi Bima merasa ada jang janggal, di dekatinya Sheerin yang tidak bergerak sedikitpun, bahkan saat Bima membuka pintu degan cukup kencang saja Sheerin hanya bergeming tadi.

"She!" Bima berseru sambil menepuk pundak Nindi, namun tetap tidak ada tanggapan dari lawan bicaranya itu.

Ternyata Nindi tumbang juga setelah seharian menahan kantuknya, tadinya dia berniat menunggu Bima pulang, ehh ternyata rencananya tidak semulus yang dia bayangkan, rasa kantuknya telah berkhianat dan telah menang banyak.

Bima menghembuskan nafas lega mengetahui Sheerin tertidur, setidaknya dia berada dalam situasi aman. Bima menjatuhkan dirinya di samping Nindi, mematikan televisi yang selama ini jarang sekali menyala itu dengan remot.

Di liriknya lagi Sheerin palsu, kasihan juga jika dia semalaman tidur dengan posisi seperti itu, bisa-bisa saat dia terbangun nanti tengkuknya akan terasa sakit.

Bima dengan inisiatifnya sendiri membopong Nindi untuk dipindahkan ke kamarnya, tubuh Nindi yang tidak besar dan tidak tinggi-tinggi amat, tidak menjadi beban yang berarti untuk Bima, Bima hanya merasakan seperti sedang mengangkat sebuah galon berisi air saat menggendong Nindi.

Ahh, andai saja Nindi sedang terbangun sekarang, mungkin dia akan bersorak sorai kegirangan saat Bima menggendongnya seperti ini. Tapi kalau Nindi terbangun, Bima tidak mungkin mau menggendongnya juga, kan?

Nindi, harusnya kamu bangun saat itu juga! Dasar bodoh, dalam situasi manis seperti ini kamu masih saja tidur seperti bangkai.

Bima meletakkan tubuh Nindi atas pembaringan, Nindi sama sekali tidak merasa terusik dengan goncangan yang terjadi, dia tidur dengan begitu nyenyak nya, pada dasarnya Nindi memang kebo sih.

Setelah merasa Nindi tidur dengan posisi yang nyaman, diapun mulai ikut merebahkan tubuhnya di samping Nindi.

Matanya mengerjap berkali-kali sambil menatap langit-langit kamarnya, di liriknya lagi sosok asing yang ada di sampingnya itu. Rasanya aneh, darimana datangnya sosok ini? Kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam hidup Bima? Bahkan sekarang perempuan itu tengah berbaring diatas pembaringan yang sama dengan dirinya.

Bima tidak terbiasa dengan kehadiran orang lain di dekatnya, mungkin begini rasanya ketika kita memiliki seorang teman. Rasanya tidak se hambar sebelum dia ada, rasanya Bima sekarang jadi memiliki seorang teman yang bisa diajak bicara. Karena, jujur saja selama ini Bima tidak pernah memiliki seorang teman didalam hidupnya. Dia selalu menutup diri dan tidak pernah membiarkan siapapun mengusik hidupnya, dia beranggapan jika teman hanya seorang pengganggu. Tapi sekarang berbeda, Sheerin dengan ajaibnya masuk kedalam hidup Bima dan membuat Bima memiliki alasan untuk bicara.

'Ternyata seorang teman tidak seburuk yang aku pikirkan, oke Sheerin, mulai sekarang kita akan berteman.' Bima tak bergeming didalam hatinya sambil terus memperhatikan wajah Nindi.

Ehh, tapi kenapa Bima menemukan sebuah kedamaian disana? Kenapa wajahnya seteduh itu saat sedang tertidur? Dan, dia juga terlihat sangat manis.

Tiba-tiba saja Bima teringat akan pertama kali dia bertemu dengan Sheerin kemarin malam. Sheerin dengan penampilan anehnya muncul secara tiba-tiba, membuat Bima berpikir jika ayahnya telah membodohi nya.

Bima kembali menyunggingkan senyum saat mengingat kekonyolan Sheerin waktu itu, kepanikannya saat mama Anya melepas semua benda aneh yang melekat di tubuhnya, membuat Bima sedikit merasa terhibur.

Bima masih tidak menyangka kalau sekarang dirinya telah menjadi seorang suami, tanggung jawabnya sangatlah besar, jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap Sheerin, maka dirinyalah yang akan disalahkan nantinya.

Baiklah, mulai sekarang Bima berjanji pada dirinya sendiri, dia akan menjaga Sheerin semampu yang dia bisa, meskipun hanya sebatas teman saja. Ya, hanya teman.

***

Malam semakin larut, tapi Levin belum juga bisa tertidur, dia terus saja berguling kesana kesini mencari posisi yang nyaman, namun tak kunjung menemukannya.

Bayang-bayang si urakan terus saja menghantui pikirannya, dalam sehari ini, banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam dirinya.

Di ambilnya jepitan pita yang dia letakan diatas meja belajar samping tempat tidur itu, dia memainkannya ditangan, memutarnya beberapa kali, benda itu adalah milik Nindi. Seringai kecil tiba-tiba saja muncul di bibirnya, entahlah apa yang membawa perubahan ke dalam diri perempuan itu. Levin sungguh sangat tidak mengerti, tidak ada angin tidak ada hujan, untuk pertama kalinya Nindi berpenampilan layaknya seorang perempuan normal.

Saat melihat Nindi di pagi tadi, Levin sempat tidak mengenalinya, dia benar-benar kaget, mengira jika ada murid baru yang sedang duduk di bangkunya. Masa iya ada murid baru disaat akhir semester seperti ini, apalagi saat-saat mendekati ujian nasional. Tapi ternyata saat Levin semakin mendekat, perempuan itu adalah Nindi, teman beradu mulut dengannya.

Hah, teman? Sejak kapan Nindi jadi teman Levin? Tiba-tiba saja Levin kembali mengingat kenangan saat pertama kali dirinya bertemu dengan Nindi.

Saat itu hari senin, saat matahari tengah hangatnya menyinari sebagian permukaan bumi, Levin terlihat tergesa-gesa berjalan menuju sekolah, pagi ini seperti biasa, ada rutinitas di awal pekan, yaitu upacara bendera, Levin sepertinya akan datang terlambat, kalau saja ban motornya tidak bocor dan dia tidak harus membawanya dulu ke tukang tambal, mungkin Levin tidak akan mengalami hal menjengkelkan seperti ini. Melangkah berkejaran dengan waktu, waktu yang tersisa hanya kurang dari 5 menit menuju gerbang sekolah akan ditutup satpam.

Tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat dihadang oleh dua orang tukang palak yang sering berkeliaran di sekitar sekolah.

Levin terkesiap, berpikir jika dia akan jadi mangsa si tukang palak itu yang berikutnya.

"Permisi bang." Levin dengan sopan nya membungkukkan badan dan hendak kembali melangkah, mencoba untuk berdamai, siapa tau saja si tukang palak mau merubah pikirannya.

Namun bukan tukang palak namanya jika mau melepaskan mangsanya begitu saja, tubuh Levin dihimpit oleh kedua tukang palak itu, si tukang palak satu memegangi lengan kanannya, sedangkan si tukang palak dua memegangi lengan kirinya.

"Ehh, apa-apaan ini bang?" Levin berontak, mencoba melepaskan diri, tapi tenaga kedua orang tukang palak itu lebih kuat, entah efek dari tidak sarapan atau apa, Levin seolah tidak memiliki tenaga untuk melepaskan cengkeraman kedua tangan besar itu.

"Gue tau loe pasti anak orang kaya, biasanya loe ke sekolah naik motor gede kan? Gue selalu nggak punya kesempatan buat malak loe, dan sekarang kita berjodoh, boleh lah kita mencicipi uang jajan loe." Ucap tukang palak.

Levin bukannya tidak mau berbagi rezeki dengan tukang palak itu, hanya saja, takut menjadi kebiasaan dan nantinya mereka akan keenakan, tidak mau bekerja, maunya hanya memalak anak sekolahan saja.

"Gue nggak punya uang bang, sumpah." Levin mengacungkan kedua jarinya berbentuk huruf V.

"Jangan bohong loe! Ayo kasih semua duit loe!" Ucap tukang palak yang lain.

"Beneran nggak ada bang. TOLOONG!" Levin berteriak saat si tukang palak mencengkeram lengannya lebih kuat, Levin seperti sedang dieksekusi mati, berteriak minta tolong.

"JANGAN TERIAK!" Si tukang palak balik berteriak, memekakkan telinga Levin juga teman palak nya.

"Woi, lepasin dia!" Spontan ketiga laki-laki bertubuh besar itu menoleh, terlihat Nindi berdiri dibelakang mereka sambil bertolak pinggang. Levin tau perempuan itu, dia adalah kakak kelasnya, dia duduk dikelas XII, sedangkan dirinya masih kelas XI.

"Diam loe, biar kita melakukan apa yang jadi pekerjaan kita." Ucap si tukang palak. Sebenarnya, si tukang palak sudah tidak asing lagi dengan Nindi, Nindi adalah langganan yang sering mereka palak, hanya saja mereka tidak pernah berhasil mendapatkan uang, yang ada mereka selalu mendapat bogeman dari Nindi.

"Cari kerjaan yang halal sana, jangan bisanya cuma malakin doang, badan aja gede-gede." Sindir Nindi dengan wajah angkuhnya.

"Jangan banyak bacot loe!" Ucapnya pada Nindi.

"Ayo cepet kasih duit loe, biar kerjaan kita cepet selesai." Si tuang palak terus mendesak Levin.

Levin berpikir, malu juga dilihat seorang perempuan dalam keadaan lemah seperti ini, akhirnya Levin memberikan sebagian uang jajannya kepada si tukang palak. Biarlah, sekali-kali amal, begitu Levin berpikir.

BUKK!

Belum sempat si tukang palak menyentuh uang yang disodorkan Levin, Nindi menendang tangan yang sedang berkerumun itu.

"Aaww!" Mereka meringis saat kaki Nindi berhasil menyentuh tangan mereka tidak terkecuali Levin.

"Kurang ajar loe! Hiaa!" Si tukang palak menyerang Nindi, tidak terima harga dirinya sebagai preman telah dilecehkan oleh seorang bocah perempuan.

Nindi dengan cekatan nya menghindar, dengan ilmu bela diri yang diajarkan sang kakek buyut, Nindi berhasil membekuk kedua tukang palak itu hingga tersungkur diaspal dengan wajah yang dipenuhi oleh luka lebam.

Si kedua tukang palak sampai bersimpuh meminta pengampunan dari Nindi. Levin menelan saliva nya saat melihat Nindi menghajar kedua preman itu, merasa kagum dengan keberanian perempuan itu, tidak seperti dirinya yang malah ciut. Levin mengakui jika Nindi adalah perempuan yang berani.

"Pergi loe! Jangan berani injakkan kaki disekitar sini lagi!" Nindi meremas gemas tangan salah satu tukang palak dengan kaki beralaskan sepatunya, membuat tukang palak yang sudah KO mau tidak mau harus mengakui kekalahannya.

"A ayo cabut!" Si tukang palak berseru kepada partnernya sambil memegangi tulang rahangnya yang terasa sakit, mereka bangkit kemudian lari terbirit-birit.

Dan setelah kejadian hari itu, si kedua tukang palak jadi tidak pernah terlihat lagi batang hidungnya disekitar sekolah. Entahlah mereka pindah lapak kemana.

Nindi menyambar uang yang masih dipegang Levin, Levin yang bengong baru tersadar.

"Ehh, duit gue!" Seru Levin.

"Anggap aja buat bayar jasa ngusir tukang palak." Ucap Nindi tersenyum kegirangan, lumayan untuk jajannya beberapa hari kedepan. Hihi. Nindipun berlalu pergi meninggalkan Levin yang masih mematung di tempatnya.

Levin melengkungkan senyumnya saat menyadari betapa liciknya perempuan yang baru di temui nya itu.

'Jadi yang sebenarnya tukang palak itu adalah dia.' Levin tidak bisa berhenti tersenyum, apalagi saat melihat punggung Nindi yang semakin menjauh.

"Woi, tunggu!" Levin cepat-cepat menyusul Nindi. Sesampainya didepan gerbang, ternyata gerbangnya sudah ditutup. Terlihat dari luar gerbang, semua murid dari kelas X sampai XII sudah memadati lapangan untuk mengikuti upacara bendera.

"Yah, gara-gara bantuin loe gue jadi terlambat, kan." Nindi menatap nanar murid-murid yang berbaris di lapangan dari balik jeruji besi.

"Loe nyalahin gue? Gue juga telat gara-gara loe kali." Ucap Levin, dia orangnya memang begitu, tidak mau disalahkan meskipun dia memang salah. Apalagi gengsinya yang besar, tidak ingin dianggap remeh oleh orang lain.

Nindi menoleh kearah Levin dengan mata yang menyipit dan dahinya mengerut.

"Heh, harusnya loe berterimakasih sama gue, karena gue udah bantuin loe dari tukang palak itu." Ucap Nindi, ya, pada dasarnya Nindi itu baik hati, dia selalu ingin menolong orang yang sedang dalam kesulitan. Hanya saja cara bicaranya yang sedikit ceplas-ceplos, membuat dia terlihat judes.

"Bantuin loe bilang? Yang ada disini loe yang jadi tukang palak nya. Oh atau jangan-jangan loe itu bosnya tukang palak itu, pantesan aja mereka takut sama loe. Gue yakin kalian itu kerjasama buat malakin anak murid sekolah ini." Entahlah, kenapa Levin jadi senang sekali ketika melihat wajah perempuan itu yang merah menyala menahan marah, Levin jadi ingin terus menggoda Nindi.

"Ehh, sialan loe. Kalau fitnah yang bener aja dong, loe nggak tau berterimakasih banget sih udah di tolongin juga." Nindi mulai nyolot.

"Ahh, udah lah, orang kaya loe ini udah bisa kebaca. Loe adalah komplotan tukang palak itu buat bisa dapetin duit." Ucap Levin dengan santainya, tidak merasa bersalah sedikitpun.

"Sialan loe!" Nindi menginjak kaki Levin dengan kekuatan penuh, sama seperti yang dia lakukan kepada tukang palak tadi, membuat Levin mengaduh kesakitan.

"Aww, loe jadi perempuan kok urakan banget sih!" Levin kalang kabut memegangi kakinya yang sakit.

Sejak kejadian hari itu, Nindi menjadi sebal kepada Levin karena laki-laki itu selalu saja mengejek dan menghina kalau dirinya adalah komplotan preman dan juga perempuan urakan.

Dan saat Levin naik ke kelas XII, dia dikejutkan dengan murid yang tinggal kelas karena tidak lulus, siapa lagi kalau bukan Nindi. Mulai hari itu, Levin semakin gencar saja menghina dan mencari masalah terhadap Nindi. Entahlah kenapa jadi sangat menyenangkan saat melihat kemarahan diwajah Nindi, menggoda perempuan itu bagaikan sebuah candu baginya. Nindi yang memang gampang tersulut emosi, selalu meladeni Levin untuk memberinya pelajaran. Tapi ternyata si Levin tidak pernah jera, justru dia semakin membabi buta membuat masalah dengan Nindi.

Kebiasaan anehnya itu terus saja berlanjut sampai sekarang mereka akan lulus SMA. Entahlah sampai kapan kebiasaan ini akan berlangsung, mungkin setelah lulus SMA, mereka akan menjalani kehidupan masing-masing dan tidak akan pernah bertemu kembali.

Tapi kenapa Levin jadi merasa sedih ketika memikirkan mereka tidak akan pernah bertemu lagi?

____________

Budayakan tinggalkan jejak setelah membaca...

1
🌷💚SITI.R💚🌷
sprtiy di bunuh luis sm anya ini
🌷💚SITI.R💚🌷
lanjuuut
🌷💚SITI.R💚🌷
lama² mereka jatuh cinta de..skrng ribut trs tr sdh berpisah br rindu de
🌷💚SITI.R💚🌷
urakan tp kamu suka kan....🤣🤣
🌷💚SITI.R💚🌷
nyimak dl..lanjuut
Asrinda 24
Aku mampir
Imelda Nurrahmah
next
TiiehAtieh: udah habis kak, lanjut baca THE SECRET yuk, masih on going, banyak misterinya disana 🙏
total 1 replies
Imelda Nurrahmah
kejrm banget si bima
Imelda Nurrahmah
keren
anthy haryanti
kasihan banget sih loe levin,,,hampir nggak jadi nikah,,,hehehehe
anthy haryanti
wahhh nindi udah hamidun nih
abimasta
akhirnya nindi punya anak,happy ending selamat ya thor sudah memberikan bacaan yg menarik
anthy haryanti
rumah kosong itu bener2 bakal jadi angker,,,
TiiehAtieh: baca juga ekstra partnya ya kak 😊
total 1 replies
anthy haryanti
waduhhh siapa lagi tuh yg kena
anthy haryanti
siapa tuh yg kena
anthy haryanti
waduhhhh
anthy haryanti
kok aku yg deg degan yah
anthy haryanti
makin seru nihhh
abimasta
aku sudah selesai bacanya..makasih ya thor meskipun saya telat mampir disini
abimasta: menurut ku ceritanya bagus,cm kasian nindi blm punya momongan
total 3 replies
anthy haryanti
wahh kebiasaan si nindi,,kasihankan si tengil,,,hehehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!