Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian I)
...Tiga Batu Penyangga Semesta...
..."Pohon tidak tumbuh karena akarnya kuat. Akar menjadi kuat karena bumi, air dan cahaya memilih untuk saling menjaga."...
^^^—Petuah Ompu Sada Uluan^^^
Keesokan paginya, Banua Ginjang terasa lebih hening daripada biasanya. Kabut tipis menggantung di sela-sela cabang Hariara Bolon, bukan untuk menyembunyikan keindahan, melainkan seolah memberi ruang bagi semesta untuk berpikir.
Burung-burung masih bernyanyi. Namun nyanyian mereka terdengar lebih lembut dan syahdu.
Air Terjun Cahaya tetap mengalir. Tetapi gemericiknya terdengar menyerupai doa yang dibisikkan.
Deak Parujar duduk di akar terbesar Hariara Bolon. Ulos Cahaya yang kini dihiasi tujuh benang pelangi terbentang di pangkuannya. Ia mengusap perlahan setiap motif yang pernah muncul: pusaran air, akar pohon, gunung yang belum lahir, tujuh cabang, dan warna-warna pelangi.
Setiap corak mengingatkan Deak pada seorang guru yang telah mengajar dan memberikan pengetahuan kepadanya. Setiap helai mengingatkannya pada sebuah pelajaran tentang kebijaksanaan tertentu.
Namun semakin banyak yang ia pelajari, semakin ia merasa bahwa semua pelajaran itu seperti bintang-bintang di langit. Terlihat indah tapi belum membentuk sebuah rasi yang jelas.
"Masih ada sesuatu yang belum kupahami..." bisiknya, "Tentang apa yang menyatukan semuanya?"
Sebuah bayangan besar melintas di atas kepalanya. Burung Erung turun perlahan dari langit. Sayapnya yang keperakan memantulkan cahaya pagi.
Namun hari itu, sang burung agung tidak membawa bulu. Tidak juga membawa pesan. Ia hanya menatap Deak dengan mata yang teduh dan bertanya: "Apakah engkau telah selesai belajar, Putri?"
Deak menggeleng sambil tersenyum, lalu menjawab dengan nada sedih: "Semakin aku belajar, semakin aku merasa belum mengetahui apa-apa."
Burung Erung menganggukkan kepala, ia pun berkata: "Itu pertanda baik."
"Mengapa begitu?" tanya Deak bingung.
"Karena hanya bejana yang merasa kosong... yang masih dapat diisi." jawab sang Burung Erung kemudian mengepakkan sayapnya sekali.
Tidak ada angin besar ataupun kilatan cahaya yang ditimbulkannya, hanya beberapa helai daun Hariara yang perlahan jatuh ke tanah. Daun-daun itu tidak jatuh sembarangan. Mereka membentuk sebuah jalan. Jalan yang belum pernah dilihat Deak sebelumnya.
Jalan itu mengarah ke sisi barat Banua Ginjang, melewati padang bunga embun, hutan lumut perak, dan lembah tempat kupu-kupu kristal menari di atas kabut. Deak mengikuti tanpa bertanya. Jonggi melompat riang di pundaknya.
Di sepanjang perjalanan mereka bertemu banyak makhluk Banua Hinjang, para sahabat lama.
Parhudon, rusa-rusa putih bertanduk kristal, sedang mengantarkan embun ke akar bunga-bunga langit.
Siboru Habutaran menampung tetes embun yang dihasilkan gerhana semalam, mereka mengumpulkannya dalam mangkuk-mangkuk daun agar tidak hilang sebelum matahari meninggi.
Sekelompok Sitabeak Bintang berlarian sambil membawa serpihan cahaya yang mereka kumpulkan dari sisa gerhana. Dengan tangan-tangan mungil mereka, serpihan itu disusun menjadi bintang-bintang baru yang kelak akan menghiasi malam.
Tak jauh dari sana, Parsilopuk Bayang tampak bekerja dalam diam. Dengan jarum-jarum dari benang cahaya, mereka menjahit bayangan pepohonan yang sempat terurai akibat perubahan cahaya, agar setiap makhluk tetap memiliki pasangan bayangannya ketika matahari bergeser.
Deak berhenti sejenak dan bergumam, "Semua bekerja..."
Burung Erung mengangguk, "Semesta tidak dijaga oleh satu makhluk saja, Putri. Ia dijaga oleh ribuan kesetiaan yang mungkin tampak kecil."
Kalimat itu diam-diam menetap di hati Deak.
...****************...
Perjalanan mereka berakhir di sebuah lembah yang sangat sederhana. Tidak ada air terjun cahaya di situ. Tidak ada bunga-bunga raksasa yang menghiasi sekitarnya. Tidak ada istana kristal yang berdiri megah. Hanya hamparan rumput hijau yang sesekali tertiup angin dan bergoyang pelan.
Di tengah hamparan rumput itu, berdiri sebuah pondok kecil beratapkan sulur Hariara. Di depan pondok itu terdapat sebuah tungku.
Tungku itu sangat berbeda dari apa pun yang pernah dilihat Deak. Ia hanya terdiri atas tiga batu besar yang menopang sebuah periuk tanah liat.
Tidak ada ukiran. Tidak ada permata. Tidak ada cahaya. Namun justru kesederhanaannya memancarkan kewibawaan yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Di samping tungku duduk seorang lelaki yang tampak sangat tua. Rambutnya telah memutih seperti kapas yang disinari bulan. Janggutnya terlihat menjuntai hingga menyentuh tanah. Kulitnya dipenuhi guratan-guratan halus menyerupai akar pohon tua.
Di tangannya tergenggam sebuah tongkat dari kayu Hariara pertama. Burung-burung kecil hinggap tanpa takut di bahunya. Seekor Parhudon bahkan merebahkan kepala di dekat kakinya.
Beliau mengangguk hormat pada Burung Erung dan tersenyum hangat ketika melihat Deak datang mendekat, "Sampai juga akhirnya sang Putri Langit."
Deak membungkuk hormat, "Opung..."
Burung Erung berkata lirih, "Inilah Ompu Sada Uluan. Penjaga Penyangga Semesta."
Tak ada pelajaran yang langsung dimulai.
Ompu Sada Uluan justru menuangkan air hangat dari kendi tanah liat ke dalam dua cawan kayu. Aromanya lembut, seperti bunga hariara yang baru mekar setelah hujan. Beliau menyerahkan satu cawan kepada Deak dan berujar: "Minumlah dulu Putri Langit."
Deak meminumnya perlahan. Rasanya aga aneh di indra pengecapannya. Seperti air, namun pada saat yang sama terasa juga seperti embun, madu dan mata air pegunungan dicampur bersamaan.
"Air ini berasal dari mana, Opung?" tanya Deak kemudian.
"Tidak dari satu tempat. Melainkan dari banyak mata air yang memilih untuk berkumpul." Beliau menjawab dan kembali tersenyum, "Sama seperti kebijaksanaan."
...****************...
Setelah beberapa lama menikmati keheningan, Ompu Sada Uluan berdiri. Beliau menunjuk tungku di hadapan mereka. "Putri, coba perhatikan."
Deak mengamati. Hanya ada tiga batu hampir seukuran besarnya dan sebuah periuk di atas ketiga batu itu.
"Apakah itu Opung? Tiga buah Batu dan sebuah Periuk?"
"Tidak Putri-ku, itu adalah perwujudan seluruh dunia."
Deak mengernyitkan dahi.
Ompu Sada Uluan lalu menggeser salah satu batu penyangga. Periuk tanah liat itu langsung miring. Lalu beliau menggeser kembali batu itu menjauh dari dua batu lainnya. Tidak lama kemudian periuk itu jatuh ke rumput. Tidak pecah, tetapi tidak lagi dapat berdiri kokoh sebagaimana sebelumnya.
"Nah.. Opung hanya memindahkan satu batu, tapi mengapa periuk itu tidak dapat tetap berdiri?"
Deak menjawab pelan, "Karena ia kehilangan penyangga-nya. Ia menjadi tidak seimbang, Opung"
"Tepat. Tidak ada batu yang lebih penting daripada batu lainnya. Ketiganya saling memikul. Saling mempercayai. Saling menguatkan." ujar sang Ompu dan beliau meletakkan kembali batu itu di posisi sebelumnya. Ia juga mengangkat periuk yang dapat kembali tegak kokoh berdiri.
Lalu beliau menggambar sebuah lingkaran di tanah dengan ujung tongkatnya. Di dalam lingkaran itu, beliau membuat tiga titik.
"Banyak zaman dari sekarang... Ketika manusia telah memenuhi dunia... Anak yang lahir dari rahimmu dan kemudian cucu dan cicit-mu, akan mengenal sebuah falsafah. Mereka akan menyebutnya... Dalihan Na Tolu." ujar sang Ompu lagi.
Nama itu terdengar begitu asing di telinga Deak dan ia pun bertanya: "Apa artinya itu, Opung?"
Beliau mengusap salah satu batu dengan lembut dan menjawab dengan perlahan, agar Deak dapat meresapi semua perkataannya: "Dalihan berarti tungku. Na Tolu berarti yang tiga. Manusia akan memahaminya sebagai hubungan yang harus saling dijaga —antara hula-hula, dongan tubu dan boru. Namun... sebelum menjadi bagian dari adat manusia... falsafah ini telah lebih dahulu menjadi hukum semesta."
Deak memandang ketiga batu itu dengan tatapan baru.
Ompu Sada Uluan melanjutkan, "Lihatlah Hariara Bolon. Ia menjulang karena akarnya memeluk bumi. Lihatlah sungai. Ia mengalir karena langit mengirim hujan. Lihatlah burung. Ia dapat terbang karena udara bersedia menopang sayapnya. Tidak ada yang hidup sendirian. Tidak ada yang menjadi mulia sendirian."
Saat itu angin berembus pelan. Tiga batu yang menjadi tungku itu tiba-tiba memancarkan cahaya lembut. Bukan cahaya yang menyilaukan. Melainkan sinar hangat seperti api yang baru dinyalakan.
Di dalam cahaya itu, Deak melihat tiga bayangan. Yang pertama menyerupai sepasang tangan yang terangkat ke langit. Yang kedua memperlihatkan banyak tangan saling menggenggam. Yang ketiga menampilkan akar-akar yang memeluk bumi.
"Apa itu?" bisiknya.
Ompu Sada Uluan menjawab dengan suara yang hampir menyerupai doa, "Itulah tiga ikatan yang menopang seluruh kehidupan. Kasih kepada Mulajadi Nabolon, kasih kepada sesama dan kasih kepada alam tempat kehidupan bertumbuh. Jika salah satu saja diabaikan, dua yang lain akan ikut goyah."
Deak memejamkan matanya. Semua pelajaran yang pernah diterimanya seakan menyatu.
Bahasa Air telah mengajarinya untuk mengingat. Nyanyian Batu telah mengajarinya untuk bertahan. Perpustakaan Angin telah mengajarinya untuk mendengar. Ulos Cahaya telah mengajarinya untuk mengasihi. Jam Pasir Bintang telah mengajarinya untuk memilih. Pelangi telah mengajarinya untuk menghubungkan.
Dan kini, ia mulai memahami benang yang mengikat semuanya. Kasih. Bukan kasih yang diam. Melainkan kasih yang bekerja, memelihara dan memberi ruang.
Seperti tiga batu sederhana yang menopang sebuah periuk.
Ompu Sada Uluan menatap Putri Langit dengan senyum penuh harapan, lalu dengan perlahan, ia kembali berkata: "Besok... aku akan menunjukkan kepadamu mengapa sebuah benih... tidak akan pernah tumbuh menjadi hutan seorang diri."
Dan di kejauhan, di atas samudra purba Banua Tonga, riak-riak air kembali membentuk lingkaran-lingkaran kecil.
Seolah dunia yang belum lahir itu sedang mendengarkan pelajaran yang suatu hari nanti akan menjadi napas bagi semua umat manusia.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 10 – Bagian II: Benih yang Tidak Pernah Bertumbuh Sendiri.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/