NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA

SUAMI PILIHAN PAPA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rahmania Hasan

Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

CAPTER 25

HANYA UNTUK SEBUAH SIASAT

Postingan yang dibuat Yunita sepertinya berjalan mulus ketika memancing kemarahan Naura, tapi sedikit berbeda hasilnya dengan yang diharapkan dari upayanya mendekati Hasan dengan memanfaatkan kebaikannya. Semenjak peristiwa postingan itu, Hasan justru terkesan menjaga jarak dengannya. Bahkan ketika Yunita kembali ke kampus untuk menyerahkan kekurangan yang kemaren, Hasan justru meminta seorang asisten dosen untuk menemaninya.

Dia hanya sesekali membalas chat yang dikirim dan juga susah untuk dihubungi. Membuat Yunita memutar otak untuk mendekatinya lagi. Jika cara langsung mendekat pada Hasan sulit, hal yang mudah adalah dengan terus membakar hati Naura. Menciptakan kecemburuan dan pertengkaran diantara keduanya. Dengan tujuan Naura lah yang akan meninggalkan Hasan. Dengan begitu dia bisa mengambil hati Hasan lebih mudah.

Sementara itu tiga kunyuk tidak tinggal diam, mereka terus menyelidiki postingan itu layaknya tim ditektif dan Ilham sebagai ketua ditektif. Ilham mengadopsi cara Sinichi Kudo alias ditektif Conan dalam menangani kasus yang meninpa Hasan.

Malam ini diteras rumah mereka bertiga sedang serius berdiskusi, Ilhan memimpin rencana penyelidikan. Tidak tanggung-tanggung dia juga meminta Hasan untuk mengirim foto yang dia dapat dari Yunita. Dan juga menanyakan dimana lokasi foto itu diambil dan dengan siapa saja hari itu dia disana.

"Yang jelas foto ini emang bentuk sabotase hubungan mas Hasan sama mba Naura. Waktu itu kan mereka bertiga tapi kenapa yang muncul cuma dua orang saja." Papar Ilham.

"Iya aku juga mikirnya kayak gitu." Sambung Andik.

"Kamu kapan yang nggak ngikuti Ilham Dik?." timpal Ilyas.

"Lahhh...kamu sendiri?!." sambung Andik dan tertawa.

"Bukannya mikir kalian ini malah bercanda, wes Dik kata kamu punya temen yang kuliah disana?." tanya Ilham.

"Ohhh...iya katanya digrubnya dia juga rame waktu itu, malah banyak yang mengira dia itu istrinya ms Hasan." Mengingat kembali cerita temennya kemarin.

"Beneran?!." Ucap Ilyas.

"Cepet minta kirimin foto yang diposting digrub temennyya kamu itu." perintah Ilham.

"Kan uda dapet dari mas Hasan." Jawab Andik.

"Buat perbandingan bodoh!." Sentak Ilham.

"Iya iya...kenapa kamu kok nggak jadi intelejen sekalian." Andik berucap.

Takut kembali kena semprot, Andik langsung menghubungi temannya. Setelah beberapa kalj mencoba menghubungi, akhirnya diangkat juga.

"Apa bos kok kayaknya darurat banget ini?." suara dari ujjng telfon.

"Bukan cuma darurat ini...wes nyampek level genting!." Seru Andik.

"Apakah itu?." Sambil tertawa.

Ilham yang tidak sabar, menendang kaki Andik tapi tidak dengan tenaga.

"Soal yang kemaren viral di kampusnya kamu itu Le...soal fotonya mas Hasan!." Mengingatkan.

"Ohhh...ada apa ini?!."

"Kirimin dong Le ke aku." Pinta Andik.

"Ok bos!."

"Segera!."

"Siap!." Lalu mengirim foto yang diminta ke Andik.

Begitu ada chat masuk, Andik langsung membukanya. Ada tiga foto yang dikirim ole temannya itu, satu foto waktu

dikantin kampus, satu foto di depan ruang BAK dan satunya lagi waktu berdiri didepan mobil.

Ilham terus memutar otak, mencari perbedaan diantara foto itu dari sudut pengambilannya, yang satu diambil dari jarak jauh dan satunya diambil dari jarak yang cukup dekat. Pikiran nya tertuju pada wanita yang satunya, dia tidak nampak difoto yang diposting tersebut.

"Gimana Ham...ada sesuatu yang kamu dapat?." Ilyas tidak sabar.

“Hmm...kayaknya ini dilakukan oleh orang dekat!.” Ucap Ilham sambil memicingkan matanya.

“Masak Ham!.” Andik tidak pecaya.

“Aku yakin ada beberapa hal yang mengarah kesana...sudut pengambilan fotonya terlihat jelas perbedaannya!." Mencoba menjelaskan dengan serius.

“sok ditektif Conan lhu Ham!." Ujar Ilyas dan tertawa

“Nggak ikutan mikir!.” Sentak Ilham.

“Siapa bilang aku juga dari tadi mikir!.” Protes Ilyas.

"Coba telfon mas Hasan buat ketemuan besok siang ditempat biasanya." Perintah

sang ketua ditektif.

"Segera saya laksanakan Bos." Jawab Ilyas dan langsung melakukan panggilan.

Setelah membuat janji untuk ketemuan ditempat biasa, mereka makan sambil main karambol diteras samping

rumah seperti biasanya.

----

Rumah Yunita.

Yunita mengambil rencana berikutnya untuk menghancurkan Naura. Dia menelfon temannya yang bernama Sheril untuk meminta bantuan. Dia mengarang cerita bahwa Naura telah merebut cowoknya dan dia hendak memberinya pelajaran sedikit. Setelah menerangkan rencana yang telah dia susun, berikutnya dia memberi alamat butik Naura.

Dia mencoba menelfon Hasan, tak disangka Hasan menjawab panggilan teleponnya.

"Hallo iya Mba?."

"Mas Hasan bisa nggak kita ketemuan besok, ada hal yang ingin saya bicarakan soal yang kemaren itu."

"Ohh...tapi saya bisanya sore ya Mba sekitar jam 3." Jawab Hasan singkat.

"Iya Mas nanti saya tunggu di tempat makan dekatnya kampus Mas." Ucap Yunita dan mengakhiri panggilan.

Alasan Hasan mengangkat panggilan telfon dari Yunita dan menerima ajakannya, hanyalah untuk melursukannya. Dia tidak mau Yunita terus menelfonnya untuk membahas masalah postingan tesebut, karena bagi Hasan semua itu sudah clear dan tidak perlu pembahan lebih lanjut.

Rencana selanjutnya adalah mengirim chat ke Naura dan mengajaknya ketemuan, tujuannya adalah untuk memancing emosinya. Tapi tidak disadari ternyata Hasan sudah berada dirumah ketika dia menelfon tadi. Naura membalas chat Yunita dan sepakat untuk ketemuan tapi dia belum menentukan dimana mereka akan ketemuan.

----

Masih kesal dengan Yunita yang dirasa semakin berani, begitu keluar dari kamar mandi, Naura turun kebawah untuk meminta bik Siti membutuhkannya teh hijau. Wajah kecut Naura membuat bik Siti penasaran, apa gerangan yang membuatnya kesal dipagi ini.

"Ada apa Non pagi-pagi kok wes kecut mukanya?." tanya bik Siti yang penasaran.

"Itu tuh Bik si pelakor ynag satunya, tadi malem nelfon dia terus chat aku juga...apa sih maunya dia!." Jawab Naura.

"Yang jelas mau bikin hubungan Non sama Aden rusak!." Tutur bik Siti.

"Terus apayang harus aku lakuin buat nendang dia Bik?." Tanya Naura meminta ide.

Setelah berpikir sejenak, bik Siti akhirnya menemukan ide yang menurutnya

cukup cemerlang.

"Hmmm..Non bibik ada ide, kan ktanya dia nelfon Aden buat ketemuan...gimana kalo Non pura-pura jadi Aden buat ganti waktu ketemuannya, habis itu blokir aja nomornya itu biar nggak bisa hubungin Aden." bik Siti menjelaskan.

"Lumayan juga Bik!." Sambil mengacungkan jempol.

Serasa energi mengalir disekujur tubuhnya, Nuara dengan semangat kembali keatas untuk melancarkan rencana yang diusulkan bik Siti.

"Non jangan lupa langsung dihapus." Bik Siti mengingatkan.

"Tentu Bik." Jawab Naura dan berlari menaiki tangga.

Begitu masuk kamar, dia mengamati pergerakan Hasan. Menunggunya masuk kamar mandi dan melancarkan rencana yang didapat dari bik Siti tadi dibawah.

"Tumben masih nyantai...biasanya kan uda siap-siap?!." tanya Naura yang melihat Hasan masih duduk santai sambil mengerjakan sesuatu dilaptop.

"Ohhh...nggak ada jam pagi!." Jawab Hasan.

"Kenapa nggak ada jam pagi?!." suara meninggi.

"Ya karena jadwalnyaemang gitu...."

"Terus kelasnya mulai jam berapa?."

"Jam 10 nanti, kenapa?." tanya Hasan yang sedikit penasaran.

"Nggak ada." Dengan sura datar.

Naura masuk kamar mandi, sambil membilas tubuhnya dia terus berpikir bagaimana caranya mencuri handphone

Hasan sebentar. Dia terus memutar otak hingga akhirnya munculah ide untuk merusak kran shower dikamar mandi. Tapi bingung dengan benda apa untuk merusaknya. Naura mencoba berpikir ide yang lain, matanya terus mengitari kamar mandi tapi mentok tidak ada yang bisa dimanfaatkan.

Kesal karena tidak mendapat ide apapun untuk memancing Hasan menjauh dari meja kerja, Nuara keluar dari kamar mandi dan berjalan ke meja rias. Seperti biasa dia memanjakan kulit tubuhnya agar sehat dan selalu terlihat cantik.

Tak sengaja matanya melirik gelang yang kemaren dia pakai tergeletak di meja, lalu muncullah ide dikepalanya.

Segera dia meraih gelang itu dan berlari ke kamar mandi, berpikir sejenak sebelum menjatuhkan gelang tersebut dengan sengaja ke lubang saluran air. Lubang saluran air dikamar mandi itu berbentuk kotak panjang, memiliki tiga saringan, dimana saringan nomor dua berbentuk kotak juga dengan lubang agak besar berbentuk garis arsir, sementara saringan yang ketiga bentuknya bulat dengan lubang saringan yang cukup kecil dan berada didalam, mungkin sekitar 15cm.Agar rencananya tampak natural, Naura pura-pura berteriak, tujuannya agar Hasan terpancing.

Hasan yang mendengar teriakan Naura segera berlari ke kamar mandi untuk memastikan tidak ada sesuatu yang terjadi padanya.

"Ada apa Mba?." tanya Hasan panik.

"Gelangku lepas terus masuk kesana...." Jawab Naura dengan memasang muka sedih.

Sesuai dugaan, Hasan langsung berjongkok dengan menjatuhkan lututnya dilantai kamar mandi dan mencoba memerika gelang Nuara.

"Mba coba cari sesuatu yang bisa buat congkelan." Pinta Hasan.

Nauara yang girang karena rencananya berhasil, langsung berlari keluar untuk melancarkan aksinya. Setelah mengirim chat ke Yunita dan memastikanchat itu dibaca olehnya, Nuara menghapus chat di handphone Hasan dan juga memblokir nomor Yunita agar tidak bisa menghubungi suaminya.

"Dapet Mba?!." Teriak Hasan dari dalam kamar mandi.

"Iya ini masih nyari!." Jawab Naura dengan berteriak juga.

"Coba kebawah nanya ke bik Siti mungkin ada yang bisa dibuat nyongkel ini!." Perintah Hasan lagi.

"Iya...aku turun dulu." Jawab Naura dan berlari kebawah.

Seperti yang diminta Hasan, Nuara langsung menemui bik Siti. Sebelum meminta bik Siti mengambilkan sesuatu yang bisa dibuat congkelan, Naura mengabari bik Siti kalau rencananya telah berhasil.

Dengan gembiranya bik Siti mencoba mencari sesuatu di dapur yang bisa dipakai. Matanya melihat spatula berbentuk garpu dengan dua gigi dan juga pisau roti yang lumayan panjang, Dia langsung meraih benda itu dan menyerahkannya pada Naura.

“Coba aja pakek ini Non.” Sambil menyerahkan dua benda yang diambilnya tadi.

"Ok bik aku keatas dulu ya!." Berlari kembali ke atas.

"Ini!." Menyerahknnya pada Hasan.

“Ya Allah...bukan ini maksud saya Mba nya!." Dengan tertawa kecil.

“Katanya suruh nanya ke bik Siti...ini aku dapet dari bik Siti nggak ngambil sendiri!.” Protes Naura karena ditertawakan oleh Hasan.

“Iya iya saya yang salah...maksud saya obeng, coba tanya ke bik Siti apa ada obeng buat buka atasnya ini.” Hasan menjelaskan dengan harapan istrinya mengerti apa yang dimaksud.

Naura kembali turun kebawah, dia terus mengomel dengan memanyunkan mulutnya yang kecil. Berjalan kembali ke bik Siti dan menyerahkan dua benda dapur itu.

“Bik bukan ini...katanya obeng.” Dengan memanyunkan bibirnya.

Bik Siti tertawa melihat ekspresi wajah Naura dan juga dua benda yang dia pegang.

“Kok malah ketawa Bik...buruan ditungugu.” Perintah Naura.

Bik Siti segera mencari benda yang dimaksud diseluruh dapur, dia juga mencarinya digudang yang menyimpan pekakas. Namun tetap tidak menemukan benda yang dimaksud, bik Siti mencari pak Said untuk menanyakan mungkin dia memiliki benda itu. Sayangnya pak Said tidak ada, dia sudah berangkat mengantar pak Malik ke kantor.

Bik Siti kembali lagi ke gudang, mengambil pemotong rumput dan pemotong ranting. Juga dia kembali kedapur untuk mengambil pembuka kaleng dan menyerahkan semuanya ke Naura. Naura membawa semua benda itu keatas dan segera menyerahkannya.

“Ini...obengnya nggak ada jadi sama bik Siti dikasih ini siapa tahu bisa dipakek.” Ucap Naur.

Mata Hasan dibuat melotot ketika melihat semua benda yang dibawa oleh istrinya. Sambil memutar otak untuk membukanya dengan benda-benda itu, dia menahan tawa agar Naura tidak tersinggung.

“Emang Mba nya yakin mau pakai ini?!.” Hasan bertanya untuk memastikan.

“Iya...alat yang ada cuma itu.” Jawab Naura santai.

“Kalo rusak salurannya gimana?.”

“Gampang tinggal bilang sama pak Said."

“Bener Lho ya?!." memastikan lagi.

“Iya kok nggak percaya sama aku.”

Hasan mulai merusak penyaring paling luar dengan menggunakan pembuka kaleng, cukup alot untuk mematahkannya. Dia terus mencoba mengaitkan pembuka kaleng pada lubang-lubang penyaringan dan menekan sekuat tenaga agar patah. Lelah mencoba akhirnya dia teringat kalau memiliki obeng di jok sepeda motor.

“Ohhh iya...disepeda motorku ada obeng, mba nya boleh saya minta tolong ambilkan di jok sepeda saya?.” Pinta Hasan sedikit ragu.

“Kok nggak dari tadi ingetnya...kunci sepedanya ditaruh dimana?.” tanya Naura.

“Dimeja kerja kayaknya Mba.” Jawab Hasan.

Naura segera keluar dan mengambil kunci sepeda motor di meja kerja dan segera berlari kebawah menuju garasi.

“Mau kemana Non!.” Teriak bik Siti.

Naura tidak menjawab, dia hanya menunjukkan kunci sepeda motor Hasan dan terus berlari ke luar menuju garasi. Setelah mendapati apa yang diminta Hasan, Naura secepat kilat naik keatas.

“Ini!." Dengan suara terengah-engah.

Hasan berusaha membuka baut mur disetiap dibagian sisi dengan menggunakan obeng, tidak butuh waktu lama baginya untuk membuka bagian atas saluran. Berikutnya dia menggunakan pembuka kaleng untuk memotong saringan yang lebih tipis dari yang bagian atas. Upayanya berhasil meski tidak mudah, dia merusak saringan itu untuk membuat lubang sekiranya tangannyabisa masuk. Hasan berusaha memasukkan tangannya dan meraih gelang itu dengan jarinya.

"Kalo nggak bisa nggak usah diambil wes... biarkan aja." Ujar Naura, berlutut disamping Hasan dan menyentuh pundak Hasan.

"Inshallah bisa." Menoleh ke Naura dan terseyum padanya.

Tangan Naura seketika menyentuh pipi Hasan, matanya berkaca-kaca ketika menatapnya.

"Beneran nggak apa-apa...." Ucap Naura.

Hasan tersenyum, tangannya meraih tangan Naura yang menyentuh pipinya. dan menggenggamnya dengan hangat.

"Nggak apa-apa mba." ucapnya membuat hati Naura meleleh.

Meski tidak nyaman dengan posisi jongkok sambil berlutut, dia terus berusaha meraih gelang itu dengan semakin memasukkan tangannya dilubang yang sedikit sempit. Cukup lama berusaha, akhirnya jari Hasan mampu menggapainya. Mencengkram gelang itu dan menariknya keatas, tak sengaja tangan Hasan tergores oleh besi yang tadi dia rusak. Darah mengalir dari punggung luar tangan sebelah kanan.

”Awww!." Meringis kesakitan.

Seketika Nuara meraih tangan Hasan yang terluka, mengusap darah yang mengalir dengan bajunya dan juga meniup luka Hasan yang mungkin terasa perih.  Matanya berkaca-kaca tak kala menatap luka ditangan Hasan. Seperti terhipnotis, Naura memegang erat tangan Hasan dan mencium tangan yang terluka itu.

Bahkan Hasan terkaget mendapati perhatian yang ditunjukkan oleh istrinya. Hatinya juga ikut sedih melihat air mata yang mengalir di pipi Naura untuknya.

"Ayo aku rawat dulu lukanya." Ucap Naura dan memuntun keluar.

Naura penuh dengankesedihan diwajahnya, menuntun Hasan dengan penuh perhatian. Menyuruh Hasan duduk disisi ranjang dan dia berlari untuk mengambil kotak obat.

Hasan tersenyum bahagia dengan semua perhatian yang ditunjukkan Naura padanya kali ini, perhatian itu tulus dan bukan dibuat-buat agar hatinya luluh.

"Apa perih?." tanya Naura ketika menerapkan obat merah.

"Iya dikit." Jawab Hasan dengan suara lembut.

Naura tersenyum dan menyimpan kembali kotak obat, dia juga menanyakan pada Hasan apa ada sesuatu yang dia inginkan. Namun Hasan merasa tidak ada lagi, dia hendak beranjak dari tempat tidur Naura untuk kembali ke meja kerja,melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda.

"Mau kemana...diam aja disitu...." Ucap Naura.

"Mau ngelanjutin kerjaan mba." Jawab Hasan sambil menunjuk laptop yang masih terbuka.

"Ohhh biar aku ambil...kamu tetap aja disana." Ujar Naura.

Lalu melangkah menuju meja kerja Hasan, mengambil laptop dan semua berkas yang tergeletak dimeja. Meletakkan semua diatas kasur tepatnya dihadapan Hasan, dan dia merangkak naik keatas untuk bergabung dengannya.

"Apa itu yang digarap?." tanya Naura.

"Ini lagi bikin rancangan perkuliahan buat mata kuliah sistem informasi akuntansi." Jawab Hasan santai.

"Aku pikir yang buat dibagian TU atau semacamnya."

"Ya nggak lah...kita yang buat."

Naura terus menemani Hasan yang tengah sibuk dengan kerjaannya, sesekali dia juga bertanya atau sekedar mengajak ngobrol Hasan. Sampai rasa kantuk dimatanya sudah tidak bisa ditahan lagi, dia tertidur dengan posisi miring menghadap ke Hasan.

Hasan terlalu fokus dengan kerjaannya sehingga tidak tahu kalau Naura sudah terlelap tidur. Begitu selesai, dia menoleh ke Naura dan mendapatinya sudah terpejam. Tanganya sangat hati-hati ketika membereskan semua berkas diatas kasur tepatnya disamping Naura, karena takut membuatnya terbangun.

“Mba...Mba nya nggak mau ke butik?.” dengan hati-hati membangunkan Naura.

“Hmmm...” Enggan membuka mata.

“Mba nya nggak ke butik?.”

Naura terbagun, matanya masih berat begitu juga dengan kepalanya. Dia menjawab pertanyaan Hasan dengan setengah sadar.

“Iya...kamu berangkat saja duluan.” Lalu kembali merobohkan tubuhnya ke kasur.

“Lohh...kok balik tidur lagi.” Guman Hasan.

Hasan tidak mau mengganggu Naura yang tampaknya ngantuk berat, sebelum pergi dia meminta bik Siti untuk membangunkannya setengah jam kemudian.

“Siap Den!.” Ucap bik Siti.

“Kalo gitu saya berangkat dulu ya Bik.” Pamit Hasan.

1
F2h 29
Lumayan
Bungatiem
aku baca udah ke 4x. tapi pas cerita nya udah mulai melintir ga karuan aku ga lanjutin lagi.
Triwoel Andari
Hasan ngasih mahar ke Naura d episod ke brapa yah.. apa aku yg kelewatan ngebaca nya atau gimana yah...???
Hani P Hani
soweet jadi penggen jadi naura😍😍😍
Hani P Hani
ahirnya mereka bersatu semoga ini menjadi awal yang baik
Hani P Hani
alhamdulilah
Myra Azmoro
Si naura kelewatan ,, Hadeeww episode ini banyak mengadung bawang bikin hati sesak
Yuni
i
나의 햇살
gimana cowok suka sama kamu, orang kamu aja calon pelakor karena kalah saing sama Naura
Jusmiati
enaknya Naura, masak suaminya terus yg berjuang, kalau sy jadi Hasan, sdh sy tinggalin tuh nauranya, cari wanita yg lebih berfikir dewasa....😔😔😔
Yeni Rubianti
berbagi ilmu
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Bagus bgt critanya,dr tadi bikin mewek mulu 😭😭😭
Linda Erma
Critanya bikin aku mewek bgt 😭😭😭
Linda Erma
Sedih bgt ya 😭😭😭
Linda Erma
Yahhh aku nangis,Naura harusnya bersyukur punya suami yg sabar kyk hasan
Muda MACMUDAH
bagus thor cm sayang kurang lengkap klo g ada ilham jg
Muda MACMUDAH
yg cewek kurang cantik kak soalnya yg cowok tampan abis🤭
Heny Purwati
naura knp egomu tinggi...sampai" tak menyakini ketulusan suami sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!