Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Mobil limousine hitam milik Edgar berhenti tepat di depan gerbang kediaman Darmawan. Edgar turun dipandu oleh Harry. Dari balik jendela lantai atas, Nova dan Dona terpaku melihat kedatangan pria berwibawa itu. Sementara itu, Pak Marwan memilih mengurung diri di kamar setelah meluapkan amarah dan mengusir Aruni.
"Mom, i... itu bukankah Tuan Edgar? Ya ampun, ternyata aslinya jauh lebih tampan dibandingkan di televisi yang sering aku tonton!" bisik Dona takjub.
"Dona, apa jangan-jangan Tuan Edgar sudah tahu kalau wanita pada malam itu yang tidur dengannya adalah Aruni? Makanya dia datang ke sini!" Nova terbelalak.
Deg!
Dona menelan ludahnya, mendadak gemetar. "Mom, bagaimana ini? Aku takut!"
Nova bergeming sejenak, lalu sebuah seringai licik terukir di wajahnya. Ia mendekat dan membisikkan sebuah rencana jahat ke telinganya Dona. Mendengar itu, Dona seketika tersenyum lebar.
"Mommy memang cerdik! Untung saja si Aruni sudah minggat dari rumah ini!" ujar Dona puas.
Pintu depan kediaman Darmawan pun terbuka. Edgar sempat menyunggingkan senyum tipis, berharap sosok yang menyambutnya adalah Aruni. Namun, begitu melihat dua wanita yang muncul yakni Nova dan Dona, raut wajahnya seketika mendingin dan berubah masam.
"Di mana Aruni?" tanya Edgar tanpa basa-basi, menerobos masuk bersama Harry. Matanya menatap tajam ke sekeliling ruangan.
Melihat respons dingin Edgar, Nova dan Dona langsung melancarkan akting mereka.
"Huuuu... Maaf, Tuan, tapi Aruni sudah tidak tinggal di sini lagi. Dia... dia dibawa pergi sama kekasihnya!" tangis Nova berpura-pura histeris.
Dona menimpali dengan raut penuh kedengkian yang dipaksakan menjadi kepedihan, "Tuan, Aruni itu telah merebut tunanganku dan dia malah kabur bersamanya!"
Mendengar kebohongan murahan itu, amarah Edgar mendidih. Dalam sekejap, tangannya melayang dan mencengkeram erat lehernya Dona.
"Jangan coba-coba kalian membohongiku! Cepat katakan, di mana Aruni?!" bentak Edgar dengan tatapan mata bengis yang sanggup membekukan darah.
Dona menggeram kesakitan, napasnya tersengal-sengal. Nova yang melihat putrinya hampir tercekik langsung berteriak histeris.
"Tolong! Lepaskan putriku!" jerit Nova melengking.
Keributan itu membuat Pak Marwan keluar dari kamarnya dengan wajah memerah. Ia terkejut mendapati anak sambungnya sedang dicekik oleh pria asing yang tampak sangat berkuasa.
"Lepaskan putriku! Siapa kau?! Apa yang kau lakukan di rumahku?!" bentak Pak Marwan tegas.
Edgar menghempaskan tubuh Dona hingga terjerembap ke lantai. Ia lalu merapikan jasnya yang sedikit kusut, menyambar sapu tangan yang disodorkan Harry, lalu mengelap jemarinya dengan dingin. Langkahnya maju, menatap lurus ke arah Pak Marwan.
"Aku ke sini ingin mencari Aruni!" tegas Edgar.
Pak Marwan menyunggingkan senyum sinis penuh kebencian. "Oh... jadi kau pria brengsek yang sudah menyebabkan putriku hamil, hah?!"
Deg!
Pernyataan itu menghantam Edgar dan Harry bak petir di siang bolong. Nova dan Dona hanya bisa merutuki kebodohan Pak Marwan yang malah membocorkan kenyataan itu.
"Aruni... hamil?!" bisik Edgar terpaku. Matanya membelalak, dadanya bergemuruh hebat. "Lantas di mana dia sekarang?!"
Edgar panik bak pria kehilangan akal sehat. Ia menerobos tiap lorong dan ruangan di rumah itu, memanggil nama Aruni, namun tempat itu terasa hampa.
"Dia sudah aku usir dari rumah ini!" seru Pak Marwan tanpa rasa menyesal.
Deg!
Tangan Edgar mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah luar biasa menguasai dadanya, namun ia menahan diri demi tidak memukul pria paruh baya yang merupakan ayah kandung dari wanita yang kini mengandung darah dagingnya.
Saat melangkah di meja koridor, mata Edgar tertuju pada sebuah bingkai foto kecil. Di sana terpasang pasfoto Aruni berseragam SMA, tersenyum polos dan manis. Edgar menyambar foto tersebut dan menatapnya lekat-lekat.
"Aruni... aku akan mencari mu. Rupanya kau masih sangat muda..." gumam Edgar lirih, namun sarat penegasan. "Meskipun usia kita terpaut jauh, kau adalah satu-satunya wanita yang akan menjadi pendamping hidupku!"
Tanpa membuang waktu lagi, Edgar berputar balik dan memberi perintah tegas kepada para pengawalnya untuk menggeledah seisi rumah demi memastikan tak ada yang disembunyikan. Setelah dipastikan nihil, Edgar melangkah keluar membawa foto Aruni di genggamannya, bertekad mengerahkan seluruh kekuasaannya untuk menemukan belahan jiwanya.
*
*
Suasana Stasiun Senen pagi itu terasa riuk pikuk oleh laluan para calon penumpang. Di salah satu sudut kursi tunggu, Aruni terduduk gontai memeluk tas pakaian kusamnya, didampingi Bik Sumi yang tak henti-hentinya mengusap bahu sang nona muda.
Bik Sumi berniat membawa Aruni ke kampung halamannya di Jawa Tengah. Ia tahu betul bahwa kini Aruni sudah tak memiliki siapa-siapa lagi di kota ini, terlebih setelah ayah kandungnya sendiri tega membuangnya.
"Non yang sabar, ya... Nanti di kampungnya Bibi, Non bisa hidup jauh lebih tenang. Bibi sudah janji sama mendiang Ibunya Non untuk selalu jagain Non!" tutur Bik Sumi lembut dengan mata berakaca-kaca.
Aruni menoleh, menatap wajah renta di sampingnya dengan derai air mata yang belum menyapu habis. "Bik, maaf ya kalau aku sudah merepotkan Bik Sumi..."
"Sudah, Non... Jangan menangis lagi. Bibi enggak tega melihat Non Aruni seperti ini," bujuk Bik Sumi mengusap pipi Aruni.
Perlahan, jemari Aruni turun mengusap perutnya yang masih rata. Usapan itu penuh keraguan dan kepedihan. "Apa yang harus Aruni lakukan dengan bayi di dalam perutku ini, Bik?"
Bik Sumi menggenggam erat tangan Aruni, memberikan dorongan kekuatan. "Non... rawatlah anugerah yang sudah Tuhan kasih untuk Non Runi. Dedek bayi di dalam perutnya Non sama sekali tidak berdosa. Jangan sampai Non melakukan hal yang dibenci oleh Tuhan!"
Perlahan, gejolak penderitaan di dada Aruni menyurut, berganti dengan kehangatan naluri seorang ibu. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat.
"Iya, Bik... Mungkin anak ini akan menjadi satu-satunya keluarga Aruni..." Aruni mengangguk mantap, sorot matanya berbinar haru. "Aruni akan menjaga dan membesarkannya!"
"Syukurlah, Non. Bibi senang sekali mendengarnya," sahut Bik Sumi lega. "Ya sudah, ayo Non kita masuk ke dalam stasiun. Kita pesan tiket untuk segera pergi ke kampung."
Sebelum beranjak, Aruni berdiri tegak dan memejamkan mata sejenak, membiarkan angin stasiun menerpa wajahnya.
‘Selamat tinggal kota Jakarta, selamat tinggal kampus impianku, dan selamat tinggal semua kenangan pahit di sini... Aku akan memulai lembaran hidupku yang baru di tempat yang asing,’ batin Aruni berpamitan pada masa lalunya.
Namun, takdir berkata lain. Baru saja beberapa langkah mereka berjalan menuju loket tiket, empat orang pria bertubuh kekar dengan jaket kulit hitam mendadak mengepung langkah mereka.
Satu di antara mereka mendekat, lalu menyingkap sedikit kain jaketnya, menampilkan moncong senjata api yang mengilat dingin di balik saku dalam.
"Jangan berteriak kalau masih sayang nyawa. Ikut kami sekarang juga!" ancam pria berwajah keras itu dengan suara berat berbisik.
Tubuh Aruni dan Bik Sumi seketika gemetar hebat ditelan ketakutan yang mencekam. Tanpa bisa melawan, mereka berdua diseret secara paksa menuju sebuah mobil minibus hitam yang terparkir di area luar stasiun.
Pintu mobil memicu dentum keras saat ditutup rapat. Di dalam kabin yang remang, jantung Aruni berdegup liar. Namun, di tengah kepanikan itu, Aruni mencoba berpikir jernih. Memanfaatkan kelengahan keempat penculik yang sibuk fokus pada jalanan dan mengawasi Bik Sumi yang menangis ketakutan, jemari Aruni bergerak perlahan di dalam saku mantelnya.
Dengan ketangkasan dan kecerdasannya, Aruni menggeser tombol smartwatch di pergelangan tangannya untuk mengaktifkan pelacak GPS, lalu memposisikan jarinya di atas layar ponsel di dalam saku untuk mengetik pesan secara tersembunyi kepada sahabatnya.
‘Rena tolong aku, aku diculik!’
Klik!
Pesan darurat beserta koordinat lokasi terkirim detik itu juga.
Namun naas, pergerakan kecil tangan Aruni disadari oleh salah satu bodyguard bertato yang duduk tepat di depannya lewat pantulan kaca spion.
SREET!
Pria bertato itu berbalik dan menyambar paksa ponsel dari tangan Aruni!
"Kurang ajar! Jangan kau kira kami bodoh, Nona!" bentak pria bertato itu tajam. Tanpa ragu, ia membuka jendela mobil dan melempar ponsel Aruni ke jalan raya hingga hancur terlindas kendaraan lain.
"Sekarang kau tidak bisa menghubungi siapa pun lagi!"
Pintu mobil terkunci rapat, melaju kian kencang menembus padatnya jalanan Jakarta. Aruni memeluk erat Bik Sumi yang menyembunyikan wajah di bahunya.
‘Ya Tuhan... tolong selamatkan aku dan Bik Sumi!’ jerit Aruni dalam hati, memejamkan mata erat-erat seraya mendekap erat perutnya.
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..