Mengandung adegan 21+
Bijaklah dalam memilih bacaan
Kisah cinta tiga pasangan yang harus kandas namun belum sepenuhnya usai.
Kisah cinta Regan dan Sarah sampai di pernikahan. Keduanya hidup bahagia sampai ujian datang menerpa rumah tangganya. Mereka terpaksa berpisah saat kehilangan anak tercinta dengan cara yang tragis.
Irzal dan Poppy dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Di saat cinta mulai tumbuh, masalah datang menerpa. Seseorang dari masa lalu memporak porandakan biduk rumah tangga yang baru seumur jagung.
Berawal dari sebuah permainan. Rasa cinta antara Ega dan Alea mulai tumbuh. Sejarah kelam dan permusuhan orang tua membuat keduanya harus terpisah.
Sekian lama berpisah, ketiga pasangan ini bertemu kembali. Takdir mempertemukan mereka semua terhubung dalam ikatan yang sulit dijelaskan. Akankah mereka dapat bersatu kembali dengan orang yang dicintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Complicated Couple (17) Salah Paham
Irzal bergegas keluar kamar setelah mendapat telepon dari Akbar yang mengatakan ada seseorang yang bersedia mendonorkan ginjalnya. Tepat di depan kamar dia bertemu dengan Poppy.
“A, mau kemana?”
“Aku harus pergi.”
“Katanya hari ini mau nganter aku ke kampus.”
Irzal berhenti, dia teringat sudah berjanji mengantar Poppy untuk bimbingan terakhirnya. Tapi masalah pendonor lebih penting.
“Maaf sayang, aku ada urusan yang ngga bisa ditunda, maaf ya.”
Tanpa menunggu jawaban Poppy, Irzal segera pergi meninggalkannya. Poppy kesal, lagi-lagi Irzal mengabaikannya. Mengapa sulit sekali baginya memiliki waktu berdua dengannya. Semangatnya untuk menemui bu Yanti surut sudah. Dia melihat lembaran skripsi yang siap ditanda tangani lalu melemparnya ke lantai, kertas-kertas pun berhamburan.
Sudah setengah jam lamanya Poppy berdiam diri di balkon, rasa marah dan kecewanya belum hilang. Setelah memikirkan matang-matang dia pun memutuskan menelpon bu Yanti untuk membatalkan pertemuannya. Terdengar suara sambungan telepon beberapa kali lalu,
“Halo.”
“Halo pagi bu, ini dengan Poppy.”
“Oh iya Poppy. Aduh maaf saya lupa hari ini kita janji ketemu. Suami saya sedang dirawat di rumah sakit jadi saya ngga bisa ke kampus.”
“Oh begitu bu, ya ngga apa-apa.”
“Gimana kalau kamu ke rumah sakit aja, hanya tinggal tanda tangan kan? Biar cepet dapet jadwal sidang.”
“Aduh ngga enak bu, takutnya mengganggu bapak. Nanti aja bu.”
“Ngga apa-apa, udah ke sini aja.”
“Makasih ya bu, di rumah sakit mana ya?”
“Mitra Medika, ruang Anyelir nomor 7.”
“Ya bu, saya ke sana sekarang.”
Poppy tak jadi membatalkan pertemuannya. Dia tak enak dengan bu Yanti yang bersemangat membantunya. Poppy berjongkok lalu memunguti kertas-kertas yang berserakan. Kemudian menyusun kembali lembaran skripsinya, setelah itu bersiap untuk pergi.
Poppy sampai di rumah sakit. Setelah bertanya letak ruang Anyelir pada security, dia bergegas menuju ruangan yang terletak di lantai lima. Perlahan Poppy membuka pintu kamar, mencari keberadaan bu Yanti. Nampak bu Yanti sedang duduk di dekat bangsal paling ujung, Poppy pun menghampiri.
“Siang bu.”
“Eh sudah datang, ayo sini duduk.”
Poppy bersalaman dengan bu Yanti dan suaminya. Mereka berbincang sejenak, bu Yanti menceritakan sakit yang diderita suaminya. Kemudian dia memeriksa lembaran skripsi. Setelah tak ada lagi yang harus dirubah, dia langsung menanda tanganinya.
“Makasih banyak ya bu.”
“Sama-sama.. mudah-mudahan lancar sidangnya.”
“Aamiin.. kalau gitu saya permisi bu, cepat sembuh ya pak.”
Poppy berpamitan, lalu keluar ruangan. Dia berjalan menuju lift. Saat pintu lift terbuka, ternyata sudah tak ada tempat untuknya. Pintu lift kembali menutup. Poppy diam menunggu lagi.
Irzal baru saja selesai mengantar orang yang akan menjadi donor. Hasil tes baru akan keluar besok. Bersama Akbar dia berjalan menuju pintu keluar.
“Makasih banyak ya kang.”
“Sama-sama Zal. Kalau gitu aku pulang ya, mau antar bu Sari dulu.”
“Iya kang.”
Akbar dan Sari meninggalkan Irzal yang masih berdiri di dekat pintu keluar. Dia mencoba menghubungi Poppy, tapi tak ada jawaban. Irzal pun memutuskan untuk pulang. Saat dia akan beranjak pergi sebuah suara memangilnya.
“Irzal.”
Irzal menengok, dia terkejut yang memanggilnya adalah Della. Perempuan itu berjalan menghampirinya.
“Apa kabar? Ngga nyangka ya bisa ketemu kamu lagi.”
“Iya,” jawab Irzal singkat. Merasa tak nyaman bertemu dengan Della.
“Siapa yang sakit Zal?”
“Ngga ada, lagi ada urusan aja. Kamu sendiri?”
“Biasa Zal, control.”
“Kontrol? Kamu sakit?” Irzal terkejut. Sejenak dia memperhatikan, wajah Della memang tampak pucat, tubuhnya pun jauh lebih kurus.
“Sakit apa?”
“Bukan sakit serius kok,” Della menjawab sambil tersenyum.
“Aku masuk dulu ya,” lanjutnya.
Della segera mengakhiri pembicaraannya dengan Irzal. Dia melangkahkan kakinya masuk. Tapi tiba-tiba tubuhnya oleng. Della menghentikan langkahnya, tak lama dia ambruk. Dengan cepat Irzal menangkap tubuhnya. Di saat yang bersamaan Poppy keluar dari lift. Dia terkejut melihat Irzal yang sedang membopong seorang perempuan.
Irzal membopong Della menuju IGD. Poppy segera mengikutinya dari belakang. Sesampainya di IGD, Irzal langsung membaringkan Della. Seorang dokter dan suster menghampiri dan memeriksanya.
Poppy berjalan perlahan mendekati suaminya. Terlihat Irzal sedang menunggu di dekat ranjang. Poppy semakin mendekat dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui perempuan yang tadi dibopong Irzal adalah Della. Seketika rasa marah menderanya, dia mengepalkan tangannya erat-erat.
“A Irzal!”
Irzal menoleh, dia terkesiap melihat Poppy.
“Poppy, kamu lagi apa di sini?”
“Harusnya aku yang tanya, aa lagi apa di sini?”
“Oh.. aku.. tadi lagi urus soal yayasan,” Irzal menjadi gugup.
“Ngurus yayasan apa ngurus Della?”
Pertanyaan Poppy membuat Irzal menjadi salah tingkah, tak tahu harus berkata apa. Dia mengajak Poppy keluar IGD.
“Aku kebetulan ketemu Della.”
“Kebetulan? Dulu ketemu kebetulan dan sekarang juga kebetulan?”
“Pop.. denger dulu.”
“Jadi urusan aa yang ngga bisa ditunda itu Della?”
“Kamu salah paham Pop.”
“Salah paham gimana? Aa berharap aku percaya kalau kalian bertemu secara kebetulan?”
“Itu kenyataannya. Sekarang kita pulang ya, ini rumah sakit.”
Irzal menarik tangan Poppy tapi dia melepaskannya.
“Aku bisa pulang sendiri, aa urus aja Della.”
Poppy berjalan meninggalkan Irzal. Dengan cepat Irzal menyusul Poppy lalu menarik tangannya. Poppy mencoba melepaskannya lagi tapi kali ini Irzal memegang tangannya dengan erat. Mereka berjalan menuju mobil. Tak lama kemudian mobil meninggalkan area parkir rumah sakit.
Irzal melihat pada Poppy yang masih diam. Berulang kali dia mencoba berbicara, tapi tak tahu harus memulai dari mana. Baru saja dia akan membuka mulutnya, Poppy sudah lebih dulu berkata.
“Sejak kapan aa berhubungan lagi dengan Della?”
“Baru kali ini aku ketemu dia lagi.”
“Ngga usah bohong a.”
“Aku ngga bohong, kenapa kamu ngga mau percaya?”
“Karena akhir-akhir ini aa berubah. Semenjak keluar kerja, aa jarang ada di rumah, pergi pagi pulang larut malam. Aa sadar ngga kalau selama dua bulan ini kita jarang menghabiskan waktu bersama. Dengan semua sikap aa yang seperti ini aa mau aku percaya kalau yang aku lihat tadi cuma sebuah kebetulan? Aku merasa ada yang disembunyikan dari aku, itu pasti soal Della kan?”
“Aku minta maaf kalau akhir-akhir ini jarang punya waktu untuk kamu, tapi kamu tahu apa yang aku kerjakan belakangan ini, soal perusahaan dan yayasan. Aku janji akan lebih memperhatikan kamu, tapi tolong kamu jangan seperti ini.”
Poppy tak menjawab, hatinya sudah terlanjur sakit. Kenapa sosok Della harus masuk lagi dalam kehidupan mereka. Kecurigaan dan kekhawatiran kembali menghantui pikirannya. Jika dihadapkan pada situasi harus memilih, akankah Irzal memilih dirinya.
Lamunan Poppy buyar saat ada panggilan masuk di ponsel Irzal. Dengan cepat Irzal menjawab panggilan. Seketika dia menghentikan kendaraannya. Poppy terkejut, dia memandang Irzal dengan kesal.
“Aku ke sana sekarang,” Irzal mengakhiri percakapannya.
Irzal memacu mobilnya lebih cepat, lima belas menit kemudian mereka sampai di rumah.
“Kamu tunggu di rumah, aku harus pergi lagi.”
Poppy menatap tak percaya pada suaminya.
“Aa mau ke rumah sakit lagi? Ketemu Della lagi?”
“Poppy tolong, sekarang bukan waktunya berdebat. Nanti aku jelasin semuanya.”
“Kalau aku bilang aa ga boleh pergi apa aa akan tetep pergi?”
“Iya” jawab Irzal dengan cepat.
“Ternyata aku ngga penting buat aa.”
Poppy segera melepaskan sit beltnya, dengan cepat turun dari mobil dan menutup pintu dengan kencang. Tanpa menoleh pada Irzal, dia langsung masuk ke dalam rumah. Irzal menghela nafas panjang, dengan kesal dia memukul stir mobil.
❤️❤️❤️
Irzal bangun dari tidurnya, menepuk-nepuk lehernya yang terasa pegal. Dia lalu melihat ke arah mama Dewi yang masih terbaring di ranjang. Tak lama masuklah seorang suster untuk mengecek kondisi Dewi. Irzal menghampiri.
“Kenapa mama saya masih belum sadar sus?”
“Mungkin karena pengaruh obat, tapi tanda-tanda vitalnya baik pak, mudah-mudahan sebentar lagi ibu sudah sadar.”
Setelah mengecek kondisi mama suster itu keluar, Irzal duduk di samping mama dan memegang tangannya.
“Ma.. tolong cepat sadar ma, bagaimana Irzal menghadapi Poppy kalau kondisi mama seperti ini.”
Pintu kamar kembali terbuka, kali ini Dimas yang masuk, Irzal terkejut melihatnya.
“Loh, kamu ngga sekolah?”
“Aku udah minta ijin kak, mau nemenin mama. Kak Irzal pulang aja, pasti kak Poppy cemas.”
Irzal terkesiap, dia lupa mengabari Poppy. Irzal mengambil ponsel, ternyata ponselnya mati. Dia mengambil kunci mobil lalu keluar kamar. Sesampainya di sana, dia mengambil charger dan tas yang berisi pakaian, setelah itu kembali ke kamar.
Irzal selesai mandi, kemudian mengambil ponselnya yang sedang di cas lalu menghidupkannya. Ponselnya kembali menyala. Ada dua puluh panggilan tak terjawab dari Poppy. Irzal menghela nafas, pasti Poppy marah padanya.
Irzal berniat menelpon Poppy namun ragu. Kalau nanti Poppy menanyakan di mana dia tidur semalam, apa yang harus dikatakannya. Lalu ponselnya berbunyi, Irzal melihat dengan perasaan tegang, ternyata Akbar yang menelponnya. Setelah berbicara dengan Akbar, Irzal mengajak Dimas untuk sarapan, mereka turun menuju kantin.
Saat sedang sarapan, Akbar datang bersama bu Sari. Irzal mempersilahkan mereka duduk.
“Siapa nih?” tanya Irzal pada anak lelaki yang bersama bu Sari.
“Tuh ditanya om siapa namanya?” ucap bu Sari pada anaknya yang baru berusia enam tahun.
“Rangga om.”
“Oh Rangga.. cinta nya mana?” Irzal menggoda Rangga, yang digoda hanya diam tak mengerti. Akbar dan Dimas tertawa.
“Kakak kamu stress kayanya Dim,” kini giliran Akbar yang menggoda Irzal.
“Lagi kangen teh Poppy kayanya kak Irzal,” Dimas ikutan menggoda. Irzal tak menanggapi, dia sibuk bercanda dengan Rangga.
“Zal, aku lihat mama dulu ya, ayo Dim,” Akbar pamit menjenguk mama, mengajak Dimas bersamanya.
“Bu Sari makasih ya ibu sudah bersedia untuk mendonorkan ginjalnya untuk mama saya,” kali ini Irzal mulai berbicara serius dengan bu Sari.
“Sama-sama mas Irzal, mudah-mudahan ginjal saya cocok ya.”
“Aamiin.”
“Jujur mas, sebenarnya saya melakukan ini juga didorong faktor ekonomi, sebentar lagi Rangga sekolah.”
“Saya mengerti bu. Ibu tenang saja, saya akan menanggung semua biaya pendidikan Rangga sampai kuliah nanti. Sebenarnya sebanyak apa pun uang yang saya berikan tidak akan cukup untuk membalas kebaikan ibu, saya benar-benar berterima kasih.”
“Mas Irzal jangan begitu saya jadi ngga enak. Saya dengar dari pak Akbar kalau bu Dewi itu ibu mertua mas Irzal ya. Beruntung sekali istri mas Irzal mempunyai suami yang sangat menyayangi ibunya, saya doakan mas Irzal dan istri senantiasa diberikan keberkahan dalam rumah tangganya dan cepat diberi momongan.”
“Aamin.. aamiin ya robbal aalamiin.”
Poppy turun dari taksi, untuk sejenak terdiam di depan pintu masuk rumah sakit. Kali ini dia sudah tidak bisa mentolerir sikap Irzal lagi, bisa-bisanya dia tidak pulang ke rumah dan mengabaikan panggilannya. Poppy memasuki gedung rumah sakit, kakinya melangkah ke bagian informasi rawat inap.
“Pagi sus, maaf saya mau tanya apa ada pasien yang bernama Della?” tanya Poppy pada perawat yang bertugas.
“Sebentar ya bu.”
Perawat itu mengecek di komputernya pasien atas nama Della. Setelah mencari-cari sebentar dia menjawab,
“Maaf bu, tidak ada pasein rawat inap yang bernama Della.”
“Suster yakin?”
“Iya bu, tidak ada.”
“Oh ya, makasih.”
Poppy meninggalkan meja informasi. Bertanya-tanya di mana Irzal saat ini. Dia melihat sekeliling, suasana rumah sakit belum terlalu ramai. Poppy masih belum mau pergi, perasaannya mengatakan kalau suaminya ada di sini. Poppy duduk di ruang tunggu pendaftaran, matanya mengawasi setiap orang yang melintas di dekatnya.
Selesai berbicara, Irzal mengajak bu Sari menemui mama di kamarnya. Rangga yang merasa sudah dekat dengan Irzal minta digendong olehnya. Irzal pun menggendong Rangga. Mereka berjalan menuju lift yang berada di dekat tempat pendaftaran, melewati Poppy yang duduk tak jauh dari situ. Jantung Poppy seakan berhenti melihat Irzal melintas di depannya dengan seorang wanita sambil menggendong anak kecil. Sontak dia berdiri dan segera menghampiri.
“A Irzal!”
Irzal menoleh, lagi-lagi dia terkejut karena Poppy sudah ada di hadapannya. Dengan cepat dia menurunkan Rangga.
“Kali ini siapa lagi a?”
Irzal tak menjawab, dia meminta bu Sari untuk lebih dulu pergi ke lantai lima.
“Pop..kita bicara di tempat lain aja ya.”
Irzal segera menggandeng tangan Poppy, mereka menuju pintu keluar. Irzal mencari tempat yang sepi lalu melepaskan tangannya.
“Siapa dia a? Siapa!! Kemarin Della dan sekarang perempuan itu, berapa banyak perempuan yang aa temui di belakang aku!” suara Poppy mulai meninggi, kemarahannya sudah tak dapat ditahan lagi.
“Kita pulang ya, kita bicara di rumah.”
“Jawab aku a, siapa perempuan itu? Apa karena dia aa ngga pulang ke rumah? Apa aa menghabiskan malam bersama perempuan itu?!”
“Poppy!”
Irzal mulai terpancing, dia tak menyangka Poppy menuduhnya serendah itu.
“Apa itu yang kamu pikirin tentang aku?”
“Lalu aku harus berpikir seperti apa? Aa ngga tau gimana cemasnya aku karena aa ngga pulang ke rumah dan aa ngga bisa dihubungi. Aku takut sesuatu terjadi sama aa tapi apa yang aku lihat barusan? Apa salahku sampai aa memperlakukan aku seperti ini, apa?!”
Poppy menangis, perasaan marah, kesal, sedih bercampur menjadi satu. Irzal terdiam, dia memeluk Poppy. Dengan marah Poppy mendorong tubuhnya.
“Poppy tolong dengar aku dulu.”
“Dengar kebohongan aa lagi? Sampai kapan aa mau berbohong? Katakan saja yang sejujurnya, kalau aa merasa kita sudah ngga bisa bersama lagi, aku ngga akan memaksa. Aa boleh bersama siapa pun yang aa inginkan.”
“Astaghfirullahaladzim.. kenapa kamu berpikir sejauh itu?”
Poppy tak menanggapi, dia berbalik lalu berjalan menjauh.
❤️❤️❤️
**Duh Poppy kenapa sih?? Ngga kasihan apa sama kakang Irzal? Ikutin terus yuk kelanjutannya.
Ngga bosan-bosan author ingetin buat ninggalin jejak berupa like, comment dan vote nya ya biar aku semangat up terus😘😘**