Menikah dengan seseorang yang dicintainya.
Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.
Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.
Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?
###
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Memilih Gaun
Medisya terus bergerak gelisah. Sejak tadi Alvian dan Lily belum keluar dari kamar. Melihat kemarahan suaminya itu membuat Medisya takut Alvian akan menyakiti Lily. Tapi Medisya yakin Alvian tidak akan berbuat setega itu pada Lily.
Ceklek,,
Mendengar pintu terbuka membuat Medisya bergegas menghampiri Alvian yang keluar sembari memakai kaosnya.
"Mas, Lily nggak kamu apa-apainkan?" Tanya Medisya khawatir sembari mengintip ke dalam kamar. Namun Alvian bergegas mengunci pintu kamarnya lagi dan memasukan kuncinya ke dalam saku celananya.
"Tidak," balas Alvian sembari melangkah untuk membuka kulkas. Pria itu mengambil sebotol air dingin dan meneguknya hingga tersisa setengah.
"Aku mau lihat dia. Kasihin kuncinya, mas."
Tangan Medisya menengadah, meminta Alvian menyerahkan kunci kamar. Namun Alvian menatapnya dingin dan menusuk.
"Tidak. Dia akan menyakiti kamu nanti," larang Alvian.
"Enggak, mas! Aku mau melihatnya!" Seru Medisya. Entahlah, ia hanya takut terjadi apa-apa dengan Lily di dalam sana. Meskipun sikap Lily sudah keterlaluan padanya, ia harus tetap memastikan Lily baik-baik saja. Mau bagaimanapun Lily adalah adiknya sekarang.
"Nanti, Sya. Biarkan seperti itu dulu!"
Medisya tersentak kecil mendengar seruan Alvian. Jelas sekali bahwa sekarang Alvian sedang berusaha menetralkan emosinya.
"Bersiaplah, aku akan mengajakmu ke suatu tempat," titah Alvian sembari berlalu ke kamar.
Mau tidak mau Medisya mengikuti langkah Alvian. "Mas Alvian nggak berangkat kerja?" Tanya Medisya pelan.
Alvian menggeleng kecil. "Aku tidak akan fokus bekerja dalam keadaan emosi seperti ini."
Medisya duduk di sisi ranjang yang membelakangi Alvian saat pria itu membuka kaosnya. Namun percuma saja ia menghindar, karena sekarang Alvian justru berlutut di depannya.
"Apa Lily melakukan sesuatu yang lebih dari tadi?" Tanya Alvian pelan.
"Enggak," balas Medisya. "Kenapa Mas Alvian tega menampar Lily? Mamah bilang Mas Alvian sayang banget sama dia."
Alvian menghela nafasnya. "Tindakan Lily tadi membahayakan anak kita, Sya. Aku tidak akan menamparnya jika dia meminta maaf atas kesalahannya. Tapi perkataannya sungguh membuatku marah."
"Kenapa Mas Alvian sangat menyayangi anak ini? Bahkan Mas Alvian rela menyakiti adik Mas Alvian sendiri hanya demi dia?"
Seketika Alvian menatap istrinya tajam. Gerakan tangannya yang sedang mengusap perut Medisya juga terhenti.
"Apa perlu alasan bagi seorang ayah untuk menyayangi anaknya sendiri?" Tanya Alvian begitu dingin.
"Tapi--"
"Anak ini ada karena sebuah kesalahan. Itu yang ingin kamu katakan, bukan?"
Anggukan kepala Medisya membuat Alvian tertawa sumbang. "Dengar, Sya. Anak ini tidak pernah meminta untuk terlahir dari kesalahan. Bukan dia yang salah, tapi aku! Jadi apa pantas kita menolak kehadirannya padahal kita yang membuatnya hadir di dunia ini?"
"Lalu aku?" Balas Medisya bertanya. Alvian yang tidak mengerti maksud dari perempuan itu hanya mengangkat alisnya.
"Mas Alvian bilang mulai menyayangiku waktu itu. Kenapa? Apa alasannya?"
Mendengarnya membuat Alvian mengangkat sudut bibirnya. "Untuk apa aku menyayangi salah satu diantara kalian jika aku bisa menyayangi keduanya?"
###
Medisya menatap Alvian ragu. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan. Tapi Alvian belum mengatakan kemana mereka akan pergi. Pikirannya juga tertuju pada Lily yang masih Alvian kurung di kamar. Perempuan itu belum sarapan. Pasti Lily kelaparan di dalam sana.
"Mas Alvian," panggil Medisya pelan.
Alvian hanya bergumam kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari padatnya jalan raya di depannya.
"Apa Lily akan baik-baik saja di kamar? Gimana kalau dia kelaparan?"
Melihat Alvian bergeming tanpa berniat menjawab pertanyaannya membuat Medisya menghela nafas kecil. Ia mengusap perutnya yang terbungkus gaun putih elegan. Perkataan Alvian tadi mampu membuat perasaannya menghangat. Bisakah ia seperti Alvian yang menyayangi anak ini tanpa alasan apapun?
"Ayo turun," ajak Alvian membuyarkan lamunan Medisya.
Kening Medisya mengernyit melihat mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah butik mewah dan terkenal. Ia menatap Alvian. Seakan meminta penjelasan lewat tatapan matanya itu.
"Clara mengundangku ke acara pernikahannya. Kita harus datang ke sana," ucap Alvian singkat.
Laki-laki itu turun, membuat Medisya segera mengikutinya. "Clara,,, mantan tunangan Mas Alvian?"
Alvian mengangguk singkat lalu merangkul pinggang Medisya dan membawanya masuk ke dalam.
"Selamat siang, Pak Alvian," sapa seorang karyawan perempuan yang tersenyum sangat ramah.
"Siang. Tolong carikan gaun untuk istriku. Kamu tidak lupa dengan selera saya 'kan?"
Sejenak karyawan itu tertegun mendengar Alvian menyebut Medisya sebagai istrinya. Alvian merupakan pelanggan tetap di butik ini. Tapi dulu pria itu selalu datang untuk mencarikan gaun tunangannya, Clara.
"Tentu," ucapnya sembari tersenyum, "mari, bu."
Medisya menatap Alvian ragu. Namun anggukan kepala Alvian membuatnnya mau tidak mau mengikuti karyawan itu.
"Nama saya Gita, salam kenal Bu Alvian," ucap Gita sembari menjulurkan tangannya ketika mereka sampai di ruangan yang berisi gaun-gaun cantik.
"Medisya," balasnya menjabat tangan Gita.
"Apa Bu Medisya mempunyai keinginan khusus untuk gaunnya?"
"Tidak."
Medisya memegang tasnya erat melihat kemewahan gaun-gaun yang terpajang di sekelilingnya. Namun netranya terhenti pada sebuah gaun pernikahan yang sangat indah desainnya.
"Itu gaun pesanan Pak Alvian dan Bu Clara. Mereka memesannya khusus untuk pernikahan mereka. Tapi bulan lalu Bu Clara membatalkannya walaupun Pak Alvian sudah membayar penuh gaun itu."
Seketika Medisya tertegun di tempatnya. Ia menatap gaun itu nanar. Entah sejak kapan matanya berkaca-kaca. Namun ia segera menggeleng pelan. Kenapa sangat sesak mendengar penjelasan Gita?
"Sepertinya ini akan cocok untuk Bu Medisya," ucap Gita menunjukan sebuah gaun putih sederhana yang dihiasi brukat di sisi bagian kanan dan kirinya. Bagian pinggang gaun itu dihiasi tali pita kecil dengan hiasan emas di tengahnya.
"Mau mencobanya?" Tawar Gita.
Medisya hanya mengangguk kecil dan mengikuti Gita ke ruang ganti. Wanita itu membukakan tirai kamar dan menyuruh Medisya masuk dengan Gaun yang ia bawa tadi.
Tidak butuh waktu lama untuk mencobanya. Medisya keluar dengan anggun, membuat Gita terpengarah dengan kecantikan alami milik Medisya.
"Aku menyukainya," ucap Medisya singkat.
"Ya, Bu Medisya sangat cantik," ucap Gita, "apa saya perlu menambahkan rancangan sesuatu?"
"Tidak perlu," balas Medisya.
Gita tersenyum kecil. "Dulu jika Bu Clara dan Pak Alvian datang kemari, mereka pasti akan meributkan rancangan tambahan untuk gaun Bu Clara," jelas Gita tanpa diminta.
"Apa pantas membahas wanita lain di hadapan istri saya?"
Suara itu berhasil mengalihkan perhatian Gita dan Medisya. "Tolong pikirkan perasaan istri saya. Dia sedang mengandung, bagaimana jika kondisi kandungannya memburuk? Anda ingin bertanggung jawab?" Cecar Alvian membuat Gita menunduk dalam.
Medisya menyadari Gita tidak nyaman dengan tatapan Alvian. Jadi ia memutuskan untuk mendekati Alvian.
"Aku suka gaun ini, mas," ucapnya ketika sampai di hadapan Alvian.
"Kalau begitu ambilah," ucap Alvian datar sembari meninggalkan ruang ganti itu. Ia kembali duduk di sofa tunggu. Niatnya tadi ingin melihat gaun yang Medisya pilih. Namun mendengar Gita sedang membahas masa lalunya membuat Alvian kesal.
Selang beberapa menit Medisya keluar dengan gaun rumah yang ia kenakan tadi. Ia langsung beranjak dan menarik Medisya ke bagian pembayaran.
Alvian melihat Kayla, pemilik butik ini, sedang sibuk dengan sebuah buku rancangan gaun. Setelah menyelesaikan pembayaran, Alvian segera mendekati wanita itu.
"Kayla," panggilnya dingin membuat wanita itu tersentak. "Tolong katakan pada karyawanmu agar tau batasan privasi seseorang," ucapnya datar kemudian menarik Medisya keluar dari butik tanpa mendengar penjelasan Kayla.
###