NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang CEO

Istri Rahasia Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Si Kecil yang Rakus

Tanggal lima belas.

Keira menyimpan dua kata itu di kepala seperti menyimpan roti di bawah bantal. Tidak langsung dimakan. Tidak langsung dibuka. Cukup tahu bahwa sesuatu ada di sana, menunggu saat yang tepat.

Pagi berikutnya, rasa penasaran itu kalah oleh rasa lapar.

Sayap Giok memang punya dapur kecil, tetapi isinya terlalu rapi. Teh, air mineral, beberapa buah yang ditata di mangkuk kaca, dan biskuit mahal yang bungkusnya saja membuat Keira ragu untuk membuka. Dapur utama pasti berbeda. Di rumah sebesar ini, dapur utama pasti seperti gudang makanan istana.

Jadi sebelum Ningsih bangun, Keira menyelinap keluar.

Lututnya masih ngilu sisa berlutut di Pavilion Mama, tetapi ia sudah biasa berjalan dengan rasa sakit. Di Panti Harapan, kalau kaki sakit tetapi pekerjaan belum selesai, sakitnya diminta menunggu.

Dapur Utama berada di belakang bangunan utama. Pintu sampingnya tidak terkunci. Begitu masuk, Keira langsung berhenti.

Astaga.

Kulkasnya bukan satu, tetapi tiga. Rak dingin penuh buah impor, keju, smoked beef, susu almond, yogurt Yunani, cokelat Belgia, dan kotak-kotak makanan yang labelnya memakai bahasa yang bahkan tidak Keira kenali. Di meja marmer, ada roti sourdough, croissant, dan satu cake keju yang belum dipotong sempurna.

Keira menatap semua itu dengan mata melebar.

Isi satu kulkas saja cukup untuk memberi makan seluruh anak Panti Harapan sebulan.

Tangannya bergerak sebelum harga dirinya sempat memberi nasihat. Ia mengambil sepotong kecil cake keju, menggigitnya, lalu langsung menutup mata.

Lembut. Manis. Ada rasa asin tipis yang membuatnya ingin menangis karena kesal. Kenapa makanan orang kaya bahkan bisa membuat lidah merasa dihargai?

"Nona Keira."

Keira membeku dengan cake masih di mulut.

Di pintu dapur, seorang pria tua berdiri tegak. Rambutnya sudah memutih, wajahnya tenang, seragamnya rapi tanpa satu kerut pun. Matanya tidak galak, tetapi cukup untuk membuat Keira merasa seperti anak panti yang tertangkap membuka lemari makanan.

Pak Ji.

Ia pernah melihatnya di ruang makan, berdiri di belakang Darren seperti bayangan yang tahu semua rahasia rumah ini.

Keira menelan cepat. "Saya cuma..."

Pak Ji menatap cake di tangannya.

"Lapar?"

Pertanyaan itu terlalu sederhana sampai Keira tidak tahu harus berbohong bagaimana.

"Sedikit."

Pak Ji diam beberapa saat. Keira sudah siap dimarahi. Sudah siap disuruh keluar. Sudah siap mendengar kata tidak tahu aturan untuk kesekian kalinya.

Namun Pak Ji hanya berjalan ke kompor.

"Pak Darren sudah memberi pesan," katanya sambil mengambil panci kecil. "Kalau Nona Keira membutuhkan sesuatu, katakan kepada staf. Tidak perlu mengambil diam-diam."

Wajah Keira panas.

"Saya tidak mencuri."

"Saya tidak bilang Nona mencuri."

Kalimat itu pelan, tetapi justru membuat mata Keira perih.

Pak Ji menghangatkan bubur ayam, menambahkan suwiran ayam, bawang goreng, daun bawang, dan sedikit kecap asin. Aromanya naik perlahan, hangat dan sederhana. Bukan makanan mahal. Justru karena itu, dada Keira terasa lebih sesak.

Ia duduk di bangku dapur dan menerima mangkuk itu dengan dua tangan.

"Terima kasih, Pak Ji."

Pak Ji mengangguk. "Makan selagi panas."

Keira menyendok bubur. Suap pertama membuat tenggorokannya mengencang. Sudah lama sekali seseorang memberinya sarapan panas bukan karena acara donatur, bukan karena kasihan yang dipamerkan, bukan karena sisa meja orang lain.

"Pak Darren menyuruh Pak Ji kasih makan saya?" tanyanya, mencoba membuat suaranya ringan.

"Pak Darren menyuruh kami tidak membiarkan Nona kekurangan apa pun."

Keira menatap buburnya.

Kekurangan apa pun.

Orang kaya memang suka memakai kalimat besar seolah hidup semudah membuka keran. Tapi pagi itu, Keira memilih tidak mengejek. Bubur di tangannya hangat. Pak Ji tidak menatapnya seperti barang aneh. Itu cukup.

Setelah sarapan, Keira kembali ke Sayap Giok bersama Ningsih yang panik karena baru sadar tuannya hilang.

"Mbak, kalau mau makan tinggal bilang saya!"

"Kalau bilang, nanti kamu ikut panik. Kalau aku jalan sendiri, cuma aku yang panik."

"Itu bukan alasan."

"Itu strategi."

Ningsih mengomel sepanjang jalan. Keira membiarkannya. Sambil berjalan, matanya tetap bekerja. Vas porselen di lorong, mungkin cukup untuk makan warteg setahun. Lukisan abstrak di dinding, cukup membeli beberapa motor bekas. Lampu gantung kecil dekat tangga, cukup membayar kos-kosan dua tahun.

"Mbak lihat apa?" tanya Ningsih.

"Harga hidupku kalau dijual satu-satu."

Ningsih menghela napas. "Mbak jangan bicara begitu."

"Tenang. Aku belum tahu cara jualnya."

Siang menjelang sore, compound kedatangan tamu.

Keira sedang berjalan di Taman Utama ketika dua mobil hitam masuk melalui gerbang. Seorang perempuan muda turun dengan kacamata hitam besar, tas kecil bermerek, dan dua asisten di belakangnya. Cara jalannya seperti seseorang yang sejak lahir tidak pernah diminta menunggu antrean.

Natasha Salim.

Keira mengenali wajah itu dari foto keluarga di rumah Ko Kevin.

Natasha melepas kacamatanya dan menatap Keira dari atas ke bawah. Senyumnya cantik, tetapi tidak membawa niat baik.

"Jadi kamu di sini."

Keira menahan diri untuk tidak mundur. Di sekitar taman, beberapa pelayan pura-pura sibuk menyiram tanaman.

"Ci Natasha," sapa Keira. "Datang mencari Ko Kevin?"

"Aku datang karena Ko Kevin terlalu baik." Natasha melangkah mendekat. Parfumnya mahal dan tajam. "Dia masih khawatir pada orang yang bahkan tidak tahu diri."

Keira tersenyum. "Kalau khawatir, biasanya orang telepon. Tidak perlu kirim delegasi mahal."

Wajah Natasha mengeras.

"Jangan terlalu percaya diri. Kamu pikir Ko Kevin melepaskanmu, lalu kamu bisa naik kelas ke Hendrawan? Kamu cuma anak panti. Jangan bermimpi."

Kata itu jatuh tepat di tempat yang sama seperti kemarin, seperti tahun-tahun sebelumnya, seperti setiap kali orang mengingatkan bahwa Keira tidak punya nama keluarga untuk melindungi punggungnya.

Anak panti.

Keira merasakan bibirnya hampir bergetar. Ia menggigit bagian dalam mulutnya sampai rasa besi muncul tipis.

Lalu ia mengangkat wajah.

"Ci Natasha datang jauh-jauh dari rumah hanya untuk bilang itu?" tanyanya lembut. "Kasihan, ya. Pasti sangat membosankan jadi orang kaya."

Beberapa pelayan menunduk lebih cepat. Salah satu bahunya bergetar seperti menahan tawa.

Natasha memerah.

"Lihat saja nanti, Keira. Rumah ini bukan tempat orang sepertimu."

"Kalau begitu aneh," jawab Keira. "Kemarin saya disuruh pindah ke kamar yang lebih bagus."

Natasha menatapnya tajam, lalu berbalik masuk ke mobil. Dua asistennya mengikuti dengan wajah kaku. Mobil itu pergi meninggalkan debu halus di jalan batu.

Keira tetap berdiri sampai gerbang tertutup.

Baru setelah tidak ada lagi yang melihat langsung ke arahnya, napasnya patah.

Ia kembali ke Sayap Giok dan duduk di tepi ranjang. Ningsih memanggilnya beberapa kali, tetapi Keira hanya menggeleng. Mulutnya terasa sakit. Ketika ia menyentuh bibir bawahnya, ada noda merah kecil di ujung jari.

Anak panti.

Lucu. Ia bisa melawan Bu Wati. Bisa makan pakai tangan di depan Mama Lian. Bisa tersenyum pada Vivienne yang menyuruhnya tahu diri. Tapi dua kata itu tetap punya cara sendiri untuk membuka luka lama.

Menjelang senja, Keira duduk di tangga depan Sayap Giok. Angin membawa aroma rumput basah. Matanya masih panas, tetapi ia menolak menangis.

Sebuah bayangan berhenti di depannya.

Keira mengangkat kepala.

Darren berdiri di bawah anak tangga, masih memakai kemeja kerja tanpa dasi. Entah sejak kapan ia ada di sana. Matanya turun ke bibir Keira, berhenti pada titik merah kecil yang belum benar-benar kering.

Ia tidak bertanya siapa yang membuatnya begitu.

Ia hanya berkata, "Besok ikut saya keluar."

Keira berkedip. "Ke mana, Pak Darren?"

Darren menatapnya satu detik lebih lama.

"Kamu akan tahu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!