Davino Agata, pria dengan sejuta pesona yang mampu memikat banyak gadis. Ketampanan yang ia miliki tak membuatnya merasa sombong. Meski banyak gadis yang mengejarnya, hal itu tak lantas membuatnya berbangga diri.
Banyak yang mengira bahwa dirinya Playboy sejati, karena saking banyaknya wanita yang ia pacari dan kencani. Hal itu tak luput dari adik dan juga mama angkatnya. Karena kemauan mereka lah Davino mau berkencan dan bahkan mempacari mereka. Tapi sayangnya, tak ada satu pun di antara mereka yang mampu memikat hati Davino.
Dina Anindita Ahnal Ihsan, gadis yang mempunyai sejuta pesona. Kecantikannya sudah tak di ragukan lagi. Adik dari Fatur itu mampu memikat siapapun yang memandangnya, termasuk Davino.
Mampukah Davino Agata mendapatkan hati Dina Anindita Ahnal Ihsan? Sedang gadis itu punya prinsip. Hanya sang suami lah nantinya yang akan mendapatkan cintanya.
Bagaimana perjuangan Davino meluluhkan hati Dina? dan apakah ia akan berhasil mempersunting sang tuan putri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rossanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Davino
Setelah berbicara empat mata dengan Fatur, Davino beranjak dari taman. Menemui Dina yang dengan sengaja telah meninggalkannya begitu lama dengan kakaknya. Padahal dia hanya mengambil makanan dan juga minuman, tapi segitu lamanya.
Davino pun masuk kedalam kamarnya, tapi tak mendapati Dina disana. Pertanyaannya sekarang, dimanakah Dina sekarang. Apakah dia sedang ada di kamar Fatur untuk mengambil laptop Fatur tadi. Karena seingatnya, Fatur tadi meminta Dina mengambilkan laptopnya.
Davino sibuk mencari Dina kemana-mana, tapi tak kunjung ketemu. Meski dia juga sudah mencari Dina di kamar Fatur pun Dina tak ada disana karena kamar Fatur sendiri terkunci.
" Dimana kau sayang, kenapa kau tak ada di setiap ruangan rumah ini.
Pada akhirnya pun Davino pergi ke dapur, mungkin saja istrinya itu sedang ada disana. Mengingat waktu yang sebentar lagi akan waktunya makan siang. Tapi, Dina pun juga tak ada disana, karena di dapur hanya ada Bu Nuri dan juga para pelayan pribadi dari masing-masing tuan dan nyonya rumah. Davino yang sudah capek mencari Dina pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya saja. Tapi baru memutar badannya untuk kembali, Bu Nuri sudah memanggilnya.
" Den vino nyari siapa? Tanya Bu Nuri. Beliau sempat melihat Davino yang sepertinya sedang mencari seseorang pun akhirnya bertanya sebelum Davino pergi.
" Cari Dina Bu, apa Bu Nuri lihat dina? jawab Davino sekaligus ia juga bertanya keberadaan Dina pada Bu Nuri. Mungkin saja beliau sempat melihat istrinya itu.
" Oh neng Dina toh....dia tadi datang kesini bawa laptop milik den Fatur, sekaligus ngambil makanan dan minuman den. Tapi setelah selesai dia pergi ke taman belakang sama asisten pribadinya.
" Oh gitu ya Bu...makasih ya Bu atas infonya." ucap Davino tak lupa dia pun tersenyum pada Bu Nuri.
Davino pergi ke taman belakang dimana katanya istrinya sekarang ini berada. Dia kembali mendapati istrinya sedang tertawa lepas bersama kakaknya dan di temani asisten pribadinya. Davino sepat kagum pada kedua adik kakak itu, meski mereka termasuk anak majikan, tapi mereka tak membedakan status sosial terhadap orang yang berada di bawah mereka. Terbukti sekarang, baik Dina maupun Fatur, mereka berdua juga duduk di bawah bersama asisten pribadi Dina.
Setelah lama memandang mereka bertiga, Davino menghampiri mereka. Alangkah terkejutnya dia, Dina langsung berlari dan mengandeng tangannya. Membawa dirinya untuk masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Fatur bersama asisten pribadinya di taman.
" Sayang kok kamu membiarkan mereka berduaan begitu sih." ucap Davino pada Dina setelah sampai di dalam kamar mereka.
" Tenang aja mas, mereka gak bakalan di biarkan berduaan begitu saja sama abhi. Setelah kepergian kita pasti asisten pribadiku juga beranjak dari sana. Meninggalkan kakak sendirian di taman belakang." jawab Dina.
" Oh, jadi ceritanya apa nih....kamu ngajakin aku ke kamar begini." goda Davino.
" Dina mau minta maaf sama mas, maafin Dina yang tadi malam pasti sudah membuat mas kesal dengan tingkah Dina. Jujur mas, Dina tak mau berbuat demikian. Namun, Dina masih agak sedikit takut dan juga keraguan. Mengingat perkenalan kita yang begitu sangat singkat." ucap Dina sambil menundukkan wajahnya. Ia yang begitu malu untuk saat ini pada suaminya hanya mampu menunduk dan tak berani menatap wajah Davino.
" Angkat kepala mu sayang, jangan pernah kau menundukkan wajahmu itu meski di hadapanku sekalipun. Aku tau begitu sulit bagimu menerimaku yang secara mendadak telah menjadi suamimu ini. Namun, yakinlah aku akan selalu berusaha membahagiakanmu." ucap Davino.
" Jujur awalnya mas memang merasa kesal, tapi saat tadi kak Fatur mengatakan semua itu pada mas. Mas merasa disini mas yang salah, mas yang terlalu egois dalam hal ini. Mas selalu memaksamu , maafkan kas sayang." ucap Davino yang langsung membawa Dina kedalam pelukannya. Dia bisa merasakan kalau Dina masih risih dengannya. Terbukti sekarang, Dina tak membalas pelukannya justru badannya kaku dalam pelukan Davino.
Davino melepaskan pelukannya, menatap lekat-lekat wajah ayu istrinya yang sedang tersipu malu. Satu kecupan singkat ia berikan di kening Dina.
" Mas janji gak akan memaksamu melakukan itu jika kau tidak mau. Meski mas berhak atas jiwa dan ragamu sekarang ini. Mas tidak akan memintanya, jika kau belum siap sayang. Kebahagiaan mu adalah prioritas utama bagi mas sekarang ini. Mas hanya ingin melakukannya jika kau sudah mencintai mas.
" Din, bolehkah mas meminta sesuatu padamu sayang?" tanya Davino hati-hati. Takutnya akan menyakiti hati perempuan yang ada di hadapannya itu. Perempuan yang begitu sangat ia cintai.
" Apa? Dina menatap mata Davino. Mas berhak memintanya dariku" jawab Dina.
" Boleh kah mas mencintaimu dan memintamu untuk mencintai mas?
" Tentu boleh mas, Dina sangat bersyukur karena mas mencintai Dina dan Dina juga berjanji mulai detik ini, Dina akan berusaha belajar mencintai mas." ucap Dina yakin.
" Cintai aku karena Allah, ajaklah aku selalu dalam setiap langkahmu mas. Bimbinglah aku agar aku selalu berada di jalannya. Tegurlah aku jika aku berbuat salah baik disengaja maupun tidak mas." pinta Dina pada Davino. Kini bukan Davino yang memeluk Dina, melainkan Dina lah yang memeluk Davino.
" Mas memberimu waktu selama dua tahun Din, selama dua tahun itu belajarlah untuk mencintai mas. Dan mas juga akan belajar memahami mu sayang, kita akan sama-sama belajar untuk saling memahami satu sama lain. Agar kehidupan rumah tangga kita bahagia untuk selamanya. Dan dan mas juga janji, selama dua tahun itu mas tak akan menyentuhmu sebelum kau siap dan memintanya sendiri pada mas. Mas janji Dina, mas janji." Janji Davino pada Dina. Dina yang masih memeluk Davino pun sampai meneteskan air mata. Sungguh ia merasa berdosa pada suaminya itu, namun apalah daya. Ia tak mampu membohongi perasaannya karena sampai sejauh ini cinta untuk suaminya masih belum tumbuh.
...****************...
Kelima orang yang ada di dalam kafe pun hanya terdiam setelah Davino menyelesaikan ceritanya. Ada rasa sesak dalam dirinya jika mengingat setiap momen kebersamaannya dengan Dina. Karena baginya, meski sekecil apapun momen itu. Tetap terasa bahagia jika Dina yang menjadi kenangannya.
"Dan pada akhirnya gue salut sama loe, karena loe menepati janji loe itu sama adik gue. Gue bukan bangga, kerena hal seperti itu tak bisa di banggakan. Karena gue tau loe sangat tersiksa selama dua tahun itu. Gue juga lelaki kali yang jelas faham bagaimana usaha loe untuk menepati janji loe itu. karena itu gue salut dan mengapresiasi usaha loe Vin. Tapi gue gak bisa membanggakan apa yang loe lakuin." ucap mas Tomy sambil menepuk-nepuk bahu pak vino. Seakan-akan sedang menyalurkan kekuatan untuknya.
Sedangkan dokter Fatur sedari tadi hanya terdiam, tak mampu berucap. Mungkin ia merasa sangat bersalah pada pak vino. Karena dialah orang yang meminta hal itu pada pak vino sehingga membuat pak Vino menjanjikan sesuatu hal yang konyol jika para lelaki mendengarkannya. Terbukti dirinya hanya mampu menundukkan wajahnya. Tak mampu memandang ke arah pak vino.
Kak Vina sendiri dari tadi kulihat dia sering kali kedapatan menyeka air matanya. Pertanyaannya" Apa yang ia tangisi? Apakah ia terharu terhadap kakaknya itu? " Tapi sekali lagi aku hanya bisa memendam semuanya sendiri. Karena sesuai perjanjian awal, diriku hanya di ijinkan bertanya jika di persilahkan dan tak boleh mempertanyakan semuanya.