Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Klub Berkuda
Ia hanya tahu ketika Darren memanggilnya Sayang, ada bagian dirinya yang menjawab sebelum ia sempat mengerti.
Seminggu setelah malam tahun baru, Keira masih belum sepenuhnya mengerti.
Darren tidak mengulang kata itu di depan orang lain. Di hadapan staf, ia tetap memanggilnya Keira. Di ruang makan, ia tetap dingin. Di telepon, suaranya tetap bisa membuat orang di seberang sana kehilangan keberanian.
Namun bagi Keira, satu kata yang sudah terucap tidak bisa dimasukkan kembali ke mulut.
Sayang.
Kadang kata itu muncul saat ia sedang sarapan. Kadang saat ia lewat Kolam Teratai. Kadang saat melihat punggung Darren dari jauh. Keira kesal sendiri karena jantungnya ikut sok tahu.
Maka ketika Darren berkata, "Akhir pekan ini ikut saya ke klub berkuda," Keira langsung menjawab, "Kuda beneran?"
Darren menatapnya. "Menurutmu?"
"Saya kira kuda-kudaan orang kaya ada versi mesin."
Pak Ji menunduk. Ningsih pura-pura merapikan tas.
Hendrawan Equestrian Club berada di arah Bogor, melewati jalan yang makin lama makin hijau. Udara di sana lebih sejuk daripada Menteng. Padang rumput terbentang luas, pagar putih membelah arena, dan kandang-kandang bersih berjejer seperti rumah kecil bagi hewan yang hidupnya jelas lebih mahal daripada manusia biasa.
Keira turun dari mobil dan langsung berhenti.
Seekor kuda cokelat berdiri tidak jauh dari pagar, bulunya mengilap di bawah matahari.
"Kuda ini berapa harganya?" bisik Keira.
Darren bahkan tidak menoleh. "Jangan tanya."
"Berarti mahal sekali."
"Semua yang membuatmu bertanya begitu biasanya mahal."
Keira memandang kuda itu dengan rasa hormat baru. "Baiklah, saya tidak akan menyinggung perasaannya."
Klub itu ternyata bukan tempat olahraga biasa. Banyak mobil mewah, perempuan dengan topi lebar, pria berkaus polo mahal, anak-anak kecil yang sudah bisa naik kuda seolah dilahirkan di atas pelana. Begitu Darren masuk bersama Keira, percakapan di beberapa kelompok melambat.
Keira sudah mengenal tatapan itu.
Tatapan yang bertanya, dia siapa?
Felicia Tanuwidjaja berdiri dekat pagar arena, mengenakan pakaian berkuda putih bersih. Di sampingnya ada seorang perempuan berambut panjang dengan wajah cantik tajam, Diana Anggraeni. Keduanya menoleh hampir bersamaan.
Diana tersenyum miring.
"Ko Darren sekarang seleranya makin unik, ya."
Felicia tertawa halus. "Jangan begitu. Keira sedang belajar menyesuaikan diri."
Kalimat itu terdengar seperti pujian bagi orang yang tidak punya telinga.
Keira tersenyum. "Iya, Ci Feli. Pelan-pelan. Kalau langsung terlalu sempurna, nanti orang lain minder."
Wajah Diana mengeras sedikit.
Darren tidak menanggapi. Ia hanya bertanya kepada petugas, "Kuda yang paling tenang."
Keira langsung menoleh. "Untuk siapa?"
"Untukmu."
"Saya belum bilang mau naik."
"Kamu datang ke klub berkuda."
"Bisa saja saya datang untuk menilai harga rumput."
Darren menatapnya.
Keira menegakkan dagu. Di sekeliling mereka, beberapa orang masih memperhatikan. Diana tampak menunggu ia mundur. Felicia tersenyum seolah sudah tahu anak panti ini akan takut.
Keira tidak tahu cara naik kuda. Tapi ia tahu cara tidak memberi orang pertunjukan yang mereka inginkan.
"Saya bisa," katanya.
Darren mengangkat alis. "Bisa?"
"Secara teori."
"Teori dari mana?"
"Film."
Untuk pertama kalinya hari itu, Darren tampak hampir menghela napas.
Kuda yang dipilih untuk Keira berwarna hitam kecokelatan, lebih kecil dari kuda-kuda lain, tetapi tetap terasa sebesar lemari hidup. Ketika Keira mendekat, hewan itu mengibaskan ekor. Keira berhenti.
"Dia tahu saya miskin?"
"Dia tahu kamu takut."
"Saya tidak takut."
"Tanganmu memegang pagar."
Keira buru-buru melepas pagar.
Darren berdiri di sampingnya. "Naik."
"Sekarang?"
"Tidak besok."
Dengan bantuan petugas dan harga diri yang hampir jatuh lebih dulu, Keira akhirnya duduk di pelana. Tingginya membuat perutnya turun. Dunia terlihat berbeda dari atas kuda. Terlalu banyak ruang untuk jatuh.
Darren mengambil tali kendali.
"Pegang di sini."
Tangannya menutup tangan Keira.
Keira membeku.
Telapak tangan Darren hangat. Jari-jarinya panjang, kuat, dan tidak ragu mengatur posisi genggamannya. Ia berdiri di sisi kuda, satu tangan di pinggang Keira untuk menjaga keseimbangan, satu lagi menuntun tangannya pada kendali.
"Jangan tarik terlalu keras," katanya rendah. "Rileks."
"Saya sangat rileks."
"Kamu hampir mematahkan tali."
Keira melonggarkan genggaman.
Darren mendekat sedikit agar suaranya hanya sampai padanya. "Ikuti gerakannya. Jangan lawan. Kalau kamu panik, kudanya ikut panik."
Mudah sekali ia bicara begitu, pikir Keira, padahal seluruh arena sedang menonton pria paling dingin di Jakarta memegang pinggangnya di depan umum.
Keira bisa merasakan tatapan-tatapan itu seperti jarum. Dari arah pagar, Diana tidak lagi tersenyum. Felicia berbicara kepada seorang petugas dengan suara rendah, lalu kembali memandang arena.
Kuda mulai berjalan pelan.
Keira menahan napas.
"Bernapas," kata Darren.
"Saya sedang."
"Itu bukan bernapas. Itu bertahan hidup."
"Bedanya tipis."
Putaran pertama terasa seperti perjalanan menuju kematian yang sangat lambat. Putaran kedua, tubuh Keira mulai mengikuti ayunan kuda. Darren berjalan di sisi mereka, tidak melepas kendali terlalu jauh. Setiap kali Keira miring, tangannya kembali ke pinggangnya, menahan.
Jantung Keira kacau.
Bukan hanya karena takut jatuh.
Saat melewati sisi arena, ia mendengar bisik-bisik yang gagal disembunyikan.
"Dia bahkan diajari langsung."
"Vivienne pernah dapat perlakuan seperti itu?"
"Tidak pernah."
Keira menatap telinga kuda, pura-pura tidak mendengar. Tapi panas naik ke pipinya.
Setelah beberapa putaran, Darren melepas kendali sedikit.
"Jalan lurus sampai pagar sana. Pelan."
"Pak Darren yakin?"
"Tidak."
"Terima kasih atas kejujurannya."
Namun ia tetap mencoba.
Awalnya baik-baik saja. Kuda berjalan tenang. Keira bahkan mulai berani tersenyum kecil. Angin menyentuh wajahnya. Untuk beberapa detik, ia merasa mungkin orang seperti dirinya juga bisa belajar hal-hal yang dulu hanya milik orang lain.
Lalu sesuatu berubah.
Kuda itu mendadak mengangkat kepala. Telinganya bergerak gelisah. Keira merasakan tubuh hewan itu menegang di bawahnya.
"Pak Darren?"
Belum sempat Darren menjawab, kuda itu meringkik keras dan mengangkat kaki depannya.
Teriakan pecah dari tepi arena.
Keira kehilangan kendali.
Dunia berputar. Langit, pagar putih, wajah-wajah panik, lalu rumput. Tubuhnya menghantam tanah dengan keras, berguling dua kali sampai udara keluar dari paru-parunya.
Sakit menjalar dari lengan ke bahu.
Untuk beberapa detik, ia tidak bisa mendengar apa pun selain dengung di kepalanya.
Ketika akhirnya membuka mata, ia sadar dirinya berada di sisi arena yang lebih sepi, dekat deretan pohon dan gudang perlengkapan. Lengan kirinya perih. Bajunya kotor oleh tanah. Napasnya patah-patah.
Dari kejauhan, suara orang-orang terdengar kacau.
Keira mencoba bangun, tetapi kepalanya berputar.
Lalu ia mendengar langkah.
Ringan.
Tidak terburu-buru.
Seseorang berjalan ke arahnya dari balik bayangan gudang.
Keira mengangkat kepala, tetapi matahari berada tepat di belakang orang itu.
Ia tidak bisa melihat wajahnya.