NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 #Perangkap manis di Meja makan

​Matahari siang itu bersinar terik di atas kompleks Universitas Nusantara, namun mendung imajiner seolah menggelayut tepat di atas kepala Zevanya Anneliza. Langkah kaki Anya terasa amat berat saat dia keluar dari gedung fakultasnya. Wajah cantiknya ditekuk, matanya menatap lesu ke arah aspal pelataran parkir.

​Di samping kanan dan kirinya, Alena dan Bella berjalan beriringan dengan ekspresi wajah yang bertolak belakang. Bella menatap Anya dengan pandangan prihatin yang mendalam, sementara Alena justru tersenyum-senyum penuh arti dengan binar mata yang sarat akan konspirasi romantis. Kedua sahabatnya itu kini sudah tahu seluruh cerita, kecuali bagian ciuman yang terlalu panas yang mungkin bisa membuat Alena pingsan jika mengetahuinya.

​"Aku masih nggak habis pikir, Nya," ujar Bella, menggeleng-gelengkan kepalanya sembari memeluk diktat kuliahnya yang tebal. "Seorang Bara Fernandez, pria terhormat, sekaya itu, menyuruh putri tunggal keluarga Sanjaya jadi pembantu di rumahnya? Ini sih namanya penindasan tingkat tinggi. Apa kita perlu sewa detektif swasta atau pengacara untuk cari celah hukum?"

​"Nggak perlu, Bel. Percuma, pria licik itu memegang kendali penuh," sahut Anya lesu, bahunya merosot pasrah.

​Namun, Alena justru menyenggol lengan Anya dengan siku, memotong pembicaraan dengan tawa kecil yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Anya.

​"Ih, Bella, kamu ini terlalu kaku deh berpikirnya! Kalau menurut analisis instingku sebagai pencinta novel roman, ini punya arti lain," cerocos Alena dengan mata berbinar-binar antusias. "Anya, sadar nggak sih? Sepertinya ini cuma taktik atau cara terselubung dari Om Bara untuk menarikmu agar tetap berada di sisinya. Dia sengaja mengikatmu dengan status pelayan supaya kamu punya alasan wajib untuk datang ke tempatnya setiap hari! Awas loh, Nya... benci dan kesal yang berlebihan itu garis batasnya tipis banget sama cinta. Jangan sampai nanti kamu malah jatuh cinta beneran sama pamannya tunanganmu sendiri!"

​"Apaan sih, Al! Nggak mungkin!" semprot Anya dengan wajah yang mendadak memerah, entah karena kesal atau karena tebakan Alena sedikit menyentil bagian terdalam dari benaknya. "Dia itu cuma suka menindas dan mengerjaiku karena aku lebih muda darinya, dan sialnya dia punya kartu as-ku. Tidak ada yang namanya romansa di antara kami, catat itu!"

​Meskipun secara vokal Anya menentang keras ucapan Alena, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Anya tidak bisa membohongi diri sendiri. Sebenarnya, tebakan Alena sukses menyalakan alarm bahaya di otaknya. Di dalam hati, Anya sangat memikirkan dan menakutkan hal tersebut. Jatuh cinta pada Bara Fernandez adalah skenario terburuk yang harus dia hindari dengan taruhan nyawa.

​Anya tidak buta. Dia tahu betul bahwa Bara memiliki pesona pria matang yang luar biasa mematikan, kombinasi antara rahang tegas, tatapan mata elang yang intens, dada bidang yang kokoh, serta aroma maskulin yang memabukkan. Sentuhan-sentuhan intimidatif dari Bara selama dua hari terakhir ini terbukti selalu mampu membuat jantung Anya berdebar gila-gilaan, sebuah debaran aneh yang tidak pernah dia rasakan saat bersama Calvin.

​Anya melirik arloji di pergelangan tangannya. Pukul 13.30 siang.

​"Aduh, sudah jam segini! Aku harus pergi sekarang," seru Anya panik, mengingat ancaman hukuman setimpal yang dibisikkan Bara tepat di telinganya semalam.

​Anya tidak mau membuang waktu sedikit pun. Dia tidak memiliki waktu lagi untuk sekadar pulang ke rumah atau berganti pakaian di toilet kampus. Beruntung, tampilan Anya hari ini sudah cukup manis dan rapi. Dia mengenakan blouse berwarna soft pink berpotongan longgar namun elegan, dipadukan dengan celana kain berpotongan lurus berwarna putih bersih yang membungkus kaki jenjangnya. Rambut cokelatnya dicepol asal ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai leher putihnya.

​"Aku pergi dulu ya! Doakan aku selamat dari cengkeraman singa tua itu!" pamit Anya sembari berlari kecil menuju mobilnya, meninggalkan Alena dan Bella yang melambaikan tangan.

.

.

​Di lantai 45 Tower Mandala, suasana di dalam penthouse Bara Fernandez tampak sibuk menjelang pukul dua siang.

​Bara berdiri di dekat meja konter dapur bersih, memperhatikan keempat pelayannya yang baru saja menyelesaikan tugas mereka. Seluruh ruangan sudah bersih mengilat, lantai marmernya tanpa setitik debu, dan aroma ruangan berbau terapi pinus yang segar.

​Sebelum menyuruh mereka pulang sesuai dengan instruksinya semalam, Bara memanggil salah satu pelayan wanita paruh baya yang menjadi kepala urusan rumah tangga di sana.

​"Bi Minah," panggil Bara, suaranya terdengar berat dan berwibawa.

​"Iya, Pak Bara? Ada yang perlu disiapkan lagi sebelum kami pulang?" tanya Bi Minah dengan sikap hormat yang kental.

​Bara melirik ke arah meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati. Di atas meja itu, sudah tertata rapi beberapa piring hidangan makan siang mewah, mulai dari steak daging wagyu dengan saus jamur, sup asparagus hangat, hingga hidangan penutup puding mangga.

​"Pastikan semua pekerjaan rumah hari ini benar-benar sudah beres tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Jangan tinggalkan satu pun piring kotor atau debu di sudut ruangan," perintah Bara dengan nada tegas.

​"Sudah semua, Pak. Seluruh sudut penthouse sudah kami bersihkan sejak pagi tadi, dan makan siang untuk Anda juga sudah selesai disiapkan," jawab Bi Minah memastikan.

​"Bagus. Kalau begitu, kalian berempat bisa pulang sekarang. Jangan kembali ke sini sampai besok pagi," ujar Bara, memberikan isyarat tangan agar mereka segera pergi.

​"Baik, Pak. Terima kasih. Kami permisi dulu," Bi Minah bersama tiga pelayan lainnya membungkuk hormat, lalu melangkah beriringan menuju lift barang untuk kembali ke mess karyawan mereka yang terletak di lantai dasar gedung.

​Begitu pintu lift tertutup dan menyisakan kesunyian di dalam penthouse, sudut bibir tampan Bara perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman misterius yang sangat tipis. Sepasang mata elangnya berkilat penuh kelicikan yang jenius.

​Ya, kenyataannya, Bara Fernandez tidak akan benar-benar tega menyuruh jemari lentik dan kulit halus Zevanya untuk memegang sapu, memeras kain pel, atau menggosok wastafel rumahnya sampai kelelahan. Perintah gila itu hanyalah sebuah taktik terselubung. Bara hanya ingin bermain-main dengan 'gadis cerinya' itu, menciptakan sebuah situasi di mana Anya tidak memiliki pilihan lain selain datang berdua saja dengannya di dalam ruang privat yang tertutup ini setiap hari.

​Tepat pukul 14.00 siang, terdengar bunyi denting pendek dari lift privat. Pintu besi berlapis emas itu terbuka, menampilkan sosok Anya yang melangkah masuk dengan napas yang sedikit memburu, seolah dia baru saja melakukan sprint dari area parkir bawah.

​Anya berdiri tegak di tengah ruangan, menatap Bara yang sedang bersedekap dada di dekat meja makan dengan pandangan menantang.

​"Aku datang tepat waktu, Om! Pas jam dua siang tidak kurang dan tidak lebih!" seru Anya dengan nada bangga, menepuk dada kirinya pelan seolah memamerkan kemenangannya atas waktu. "Jadi... apa tugas pertamaku sekarang? Di mana sapu dan kain pelnya? Biar cepat selesai dan aku bisa cepat pulang!"

​Bara tidak langsung menjawab. Sepasang matanya bergerak perlahan, memindai penampilan Anya siang ini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mengenakan blouse soft pink dan celana kain putih, Anya terlihat luar biasa manis, segar, dan memikat di mata Bara, jauh lebih baik daripada penampilan karung goni yang dia pakai kemarin.

​Bukannya memberikan alat-alat kebersihan, Bara justru melangkah maju perlahan, lalu mengulurkan satu tangannya, memberikan gestur menunjuk ke arah kursi meja makan yang sudah ditarik terbuka.

​"Tugas pertamamu hari ini... duduk di sana," perintah Bara dengan suara baritonnya yang tenang namun mutlak.

​Anya mengernyitkan keningnya bingung. "Duduk? Di meja makan? Om jangan bercanda ya, aku ke sini untuk bekerja sesuai kontrak gila itu, bukan untuk bertamu atau ikut makan siang!"

​"Duduk, Zevanya. Atau aku anggap kamu menolak perintah pertama dan hukumanmu akan langsung berjalan," ancam Bara dengan nada santai yang membuat Anya seketika mendengus kesal.

​Mau tidak mau, Anya melangkah mendekat dengan langkah dihentak-hentakkan, lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi kulit empuk tersebut. Di hadapannya, terhampar piring berisi potongan steak wagyu yang sangat menggugah selera, lengkap dengan aroma gurih saus jamur yang langsung menusuk indra penciuman Anya. Sialnya, perut Anya mendadak berbunyi pendek karena dia memang belum sempat makan siang di kampus tadi.

​Anya menatap makanan mewah itu dengan pandangan penuh kecurigaan yang berlebihan. Dia menoleh ke arah Bara yang kini sudah duduk di kursi tepat di sebelahnya, bukan di seberangnya.

​"Om... Om sengaja menaruh racun ya di dalam makanan ini?" selidik Anya dengan mata menyipit tajam, menunjuk piringnya dengan garpu. "Om pasti mau menyingkirkanku atau membuatku pingsan supaya Om bisa melakukan tindakan mesum lagi seperti di toilet kemarin, kan? Mengaku saja!"

​Bara tidak mengeluarkan suara untuk membantah tuduhan konyol tersebut. Dia justru mencondongkan tubuh tegapnya mendekat ke arah Anya. Dengan gerakan yang sangat santai namun tak terduga, tangan kokoh Bara meraih garpu dari genggaman jemari Anya, menusuk sepotong daging wagyu dari piring gadis itu, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri dan mengunyahnya dengan tenang.

​Setelah menelan potongan daging tersebut, Bara menatap Anya dengan seulas senyuman dingin yang sangat menawan. "Kalau makanan ini memang ada racunnya... maka aku yang akan mati lebih dulu di hadapanmu, Gadis Manis."

​Wajah Anya kembali memanas mendengar sebutan itu. Merasa taruhannya aman dan perutnya yang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, Anya akhirnya merebut kembali garpunya dari tangan Bara. Tanpa membuang waktu atau memikirkan gengsi sebagai putri konglomerat, Anya mulai memotong daging dan menyuapkannya ke dalam mulut dengan sangat lahap. Rasa gurih dan kelembutan daging wagyu itu benar-benar membuat Anya melupakan sejenak kekesalannya pada pria di sebelahnya.

​Anya makan dengan begitu fokus dan bersemangat, mengunyah dengan pipi yang menggembung lucu hingga tanpa dia sadari, ada sedikit noda saus jamur kecokelatan yang tertinggal dan menempel di sudut bibir bawahnya yang ranum.

​Bara yang sejak tadi tidak menyentuh makanannya sendiri, hanya duduk bersandar sembari menatap lekat-lekat setiap pergerakan Anya. Saat melihat noda saus tersebut, tatapan mata elang Bara mendadak berubah menjadi sangat dalam dan menggelap penuh gairah yang tertahan.

​Bara mengulurkan tangan kanannya maju ke depan wajah Anya. Namun kali ini, dia tidak mengambil tisu seperti yang dilakukan Calvin kemarin di kafe.

​Jari jempol tangan kosong milik Bara yang terasa hangat dan sedikit kasar bersentuhan langsung dengan kulit lembut bibir bawah Anya. Bara mengusap noda saus tersebut dengan gerakan yang sangat perlahan, seolah sedang menikmati setiap inci permukaan bibir ranum yang terasa begitu kenyal di bawah jarinya.

​Anya seketika menghentikan kunyahannya. Tubuhnya membeku total di atas kursi. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia yakin Bara bisa mendengarnya. Sentuhan kulit ke kulit itu mengirimkan sengatan listrik statis yang membuat seluruh bulu kuduk Anya meremang hebat.

​Namun, tindakan sensual Bara tidak berhenti sampai di sana. Setelah berhasil membersihkan noda saus tersebut, Bara menarik kembali tangannya perlahan. Di bawah tatapan mata Anya yang melotot sempurna dengan napas tertahan, Bara mendekatkan jari jempolnya yang masih menyisakan noda saus dari bibir Anya ke depan mulutnya sendiri, lalu menyesap noda tersebut dengan gerakan lidah yang sangat sensual sembari matanya terus mengunci pandangan mata Anya tanpa terputus.

​Aman untuk dikatakan, gerakan itu sukses membuat bulu kuduk Anya merinding hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Suasana di sekitar meja makan mendadak berubah menjadi sangat canggung, panas, dan dipenuhi oleh ketegangan seksual yang pekat. Anya menelan ludahnya dengan susah payah, mencengkeram garpunya erat-erat untuk menyembunyikan getaran di tangannya.

​Bara, yang sangat peka dan menyadari sepenuhnya perubahan ekspresi serta kecanggungan luar biasa dari gadis di sebelahnya, hanya mengulas senyuman tipis yang sarat akan dominasi pria matang. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, hingga hembusan napas hangatnya menyentuh pipi Anya yang sudah merona merah padam bagai buah ceri yang matang.

​"Kenapa kamu harus terlihat sebegitu tegang dan merinding hanya karena sentuhan jari, Zevanya?" bisik Bara, suaranya berupa geraman bariton rendah yang terdengar sangat seksi sekaligus mengintimidasi. "Bukankah... aku bahkan sudah merasakan langsung kelembutan bibirmu itu sebanyak dua kali?"

​Deg!

​Anya merasa pasokan oksigen di sekitarnya mendadak habis. Kalimat blak-blakan Bara sukses membuat otaknya mengalami korsleting total siang itu.

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!