Di tengah kegalauannya karena belum dikaruniai anak, Zora melakukan yang seharusnya tidak dilakukannya.
Akhirnya Zora melahirkan Agni, ada beberapa versi cerita beredar di sekitar mereka tentang identitas Agni, tidak ada satupun yang pasti tahu siapa ayah dari Agni, hanya Zora yang tahu. Namun Zora mengalami musibah dan rahasia itu hampir tidak akan mungkin terungkap.
Agni tumbuh jadi anak yang pintar dan cantik. Sampai dia terjerumus ke dunia hitam, dia belum juga menemukan apa yang dia cari. Akankah Agni akan tahu siapa ayah biologisnya?
Ikuti kisahnya dalam cerita "Zora's Scandal" - Skandal Zora. Skandal itu melahirkan banyak rahasia di dalam rumah tangga Zora dan Aditya. Mohon jangan galau setelah baca novel ini.
NB: Visual ada di episode 73 Pembuktian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Jahat Amelia
Mendengar hal itu, hati Jono sedikit lega. Beberapa detik kemudia, dia akhirnya benar-benar khawatir dengan apa yang diucapkan Amelia. "Dari mana Amelia tahu apa yang sedang kupikirkan? Apa jangan-jangan itulah yang memang sedang direncanakannya?" Jono mereka-reka apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran Amelia.
Akhirnya Jono memutuskan untuk tetap was-was terhadap Amelia. Dia akan melindungi Zora, terutama karena Zora sedang mengandung anaknya, dia tidak mau hal-hal buruk terjadi pada Zora dan kandungannya.
“Bagaimana jika kita memisahkan mereka? Karena kau sudah mengusulkannya di awal, kau harus terlibat dengan rencana yang akan aku lakukan.” Amelia memberikan usul yang kurang konkret, hal itu membuat Jono menjadi sangat penasaran.
“Apa yang sedang kau rencanakan?” Jono benar-benar penasaran sekarang.
Amelia mendekat ke arah Jono, dia mengungkapkan rencananya kepada Jono. Jono mendengarnya dengan sangat serius. Muka Jono berubah tegang dan membayangkan bagaimana rencana itu akan dilakukan di benaknya.
“Baik kalau begitu, saya setuju.” Jono menganggukkan kepalanya, tapi wajahnya masih sedikit ragu dengan rencana itu.
“Tapi malam ini jadi kan?” Amelia memelas, matanya menatap mata Jono dengan sungguh-sungguh.
“Apaan sih? Kau harus berlatih untuk menahan nafsumu sendiri jika ingin semua rencanamu berjalan dengan lancar. Jangan membabi buta!” Jono mengingatkan Amelia, matanya menatap serius ke mata Amelia yang sayu seperti ingin dikasihani.
“Ah, brengsek. Kau selalu menggurui, kau sudah kotor Jon, kalau sudah basah sekalian saja mandi, jangan tanggung-tanggung!” Amelia masih bertahan, berusaha mempengaruhi pikiran Jono.
“Aku memang sudah kotor, kalaupun aku sudah basah, aku berhak untuk melapnya pakai handuk alih-alih harus mandi, aku takut masuk angin, terlalu sering mandi!” Jono mulai melawan keinginan Amelia sekarang.
“Ah, persetan!” Amelia kini tidak berdaya.
“Jika kau ingin mendapat bantuan dariku, kau harus bisa menahan nafsumu sekarang.” Jono mengingatkan Amelia.
“Kau seharusnya bersyukur bisa menikmati tubuhku secara cuma-cuma. Kau terlalu munafik Jon!” Amelia meninggikan suaranya. Tapi kini dia tidak mau mendekat lagi ke Jono. Dia takut dicekik seperti yang Jono pernah lakukan.
“Amelia, kau terlalu mengeneralisir semua laki-laki. Tidak semua laki-laki ingin yang gratis.” Jono memberikan perspektifnya kepada Amelia.
“Maksudmu kau ingin membayar?” Amelia benar-benar tidak menangkap apa poin yang hendak Jono sampaikan.
“Ah, kau tidak akan mengerti apa maksudku. Lebih baik aku pergi dulu.” Jono kini mulai berjalan ke arah pintu kamar.
“Aku hantar saja Jon!” Amelia menawarkan bantuan.
“Tidak usah, aku bisa memesan ojek online.” Jono berusaha menolak tawaran Amelia.
“Udah, gak apa-apa, dari sini bisa sampai 50.000 loh ke kosanmu. Kuhantar saja, gratis.” Amelia masih berusaha menawarkan jasanya dan berjalan mengiringi Jono.
"Lumayan juga tuh 50.000." Bisik Jono dalam hatinya. "50.000 bisa buat makan 4 kali." Jono menghitung-hitung lagi kekuatan uangnya yang semakin menipis.
“Ya sudah, kalau kau memaksa, tapi jangan macem-macem di dalam mobil ya.” Jono mengingatkan Amelia.
“Hahaha, iya, iya. Tenang saja. Aku bingung, situ laki-laki malah takut dengan perempuan. Dunia sudah terbalik sekarang. Gak pulang besok pagi saja sekalian? Sayang loh kamar ini sudah dibayar dan bisa dipakai sampai besok siang.” Amelia memancing Jono lagi untuk tetap tidur di kamar itu malam itu.
Jono kembali berpikir. "Di kos juga ngapain?" Dia bertanya pada diri sendiri. "Lebih baik menginap di sini malam ini." Jono memandang mata Amelia.
“Kau pasti sudah merencanakan sesutau kan? Kalau kau tidak ikhlas mau menghantar aku, tidak apa-apa aku naik ojek saja. Jangan terlalu banyak basa-basi!” Jono kesal dengan Amelia yang sedang mempermainkannya. Dia tidak mau Amelia tahu jika persediaan uangnya sedang menipis.
“Ah, nggak kok, kalau tidak mau ya sudah gak apa-apa, aku hantar sekarang.” Amelia buru-buru meraih tas kecilnya dan menarik lengan Jono yang kekar.
Jono mengikuti langkah Amelia sekarang, dia benar-benar dibuat pusing dengan tingkah Amelia.
“Yang, besok malam aku balik ke Singapura ya!” Aditya memberitahukan Zora jika dia akan ada rapat dengan klien di Singapura hingga dia harus buru-buru kembali ke Singapura.
“Baik, mas. Nggak apa-apa.” Zora meyakinkan suaminya bahwa dia kan baik-baik saja dan dia tidak perlu khawatir.
“Baik, atau ingin ikut ke Singapura?” Aditya menawarkan Zora untuk sementara pindah ke Singapura.
“Tidak usah mas, aku baik-baik saja kok.” Zora menolak permintaan Aditya. Dia tersenyum dengan senyuman yang paling manis.
“Aku akhir-akhir ini bermimpi buruk. Aku takut ada apa-apa yang terjadi denganmu jika tanpa aku di sini.” Aditya menceritakan semua mimpinya kepada Zora.
“Mas, ini abad 21 loh, masih percaya mimpi.” Zora mengingatkan Aditya.
“Bukan masalah itu, tapi perasaanku jadi tidak enak.” Aditya memelas, baru kali ini dia ngotot di hadapan Zora.
“Kalau mas terlalu khawatir denganku, kita bisa bujuk Jono untuk sementara tinggal di sini dulu, jadi aku ada yang menemani.” Zora membesarkan matanya, seolah dia baru saja mendapat ide yang paling cemerlang.
“Ya sudah jika itu maumu, aku ikut saja, semoga Jono mau tinggal di sini. Heran juga mengapa Jono harus memilih kos dan mengeluarkan uang daripada tinggal di sini dan tidak bayar apa-apa. Nanti saya yang membujuk Jono untuk tinggal di sini ya.” Aditya menggenggam tangan istrinya.
“Baik mas, semoga Jono mau ya, kali ini.” Zora menimpa tangan Aditya dengan tangannya sebelah kanan dan mengusap-usap punggung tangan Aditya, seolah-olah dia ingin berterima kasih karena usulnya itu diterima suaminya dengan penuh pengertian, dia ukir senyuman di bibirnya.
“Iya, semoga sayang.” Aditya membalas senyuman Zora.
“Jon, besok hantar saya ke Bandara ya.” Suara Aditya di seberang sana.
“Iya, pak.” Jono mengangguk seolah-olah ada Aditya di depannya. “Pukul berapa, Pak?” Jono melanjutakan dengan pertanyaan.
“Pesawat saya berangkat pukul 21.00, jadi kita berangkat pukul 19.00 ya. Oh ya, tolong datang lebih awal ya, pukul 18.00, kamu makan malam di sini saja. Ada yang ingin saya bicarakan.”
“Oh, baik, Pak!” Jono mengangguk-angguk lagi.
“Baik, ditunggu ya Jon!”
“Iya, Pak!”
Aditya memutus panggilannya. “Besok masak lebih banyak ya, sayang. Saya mengajak Jono makan bersama. Kita tidak pernah mengajak dia makan bersama.” Aditya baru sadar kalau mereka tidak pernah makan bersama dengan supirnya itu.
“Iya, mas.” Zora menjawab dan menggangguk pelan.
“Ya sudah, kita tidur yok!” Aditya menarik tangan istrinya. Meraka beranjak dari ruang makan ke kamar tidur. Ini adalah malam terakhir bagi Aditya tidur bersama istrinya sebelum berangkat besok malam ke Singapura. Dia ingin melepas kangen dengan istrinya itu. Hasratnya sudah lama terbendung. Maka setiap kali bertemu Zora dia akan menyempatkan untuk berbesaraan dengan Zora.
“Kalau usia kandungan masih 4 bulan, masih bisa kan?” Aditya menggoda Zora.
“Bisa mas, sebelum memasuki bulan ketujuh, masih bebas, tapi jangan lasak ya, mas.” Zora mengingatkan suaminya, dia takut jika suaminya kebablasan dan lupa jika dia sedang hamil.
“Iya…” Aditya langsung memagut bibir ranum Zora.
Zora terkejut, dia tidak menyangka Aditya akan segesit itu.
Aditya melepaskan ciumannya. Dia memegang pipi istrinya, dia seperti menikmati wajah cantik istrinya itu, dia pandang lekat-lekat mata istrinya.
“Matamu bagai matahari yang terbenam dengan indah, tidak salah Ibu dan Bapak memberimu nama Zora.” Aditya memuji keindahan mata Zora yang lembut.
“Ibu dan Bapak juga tidak salah memberi nama Aditya padamu, mas, kau pandai dan bijaksana.” Zora tidak mau kalah dengan suaminya.
Setelah mendengar pujian istrinya, dia kembali mencium bibir itu, kali ini lebih hangat dan penuh perasaan. Aditya menumpahkan semua kerinduannya pada istrinya itu. Dia membuka gaun yang dipakai Zora. Perut Zora yang sedikit membuncit kini terlihat jelas di hadapan Aditya.
Aditya mengusap pelan perut itu dan mencium pusar Zora. Zora sangat menikmati aksi suaminya itu. Kumis Aditya yang tajam memberikan sensasi yang tidak terlukiskan. Dia angkat kepala Aditya dan membuka baju kaos yang dikenakan suaminya itu.
Kini Zora bisa melihat tubuh atletis Aditya, tapi kini sedikit kurus dan tidak terawat. Dia membayangkan tubuh Jono yang atletis, sepertinya Jono lebih pandai merawat otot tubuhnya. Hasratnya kini tiba-tiba melonjak. Kini Zora yang balik menyerang, dia ciumnya bibir tipis suaminya. Bibir itu selalu menggairahkan, kemudian dia beralih ke leher Aditya.
Demikianlah malam itu mereka habiskan dengan penuh keringat. Mereka akhirnya terkulai lemas dan bunyi nafas mereka terdengar seperti baru habis jogging. Mereka berpelukan dan menikmati bau tubuh pasangannya masing-masing.
Jangan lupa vote, like dan komentarnya ya teman-teman. Masukan dan kritikan kalian sangat berguna bagi perkembangan saya. Love you all...❤❤❤
Tekan tombol Favorite agar ketika saya sedang update episode baru, kalian dapat notifikasi. 🤗
Era Berdarah Manusia
I Firmo
🌹🌹🌹💐💐💐
Ukir karya
Raih segala asa
Sukses selalu buat Author
👍👍👍👏👏👏
⭐⭐⭐⭐⭐
Era Berdarah Manusia
I Firmo
⭐⭐⭐⭐⭐
🌹🌹🌹🌹🌹
⭐⭐⭐⭐⭐
nambah dukungan ya
🌹🌹🌹🌹🌹🌹💐💐💐💐💐💐
bikin ngeri 😂😂😂