NovelToon NovelToon
Lovely Rain, Sweet Heart

Lovely Rain, Sweet Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: Liana29

Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menata Hati

Malam itu..

Di balik dinding kamarnya yang sunyi, Diantha menarik napas panjang. Ia menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipinya. Keputusan sudah bulat..

dia akan bermain peran..

Jika Althaf benar-benar tidak menginginkannya, maka Diantha tidak akan membiarkan dirinya terlihat menyedihkan sendirian.

Ia akan menuruti saran Althaf, memberi Reyhan kesempatan dan dengan cara itulah, ia akan melihat sendiri sejauh mana reaksi Althaf nantinya..

Apakah cowok itu akan tetap tenang, atau justru ada secercah rasa tidak rela yang akhirnya meledak?

Saat bel makan malam berbunyi, Diantha membasuh wajahnya di wastafel kamar mandi, berusaha menyapu habis jejak kesedihan. Ia menarik napas dalam, mematut diri di cermin, dan memasang senyum tipis yang tampak meyakinkan..

Di meja makan, Ibu Alisa menyambutnya dengan hangat.. "Kok makannya sedikit, Nak? Tadi katanya lapar sekali?" tanya sang Mamah sambil menyendokkan nasi ke piring Diantha..

Diantha memaksakan tawa kecil, senyum yang terlihat wajar, seolah beban sekolah memang benar-benar alasan utamanya. "Iya, Mah. Tadi di sekolah tugasnya lagi numpuk banget, mungkin karena itu jadi agak capek. Besok juga bakal sibuk, jadi mau istirahat lebih awal."

Ibu Alisa yang tidak menaruh curiga hanya mengangguk lembut. "Ya sudah, yang penting jangan dipaksa. Kesehatan tetap nomor satu."

Setelah menghabiskan makannya dengan rasa yang hambar, Diantha segera kembali ke kamarnya. Ia mulai mengerjakan tugas-tugas sekolahnya dengan mekanis.

Tangannya menulis rumus dan kalimat, sementara pikirannya melayang ke mana-mana..

Satu per satu buku ia masukkan ke dalam tas. Saat tangannya meraih buku catatan terakhir, ia terdiam sejenak. Besok, semuanya akan dimulai, batinnya..

Diantha mematikan lampu kamar, menyisakan lampu tidur yang temaram. Ia membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang gelap. Malam ini, tidur terasa begitu jauh..

Bayangan wajah Reyhan yang penuh harap, bayangan Sari yang bingung, dan terutama bayangan Althaf yang dingin saat memintanya untuk membuka hati—semuanya menari-nari di pelupuk matanya..

Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mematikan perasaannya untuk sementara. Besok, ia harus menjadi Diantha yang baru: Diantha yang "terbuka" untuk Reyhan, dan Diantha yang akan berdiri tegak di depan Althaf tanpa menunjukkan sedikit pun luka yang ia sembunyikan..

Menjelang larut malam, suasana kamar Diantha terasa makin hening. Hanya terdengar suara detik jam dinding dan desir angin malam yang menerobos lewat celah jendela.

Diantha tak langsung terlelap. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Layar benda persegi itu menyala terang, menampilkan beberapa notifikasi grup percakapan mereka—Grup Sahabat yang isinya Althaf, Rian, Sari, dan dirinya.

Ada beberapa pesan masuk dari Sari yang menanyakan apakah ia sudah sampai rumah dengan selamat, serta candaan garing dari Rian. Namun, tidak ada satu pun pesan pribadi dari Althaf. Biasanya, cowok itu setidaknya akan mengirimkan pesan singkat sekadar mengingatkan untuk mengunci pintu atau mengerjakan tugas. Tapi malam ini, ruang obrolan pribadi mereka membisu, seperti menatap ruang kosong yang hampa..

Diantha menatap layar ponselnya cukup lama, jemarinya menggantung di atas papan ketik. Ada dorongan kecil dalam hatinya untuk mengetik, “Thaf, kamu beneran sama ucapan kamu sore tadi?

Namun ego dan rasa harga dirinya yang terluka segera menahan jemarinya. Ia menghembuskan napas panjang, lalu mematikan layar ponselnya dan meletakkannya kembali dengan posisi telungkup..

Ia memiringkan tubuhnya, memeluk guling erat-erat. Pikiran Diantha berkecamuk membayangkan esok hari. Mengizinkan Reyhan mendekat bukanlah hal yang mudah baginya, sebab hatinya menolak.

Namun rasa ingin tahunya—serta rasa kecewanya yang mendalam pada Althaf—jauh lebih besar. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri: apakah Althaf benar-benar tidak peduli jika ia disentuh, didekati, atau bahkan dimiliki oleh laki-laki lain? Ataukah di balik wajah sok tenangnya itu, Althaf menyimpan rasa cemburu yang selama ini ditutupi rapat-rapat?..

Kalau ini emang game yang kamu mau, Thaf, aku bakal ikuti alurnya, bisik Diantha dalam hati, menatap pekatnya kegelapan kamar.

Perlahan, kelelahan fisik dan emosional yang menguras tenaganya sepanjang hari mulai mengambil alih. Matanya berat, dan sebelum kesadarannya benar-benar menghilang menuju alam mimpi, Diantha sudah membulatkan tekad. Besok, ia tak akan lagi menjadi Diantha yang ragu-ragu.

Ia akan mulai memberikan celah bagi Reyhan, dan membiarkan Althaf menyaksikan sendiri konsekuensi dari kata-katanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!