Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Langkah Besar
"Halo, Yah."
"Quena, kamu dan Stefanus sudah sampai di pelabuhan?"
"Sudah, Yah."
"Kontainer pasokan sutra dari Shanghai milik kita sudah bersandar sejak subuh."
"Itu kabar baik."
"Tapi sampai detik ini kontainer kita sama sekali tidak bisa keluar dari area bongkar muat."
Alis Stefanus langsung berkerut dalam.
"Kenapa bisa begitu, Yah?"
"Kata pihak pelabuhan, akses pelepasannya dikunci oleh sistem pusat."
Shaquena langsung saling pandang dengan Stefanus.
"Dikunci?"
"Iya, Quena. Kelengkapan dokumen kepabeanan kita sudah lengkap. Pajak bea cukai sudah dibayar lunas, tapi sistem administrasi tetap menolak melepaskan barang kita."
Sambungan telepon ditutup. Shaquena mengembuskan napas panjang. "Pria itu bergerak lebih cepat dari dugaan kita."
"Bastian."
Shaquena mengangguk tegas. "Kalau bahan baku sutra itu tidak keluar dari pelabuhan hari ini, operasional pabrik Ayah akan berhenti total besok pagi."
Stefanus langsung membuka pintu mobilnya. "Kalau begitu, kita benar-benar tidak punya waktu bersantai."
Ruang tunggu kantor administrasi pelabuhan dipenuhi antrean. Beberapa pengusaha dan agen logistik sibuk mondar-mandir mengurus dokumen.
Stefanus melangkah maju dan menyerahkan seluruh map berkas milik Mahardika Textile kepada petugas loket.
"Tolong cek status pelepasan kontainer Mahardika Textile."
Petugas berseragam itu mengetikkan nomor resi. Wajahnya langsung memucat. "Mohon maaf sekali, Pak."
"Ada masalah?"
"Sistem tidak mengizinkan proses pelepasan kontainer Bapak."
"Kenapa alasannya?"
"Saya kurang tahu, Pak."
"Tolong coba cek ulang."
Petugas itu kembali mengetik. Hasilnya tetap sama. Status merah menyala berkedip di layar monitor.
AKSES DIBLOKIR.
Stefanus menarik napas dalam-dalam. "Siapa pejabat yang berwenang membuka blokir ini?"
"Harus melalui otorisasi kepala operasional pelabuhan langsung."
"Di mana orangnya sekarang?"
"Beliau sedang rapat, Pak."
"Alasan yang lucu sekali."
"Maaf, Bu?"
Stefanus menggenggam map plastiknya makin erat. "Baik kalau begitu, kami akan menunggu sampai atasan Anda selesai rapat."
Dua puluh menit berlalu. Empat puluh menit. Satu jam. Tidak ada siapa pun yang datang. Beberapa sopir truk ekspedisi mulai menghampiri ayah Shaquena yang menyusul ke pelabuhan.
"Pak, kami harus bagaimana?"
"Bahan baku dari kapal belum keluar juga."
"Kalau hari ini jadwal kita gagal kirim, besok mesin produksi di pabrik pasti berhenti."
Ayah Shaquena memaksakan senyum untuk menenangkan anak buahnya. "Tolong sabar dulu, kita sedang usahakan."
Namun, Stefanus bisa melihat kepanikan mertuanya dengan sangat jelas. Pabrik tekstil tidak akan bisa hidup tanpa suplai bahan baku. Satu hari saja produksi terlambat, nilai kerugiannya menembus miliaran rupiah.
Shaquena bangkit berdiri. "Aku mau melihat langsung ke area penyimpanan kontainer."
Stefanus langsung ikut melangkah. Mereka berjalan melewati deretan peti kemas raksasa. Tak lama kemudian, seorang mandor pelabuhan menghampiri mereka.
"Maaf, Pak, Bu. Itu adalah tumpukan kontainer milik Mahardika Textile."
Mandor itu menunjuk ke arah barisan tumpukan paling belakang. Kontainer besi berwarna biru tua dengan logo perusahaan pengiriman internasional itu masih tersegel rapat dengan rantai gembok.
"Apakah tidak bisa dibongkar secara manual saja hari ini?" tanya Stefanus serius.
Mandor itu langsung menggeleng ngeri. "Kalau segelnya kami buka paksa tanpa surat izin pelepasan dari sistem pusat, bisa-bisa kami para pekerja yang diseret ke penjara."
Shaquena memejamkan mata rapat-rapat. Sebastian benar-benar menyusun rencananya dengan sangat rapi. Pria itu membuat semua pergerakan bisnis Mahardika Group tidak bisa berjalan. Secara hukum, tindakan ini terlihat sangat bersih. Namun, dampaknya mematikan.
Di tengah ketegangan itu, ponsel di saku Stefanus bergetar. Nomor tidak dikenal muncul di layarnya. Pria itu menekan tombol jawab.
"Halo."
"Ternyata kau juga datang menyusul ke sana."
Stefanus langsung mengenali suara bariton itu. Sebastian.
"Kak."
"Bagaimana kabarmu hari ini, Stefan?"
"Apa maumu sebenarnya?"
Sebastian tertawa pelan nan merendahkan di seberang telepon. "Aku mendengar selentingan kabar bahwa keluarga Mahardika sedang mengalami kesulitan teknis."
"Itu sama sekali bukan urusanmu."
"Oh, tentu saja ini menjadi urusanku." Nada suara kakaknya itu terdengar santai dan menikmati kemenangan. "Sebenarnya masalah kecil administrasi pelabuhan itu bisa selesai tuntas dalam lima menit."
Stefanus tidak menjawab pancingan itu.
"Asalkan Shaquena bersedia datang dan memohon bicara langsung denganku."
"Hal itu tidak akan pernah terjadi."
"Kau sangat yakin?"
Stefanus menoleh ke arah Shaquena yang masih berdiri kokoh di depan kontainer biru. Tatapan mata wanita itu sangat dingin dan penuh perhitungan. Tidak sedikit pun terlihat raut ingin menyerah.
"Kau membidik orang yang salah, Kak."
Sebastian mendecak kesal. "Stefan."
"Apa?"
"Kau memang dari dulu selalu keras kepala."
"Lalu kenapa?"
"Kau pikir kau memiliki kuasa untuk bisa melindunginya selamanya dariku?"
Klik. Sambungan telepon diputus sepihak secara arogan.
Stefanus menatap layar ponselnya yang mati. Ia perlahan memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya.
Shaquena berjalan mendekat. "Telepon dari Sebastian?"
"Iya. Dia ingin kau datang memohon bantuannya."
Shaquena tersenyum hambar penuh kemenangan kecil. "Kalau begitu, itu berarti dia mulai merasa panik."
Stefanus mengernyitkan dahinya. "Kenapa kau berpikir begitu?"
"Orang yang posisinya benar-benar menang tidak akan merasa perlu menelepon lawannya."
Mereka berdua berjalan kembali menuju kantor administrasi. Kali ini, kepala operasional yang mereka cari akhirnya memunculkan diri. Pria berseragam yang berusia lima puluhan itu terlihat sangat gugup.
"Mohon maaf sekali membuat Bapak dan Ibu menunggu lama."
Ayah Shaquena langsung bangkit berdiri. "Kenapa kontainer bahan baku kami bisa ditahan di sini, Pak?"
"Kami dari pihak pelabuhan murni menjalankan sistem yang ada."
"Sistem buatan siapa yang Anda maksud?"
"Sistem komputer pelabuhan."
"Lalu siapa pihak yang sengaja mengubah sistem tersebut?"
Pria berseragam itu terdiam membisu. Shaquena langsung mengambil alih posisi ayahnya.
"Pak," panggil Shaquena tajam.
"Iya, Bu?"
"Apakah benar ada pihak luar yang meminta akses pengiriman kami dikunci paksa hari ini?"
Kepala operasional itu semakin berkeringat dingin. "Saya..."
"Tolong jawab saja."
"Saya benar-benar tidak bisa menjawabnya."
"Karena Anda takut?"
Pria itu menelan ludah. Stefanus langsung tahu kebenarannya. Kalau memang tidak ada permainan kotor dari luar, pria paruh baya ini pasti sudah langsung membantah tegas. Sekarang, orang berseragam ini bahkan tidak berani menatap mata Shaquena.
"Kami benar-benar tidak bisa membantu permasalahan administrasi ini, Bu."
"Kenapa?"
"Karena perintah pemblokiran ini datang langsung dari jajaran atas."
"Siapa atasan yang Anda maksud?"
Pria paruh baya itu menggeleng putus asa. "Saya tidak boleh menyebut nama."
Keluar dari kantor administrasi, ayah Shaquena kehilangan seluruh tenaganya. Bahu pria itu merosot lemas.
"Apa lagi yang harus kita lakukan sekarang?"
Ayah Shaquena tidak sanggup menyelesaikan kalimat buruknya. Shaquena membuang muka, memandang deretan kapal kargo di kejauhan laut. "Sebastian sangat ingin kita putus asa hari ini."
Stefanus mengangguk pelan. "Lalu bagaimana langkah kita?"
"Kita jangan pernah memberinya kepuasan itu."
"Tapi bagaimana caranya, Quena?"
Shaquena terdiam mematung. Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di kawasan pelabuhan ini, wanita dengan otak brilian itu tidak bisa langsung menemukan jawaban.
Stefanus menatap lurus ke arah wajah istrinya. Wanita ini memang luar biasa tangguh. Namun, bukan berarti Shaquena tidak bisa merasa lelah secara mental dan fisik.
Tiba-tiba, sebuah ide memercik ingatan Stefanus. Sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sentuh apalagi ia pikirkan. Warisan.
Peninggalan terakhir dari mendiang kakeknya. Hak yang sebenarnya sudah menjadi miliknya secara sah. Hak yang selama tiga puluh tahun selalu ia abaikan karena ia tidak ingin berebut kekuasaan dengan Sebastian.
Stefanus mengeluarkan ponsel dari sakunya. Jemarinya mencari satu nomor kontak khusus. Nomor yang hampir tidak pernah ia hubungi seumur hidupnya.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara pria tua menyapa di seberang sana.
"Tuan muda?"
"Pak Hartono."
Pria tua pengabdi keluarga Mahendra itu terdengar sangat terkejut. "Sudah lama sekali Anda tidak menghubungi nomor ini."
"Saya butuh sebuah bantuan besar."
"Bantuan apa yang bisa saya berikan, Tuan muda?"
Stefanus menarik napas panjang. "Hak waris Kakek. Apakah hak itu masih bisa saya gunakan sekarang?"
Di seberang sana, keheningan menyelimuti panggilan selama beberapa detik.
"Jadi, pada akhirnya Anda memutuskan untuk memakai hak istimewa tersebut?"
"Iya, Pak."
"Apakah alasan Anda memakai ini karena Tuan Sebastian?"
"Bukan."
"Lalu karena alasan apa?"
"Semata-mata karena istri saya."
Pak Hartono mengembuskan napas panjang dan pelan. "Kalau alasannya itu, maka saya sangat mengerti posisi Anda."
Stefanus menatap ke arah pelabuhan yang masih dipenuhi ribuan kontainer besi. Tatapan mata pria pendiam itu mendadak berubah sangat tegas dan tajam.
"Mendiang Kakek pernah memberi saya satu hak akses darurat terhadap seluruh jaringan logistik keluarga besar Mahendra."
"Itu benar sekali."
"Apakah hak akses itu masih berlaku detik ini?"
"Masih sangat berlaku, Tuan muda."
"Tolong bantu saya aktifkan hak itu sekarang juga."
Pak Hartono terdiam cukup lama meresapi instruksi berat tersebut.
"Kalau hak itu digunakan hari ini..."
"Saya tahu risiko dan aturannya, Pak Hartono."
"Artinya Anda akan menghabiskan sisa warisan terakhir dari almarhum Tuan Besar untuk selamanya."
Stefanus menutup kedua matanya sesaat. Warisan yang ia maksud bukanlah uang tunai miliaran rupiah. Warisan itu bukan pula porsi saham mayoritas.
Warisan itu adalah satu hak istimewa level tertinggi yang hanya bisa dipakai satu kali seumur hidup untuk mengambil alih penuh izin operasional logistik keluarga Mahendra pada keadaan darurat. Selama puluhan tahun, ia tidak pernah sudi menyentuhnya. Kini, ia rela kehilangan satu-satunya hak yang ia miliki itu tanpa keraguan.
"Semua itu tidak masalah, asalkan kontainer sutra milik istri saya itu bisa keluar dari pelabuhan hari ini juga."
Pak Hartono akhirnya menjawab dengan suara parau yang sangat lirih. "Baik, Tuan muda."
"Saya akan meretas dan menembus izin kepabeanan pelabuhan menggunakan otoritas milik kakek Anda."
Stefanus menggenggam bingkai ponselnya semakin erat hingga urat tangannya menonjol. Ia sangat sadar akan konsekuensi ini.
Begitu langkah besar ini diambil di depan mata publik, Sebastian pasti tahu dan menyadari bahwa adik tirinya itu akhirnya benar-benar memilih untuk berdiri tegak di medan perang di sisi Shaquena.