Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Umpan Berbahaya
Matahari baru saja mengintip di balik cakrawala ketika Naura terbangun. Suasana apartemen terasa hening, berbeda dengan kecemasan yang mendominasi malam sebelumnya. Ia bergegas keluar kamar, dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah Kaelith yang sudah terbangun, duduk di sofa dengan laptop di pangkuan. Pria itu tampak belum mandi, rambutnya berantakan, namun sorot matanya tajam saat menatap layar.
"Sudah bangun?" Kaelith menoleh, lalu menutup laptopnya dengan satu gerakan cepat. "Gue sudah buat pintu masuk ke server pusat perusahaan bokap. Semuanya sudah siap. Gue bakal ke kantor bokap dalam satu jam lagi buat memancing mereka agar fokus ke gue."
Naura menghampiri, hatinya mencelos melihat betapa seriusnya wajah Kaelith. "Lo beneran mau jadi umpan? Itu sangat berisiko, Kael. Mereka punya tim keamanan siber yang nggak main-main."
Kaelith berdiri, merapikan kaus hitamnya yang sedikit kusut. "Itu bagian dari rencananya. Mereka harus mikir gue lah orang yang mencoba masuk ke sistem, jadi tim keamanan mereka bakal memusatkan seluruh perhatian pada gue. Di saat yang sama, lo masuk lewat akses remote yang sudah gue tanam."
Ia memberikan sebuah flashdisk kecil kepada Naura. "Ini software enkripsinya. Begitu lo masuk, langsung ambil data di folder 'Proyek Nusantara 2026'. Itu data mentah aliran dana yang belum dicuci."
Naura menerima flashdisk itu dengan tangan gemetar. Ini adalah titik tanpa jalan kembali. "Dan lo? Lo bakal ke sana sendirian?"
"Gue bakal ditemenin sama Arven. Dia yang bakal jadi saksi kalau bokap gue curiga," jawab Kaelith. Ia mendekati Naura, lalu memegang kedua bahu gadis itu. "Denger, apa pun yang terjadi, setelah lo dapet datanya, jangan pernah nunggu gue. Segera bawa data itu ke redaksi atau hubungi orang yang bisa lo percaya. Jangan biarkan data itu jatuh ke tangan orang yang salah."
"Kael, gue nggak bisa ninggalin lo," suara Naura tercekat.
"Lo harus," tegas Kaelith. "Kalau lo ikut gue, rencana kita bakal berantakan. Ini misi kita, Naura. Misi lo adalah memastikan kebenaran ini sampai ke publik. Gue percaya sama lo."
Naura menatap mata Kaelith, mencari keraguan, namun ia tidak menemukannya. Ia tahu, ia harus melakukan perannya. "Oke," bisik Naura.
Setelah Kaelith pergi, apartemen itu terasa sangat kosong. Naura segera menyalakan laptopnya dan menunggu sinyal dari Kaelith. Sepuluh menit berlalu, kemudian muncul pesan singkat di layarnya: Start
Naura mulai menjalankan program tersebut. Jantungnya berdegup kencang seirama dengan deretan kode yang berjalan di layar. Ia bisa melihat folder-folder mulai terbuka satu per satu. Ia menavigasi ke 'Proyek Nusantara 2026'. Data-data mulai mengunduh, namun prosesnya terasa sangat lambat.
30%... 45%... 60%...
Tiba-tiba, layar laptopnya berkedip merah. ACCESS DENIED.
"Sial," umpat Naura. Ia mencoba lagi, namun sistem keamanan perusahaan itu tampaknya sudah menyadari adanya intrusi. Kaelith benar—mereka sedang melacak aksesnya. Namun, ia tidak menyerah. Ia menggunakan kunci enkripsi yang diberikan Kaelith.
ACCESS GRANTED.
Data itu mulai mengalir deras. Naura segera menyalin semuanya ke flashdisk cadangan. Namun, di saat bersamaan, pintu apartemennya diketuk dengan sangat keras.
BRAK! BRAK! BRAK!
"Permisi! Buka pintunya! Ini polisi!" suara pria dari luar terdengar membentak.
Naura terlonjak. Polisi? Apakah Kaelith gagal? Ataukah ini orang suruhan ayahnya yang menyamar? Ia segera mencabut flashdisk dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Ia tidak mungkin membuka pintu. Ia bergegas menuju jendela apartemen yang menghadap ke gang belakang, namun ia sadar, apartemennya berada di lantai tiga. Tidak ada jalan keluar yang aman.
BRAK! Kali ini pintu apartemennya jebol. Dua pria berbadan besar dengan pakaian preman memasuki ruangan.
"Cari datanya!" perintah salah satu pria itu.
Naura bersembunyi di balik lemari dapur, menahan napas sampai dadanya sesak. Ia melihat salah satu dari mereka mulai menggeledah meja belajarnya, di mana laptopnya masih terbuka dengan sisa-sisa koneksi yang terputus.
"Kosong! Laptopnya cuma sisa data sampah!" teriak pria itu.
"Cari ceweknya! Dia pasti bawa datanya!"
Naura tahu ia tidak punya banyak waktu. Ia meraih kursi kayu kecil di dekatnya dan melemparkannya ke arah kaca jendela yang tertutup gorden, menciptakan suara dentuman keras yang memancing perhatian mereka.
"Di sana!"
Saat kedua pria itu berbalik ke arah jendela, Naura berlari sekencang mungkin menuju pintu keluar yang tadi dijebol. Ia berhasil menerobos melewati mereka.
"Tangkap dia!"
Naura berlari menuruni tangga apartemen dengan kecepatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia tidak mempedulikan kakinya yang masih terasa nyeri. Ia hanya punya satu tujuan: sampai ke tempat yang ramai. Ia keluar ke jalan raya, di mana lalu lintas sangat padat.
Ia berlari menyusup di antara mobil-mobil yang terjebak macet. Ia menoleh ke belakang, melihat dua pria itu masih mengejarnya. Di tengah kepanikan, ia melihat sebuah bus kota yang akan berangkat. Tanpa pikir panjang, ia melompat masuk ke pintu bus yang belum tertutup rapat.
Ia terengah-engah, jatuh terduduk di kursi paling belakang. Bus itu mulai melaju, menjauh dari kejaran mereka. Naura menatap keluar jendela, jantungnya masih berdegup liar. Ia selamat, setidaknya untuk saat ini.
Ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Kaelith. Namun, tidak aktif.
"Kumohon, Kael... angkat," gumamnya.
Ia mencoba menghubungi Alyssa, namun ia takut temannya ikut dalam bahaya. Ia teringat Dimas. Meski Dimas bersikap keras padanya, Dimas adalah jurnalis senior yang memiliki pengaruh di redaksi. Ia tidak punya pilihan lain.
Ia mengetik pesan kepada Dimas: “Mas, gue butuh bantuan. Ada beberapa orang yang ngejar gue. Mereka tahu soal data yang sedang gue pegang. Gue nggak bisa balik ke kantor. Kita ketemu di kafe, nanti gue share lokasinya.”
Naura menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. Ia merasa sangat sendirian. Ia memegang flashdisk di saku celananya erat-erat. Data ini adalah segalanya. Jika ia tertangkap, semua pengorbanan Kaelith akan sia-sia.
Bus itu terus melaju, membawa Naura melewati jalanan kota yang asing baginya. Ia tidak tahu ke mana bus ini menuju, namun ia tahu satu hal: ia tidak akan menyerah.
Sementara itu, di sebuah ruang kantor yang mewah, Pramudita Atharrazka sedang duduk tenang di balik meja besarnya. Di depannya, Kaelith berdiri dengan tangan terborgol di atas meja.
"Kamu pikir kamu pintar, Kaelith?" tanya ayahnya dengan nada suara yang tenang namun mematikan. "Kamu pikir kamu bisa mengkhianati keluargamu sendiri demi seorang reporter kecil?"
Kaelith menatap ayahnya dengan tatapan yang sama tajamnya. "Keluarga bukan alasan untuk melakukan kejahatan, Yah. Dan reporter itu... dia punya sesuatu yang nggak akan pernah ayah miliki: kebenaran."
Pramudita tertawa dingin. "Kebenaran tidak akan berarti apa-apa kalau tidak ada yang bisa menyebarkannya. Dan reporter itu... dia tidak akan pernah sampai ke redaksinya. Kamu sudah melakukan kesalahan besar hari ini, Kaelith. Kesalahan yang akan menghancurkan hidupmu."
"Justru ayah yang sudah menghancurkan segalanya," balas Kaelith.
Kaelith tahu, ia memang sudah kalah di ruangan ini. Namun ia tetap tenang. Ia tahu rencananya berhasil. Data itu ada di tangan Naura, dan ia yakin Naura akan melakukan tugasnya. Sekarang, perhatiannya beralih sepenuhnya pada satu hal: memastikan Naura selamat.
Ia tidak menyesal sedikit pun. Bahkan dalam kondisi terborgol seperti ini, ia merasa lega. Ia telah memutus tali kekuasaan ayahnya, dan ia telah memberikan kesempatan bagi kebenaran untuk terungkap. Dan bagi Kaelith, jika harga yang harus ia bayar untuk kebenaran itu adalah kebebasannya, maka itu adalah harga yang sangat murah.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah," perintah Pramudita kepada anak buahnya. "Jangan sampai ada orang luar yang tahu dia ada di sini."
Kaelith diseret keluar dari ruangan. Ia tidak melawan. Ia hanya menatap langit-langit ruangan dengan pikiran yang tertuju pada satu orang: Naura. Ia hanya bisa berharap bahwa gadis itu sudah sampai di tempat yang aman.
Di dalam bus, Naura akhirnya sampai di halte dekat kafe yang dijanjikan. Ia turun, menatap sekeliling dengan waspada. Tidak ada yang mencurigakan. Ia melangkah cepat menuju kafe tersebut.
Begitu ia masuk, ia melihat Dimas sudah duduk di meja pojok, menunggunya. Wajah Dimas tampak serius, mungkin karena pesan darurat yang ia terima.
"Naura," Dimas berdiri saat melihatnya. "Ada apa? Apa yang terjadi?"
Naura mendekat, napasnya masih terengah-engah. Ia mengeluarkan flashdisk itu dan meletakkannya di tangan Dimas. "Data itu ada di sini. Mas... mereka sudah tahu. Mereka mengejar gue."
Dimas menatap flashdisk itu, lalu menatap Naura dengan tatapan yang sangat dalam. "Kamu yakin ini datanya?"
"Yakin, Mas. Ini bukti korupsi yayasan kampus. Kaelith... Kaelith ditangkap," suara Naura bergetar.
Dimas terdiam. Ia tampak berpikir sejenak. "Duduk dulu, Naura. Lo tenangin diri dulu. Gue bakal urus data ini. Kita akan terbitkan berita ini malam ini juga."
Naura duduk, merasa lega untuk pertama kalinya sejak pagi tadi. Ia merasa setidaknya sekarang ada seseorang yang bisa ia andalkan. Ia meminum air yang dipesankan Dimas, lalu menutup matanya sejenak.
Namun, saat ia membuka matanya, ia melihat Dimas mengeluarkan ponselnya dan membuat sebuah panggilan. Dimas berbicara dengan suara rendah, tapi Naura bisa mendengar sepenggal kalimat yang membuatnya membeku:
"Ya, dia ada di sini. Datanya sudah saya amankan. Kalian bisa ambil sekarang."
Naura menatap Dimas dengan tatapan tidak percaya. "Mas... apa maksudnya?"
Dimas mematikan ponselnya dan menatap Naura dengan senyum yang sangat asing. Senyum itu bukan senyum senior yang bijak, melainkan senyum seseorang yang baru saja menjalankan tugasnya dengan sempurna.
"Maaf, Naura," ucap Dimas tenang. "Tapi lo terlalu nekat. Dan sayangnya, posisi gue di redaksi jauh lebih berharga daripada idealisme yang lo pegang."
Naura mencoba berdiri, namun kepalanya terasa berat. Pandangannya mulai kabur. "Air minum itu..." Ia mencoba melawan pengaruh obat yang mulai menyerang sistem sarafnya, namun ia terlalu lemah.
Ia jatuh tersungkur ke lantai. Hal terakhir yang ia lihat sebelum kesadarannya hilang adalah Dimas yang berjalan meninggalkannya, membawa flashdisk itu pergi.
Di dalam kesunyian kafe yang mulai ditinggalkan pengunjung, Naura akhirnya menyerah. Kebenaran yang baru saja ia perjuangkan, kini terancam hilang selamanya. Dan yang lebih buruk, ia tidak lagi tahu apakah ia akan melihat Kaelith lagi setelah ini.