Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.
Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.
Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.
Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 25.
Pintu ruang sidang tertutup perlahan di belakang Velicia. Gaun putih yang dikenakannya bergoyang pelan seiring langkah anggun namun tegas menuju pintu keluar. Di sisi kanan dan kirinya, Antonio serta Lorenzo berjalan mengawal tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Begitu pintu utama gedung pengadilan terbuka, kilatan kamera langsung memenuhi halaman. Puluhan wartawan dari media legal dan bawah tanah sudah menunggu sejak pagi.
"Nona Romanov! Apa benar Anda resmi bercerai dengan Tuan Michael Kensington?"
"Benarkah perang mafia akan semakin besar?"
Velicia tidak berhenti melangkah, tatapannya tetap lurus ke depan.
Salah seorang wartawan nekat mendekat.
"Bagaimana perasaan Anda setelah resmi bercerai?"
Langkah Velicia akhirnya berhenti, semua orang menahan napas. Wanita itu menoleh perlahan ke arah wartawan tersebut.
"Wanita yang meninggalkan hubungan yang menyakitinya, tidak akan kehilangan apapun. Dia... hanya mengambil kembali harga dirinya."
Satu kalimat, namun cukup membuat seluruh halaman menjadi sunyi. Tak lama kemudian, Velicia kembali melangkah masuk ke mobil Romanov. Iring-iringan kendaraan hitam langsung meninggalkan area pengadilan.
Michael masih berdiri di ruang sidang yang kini telah kosong, tatapannya tertuju pada kursi yang tadi diduduki Velicia. Kosong, sama seperti perasaannya sekarang.
Aaron masuk perlahan. "Tuan..."
Michael tidak menjawab.
"Tuan, kita harus kembali."
Beberapa saat kemudian Michael mengembuskan napas panjang. "Aaron."
"Ya, Tuan."
"Aku resmi kehilangan istriku."
Aaron tidak tahu harus menjawab apa, karena itu memang kenyataannya. Bukan hanya kehilangan istri, Michael juga kehilangan satu-satunya wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Di saat yang sama.
Markas Moretti.
Dante Moretti duduk santai sambil membaca laporan, seorang anak buah masuk tergesa-gesa.
"Tuan."
Dante mengangkat kepala.
"Mereka resmi bercerai."
Sudut bibir Dante perlahan terangkat. "Lalu?"
"Tuan Michael sudah meninggalkan pengadilan."
Dante tersenyum semakin lebar. "Kalau begitu, sekarang waktunya memulai babak berikutnya."
Ia berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap pelabuhan. Puluhan kontainer sedang dipindahkan menggunakan derek raksasa, namun tidak ada satu pun yang berisi barang legal. Seluruhnya adalah senjata, obat-obatan dan amunisi perang.
"Kirim pesan kepada Bonanno, suruh Black Throne bergerak. Romanov harus sibuk. Sedangkan aku, akan mengambil seluruh wilayah Kensington."
Ya, pada akhirnya Dante dan organisasi Black Throne resmi menjalin aliansi.
Begitu mendengar perintah sang Bos, anak buahnya tampak terkejut. "Tuan, bukankah Kensington sekutu kita?“
"Sekutu katamu?" Dante tertawa kecil, mulutnya melengkung tipis. "Di dunia mafia, sekutu hanyalah musuh yang belum sempat dikhianati."
Sore itu, di Markas Kensington.
Michael baru saja kembali ketika Aaron berlari masuk.
"Tuan!"
"Ada apa?"
"Wisata Pelabuhan Timur diserang."
Michael langsung berdiri, wajahnya tampak murka. "Ulah siapa?"
"Orang-orang Moretti."
"Apa?" Michael membeku.
"Mereka membunuh dua puluh tujuh anak buah kita, dan gudang senjata juga dibakar."
Michael mengepalkan tangan. "Dante..."
Aaron menyerahkan sebuah tablet, di layarnya terlihat rekaman CCTV. Puluhan pria bersenjata menyerbu gudang. Di depan mereka, berdiri Dante Moretti sendiri. Pria itu sengaja melihat ke arah kamera sebelum tersenyum tipis. Lalu... Dante mengangkat pistol.
Dor!
Lensa kamera pecah, rekaman berakhir.
Michael menatap layar itu beberapa detik, kemudian tertawa pelan. Tawa yang sama sekali tidak mengandung kegembiraan.
"Jadi... aku benar-benar dimanfaatkan."
Aaron mengangguk pelan. "Tampaknya sejak awal memang begitu."
Michael memejamkan mata, Ia akhirnya memahami semua ucapan Velicia di ruang sidang. Sekali lagi, Ia memilih mempercayai orang yang salah.
...*****...
Malam harinya...
Romanov Estate.
Antonio memasuki ruang rapat dengan membawa laporan terbaru.
"Mereka mulai bergerak."
"Laporan dari mana?" Leon menerima map tersebut.
"Pelabuhan Timur."
Lorenzo membaca isinya sekilas. "Dante menyerang Kensington, dan dia sengaja meninggalkan banyak saksi."
Velicia yang duduk di ujung meja perlahan menutup dokumen yang sedang dibacanya.
"Dante sedang mengirim pesan."
"Kepada siapa?"
"Kepada Michael."
Antonio mengernyit. "Pesan apa?"
"Bahwa Michael... hanyalah bidak yang sudah selesai digunakan." Velicia menjawab tenang.
Leon kemudian menatap putrinya. "Menurutmu, apa yang akan dilakukan Michael sekarang?"
Velicia terdiam beberapa saat, seperti menganalisa. "Kalau dia benar-benar berubah, dia akan memutus hubungan dengan Moretti."
"Kalau tidak?"
"Berarti perceraian hari ini... memang keputusan terbaik."
Di tempat lain...
Sebuah ruangan gelap.
Joseph Bonanno berdiri di depan layar besar. Di sampingnya berdiri pria yang selama ini wajahnya tidak pernah terlihat jelas, pemimpin Black Throne.
Layar monitor menampilkan berita perceraian Michael dan Velicia.
"Akhirnya." Pria itu mematikan layar.
Joseph mengangguk, ia tersenyum dingin. "Sesuai rencana."
"Belum." Namun pria itu justru menggeleng. "Romanov belum jatuh, Kensington belum hancur. Lorenzo Sullivan masih hidup, dan Velicia Romanov... masih menjadi ancaman terbesar."
"Perlukah kita menghabisinya sekarang?" Joseph bertanya pelan.
Pria itu tersenyum dingin. "Tidak! Aku ingin melihat, berapa lama lagi mereka mampu bertahan."
Joseph mengangguk. "Lalu kapan kita mulai menyerang Romanov?"
"Bukan Romanov, biarkan Moretti dan Kensington saling melukai lebih dulu. Ketika mereka sama-sama lemah... Black Throne akan menghabisi semuanya sekaligus."
Keduanya tersenyum dingin.
Di atas meja, terbentang peta besar kota. Lima lambang ditancapkan di atasnya.
Romanov.
Kensington.
Moretti.
Sullivan.
Black Throne.
Perang besar akhirnya benar-benar dimulai, tidak ada lagi ruang untuk kompromi, dan tak ada lagi tempat yang aman. Karena mulai sekarang, setiap keputusan akan dibayar dengan darah.
apa g nyesek tuh Michael 🤣🤣🤣🤣🤣🤣