Sepasang kekasih yang terlihat baik-baik saja, pada akhirnya bisa berakhir juga. Ayra Grizelle mengakhiri hubungannya pada Bagas Cakra Wardana kekasihnya, di hari bahagia mereka yaitu saat wisuda. Keduanya tampak bahagia, tapi sayang seribu sayang Bagas mendengar ucapan Ayra bahwa wanita itu ingin mengakhiri hubungan mereka.
Bagas sangat terkejut dan tidak suka dengan keputusan Ayra secara sepihak yang menurutnya egois. Bahkan Bagas belum mengetahui penyebab Ayra memutuskan hubungan mereka.
Maka dari itu, Bagas bertekad untuk membuat Ayra kembali padanya sekaligus ingin mengetahui penyebab Ayra meninggalkan dirinya. Semua usaha Bagas untuk mendapatkan Ayra menjadi miliknya kembali haruslah dia tempuh dengan caranya sendiri. Setiap perjuangan bahkan ujian akan dia hadapi walau itu membuat dirinya kecewa. Tapi kalau jodoh pasti tak akan kemana. Bagas yakin jika Ayra memang jodohnya maka dia pasti akan bersatu dan kembali bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh Pelukan
Ayra tak hentinya mengejar Bagas yang berlari saat Ayra memukul bahunya memakai alat penggorengan. Ya walaupun tidak terlalu sakit, namanya juga lelaki. Tapi Bagas pura-pura saja mengatakan sakit agar Ayra berhenti memukulnya berkali-kali. Jika sekali memukul sih tak masalah, ya tapi kalau memukulnya berkali-kali akan sakit juga.
"Ay, aku sudah meminta maaf. Kenapa kamu masih ingin memukul ku? Tolong hentikan Ayra," kata Bagas sambil berteriak pada Ayra.
"Aku tidak peduli, kau yang mulai duluan mencari masalah padaku. Kau juga berjanji tidak akan membuat ulah lagi padaku. Tapi nyatanya kau bohong. Sejak kapan kau menjadi lelaki pembuat onar seperti ini?" ujar Ayra memaki Bagas sambil mengangkat alat penggorengan yang akan dia layangkan pada Bagas.
Sepertinya Ayra ingin balas dendam tapi balas dendam yang tidak begitu buruk pada seseorang. Ayra hanya ingin memberi pelajaran sedikit pada Bagas kalau-kalau lelaki itu kapok dengan ulahnya yang berkali-kali selalu membuat Ayra kesal dan kecewa.
Namun dibalik ulahnya Bagas, tersimpan sesuatu yang idenya untuk memanfaatkan situasi seperti ini. Yakni, saat Ayra tak henti memaki-maki Bagas, saat itu juga Bagas beraksi. Bagas yang memiliki tubuh tinggi akhirnya bisa menggapai alat penggorengan yang dibawa oleh Ayra. Alhasil, alat penggorengan ditangan Ayra pun beralih ke tangan Bagas.
Sontak Ayra berusaha mengambil alat penggorengan itu dari tangan Bagas. Begitu sulit bagi Ayra menggapainya, namun Ayra tak mau kalah, dia tetap berusaha untuk mengambil alih alat penggorengan itu dari tangan Bagas. Sedangkan Bagas yang melihat Ayra seperti itu menjadi geli dan ingin rasanya tertawa terbahak-bahak, namun dia takut Ayra akan merajuk lagi padanya.
BRUKKKK
Tiba-tiba saja kaki Ayra terpeleset akibat dia kelelahan mengambil alat penggorengan itu di tangan Bagas. Bukannya berhasil merebut kembali miliknya tapi malah tubuh Ayra jatuh ke pelukan Bagas. Karena saat Ayra kepeleset sontak tubuh Ayra mendorong tubuh Bagas yang ternyata tak seimbang. Alhasil tubuh Ayra berada diatas tubuh Bagas.
Mereka saling memandang satu sama lain. Alat penggorengan pun entah terpental kemana. Yang ada hanyalah Bagas dan Ayra saling tatapan dengan penuh intens. Cukup lama mereka saling menatap. Namun Bagas seakan ingin melahap bibir mungil Ayra. Bagas perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Ayra, namun saat Ayra telah sadar dengan pandangan matanya di depannya, saat itu juga Ayra hendak bangkit dari tubuh Bagas.
Namun Bagas yang cepat bereaksi, lelaki itu langsung memeluk pinggang Ayra cukup kuat agar wanita itu tidak lepas dari tubuhnya. Sedangkan Ayra mencoba untuk berontak tapi begitu sulit karena tangan Bagas begitu kuat memeluk dirinya.
"Lepaskan Bagas, jangan mengambil kesempatan seperti ini padaku. Kau sengaja melakukan ini padaku, kan? Dasar otak kotor," umpat Ayra yang berusaha melepaskan tubuhnya dari Bagas.
"Sstttt, jangan bergerak, Ay. Akan aku lepaskan jika kau tidak berontak. Aku janji kali ini," ujar Bagas dengan sangat lembut.
Ayra pun menuruti ucapan Bagas karena janjinya akan melepaskan dia dari tubuh Bagas. Namun Ayra memasang wajah datar seperti kesal pada Bagas. Namun Bagas tak peduli itu. Bukannya egois, tapi lebih memilih ingin berlama-lama dengan suasana yang bisa mendamaikan hatinya, yaitu Ayra.
"Aku sama sekali tidak mempunyai otak kotor. Aku ini lelaki sejati, percayalah padaku," ucap Bagas menatap mata indah Ayra. Namun Ayra hanya diam tak bergeming.
Namun saat Bagas mengatakan hal itu, tiba-tiba saja jantung Ayra mengeluarkan suara detak, dag dig dug. Bagas pun merasakannya. Bagas tersenyum menatap wajah Ayra. Bagas suka sekali momen ini. Lalu Bagas pun bertambah memeluk Ayra dengan kuat agar jantungnya sama-sama dirasakan oleh Bagas.
"Bagas sakit," rintih Ayra mengadu.
"Sebentar saja Ayra, aku tak akan melukaimu, aku sangat suka mendengar irama detak jantungmu. Biarkan aku merasakannya juga ya? Sebentar saja," ucap Bagas dengan lembut.
Setelah itu, Bagas merenggangkan pelukannya pada Ayra, lalu mengangkat tangan kanannya ke kepala Ayra untuk menyandarkan kepala Ayra di dada Bagas. Kemudian Bagas mengelus kepala Ayra dengan rambut Ayra yang begitu wangi aroma mawar. Itu membuat Bagas seperti terhipnotis dan membuat Bagas tenang mencium aroma itu.
Ayra menurut saja. Karena jika Ayra berontak bisa saja Bagas akan memeluk kuat dirinya lagi. Tapi siapa sangka, pelukan Bagas begitu hangat dan menenangkan juga bagi Ayra. Sudah bertahun-tahun lamanya mereka berdua merindukan momen ini. Namun mengapa harus kembali lagi saat mereka telah menjadi teman?
"Aku merindukanmu, Ayra. Aku harap kau juga merindukan aku. Aku sangat merindukan momen ini dan kebahagiaan kita bersama," ucap Bagas dengan kata-kata yang tersusun rapi.
"Tolong maafkan aku jika perlakuan ku dulu membuat kamu terluka. Sungguh aku tidak pernah ingin membohongi kamu saat itu, tapi...," ucap Bagas lagi tapi kali ini ucapannya dipotong oleh Ayra.
"Sudah tidak usah dibahas lagi. Itu masa lalu, aku tidak ingin mengingat nya lagi. Sekarang adalah masa dimana kita sudah bisa melewati masa yang sulit," ujar Ayra.
Perlahan Ayra bangkit dari tubuh Bagas. Sedangkan Bagas membiarkan Ayra bebas dari pelukannya. Diakui oleh Bagas bahwa kelamaan dengan posisi dia berada dibawah Ayra membuat tubuhnya sedikit sakit apalagi tubuhnya berada di lantai. Bagas pun sama-sama bangkit duduk mensejajarkan Ayra.
"Maaf membuat tubuhmu sakit. Mana yang sakit? Sini aku sembuhkan," tawar Bagas sambil meraih kedua tangan Ayra.
"Udah nggak usah lebay deh. Aku nggak apa-apa kok, nggak ada yang sakit," ujar Ayra sambil menarik kembali tangannya dari Bagas.
"Yahhh, sakit juga nggak apa-apa kok. Nanti aku pijitin Ay, gimana?" tawar Bagas yang ngeyel.
"Apaan sih. Mata kamu itu yang sakit," ujar Ayra menyindir.
"Hehe, ya mata aku sekali-kali juga liat yang bening kayak kamu nggak apa-apa kali, Ay!" tawa Bagas dengan candaan.
"Dasar otak kotor!' umpat Ayra.
"Nggak ada aku kayak gitu, Ay!" sangkal Bagas tak terima.
"Ya udah sekarang kamu ngapain kesini? Pulang sana, aku mau istirahat hari ini," ujar Ayra yang merasa lelah kedatangan Bagas.
"Ya aku mau istirahat juga kok, tapi istirahat nya sama kamu, hehe...aku temenin ya!" ucap Bagas yang tak hentinya mengganggu Ayra.
"Bagas, aku itu mau istirahat. Jadi artinya aku nggak mau diganggu sama siapa pun, mengerti?" sindir Ayra yang cukup lelah terhadap Bagas.
Terlihat Ayra begitu kesal, Bagas pun akhirnya sangat paham bahwa Ayra butuh waktu sendiri untuk istirahatnya di hari libur.
"Baiklah, aku akan pulang. Tapi kita makan dulu ya. Aku sudah memesan makanan tadi. Setelah itu aku pulang, ok!" pinta Bagas pada Ayra dengan suara yang pelan tapi santai.
"Ya, tapi janji setelah itu kamu pulang!" ujar Ayra mengulang janji Bagas.
"Janji lelaki sejati," ucap Bagas sambil tersenyum.
Ayra yang melihat dan mendengar itu dari Bagas tiba-tiba saja menertibkan senyuman simpul, dia pun langsung bangkit dan beralih duduk di sofa dengan tenang sambil menunggu makanan yang dipesan Bagas.
Bersambung....