Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Pelarian
...----------------...
Malam itu, rumah keluarga Albian yang biasanya tenang berubah menjadi medan pertempuran batin yang tak berujung. Setelah insiden di meja makan dan aku selesai mengantar pulang Astrid, aku langsung bergegas kembali ke rumah anak anak Albian. Langkahku berat, setiap inci dari lantai marmer ini seolah mengingatkanku bahwa aku bukan lagi pemilik hak penuh di sini.
Aku mulai membuka lemari, menyeret koper besar, dan mengemasi semua barang pribadiku. Pakaian, laptop, koleksi game, hingga barang-barang kenangan masa kecil, semuanya kujejalkan ke dalam koper dengan kasar. Hati dan tanganku gemetar hebat. Saat aku hendak menyambar kunci mobil sport yang selalu tergantung di dekat pintu, seorang pelayan pria senior, Pak Darma, melangkah masuk ke kamarku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Maaf, Tuan Arka," ucapnya datar sembari mengambil kunci mobil dari genggamanku. "Tuan Besar memberikan instruksi tegas. Anda tidak diizinkan membawa barang apa pun yang berstatus sebagai pemberian dari beliau, termasuk mobil ini. Semua saldo di rekening Anda pun telah dibekukan sejak menit ini."
Aku terbelalak. "Apa? Ayah gila! Itu mobil gue! Itu uang hasil jerih payah gue yang gue tabung di rekening!"
"Itu perintah Tuan Besar, Tuan," jawabnya dingin, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi.
"AAAAARRRRGGGHHH! AYAH SIALAN! APA-APAAN INI?!" teriakku frustrasi, menendang koperku hingga menabrak dinding. Rasanya dunia seolah baru saja mencabut seluruh oksigenku. Aku sendirian, tanpa uang, tanpa mobil, dan tanpa sandaran.
Namun, di tengah keputusasaan itu, suara klakson mobil bergema di halaman. Aku menoleh ke luar jendela. Kak Hendra sudah berdiri di sana, di balik kemudi mobil pribadinya, melambaikan tangan padaku. "Woy! Buruan turun! Ayo gue anterin!"
Melihat Kak Hendra di sana seperti melihat cahaya di ujung lorong yang gelap. Aku menyeret koper dan barang-barangku keluar dengan sisa tenaga yang ada. Begitu pintu mobil tertutup, aku langsung ambruk di kursi penumpang, napasku memburu.
"Ayah sialan, kenapa gue harus punya ayah kayak dia? Teganya dia ngusir gue kayak gini, bahkan dia bikin gue jadi gelandangan dalam semalam!" umpatku penuh kebencian. "Awas aja, Kak. Kalau nanti dia sekarat, jangan harap gue bakal datang menengok!"
Kak Hendra menyetir dengan tenang, tatapannya fokus ke jalanan malam Jakarta yang basah. "Tenang, Ka. Gue paham banget emosi lu meledak sekarang. Tapi dengerin gue, lu harus tetep kepala dingin. Fokus utama lu sekarang itu jagain Astrid. Dia udah nggak punya siapa-siapa lagi selain lu. Kalau lu masih berfikiran kayak bocah, Astrid sama calon bayi lu mau makan apa?"
Kalimat itu menamparku jauh lebih keras daripada bentakan Ayah tadi. Aku menoleh ke arah Kak Hendra, menyadari betapa benarnya perkataan kakakku ini. Astrid adalah tanggung jawabku sekarang.
"Btw, Kak... kok lu bisa pulang duluan? Terus yang lain gimana?" tanyaku penasaran.
"Kak Andra sama Kak Zalya masih di sana, berusaha nenangin Ayah yang lagi kayak singa kelaparan. Ellisya? Dia terpaksa nginep di rumah Ayah karena udah Malam juga. Sementara Ibu... dia masih syok, dia cuma bisa nangis di kamarnya."
Mendengar kondisi Ibu, hatiku hancur sehancur hancurnya. Aku merasa menjadi pria yang paling tidak berguna di dunia. "Gue jahat banget ya, Kak? Gue udah ngehancurin masa depan astrid, gue dah ngancurin ekspetasi Ibu, Kak Andra, Kak Zalya, bahkan lu sendiri pasti kecewa sama gue kak kak." ucap ku sambil menangis sambil menutup wajah ku menggunakan tangan ku.
"Semua orang punya porsinya masing-masing Arka. Tuhan tau mana yang terbaik bagi lu, Sekarang tinggal gimana cara lu buat ngejalanin Kehidupan yang di percayain Tuhan buat lu" sahut Kak Hendra dengan bijak.
Mendengar ucapan dari kak Hendra aku hanya bisa menangis, sepanjang perjalanan begitu dingin bagiku, tubuh ku kedinginan karena AC mobil ini tetapi hati ku lebih dingin karna tak tau harus bagaimana kedepannya
...****************...
Tak lama kemudian, kami sampai di depan rumah Iksan, sahabatku. Kak Hendra menepi. Sebelum aku turun, ia membuka dompetnya dan menyodorkan uang tunai dua juta rupiah. "Ini buat pegangan lu jajanin Astrid atau buat kebutuhan darurat. Gue gak bisa kasih lebih, Ayah udah ngelarang keras kita semua buat bantu lu. Jangan kasih tau siapa-siapa kalau gue ngasih ini."
Aku menerima uang itu dengan tangan gemetar. "Makasih, Kak. Gue gak bakal lupa bantuan lu."
"Jaga diri lu baik-baik, adik bodoh," ucapnya singkat sebelum tancap gas meninggalkan rumah Iksan.
Aku mengetuk pintu rumah Iksan berulang kali sampai akhirnya dia membuka pintu dengan wajah yang sangat terkejut. "Loh? Arka? Lu ngapain jam segini ke sini bawa koper gede banget? Lu mau pindahan?"
"Gue mau numpang nginep sebentar, mungkin tiga hari. Gue lagi berantem besar sama bokap, diusir. Nanti gue ceritain detailnya," balasku sambil nyelonong masuk ke ruang tamu.
Iksan menutup pintu, menatapku heran. "Hih, mentang-mentang gue tinggal sendiri, seenaknya aja lu main nyelonong! Tapi yaudah lah, mumpung ada lu, ayo main PS, biar stres lu ilang."
"Next time aja deh, San. Gue bener-bener lagi pusing, mau istirahat," tolakku. Aku terduduk di sofa Iksan, menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
Iksan duduk di sampingku, suaranya berubah serius. "Ka, gue tau lu itu emang sering berantem sama bokap lu, tapi kayaknya yang kali ini yang paling parah ya ??"
Aku hanya mengangguk lemas. "Iya. Ayah bener-bener gak bisa nerima masalah gue yang satu ini dan Akhirnya ya... kayak yang lu liat, gue jadi gembel."
"Gila lu, Ka. Tapi apa rencana lu selanjutnya ? Terus abis ini lu mau tinggal di mana?, gak mungkin kan lu bakal hidup sama gue selamanya"
"Gue ada rumah di Bandung, warisan terakhir dari hak gue. Gue rencananya mau ke sana, tapi sebelum gue kesana gue mau nyari kerja dulu di sini buat ongkos ke sana, lagian emang gue gak boleh nginep di sini lebih lama ?" jelasku.
"Santai, Ka. Anggap aja rumah sendiri. Asal jangan lupa, besok-besok kalo udah sukses, jangan lupain temen lu yang satu ini," canda Iksan mencoba mencairkan suasana.
Aku tersenyum tipis. "Makasih, San. Lu beneran temen gue."
Di sisi lain kota, Astrid duduk termenung di tepi ranjang kamarnya. Pikirannya tidak bisa tenang. Wajah penuh kebencian dari Ayahku terus terbayang. Dia meremas ujung selimutnya, merasa bersalah setengah mati. "Apa gue penyebab semuanya? Apa gue emang harusnya nggak pernah hadir di hidup Arka?"
Ponselnya bergetar. Sebuah chat dariku masuk.
Arka: "Maaf buat malam ini yaa. Gue nginep di rumah Iksan malam ini. Jangan terlalu dipikirin, kita bisa lewatin ini semua kok."
Astrid membalas dengan cepat, meski air matanya menetes.
Astrid: "Gue cuma kaget aja sama kondisi tadi, Ka. Hati gue sakit liat kita diperlakukan kayak gitu sama orang tua lu sendiri. Tapi ya, gue yakin kita bisa lewatin ini semua."
Arka: "Oke, selamat malam. Istirahat yang cukup ya buat bayi kita."
Astrid: "Oh ya, jangan lupa siapin berkas-berkas buat nanti ke KUA. Kita harus benerin semuanya."
Arka: "Iya, tenang aja. Nanti paling cepet 3 hari gue ke rumah lu, paling lama ya seminggu mungkin. pengen cepet cepet nikah yaa? hehehe."
Astrid: "Hmm, berisik ah, Ini tuh bagian tanggung jawab lu oke. Gue tunggu, jangan nakal."
Malam itu terasa sangat dingin. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Aku tidak tahu apakah Ayah akan mencari masalah lagi, atau apakah aku akan benar-benar bisa menafkahi Astrid. Namun, satu hal yang kuputuskan sebelum memejamkan mata: mulai besok, aku bukan lagi Arka yang manja. Aku adalah pria yang akan berjuang demi wanita dan anak yang sedang ku perjuangkan. Aku akan menjadi pria yang lebih baik, apa pun harganya. Sementara itu, di seberang sana, Astrid pun berusaha memejamkan mata, meski di dalam hatinya, rasa bersalah itu masih terus berbisik, menyalahkan dirinya sendiri atas badai yang baru saja menghancurkan keluarga Albian.
...****************...
Di sisi lain Iksan diam diam menelpon Liona di kamarnya, dan mejelaskan kondisi ku saat ini yang sedang menginap di rumah Iksan.
"Heyy, lama banget angkat telpon aja, gue afa berita menarik nih" ucap Iksan yang sedang menelpon Liona.
"Gue abis ngerjain tugas kuliah, cepet kasih tau gue ada berita apa ?" ucap liona yang penasaran.
"Saat ini arka lagi ada di rumah gue, dia lagi berantem sama bokap nya, Arka itu emang udah sering banget berantem sama bokap nya tapi ini yang pertama kali dia sampe di usir dari rumah, menurut gye pasti ada hal besar yang terjadi yang mungkin aja ini berhubungan sama dia yang mutusin lu" ucap Iksan yang menjelaskan.
"Oke bagus san, informasi bagus, selidikin terus gue percaya sama lu" ucap liona yamg mempercayakan kepada iksan.
...----------------...