Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.
Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 WARISAN
Sungguh ku lihat dengan jelas dua tulisan itu...
"Se-Sekar Mayang...??? Da-Dayang Putri...???"
Langsung terasa bagaikan di hantam palu besar dadaku!!!
Sesak napasku!!!
Merasa marah diriku!!!
Merasa tak percaya dengan semua yang ku lihat!!!
Seketika itu juga, dengan lemas ke dua kaki ini, aku mencoba bangkit...
Dengan tertatih langkahku, mendekati dua jasad itu...
Jasad Sekar Mayang dan Dayang Putri...
.....
.....
.....
Langsung jatuh bersimpuh diriku di sisi dua jasad mereka...
Dan...
"HHUUAAAAAAAA!!! TIDAAAAAKKK!!! HUAAAAAA... HAAAA... HAAAA..."
Pecah seketika tangisku...
Sambil kepalaku berbaring di atas tubuh mereka bergantian...
"DAYANG PUTRIII... SEKAR MAYAAANG... HUAAA HAAA HAAA... AAAAAAAAA!!!"
Sangat amat terasa pedih dan perih hatiku, melihat semua kejadian mengerikan dan menyayat barusan...
"SEKAR MAYAAANG... HUAAA HAAA... DAYANG PUTRIII... HAAA HAAA... MAAFKAN AKUUU..."
Seketika bercampur rasa penyesalan yang amat sangat menusuk batinku...
Aku melihat dengan jelas, saat mereka masih hidup di dalam kamar itu...
Aku melihat dengan jelas mereka diperkosa dengan sangat keji dan biadab...
Sampai di detik akhir nyawa mereka berdua, aku melihat semuanya dengan jelas...
TAPI AKU TAK BISA MELAKUKAN APAPUN!!!
.....
.....
.....
"Hiks hiks hiks... Hiks hiks..."
Masih terpejam mataku, menangis pilu di atas jasad mereka berdua...
Namun, tiba-tiba...
Tubuh mereka memudar perlahan...
Aku bangun, masih bersimpuh, melihat jasad mereka memudar bagaikan debu yang tertiup angin perlahan...
Dan semua area di sekitarku berubah kembali...
Akan tetapi...
Seluruhnya menjadi gelap, sangat gelap...
.....
.....
.....
Kemudian...
Aku melihat beberapa kejadian...
Kejadian yang berganti-ganti dengan cepat...
Bagaikan penggalan episode-episode kehidupan selanjutnya...
.....
.....
.....
Kejadian pertama,
Ku lihat Sekar Mayang yang hidup kembali dengan perubahan wujud menjadi sosok perewangan...
Ia melayani seseorang, menuruti seluruh perintahnya...
Mulai dari membunuh orang lain, mencelakakan orang lain, membalaskan dendan pada orang lain, berdasarkan perintah seseorang itu...
Sekar Mayang dipenuhi oleh energi yang gelap, penuh dendam, penuh amarah...
Tanpa ada kenal rasa ampun atau belas kasihan...
.....
.....
.....
Kejadian kedua,
Ku lihat Dayang Putri yang sama hidup kembali dengan perubahan wujud menjadi sosok perewangan juga...
Ia pun melayani seseorang, menuruti seluruh perintahnya juga...
Mulai dari menjaga keluarga orang itu, membantu orang itu, memperingatkan orang itu terhadap hal yang akan terjadi...
Dayang Putri dipenuhi oleh energi yang cerah, penuh kasih sayang, penuh perhatian...
.....
.....
.....
Kejadian ketiga,
Aku melihat mereka berdua yang tak menjadi perewangan siapapun...
Seolah mereka bagaikan dua buah pedang tajam yang kini berkarat...
Tanpa ada yang merawat mereka berdua...
.....
.....
.....
Kejadian keempat,
Tubuhku melayang terbang, melintasi area hutan lebat yang begitu luas, di daerah sebuah pegunungan...
Aku melihat seorang lelaki tua yang sedang bertapa di pinggir sebuah sendang (mata air) di bawah sana...
Seketika itu juga tubuhku turun dan berpijak di atas tanah...
Kakek tua itu membelakangiku. Dan aku hanya diam memperhatikannya dari kejauhan. Keluar cahaya kuning keemasan dari tubuhnya, seperti membentuk sebuah pagar ghoib. Namun terasa seperti mengundang sesuatu untuk datang padanya.
Dan tak lama kemudian...
Sekar Mayang dan Dayang Putri hadir. Seolah mereka berdua sangat amat menyukai aura kakek tua itu.
Beberapa lama kakek tua itu seperti mengobrol dengan Sekar Mayang dan Dayang Putri. Tampak mereka bertiga bisa dengan cepat menjadi akrab dan dekat.
Ketika aku sedang fokus memperhatikan mereka, tiba-tiba...
.....
.....
.....
Kejadian kelima,
Masih di tempat yang sama, di sebuah sendang (mata air) itu...
Sekar Mayang dan Dayang Putri berdiri di samping kakek tua itu. Aku mencoba memfokuskan pandanganku, mencoba mencari tahu siapakah kakek tua itu. Tapi tak bisa ku lihat jelas wajahnya.
Lalu, kakek tua itu memanggil seseorang untuk mendekat...
"Reniyo Nduk... Wis wektune... (Kesini anakku... Sudah waktunya...)" ucap si kakek tua itu.
Lantas, terdengar suara gemerisik langkah seseorang di antara semak-semak. Berjalan mendekat.
Aku lihat perawakannya adalah seorang wanita muda belia...
Ia duduk di atas sebuah batu pipih yang lumayan lebar, tepat di hadapan si kakek tua itu...
"Sekar Mayang karo Dayang Putri ta wariske yo Nduk... (Sekar Mayang dan Dayang Putri aku wariskan kepadamu ya anakku...)" kata si kakek tua itu.
Dan dijawablah oleh wanita muda belia tersebut...
"Nggeh Pak... Ta terimo... (Iya Pak... Aku terima...)"
Aku penasaran dengan sosok wanita muda belia itu...
Siapa dia?
Kenapa diriku merasa seperti kenal dengannya?
Aku terus memperhatikan kakek tua dan wanita muda tersebut. Dan tampak Sekar Mayang serta Dayang Putri menyatukan energinya ke tubuh wanita muda itu.
Dan...
Alangkah terkejutnya diriku...
Saat dengan jelas wanita itu menoleh ke arahku...
Ternyata...
Dia...
....
....
....
"HAH?! DIA... ALMARHUMAH IBUKU...?"