NovelToon NovelToon
Kultivator Elemen Abadi

Kultivator Elemen Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Blizzardauthor

Di Benua Langit Biru, hukum kultivasi berlaku mutlak: fokus pada satu elemen murni adalah satu-satunya jalan pintas menuju keabadian. Mereka yang lahir dengan banyak elemen justru dianggap memiliki meridian cacat—sebuah wadah bocor yang hanya akan memperlambat kultivasi dan berakhir sebagai sampah masyarakat.

Namun, takdir justru menertawakan Ling Yun. Ia lahir dengan kutukan terjahat: memeluk empat elemen utama bumi sekaligus—Tanah, Air, Api, dan Udara—di dalam satu tubuh. Dicaci, dikhianati, dan dibuang oleh dunianya, ia menolak untuk berlutut pasrah pada nasib. Dengan tekad seteguh karang, ia merayap dari titik terendah demi membalikkan takdir langit.
Menggenggam bara api, membelah samudra, menggoncang bumi, dan memotong badai, Ling Yun menantang dunia:

"Siapa bilang empat elemen adalah sampah? Dengan empat elemen ini, aku akan menghancurkan para dewa yang angkuh, membakar kesombongan langit, dan menulis ulang hukum alam semesta!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blizzardauthor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju Lembah Tulang Putih

Tetua Liu dan Tetua Song mengepalkan tangan mereka dengan erat. Mereka tahu, secara birokrasi, Tetua Mo yang licik ini telah mengunci posisi mereka menggunakan celah hukum sekte yang sangat absolut. Dengan perasaan dongkol dan amarah yang tertahan, kedua tetua itu akhirnya berbalik dan melesat pergi menuju bukit Divisi Alkimia untuk menemui Ling Yun.

Di Paviliun Puncak Alkimia, Ling Yun yang sadar akan kehadiran kedua tetua itu langsung menonaktifkan formasi nya. Kabut putih tebal perlahan membelah saat Tetua Liu dan Tetua Song mendarat di halaman. Dirinya yang sedang duduk santai di teras sambil menikmati teh hangat langsung berdiri, memberikan penghormatan formal yang sewajarnya, diikuti oleh Lu Han yang tampak agak tegang melihat kedatangan dua tokoh besar tersebut.

"Tetua Liu, Tetua Song. Kedatangan kalian yang terburu-buru pagi ini... apakah ada sesuatu yang buruk telah terjadi ?" tanya Ling Yun dengan nada suara yang teramat tenang, seolah-olah dia sudah bisa menebak apa yang terjadi.

Tetua Liu menghela napas berat, wajahnya dipenuhi guratan rasa bersalah. Dia mengeluarkan sebuah gulungan kertas pengumuman berseragam hitam dengan segel merah menyala dari balik jubahnya dan meletakkannya di atas meja batu.

"Maafkan kami, Ling Yun," ucap Tetua Liu dengan suara parau. "Tetua Mo dari Aula Pengawas menggunakan celah hukum sekte. Dia memanipulasi daftar Misi Wajib Bulanan dan memasukkan namamu serta Lu Han untuk pergi ke Lembah Tulang Putih lusa nanti. Kami sudah mencoba melabraknya ke Aula Pengawas, namun secara legalitas, posisinya tidak bisa diganggu gugat bahkan oleh kami berdua."

Tetua Song menggebrak udara dengan kesal. "Bocah Ling Yun! Si tua bangkai itu sengaja mengirimmu ke sana agar dia bisa menyewa pembunuh atau murid senior untuk menghabisimu di luar sekte tanpa ketahuan! Lembah Tulang Putih itu sangat berbahaya, penuh dengan monster bertulang keras dan medan yang buruk!"

Lu Han yang mendengar penjelasan itu langsung memucat. ‘Lembah Tulang Putih?! Itu adalah tempat mati bagi murid sekte luar seperti kami! Tetua Mo benar-benar ingin membunuh kami secara legal!’ batin Lu Han dengan tubuh yang mulai gemetar, ketakutan masa lalunya sebagai pelayan fana yang tertindas sempat terpicu kembali.

"Yun... bagaimana ini? Kita tidak bisa menolak misi wajib sekte, tapi kalau kita pergi, itu sama saja dengan berjalan masuk ke dalam jebakan maut mereka," bisik Lu Han dengan suara cemas, menatap Ling Yun dengan penuh harap.

Berbeda dengan reaksi semua orang di tempat itu, Ling Yun justru menatap kertas perintah di atas meja dengan ekspresi wajah serius, lebih tepatnya pura-pura serius mengingat ada Tetua Liu dan Song saat ini. Dia mengulurkan tangannya, mengambil kertas itu dan mulai membacanya.

‘Lembah Tulang Putih...? Tempat yang terisolasi, jauh dari pengawasan sekte, dan kaya akan energi kematian tingkat tinggi,’ batin Ling Yun seketika langsung teringat dengan salah satu obat yang tengah ia cari sesuai dengan spesifikasi tempat itu. ‘Kebetulan sekali. Aku memang sedang mencari tanaman obat tulang hitam guna menyempurnakan ramuan pembersih tulanku tanpa perlu memicu kecurigaan orang-benar di sini. Tetua Mo ini, apakah sebenarnya ia sangat menyayangi ku sampai membantu ku seperti ini... dia malah membukakan jalan yang sangat legal bagiku.’

Ia luar biasa gembira di dalam hatinya mengingat obat yang ia tengah cari adalah salah satu bahan untuk membantunya menembus ranah Pembentukan inti dengan sempurna. Oleh karena itu, ia tidak bisa meminta obat ini dari Divisi Alkimianya karena secara tidak langsung ia akan membongkar tentang ia yang menyembunyikan ranah kultivasinya.

"Benar," Ling Yun mengangguk pelan sampai dirinya tersenyum tanpa sadar membuat Tetua Liu dan Tetua Song tentunya heran.

"Bocah, apa kau sudah gila? Kenapa kau malah tersenyum di situasi hidup dan mati seperti ini?" Ucap Tetua Song yang tidak habis pikir ketika melihat ekspresi Ling Yun yang terlihat senang.

Ling Yun kembali meletakkan gulungan misi tersebut dan kembali berkata, "Tetua Mo mengira dia bisa mengendalikan takdirku dengan selembar kertas ini. Dia ingin memancingku keluar ke tempat terbuka agar bisa mengirim anjing-anjingnya untuk menghabisi ku. Namun, tidak perlu khawatir... Semua itu bukan masalah bagiku."

Mendengar ucapan Ling Yun yang begitu berani dan diucapkan dengan nada yang sangat santai, Tetua Liu dan Tetua Song tertegun sejenak. Ada rasa takjub yang mendalam di hati mereka melihat tingkat ketenangan pemuda ini. Dia sama sekali tidak memiliki kepanikan seorang murid baru, melainkan keteguhan seorang master yang telah mengalkulasi setiap risiko dengan kepala dingin.

"Baiklah, karena kau sudah memiliki kepercayaan diri seperti itu..." Tetua Song mengembuskan napas panjang, lalu merogoh kantong penyimpanannya. Beliau mengeluarkan sebuah jubah batin berwarna perak redup serta sebuah kapak tangan kecil berunsur tanah. "Ini adalah Jubah Pelindung Sutra Perak tingkat rendah dan Senjata Spiritual Kapak Pembelah Bumi buatan divisi ku. Berikan kapak ini pada Lu Han, itu cocok dengan elemen tanahnya. Gunakan ini untuk menjaga diri kalian di sana."

"Terima kasih atas kebaikan Anda, Tetua Song, Tetua Liu," ucap Ling Yun tulus, menerima pemberian tersebut.

Setelah memberikan beberapa petunjuk tambahan mengenai peta medan Lembah Tulang Putih, kedua tetua itu akhirnya pergi meninggalkan paviliun dengan perasaan yang sedikit lebih lega, meski kewaspadaan mereka terhadap pergerakan Aula Pengawas tetap tinggi.

Namun, tepat sesaat sebelum kedua tetua itu sempat melangkah keluar dari batas teras, suara Ling Yun kembali terdengar, memecah keheningan pagi.

"Tetua Song, maafkan atas kelancangan murid ini," ucap Ling Yun dengan nada tenang namun berwibawa, membuat langkah kaki kedua tetua itu seketika terhenti di tempat. "Namun, bisakah murid ini meminta satu hal lagi?"

Tetua Song menolehkan kepalanya, menatap Ling Yun dengan sebelah alis yang terangkat tinggi, sementara Tetua Liu ikut membalikkan badannya dengan rasa ingin tahu yang membuncah.

"Oh? Katakan saja, Bocah. Jika itu masih dalam batas kemampuanku dan bisa membantumu bertahan hidup dari si tua bangkai Mo itu, aku tidak akan pelit," sahut Tetua Song, melipat kedua tangannya di depan dada sekeras besi miliknya.

Ling Yun kembali mengucapkan terima kasih sembari sedikit membungkuk hormat kepadanya. Ia lalu mulai mengatakan apa yang hendak ia minta kepadanya membuat kedua Tetua itu mengangkat sebelah alisnya masing-masing, tidak mengerti dengan alasan dari permintaannya itu.

...----------------...

Ling Yun membalikkan tubuhnya, menatap Lu Han yang masih terlihat tegang namun matanya mulai memancarkan tekad baru setelah menerima kapak spiritual dari Tetua Song.

"Kakak Lu, kemasi barang-barang mu dan stabilkan energimu malam ini," ucap Ling Yun dengan nada santai namun penuh penekanan. "Lusa nanti, kita akan turun gunung secara legal. Mari kita lihat, berapa banyak tikus yang akan dikirim oleh Aula Pengawas untuk mengantarkan nyawa mereka di Lembah Tulang Putih."

Pagi di Puncak Alkimia kini terasa benderang. Di balik kabut formasi yang bergulung, Ling Yun menatap langit luas dengan senyuman dingin. Permainan catur birokrasi Tetua Mo telah dimulai, namun sang rubah tua tidak pernah tahu bahwa papan catur itu telah sepenuhnya berada di bawah kendali mutlak Ling Yun.

Bersambung

~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara ku.

1
Dewa Malaikat
👍
Ta Ma
Menyala thorrr lanjutkan lagiii
Ta Ma
habisi semuanya🤬🤬
Dark knight
Apakah bakal jadi heroin nya ini
Adhittma: Tunggu saja di bab2 berikut nya kak🤭🤭
total 2 replies
Dark knight
Gas lagi thorr
Adhittma: yoiiii🔥
total 1 replies
korek ngok
Puas anjayy, makan tuh karma orang tua wkwk
Adhittma: udh tua bukannya tobat, malah banyak tingkah yaa🤣
total 1 replies
Ren Sa
Lanjutkan thorr
Adhittma: aman ae kak🙏🙏
total 1 replies
Ren Sa
Pertama thorrr🔥
Adhittma: Dapetttt petir nih kak⚡🤭
total 1 replies
Dewa Malaikat
lanjjjuuut gaskennn thor, 10 bab sekaligus
Adhittma: Siappp kak, tapi skrang mh 3 bab dlu ae perhari ya wkwk🤭
total 1 replies
Somebody
next thorrr
Adhittma: sabar ya kak🙏🙏
total 1 replies
Somebody
Langsung saja tanpa perlu pikir panjang 😏
Dark knight
Mantap thorrr lanjutkan terus 🤗
Adhittma: Sabar ya kak, lagi review🙏
total 1 replies
Dark knight
wkwk kena mental nggk tuh
Dark knight
Bantai2 gass⚡⚡
Adhittma: Yoiiii🔥
total 1 replies
Dark knight
bantai semuanya 🔥🔥🔥
Adhittma: Ling Yun sedang memasak🔥🔥🔥
total 1 replies
Dark knight
Kerennn
korek ngok
Bagus, Lanjut lagi thorr🙌🏼🙌🏼🙌🏼
Adhittma: aman ajaa🙏
total 1 replies
korek ngok
Up up
korek ngok
lanjutkan thorrr 🙌🏼🙌🏼🙌🏼
korek ngok
up up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!