NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:50k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Roda-roda SUV hitam itu akhirnya berhenti di pelataran batu alam sebuah villa megah bergaya kolonial modern. Bangunan dua lantai itu berdiri kokoh, mencuat di antara kepungan ribuan hektar tanaman teh yang berundak-undak. Di luar, hawa dingin wilayah hulu Jawa Barat merayap pekat, membawa gulungan kabut tebal yang menyulap pemandangan sekitar menjadi serba putih.

Rinai hujan yang turun sejak lereng gunung tadi kini mulai menderas, mengetuk-ngetuk atap seng dan dedaunan dengan irama yang konstan. Atmosfer di sekitar tempat itu mendadak dilingkupi kesunyian yang magis, membawa nuansa misteri sekaligus romansa yang elegan dan terisolasi dari bisingnya ibu kota.

Arlan turun lebih dulu. Dia mengabaikan payung yang hendak diulurkan oleh kepala pelayan vila, memilih melangkah lebar memutari kap mobil dan membukakan pintu untuk Bianca.

"Masuklah, udara di luar bisa membekukan tulangmu," ujar Arlan pendek.

Suara baritonnya terdengar berat, dilingkupi nada protektif yang teramat pekat. Tangannya bergerak cepat mencengkeram pergelangan tangan Bianca, menuntun wanita itu melewati pintu jati besar yang langsung mengarah ke ruang tengah yang hangat oleh pendar lampu dinding berwarna kekuningan.

Bianca hanya menurut. Langkah kakinya tetap tenang, mengalun anggun meski pakaian yang melekat di tubuhnya hanyalah kemeja kerja bersahaja seorang asisten. Sifat dewasanya membuat dia paham bahwa perlawanan kecil di depan para pelayan villa hanya akan memicu desas-desus baru.

Belum sempat Bianca melangkah menuju paviliun khusus pegawai yang terletak di bagian belakang kompleks villa, suara Arlan kembali menginterupsi udara yang dingin.

"Gita, ikut aku ke ruang kerja. Ada beberapa berkas yang harus segera dievaluasi," perintah Arlan tanpa menoleh, langsung melangkah menaiki tangga kayu menuju lantai dua.

Bianca menarik napas perlahan. Evaluasi kerja di tengah badai dan kabut pegunungan? Alasan yang teramat transparan. Dia tahu ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh pria itu. Dengan jemari yang merapikan ujung kemejanya, Bianca melangkah menyusul sang CEO, memasuki ruang kerja luas yang berbau aroma kayu cendana dan buku-buku tua.

Begitu pintu ditutup, Arlan tidak membuang waktu. Dia berjalan ke balik meja jati besar, mengambil selembar map kulit hitam, lalu menghempaskannya pelan ke atas permukaan meja.

"Tanda tangani ini," cetus Arlan dingin, sepasang mata elangnya mengunci pergerakan Bianca.

Bianca mendekat, mengambil map tersebut dan membaca baris demi baris klausul di dalamnya. Itu adalah sebuah kontrak kerja baru yang dirancang dengan sangat sepihak. Di sana tertulis bahwa posisi Gita Ivara dinaikkan menjadi asisten personal khusus dengan kewajiban mutlak untuk tinggal di dalam gedung utama villa keluarga Dirgantara selama proyek agro-resort berjalan. Pada kolom paling bawah, tertera nominal gaji yang melonjak dua kali lipat dari angka sebelumnya.

Bianca meletakkan kembali map itu dengan gerakan yang teramat halus, hampir tanpa suara. Dia menegakkan punggungnya, menatap langsung ke dalam manik mata Arlan dengan ketegaran yang matang. Sisi keras kepalanya yang elegan mulai mencuat.

"Saya menolak, Tuan Arlan," ucap Bianca, suaranya mengalun rendah namun sarat akan penekanan yang tegas. "Kontrak kerja saya yang lama masih berlaku dan sah secara hukum. Tidak ada alasan logis bagi saya untuk pindah ke gedung utama, apalagi menerima kenaikan gaji yang tidak mendasar seperti ini. Tugas saya sebagai pelayan dan asisten bisa saya selesaikan dengan baik dari paviliun belakang."

Arlan menyandarkan punggungnya, rahangnya mengetat mendengar penolakan yang begitu tenang dari mulut Bianca. Jiwa skeptisnya yang biasa menghadapi negosiasi alot di ruang rapat korporat mendadak merasa tertantang, sekaligus terpesona. Wanita di depannya ini tidak silau oleh angka nol di dalam kontrak. Aura "berkelas" yang memancar dari cara Bianca menentang keputusannya justru membuat dorongan posesif di dada Arlan semakin mendidih.

"Kalkulasi di atas kertas itu adalah kuasaku, Gita," desis Arlan, bangkit dari kursinya lalu melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa satu tindak. Aroma maskulinnya langsung mengepung Bianca di bawah temaram lampu ruangan.

"Situasi di Jakarta sedang tidak aman untukmu. Rumor yang disebarkan Stella dan Mahendra sudah menyentuh ranah publik. Pindah ke gedung utama di bawah pengawasanku adalah satu-satunya cara memastikan kamu tidak tersentuh oleh kaki tangan mereka yang mungkin menyusup ke area perkebunan ini."

Bianca menyipitkan matanya. Dia tahu Arlan tulus ingin melindunginya, tetapi dia juga tidak ingin pria ini melangkah terlalu jauh ke dalam ruang pribadinya hingga mampu mengendus rahasia besarnya sebagai seorang Bianca Adytama. Sisi cerdasnya dengan cepat mengambil alih situasi. Dia harus memutus perdebatan ini sebelum Arlan melihat celah di dalam matanya.

"Jika fokus Anda adalah keamanan dan kelancaran proyek, maka hal pertama yang harus kita selesaikan bukan kamar tidur saya, Tuan," potong Bianca taktis, membalikkan keadaan dengan intonasi yang sangat profesional.

"Dua puluh menit lagi, para pemegang saham utama Dirgantara Group akan masuk ke dalam ruang rapat daring. Mahendra sudah menyebarkan umpan di media massa mengenai manipulasi pajak, dan jika Anda tidak memberikan klarifikasi yang solid sekarang, posisi Anda di dewan komisaris akan goyah."

Bianca melangkah mundur satu langkah, memutus jarak intim di antara mereka. Dia membuka laptop kerja milik Arlan yang berada di atas meja, jemarinya bergerak lincah menyusun folder dokumen keuangan proyek hulu yang sudah dia rapikan sepanjang perjalanan tadi.

"Semua data pembebasan lahan sudah saya sinkronisasikan dengan sistem hukum agraria terbaru. Anda hanya perlu memaparkan grafik di halaman tiga untuk membungkam argumen utusan Mahendra," lanjut Bianca, menatap Arlan dengan sorot mata yang menuntut profesionalisme.

Arlan terpaku sejenak. Dia menatap layar laptop, lalu beralih menatap wajah asistennya. Ketepatan waktu dan kecerdasan taktis yang ditunjukkan Gita kembali memantik rasa penasarannya yang mendalam. Bagaimana bisa seorang wanita dengan latar belakang masa lalu yang kelam memiliki ketenangan dan kemampuan manajerial sebersih ini? Rasa tertarik itu kian meruncing, berubah menjadi sebuah obsesi tersembunyi yang pekat.

"Baik," Arlan mengalah demi tugas besar yang menanti. Dia membetulkan letak kerah kemejanya, bersiap di depan layar kamera.

"Siapkan sambungannya, Gita."

Sebelum Bianca menekan tombol connect, Arlan meraih gagang telepon internal villa yang berada di sudut meja. Dia menekan satu tombol cepat yang langsung terhubung ke area dapur bawah.

"Mak Saroh," panggil Arlan begitu sambungan diterima. Suaranya kembali dingin dan penuh otoritas mutlak. "Kosongkan paviliun belakang milik Gita sekarang juga. Pindahkan seluruh barang-barang dan pakaiannya ke dalam kamar utama di sayap barat villa, tepat di sebelah ruang kerjaku. Pastikan semuanya selesai sebelum rapat daringku berakhir."

Bianca tersentak kecil mendengar perintah sepihak itu, namun layar laptop sudah terlanjur menampilkan wajah-wajah tegang para direksi dari Jakarta. Pertempuran korporat telah dimulai, memaksa Bianca untuk menahan amarahnya dan berdiri diam di sudut ruangan sebagai asisten yang patuh, mendampingi Arlan yang mulai membantai argumen-argumen palsu kiriman Mahendra di depan layar digital.

Di bagian bawah gedung utama villa, suasana mendadak dilingkupi kegaduhan yang canggung. Mak Saroh, perempuan paruh baya yang sudah bekerja puluhan tahun untuk keluarga Dirgantara, berdiri mematung di ambang pintu kamar sayap barat bersama dua pelayan muda lainnya. Kamar itu adalah salah satu kamar paling mewah di vila ini; dilengkapi dengan ranjang king-size berbalut seprai sutra abu-abu, lantai berbahan kayu kenari yang hangat, dan jendela besar yang langsung menghadap ke hamparan kebun teh berkabut.

Di atas kasur mewah tersebut, tergeletak sebuah tas jinjing murah berisi beberapa potong pakaian bersahaja milik Gita yang baru saja mereka ambil dari paviliun pelayan di belakang. Kontras yang tercipta terasa begitu ganjil di mata para pekerja villa.

"Mak... ini beneran barang-barangnya Teh Gita yang disuruh pindah ke sini?" bisik Isah, salah satu pelayan muda, wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya yang campur aduk. "Kamar ini kan biasanya cuma dipakai buat tamu kehormatan atau keluarga inti Tuan Arlan. Masa pelayan baru kayak Gita bisa tidur di sini?"

Mak Saroh menghela napas panjang, melipat tangannya di dada dengan raut wajah yang bingung. "Tuan Arlan sendiri yang telepon Mak tadi. Mak juga bingung, Sah. Selama Tuan Arlan cerai dari Nyonya Stella, gak pernah ada satu pun perempuan yang boleh menginjakkan kaki di sayap barat ini, apalagi sampai barang-barangnya dipindahkan secara paksa begini."

Interaksi di antara para pelayan itu mendadak terhenti ketika langkah kaki yang teratur terdengar mendekat dari arah koridor. Bianca berjalan masuk dengan ekspresi wajah yang datar namun memancarkan aura ketenangan yang dewasa. Dia melihat tas jinjingnya di atas kasur mewah, lalu beralih menatap Mak Saroh dan para pelayan lain yang sedang memandangnya dengan tatapan canggung dan penuh tanda tanya.

Suasana di dalam kamar berubah menjadi sangat kaku. Bianca tahu apa yang ada di dalam pikiran mereka. Statusnya sebagai "Gita", seorang pelayan baru, kini telah bergeser menjadi sesuatu yang ambigu di mata seisi vila akibat tindakan posesif Arlan yang terlalu terang-terangan.

"Mak Saroh," Bianca menyapa lebih dulu, suaranya mengalun lembut, mencoba mencairkan kekakuan di udara yang dingin. "Maaf jika keputusan Tuan Arlan merepotkan Mak dan yang lain siang ini."

Mak Saroh berdehem pelan, mencoba tersenyum meskipun matanya tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya yang besar.

"Eh, enggak kok, Neng Gita.... Kami cuma menjalankan perintah Tuan Besar saja. Tapi... kalau boleh Mak tanya, ada hubungan apa sebenarnya antara kamu dan Tuan Arlan di Jakarta sampai Tuan begitu protektif sama kamu?"

Pertanyaan itu menggantung di udara, diiringi suara deru angin badai yang semakin kencang menghantam kaca jendela luar. Bianca terdiam sejenak. Dia mendekati ranjang, meraih tas jinjingnya dengan gerakan yang teratur dan anggun—gestur yang membuat Mak Saroh kembali mengernyitkan dahi karena sadar bahwa cara bergerak Gita sama sekali tidak mencerminkan seorang wanita kelas bawah yang biasa bekerja kasar.

"Saya hanya asisten pribadi yang kebetulan sedang berada di tengah pusaran masalah bisnis beliau, Mak," jawab Bianca dengan nada dewasa yang sangat stabil, tidak memberikan celah bagi para pelayan untuk berspekulasi lebih jauh. "Tuan Arlan hanya memastikan pekerjaan saya tidak terganggu oleh urusan di luar."

Meskipun jawaban Bianca terdengar logis, Isah dan pelayan lainnya saling berpandangan dengan sisa kecurigaan yang kental. Mereka tahu betul watak Arlan Dirgantara yang dingin dan skeptis terhadap perempuan; seorang pria seperti itu tidak akan pernah mengorbankan privasi sayap barat vilanya hanya demi kenyamanan kerja seorang asisten biasa, kecuali wanita itu memiliki arti yang teramat khusus di hidupnya.

Setelah Mak Saroh dan para pelayan pamit mundur dengan langkah yang masih dipenuhi tanda tanya, Bianca mengunci pintu kamar dari dalam. Dia berjalan menuju jendela besar, menatap kabut tebal yang kini telah sepenuhnya menelan perkebunan teh di luar, menyisakan kegelapan sore yang mencekam dan dingin.

***

1
@Tie
nasibnya mahendra gmn thor
apa dipenjara jg sama spt stell
Mundri Astuti
ngomong" napa jadi muter" y thor si Arlan dan Bianca, ga da kemajuan
✦͙͙͙*͙*ᴍs.ʀ͠ᴇɴᴀ✨: maaf ya, kalo bikin gumoh. pelan-pelan nanti diperbaiki kok 😊🙏
total 3 replies
💟노르 아스마💟
lahhh ...provokatornya gk di habisin itu
Mukeseh
setela salah lawan woe setela setela 🤣🤣
Anonim
😍😍
Anonim
Mantap
ryuka
duuhhh bianca gimana cara nya arlan biar kamu luluhhh 🫠🫠🫠🤭🤭🤭
merry yuliana
jd dejavu sm.kirana yak..
Anonim
😍😍😍😍
Del Vina
cerita bagus cuma alurnya lambat
Tangsah Jagad
gak mungkin Raditya gak ngasih tau kalo di tanya arlan
Mukeseh
hubhihi 🤣🤣🤣🤣 othor pintar bikin q deg deg pyor 😂
Mundri Astuti
Arlan kamu main ke rumah Raditya, sapa tau ada foto keluarga Kirana dan keluarganya
Anonim
😍😍😍😍
@Tie
bianca kabur aja yg jauh ke luar negeri sekalian, kl msh di indo gk aman
mkn maen rahasia arlan makin posesif
fatmawati (pipit)
gita harus jujur saja bahwa dia adalah Bianca aditama yg menyamar sebagai gita ivara
untuk doni harus secepatnya menemukan kejanggalan tentang gita dan bianca adytama
ryuka
bianca.. gapapa kok jujur. kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠
Tangsah Jagad
Bianca apa salah nya sih jujur, dan arlan ngapain juga ngotot hbngan mereka hanya batas pekerjaan
Verawati Naycyl
sudah Bi...jangan maen teka teki terus ...kasihan Arlan sampai puyeng cari tau identitas kamu yg sebenarnya..
Mukeseh
deg deg thor 😂😂tp cepat atau lmbt pasti aksn tsu arlsn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!