Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.
Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yakin?
“Apa dia nggak pulang lagi?”
Lyra melirik jam dinding yang menunjukkan pukul satu pagi tapi Ares tidak ada di sisinya. Beberapa hari terakhir, pria itu memang pulang di tengah malam, bahkan terkadang pulang di pagi hari.
Awalnya Lyra tak mau peduli, toh pernikahan mereka hanya sebuah kontrak yang saling menguntungkan. Akan tetapi, perlahan hatinya mulai memikirkan pria itu, mengkhawatirkannya saat tak pulang.
“Ck, seharunya aku isi air sebelum tidur.” Lyra berdecak kesal melihat botol minumnya yang kosong. Dengan malas, ia keluar dari kamar tapi perhatiannya tertuju pada ruang kerja Ares yang pintunya sedikit terbuka.
Kakinya melangkah begitu saja mendekati ruang kerja sang suami. “Ares?” panggilnya seraya mendorong pintu pelan, tetapi tak ada jawaban.
“Ares?”
Lyra bergegas menghampiri Ares yang tampak begitu tegang dengan wajah sepucat kapas.
“Ares?” Ia menepuk Pundak suaminya tapi taka da respon, seakan yang ada di hadapannya hanyalah raga tanpa jiwa apalagi pandangan Ares tampak begitu kosong.
“Ares?” Lyra mengguncang Pundak Ares lebih keras hingga berhasil mendapatkan respon. Akan tetapi, respon yang diberikan suaminya membuat Lyra tercengang.
“Lily ..., pergi.” Ares berbisik lirih. “Api … api ini akan membunuh kita.”
“Api? Apa apa?”
Lyra memandangi sekitar, tak apa pun di ruangan itu apalagi api yang akan membunuh mereka. Namun, Ares tampak begitu ketakutan, ia mencengkram tangan Lyra dengan sangat kuat hingga Lyra merasa pria itu mungkin akan meremukkan jari jemarinya.
Napas Ares memburu, pendek dan dangkal seolah udara di sekitar mendadak lenyap.
“Ares, kamu_”
Belum sempat Lyra menyelesaikan ucapannya, tubuh Ares ambruk yang membuat Lyra secara spontan merentangkan tangan menahan dada Ares agar tidak terjatuh sepenuhnya dari kursi, dengan sekuat tenaga ia menopang tubuh sang suami yang berat dan tak berdaya.
“Ya Tuhan.” Lyra panik melihat Ares yang memejamkan mata sementara badan pria itu terasa sedingin es.
Bingung harus melakukan apa, Lyra hanya bisa menghubungi Vano, memberitahu keadaan Ares dan meminta pria itu memanggil dokter secepatnya.
“Ares punya dokter pribadi, kan? Tolong, sekarang juga, Vano. Dia pucat dan badannya sedingin es.”
“Nyonya, tenang, jangan panik. Dokter akan segera ke sana.”
Jangan panik?
Lyra tersenyum miring, suaminya bertingkah saat aneh lalu pingsan, bagaimana mungkin ia tidak panik?
“Bertahanlah sebentar lagi, Ares.” Lyra memandangi wajah Ares yang pucat. “Apa yang membuatmu tiba-tiba begini?”
Lyra kembali teringat raut wajah dan tatapan Ares tadi. Aura dinginnya, tatapan tajamnya, ekspresi arogannya, semua lenyap tak bersisa. Tadi pria itu seperti seorang bocah yang sangat ketakutan karena tersesat di jalan yang gelap.
“Nyonya?” Lyra langsung menoleh mendengar suara Vano. “Dokter sudah datang.”
Kening Lyra berkerut dalam melihat dokter yang datang. “Leo Valens?” gumamnya tak percaya. Ia yakin pria yang dihadapannya adalah wakil dari VC Group yang terkenal tapi mengapa tiba-tiba jadi dokter.
“Bawa dia ke ranjang. Dia harus berbaring dengan benar!” titah Leo yang langsung Vano patuhi.
“Tunggu, kamu_”
Leo tersenyum pada Lyra yang tampak kebingungan. “Aku tahu kamu sangat mengagumiku tapi sekarang kita periksa suamimu dulu, oke?”
“Ah?”
***
“Ares baik-baik saja, dia hanya sedikit terguncang.”
Leo membenarkan selimut Ares, tindakan kecil yang justru sangat menarik perhatian Lyra, bahkan ia melemparkan tatapan penuh curiga pada Leo.
“Kamu benar-benar dokter?” Lyra memandangi Leo dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Apa menurutmu aku dokter gadungan?” Leo terkekeh santai. “Biar aku perkenalkan diri lagi.” Ia mengulurkan tangan pada Lyra. “Leo Valens, dokter pribadi suamimu.”
“Bukannya kamu wakil dari VC Group?”
“Benar.” Leo menarik tangan dengan kecewa karena Lyra tak menerima uluran tangannya. “Aku bekerja di VC Group tapi aku juga seorang dokter. Begitulah orang hebat menjalani hidup.”
Lyra hanya bisa tersenyum tipis, tak menyangka Leo yang terlihat berwibawa ternyata hanya seorang pemuda narsis.
“Oh ya, mala mini aku akan menginap di sini untuk jaga-jaga takut Ares kembali terguncang.”
Lyra semakin bingung mendengar permintaan Leo, apalagi saat Vano langsung membawa pria itu ke kamar tamu tanpa izin darinya. Namun, mengingat bagaimana kondisi Ares tadi, Lyra berpikir mungkin memang lebih baik jika ada yang menjaga.
Selain itu, Vano pasti tidak akan membiarkan sembarang orang menginap di rumah Ares.
Ya, rumah Ares, bukan rumahnya.
Orang-orang Ares tinggal di sana tentu tak perlu izinnya. Fakta itu membuat hati Lyra tercubit, ada satu titik dalam hatinya yang tak bisa menerima itu, apalagi ia merasa tidak tahu apa pun tentang Ares, tidak tahu siapa teman dan rekan kerjanya.
“Api?” Lyra memandangi Ares yang sudah tak sepucat tadi. “Apa terjadi sesuatu padamu yang berhubungan dengan api?”
Lyra menggenggam tangan Ares sementara tatapannya masih tertuju pada wajah pria itu. “Apa kamu trauma akan sesuatu? Ares, tiba-tiba aku sangat penasaran dengan hidupmu. Bagaimana ini? Bagaimana kalau aku mulai peduli?”
***
Saat pagi tiba, Ares terbangun dengan kepala berdentum. Ia melirik ke sisi ranjang yang kosong dan rapi, membuatnya bertanya-tanya apakah Lyra tidak tidur bersamanya semalam?
“Semalam?”
Ares memijit pelipisnya sembari mengingat kembali apa yang terjadi semalam. “Sial!” umpatnya ketika ia teringat kembali apa yang terjadi. “Aku pasti membuat Lily ketakutan.”
Pria itu langsung berlari keluar dari kamar sembari memanggil Lyra, tetapi yang muncul justru dua orang lelaki yang membuatnya langsung menghela napas berat.
“Kalian menginap di sini semalam?” Alih-alih berterima kasih atas bantuan asisten dan sahabatnya, Ares justru tampak jengkel.
“Biasanya juga gitu kalau kamu kambuh,” celetuk Leo seraya dengan tenang.
“Di mana Lily?” Ares celingukan ke sekitar, tak ada tanda-tanda keberadaan sang istri di sana.
“Pagi-pagi tadi sudah berangkat kerja.” Leo membuka kulkas. “Ya ampun, aku lapar tapi kalian Cuma sebutir telur?” Pria itu mengeluarkan sebutir telur dari kulas. “Ares, apa kamu kekurangan uang, Kawan? Kalau perusahaan Lily Crown nggak menghasilkan, masih ada VC Group. Tolong jangan terlalu irit.”
Ares hanya mendelik mendengar celotehan panjang lebar Leo. “Tuan, hari ini saya kosongkan semua jadwal supaya Anda bisa istirahat,” seru Vano. “Menurut dr. Leo, Anda harus istirahat.”
“Apa kalian mengatakan sesuatu pada Lily?” Ares memasukkan tangannya ke dalam saku celana. “Atau apa dia mengatakan sesuatu tentang kondisiku semalam?”
“Aku bilang kamu hanya terguncang dan kelelahan, dia percaya, tenang aja.”
Ares hanya mengangguk mengerti, berharap Lyra benar-benar percaya bahwa ia hanya kelelahan.
Sementara di sisi lain, Lyra mengaduk kopinya yang sudah dingin sedangkan pikirannya melayang entah ke mana, membuat Sena yang sejak tadi menemani hanya bisa menghela napas panjang.
“Jadi bagaimana, Ra? Mau cerai?”
“Kita udah tandatangan kontrak, Na.” Lyra mendesah napas lesu.
“Kalau gitu sabar aja, toh Cuma setahun.”
Alih-alih senang mendengar itu, Lyra justru berdecak kesal, bahkan hatinya kembali terasa tak nyaman sesuatu yang mengganggu di sana. “Kok makin kesel aku ingat perjanjian itu, ya, Na?”
“Kesal pas ingat nanti akan cerai?” tanya Sena yang Lyra jawab dengan anggukan lemah tapi di detik selanjutnya wanita itu langsung menggeleng cepat.
“Bukan … bukan, aku kesal karena menumpang di rumah dia,” elaknya.
“Yakin?”