"Apa salah kalo aku cinta ke mas?" tanya Nerrisha suaranya parau hampir tak terdengar
Nick tertunduk dan menghela nafasnya panjang dan menjawab dengan suara lirih.
"Nerrisha, dengar baik-baik. Jarak diantara kita terpaut jauh. Kamu tahu jurang di depan sana? Itu, anggap saja itu adalah kita..." ucap Nicholas lembut
"Seperti itulah jarak usia diantara kita. Saya gak mau dengar teman-temanmu memanggilmu dengan sebutan sugar babby. Maaf saya gak pantas buat kamu..." ucapnya kemudian yang berlalu begitu saja dari hadapan Nerrisha yang masih berdiri mematung terpaku memandang jurang di seberang sana
*****
Nerrisha dan Nicholas awalnya hanya sebatas saling sapa biasa saja. Namun seiring berjalannya waktu disetiap pertemuan-pertemuan kecil yang terjadi di keluarga Adiwangsa kerap menjadi saksi bisu perasaan keduanya.
Namun usia mereka terpaut 10 tahun jauhnya sehingga Nerrisha kerap disebut teman-temannya dengan sebutan sugar babby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mematahkan Jurang Pemisah
...*****Di dalam mobil. Jalan Raya Anyer, lima menit dari Karang Bolong****.*...
Jari-jemarinya mencengkeram kemudi hingga buku-buku kukunya memutih. Bukan pendingin udara yang membuatnya basah, melainkan air matanya.
Nicholas mengemudi dengan satu tangan. Tangan yang lain mengusap wajah dengan kasar, namun air matanya tidak terbendung.
Dua tahun ia hidup dalam diam bersama para kaul, ia tidak menangis. Dihina oleh Pak Arya, ia tidak menangis. Dipaksa menikah dengan pilihan ibunya, ia tidak menangis.
Kini, hanya karena satu kalimat, “Mas, apa salah kalau aku cinta ke mas?” pertahanannya seakan runtuh.
“Ya Tuhan,” desahnya pada kaca spion. Wajahnya memerah, napasnya terputus.
“Usia saya sudah dua puluh lima tahun, Mas Nick! Bukan delapan belas. Hentikan ini...”
Namun bayangan Nerrisha di bibir tebing itu tidak mau pergi dari mata Nicholas. Jaket yang kebesaran membalut tubuhnya yang ringkih. Rambutnya berkibar ditiup angin. Selangkah lagi, hanya selangkah saja kemungkinan demi kemungkinan bisa saja terjadi.
Mobil Nicholas dihentikan mendadak di bahu jalan. Pengemudi di belakang membunyikan klakson penuh amarah. Nicholas tidak peduli sedikitpun.
Kepalanya tertunduk ke kemudi. Bahunya terguncang. Ia menangis. Sungguh-sungguh menangis. Tanpa suara, hanya isak yang selama dua tahun ia pendam.
“Saya egois…saya tidak pantas…” bisiknya pada dirinya sendiri.
“Meninggalkan anak gadis orang seorang diri. Di tebing. Bagaimana jika dia melompat? Bagaimana jika dia…bodoh sekali kamu Nick!”
Tangannya memukul dasbor satu kali, dengan keras. Rasa nyeri itu tidak seberapa dibandingkan bayangan Nerrisha yang mungkin bisa saja tiada.
Tanpa berpikir panjang, ia memutar kemudi. Berbalik arah. Derit ban memekik di aspal.
*********
...*Tebing Karang Bolong. Sepuluh Menit Kemudian.*...
Langit telah berubah menjadi sedikit keunguan gelap. Ombak di bawah semakin buas, menghantam karang dengan suara yang menggelegar.
Nerrisha masih di sana. Berdiri terpaku menatap langit dan lautan luas. Ujung sepatunya telah menyentuh tanah yang lembap, setengah jengkal lagi adalah jurang. Jaket milik Nicholas merosot di salah satu bahunya. Tubuhnya gemetar, entah karena angin, entah karena isak tangisnya.
Ia berbicara sendiri, kepada laut, kepada Tuhan, kepada kehampaan, kepada langit.
“Jadi seperti ini rasanya…ditinggalkan saat perasaan sedang paling dalam,” suaranya serak, hilang timbul tertiup angin.
“Katanya sepuluh tahun itu jurang, Mas. Namun yang mendorong saya ke jurang justru Mas sendiri…”
Air matanya jatuh, tidak terdengar karena segera ditelan debur ombak.
“Baiklah…jika memang itu yang Mas inginkan, biarlah. Biar Mas tenang. Biar teman-teman saya tidak lagi menyebut saya dengan sebutan itu…”
Ia memejamkan mata. Tubuhnya condong ke depan. Sedikit lagi.
“NERRISHA!”
Tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik. Kuat. Terasa hangat dan nyata.
Nerrisha terkejut, keseimbangannya goyah. Detik berikutnya ia telah terjerembap ke dada yang bidang, beraroma parfum bercampur aroma laut, ya aroma Nicholas begitu kuat saat ini dihirupan hidungnya.
“Mas?” Napasnya tercekat.
Nicholas tidak menjawab. Lengannya melingkar di pinggang Nerrisha, erat, cemas, bergetar. Tangannya yang lain menahan tengkuk gadis itu, membenamkannya ke dadanya. Seakan jika dilepaskan, gadis itu akan lenyap dibawa angin.
Nerrisha menangis. Kali ini berbeda. Tangisnya pecah, meledak. Tangannya memukul dada Nicholas, berulang kali, tidak menyakiti, tetapi menyayat.
“Kenapa Mas kembali?! Kenapa gak mas biarin saya mati aja, hah?!” teriaknya, suaranya hancur pada kemeja Nicholas yang berwarna hitam.
“Bukankah itu yang mas inginkan? Supaya Mas gak lagi pusing! Supaya mas gak lagi disebut sebagai bujang tua! Kenapa kembali?!”
Pukulan itu terus berulang. Nicholas terdiam tak bergeming sedikitpun. Ia hanya diam membisu. Matanya menatap nanar ke arah jurang di belakang Nerrisha. Ke ombak ganas di bawah sana. Ke kematian yang hanya sejengkal dari gadis dua puluh lima tahun yang dicintainya.
Matanya memerah. Bukan hanya karena tangis. Melainkan karena menahan gejolak, menahan takut, menahan sesal. Pipinya basah, tidak ia seka. Dadanya naik turun, terasa panas.
Akhirnya, suaranya keluar. Lirih, terbata, tetapi jujur.
“Sebab saya lebih takut kehilangan kamu Nerrisha…daripada disebut sebagai bujang tua seumur hidup...”
Nerrisha menghentikan pukulannya. Tubuhnya lunglai dalam pelukan Nicholas. Tangisnya masih ada, tetapi kini meresap pada kemeja Nicholas yang basah.
Nicholas menunduk, keningnya ia sandarkan pada puncak kepala Nerrisha. Tangannya terangkat, mengusap anak rambut gadis itu, kasar karena masih gemetar.
“Maafin Mas,” bisiknya, suaranya patah.
“Maaf sudah meninggalkan kamu Nerrisha. Maaf saya sudah jadi pengecut. Maaf sudah mengukur perasaan dengan usia...”
Nerrisha mendongak. Mata sembabnya mencari mata Nicholas. “Lalu…gimana sama jurang itu, Mas? Katanya kita…..”
Nicholas menarik napas. Ia menatap ke bawah, ke karang, ke laut. Kemudian kembali menatap Nerrisha.
“Jika memang ada jurang,” ucapnya
“Biar Mas yang membangun jembatannya. Jika Mas terjatuh, biar Mas sendiri. Nerrisha kamu gak perlu ikut. Tapi…jangan lompat kesana, Risha. Jangan pernah. Sebab jika kamu tiada, Mas gak tahu harus menyeberang ke mana selanjutnya...”
Angin laut berhembus kembali. Namun kali ini, di antara dua tubuh yang bergetar, ada sebuah kehangatan.
Nerrisha memeluk pinggang Nicholas erat. “Mas janji? Gak akan ninggalin aku lagi?”
Nicholas membalas pelukan itu, lebih erat. Dagunya ia letakkan pada puncak kepala Nerrisha.
“Janji. Sembilan puluh hari itu batal. Mas mau seumur hidup sama kamu. Biar orang berkata apa. Biar Papa kita marah. Yang penting Nerrisha hidup. Yang penting Nerrisha ada di sini dan masih tetap dihati mas...”
Di bawah, ombak masih ganas. Di atas, langit telah gelap. Namun di tebing itu, dua manusia yang hampir kehilangan, memilih untuk pulang. Kepada pelukan. Kepada keberanian untuk menentang keadaan.
...*Di dalam mobil. Jalan Raya Anyer menuju Jakarta.*...
Nicholas membukakan pintu penumpang depan, satu tangannya melindungi kepala Nerrisha agar tidak terbentur atap mobil.
Setelah gadis itu duduk, ia membungkuk, menarik sabuk pengaman dan memasangkannya dengan hati-hati pada Nerisha. Jemarinya bergetar saat menyentuh gesper.
“Dingin?” tanyanya pelan. Suaranya masih serak, tetapi lembut.
Nerrisha menggeleng. Air matanya sudah berhenti, namun matanya masih sembap. Jaket denim milik Nicholas masih membalut tubuhnya yang mungil.
Nicholas melepas jas yang ia kenakan, menyelimutkannya di atas jaket itu. Lalu ia menyalakan penghangat, memutar tombol ke suhu yang paling nyaman.
Gerakannya penuh perhitungan, seolah Nerrisha adalah benda paling berharga yang pernah ia sentuh.
“Kalau ngantuk, tidur aja,” ucapnya sambil menyalakan mesin.
"Mas gak akan ngebiarin apa pun terjadi lagi sama kamu, janji...”
Mobil melaju perlahan, meninggalkan Karang Bolong yang kelam. Di dalam, hanya ada suara pendingin udara dan napas mereka yang mulai teratur.
Di tengah perjalanan, tepat saat lampu jalan mulai menyala satu persatu, Nerrisha menoleh. Tangannya menggenggam ujung jas Nicholas yang tersampir di pangkuannya.
“Mas,” panggilnya lirih.
Nicholas melirik sebentar, kemudian kembali fokus ke jalan. “Iya?”
“Boleh Nerrisha minta sesuatu?”
Nicholas mengangguk. “Apa pun. Asal Mas mampu...”
Hening sejenak. Hanya ada suara ban membelah aspal.
Nerrisha menunduk, meremas jas itu. Suaranya hampir tidak terdengar ketika ia berkata, “Malam ini…jangan antar Nerrisha pulang. Temani Nerrisha. Di mana aja. Di hotel, di apartemen Mas…di mana aja. Aku gak mau sendiri. Aku takut kehilangan kamu mas...”
Rem mendadak diinjak, napas Nicholas tercekat. Tangannya mencengkeram kemudi lebih erat. Dadanya sesak.
Ia pernah mengucapkan kaul. Ia pernah belajar di Seminari Tinggi selama satu tahun sebelum memutuskan keluar karena ulah Nerisha. Ia tahu batasan. Ia tahu harga sebuah kesucian, bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk perempuan yang ia cintai.
Mobil menepi perlahan di bahu jalan. Lampu sen menyala. Nicholas mematikan mesin. Ia memutar tubuhnya, menghadap Nerrisha sepenuhnya. Matanya teduh, namun tegas.
“Nerisha,” panggilnya. Namanya disebut begitu lembut, untuk pertama kali.
"Lihat Mas...”
Nerrisha mengangkat wajahnya. Mata itu basah kembali.
“Saya mencintai kamu Nerrisha,” ucap Nicholas. Setiap kata diucapkannya jelas, tanpa keraguan.
“Justru karena itu, saya gak bisa mengabulkan permintaan kamu itu, maaf...”
Bibir Nerrisha bergetar. “Mas…gak percaya sama aku? Aku gak akan nyesel. Sumpah, miliki aku seutuhnya Mas...”
“Bukan soal percaya,” jawab Nicholas. Ia meraih tangan Nerrisha, menggenggamnya, hangat dan kuat.
“Ini soal menjaga. Dulu saya belajar bahwa cinta yang benar itu melindungi, bukan memiliki. Saya pernah di hadapkan pada altar, Risha. Saya pernah berjanji kepada Tuhan bahwa saya gak akan menodai apa pun yang suci. Saya gagal menjadi imam, tapi saya gak mau gagal jadi laki-laki yang baik untuk kamu Nerrisha...”
Air mata Nerrisha jatuh kembali. Namun kali ini bukan karena marah.
“Jadi…Mas nolak karena Mas cinta?” tanyanya, memastikan.
Nicholas mengangguk. Ia membawa tangan Nerrisha ke bibirnya, mengecup punggung tangan itu lama.
“Ya. Karena saya cinta. Kalau saya menuruti malam ini, saya bisa saja. Tapi kamu yang akan dirugikan. Dan saya gak mau menang di atas kekalahan kamu Nerrisha...”
Isak itu berubah menjadi sedu yang lega. Nerrisha menjatuhkan kepalanya ke bahu Nicholas.
“Makasih, Mas,” bisiknya.
“Makasih udah selalu jaga aku…bahkan dari dari diriku sendiri...”
Nicholas memeluknya. Satu tangan mengusap punggung gadis itu, untuk menenangkan.
“Mas antar kamu pulang. Mas mau tunggu di depan pagar sampai kamu masuk. Besok jam tujuh, kita ketemu lagi di Taman Suropati. Bukan untuk menguji, tapi untuk membuktikan bahwa cinta bisa menunggu diwaktu yang paling tepat...”
Mobil kembali melaju. Di luar, Jakarta menyambut dengan lampu-lampunya. Di dalam, dua hati yang tadi hampir hancur, kini memilih untuk utuh.
Sampai di depan kediaman Adiwangsa, Nicholas turun lebih dahulu. Dibukakannya pintu mobil, dituntunnya Nerrisha keluar. Di depan gerbang, ia berhenti.
Nerrisha menatapnya. “Mas gak masuk?”
Nicholas menggeleng, tersenyum tipis. “Cukup sampai di sini. Masuklah. Kabari Mas kalau sudah di kamar...”
Sebelum berbalik, Nerrisha berjinjit, mengecup pipi Nicholas sekilas.
“Selamat malam, calon imam yang gagal, I love you...”
Nicholas tertawa kecil, untuk pertama kali malam ini. “Selamat malam tuan putri, alasan saya ingin menjadi manusia yang lebih baik adalah kamu...”
Pintu gerbang tertutup kembali. Mobil Nicholas baru bergerak setelah lampu kamar Nerrisha di lantai dua menyala.
Di jalan pulang, ia tidak menangis. Dadanya lapang. Sebab menjaga lebih sulit daripada mengambil. Dan malam ini, ia berhasil menjaga kehormatan cintanya.
BERSAMBUNG!!! ⭐🌟
Lanjut thor penasaran jadinya bakal gimana nasib si nerris