NovelToon NovelToon
BRANDALAN POSESIF

BRANDALAN POSESIF

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

​SINOPSIS: BRANDALAN POSESIF

​Pertemuan tak sengaja di aspal hitam menjadi awal mimpi buruk sekaligus obsesi yang berbahaya.

​Shania Clarissa, mahasiswi kedokteran yang hidup sederhana dan penuh prestasi, tidak pernah menyangka bahwa malam itu ia akan berhadapan dengan Davindra Elangga. Davindra adalah putra tunggal konglomerat yang arogan, gemar balapan liar, dan memiliki tatapan sedingin es.

​Kecelakaan motor yang nyaris merenggut nyawa Shania justru berujung pada penghinaan. Harga diri Shania terusik ketika Davindra mencoba membayar lukanya dengan uang, yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh Shania. Bagi Davindra, penolakan itu adalah tantangan.

​Takdir mempertemukan mereka kembali di kampus, di mana Davindra ternyata adalah putra dari pemilik yayasan tempat Shania menuntut ilmu. Dengan kekuasaan di tangannya, Davindra bertekad menjerat Shania dalam sebuah permainan kendali. Shania yang menginginkan ketenangan kini harus terjebak dalam pusaran obsesi posesif seorang brandalan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BRANDALAN POSESIF

​BAB 26: Darurat di Langit-Langit Markas.

​Malam di kediaman Elangga biasanya diselimuti oleh keheningan yang elegan, namun di dalam kamar utama yang luas itu, suasananya terasa jauh lebih hangat. Shania baru saja selesai mencuci wajahnya, masih mengenakan piyama satin panjang yang tertutup, sementara Davindra sudah berbaring miring di atas ranjang king-size mereka. Pria itu tidak melepaskan pandangannya dari Shania, seolah-olah setiap gerak-gerik istrinya adalah pertunjukan seni yang paling berharga.

​"Dav, berhenti menatapku seperti itu. Aku sedang mencoba fokus menghafal dosis obat untuk ujian besok," tegur Shania lembut, meski pipinya merona.

Ia duduk di tepi ranjang, membuka buku teks tebal yang baru saja ia ambil dari meja rias.

​Davindra bergeser mendekat, menyandarkan kepalanya di pangkuan Shania, mengabaikan tumpukan kertas yang menghalangi pandangannya.

"Buku itu tidak akan lari ke mana-mana, Sayang. Tapi suamimu ini sudah merindukan perhatianmu sejak di rumah sakit tadi. Kamu terlalu sibuk dengan Dr. Adrian dan pasien-pasienmu."

​Shania mengelus rambut hitam Davindra yang halus.

"Dr. Adrian, itu guruku, Dav. Dan pasien adalah tanggung jawabku. Kamu sendiri yang bilang ingin aku jadi dokter yang hebat, kan?"

​"Aku, ingin kamu jadi dokter yang hebat, tapi hanya untukku," gumam Davindra posesif, tangannya melingkar di pinggang Shania.

Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma sabun bayi dan lavender yang selalu menenangkan syaraf-syarafnya yang tegang setelah seharian berurusan dengan dunia bisnis yang kotor dan politik jalanan yang keras.

​Suasana menjadi sangat intim. Lampu tidur yang temaram memberikan semburat jingga di wajah mereka. Davindra mulai mengecup jemari Shania satu per satu, sebuah ritual bisu yang selalu membuat jantung Shania berdegup tidak karuan. Namun, tepat saat Davindra hendak menarik Shania ke dalam pelukannya yang lebih erat, sebuah suara nyaring memecah keheningan.

​Drttt... Drttt... Drttt...

​Ponsel Davindra yang tergeletak di nakas bergetar hebat. Davindra mengerang kesal, enggan melepaskan posisinya. Namun, getaran itu tidak berhenti, menandakan panggilan darurat yang tidak bisa diabaikan.

​"Abaikan saja," bisik Davindra di ceruk leher Shania.

​"Dav, mungkin itu penting. Kalau dari markas gimana?"

Shania mendorong bahu suaminya pelan.

​Dengan gerutuan kasar, Davindra menyambar ponselnya. Nama 'Galang' berkedip di layar.

Davindra menggeser tombol hijau dengan perasaan dongkol.

​"Kalau ini bukan soal gedung terbakar atau perang wilayah, aku akan menggantungmu di tiang bendera besok pagi, Lang!" ancam Davindra tanpa basa-basi.

​Namun, suara Galang di seberang sana terdengar panik, menghilangkan niat Davindra untuk marah lebih lanjut.

"Bos! Gawat! Raka, kecelakaan di sirkuit belakang markas! Dia mencoba teknik drift baru tapi motornya kehilangan traksi. Kakinya terjepit mesin dan ada perdarahan yang lumayan deras. Kami bingung, Bos! Raka nggak mau dibawa ke rumah sakit umum, dia takut urusan ini sampai ke telinga polisi!"

​Davindra langsung terduduk tegak. Wajahnya yang tadinya santai berubah menjadi tegang dan serius.

"Bodoh! Kenapa dia nekat latihan malam-malam? Tunggu di sana, jangan pindahkan dia sembarangan. Aku ke sana sekarang!"

​Davindra mematikan sambungan telepon. Ia menatap Shania dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kekhawatiran dan rasa tidak enak.

​"Raka, kecelakaan di markas. Lukanya parah dan dia butuh pertolongan medis segera," ujar Davindra cepat sambil mulai menyambar jaket kulitnya.

​Shania langsung berdiri, insting medisnya mengambil alih.

"Aku, ikut, Dav! Aku, bisa bantu pertolongan pertama sebelum dia benar-benar butuh penanganan bedah."

​Davindra sempat ragu. Ia sebenarnya tidak ingin membawa Shania kembali ke lingkungan markas yang keras di tengah malam begini, apalagi ada aturan kaku dari Nenek Savitri. Namun, ia juga tahu bahwa Shania adalah orang yang paling ia percayai untuk menangani Raka. Dan yang terpenting, ia tidak sanggup membiarkan Shania berada di rumah sendirian sementara pikirannya bercabang.

​"Oke, kamu ikut. Tapi tunggu—" Davindra mengambil ponselnya lagi, mendial sebuah nomor.

"Boni, jemput Laras di kost-nya sekarang juga. Bawa dia ke markas. Katakan ini darurat medis soal, Raka."

​Shania mengerutkan kening.

"Kenapa Laras juga diajak, Dav?"

​"Karena aku tidak mau kamu menyentuh atau memeriksa bagian tubuh laki-laki lain sendirian, meskipun itu Raka tangan kananku sendiri," jawab Davindra mutlak. "Laras, akan membantumu. Dia, yang akan memegang bagian tubuh yang perlu dibersihkan, kamu yang mengarahkan. Aku, tidak akan membiarkan kulitmu bersentuhan langsung dengan pria lain lebih dari yang diperlukan."

​Shania hanya bisa menghela napas panjang. Sifat posesif Davindra memang sudah mendarah daging, bahkan di situasi hidup dan mati sekalipun.

​Perjalanan menuju Jakarta Utara ditempuh dengan kecepatan gila. Mobil sport Davindra menderu membelah jalanan yang mulai lengang. Di dalam mobil, Shania sibuk menyiapkan tas darurat medis yang selalu ia simpan di bagasi mobil Davindra sejak mereka menikah.

​Saat mereka sampai di depan gerbang besi gudang tua itu, Laras sudah sampai lebih dulu dengan motor Boni. Wajah Laras tampak pucat pasi, matanya membelalak melihat bangunan yang tampak seperti sarang mafia itu.

​"Sha... kita beneran di sini? Ini markas suamimu?" bisik Laras gemetar saat mereka turun dari mobil.

​Laras bergidik ngeri melihat pemandangan di depannya. Di bawah lampu temaram gudang yang luas, puluhan pria berbadan tegap, mengenakan kaos tanpa lengan yang memamerkan tato garang, tampak berkumpul dengan wajah cemas. Aroma oli, bensin, rokok, dan keringat memenuhi udara. Beberapa dari mereka sedang memegang rantai, alat bengkel, bahkan ada yang sedang mengasah pisau di pojokan—pemandangan yang sangat jauh dari sterilitas rumah sakit.

​"Tenang, Ras. Ada aku. Dan ada Davindra," hibur Shania sambil menarik tangan sahabatnya itu masuk.

​"Bos! Di sini!"

Galang melambaikan tangan dari area sirkuit dalam ruangan yang lantainya masih menyisakan bekas gesekan ban yang hitam.

​Di tengah lintasan, Raka tergeletak dengan wajah pucat menahan nyeri. Kaki kanannya tampak mengalami luka robek yang cukup dalam, dan darah merembes membasahi celana jeans-nya. Motor sport-nya hancur di sisi lain.

​"Minggir semua!" perintah Davindra dengan suara yang menggelegar.

Para anggota 'The Lions' langsung membuka jalan layaknya Laut Merah yang terbelah.

​Shania segera berlutut di samping Raka, namun sebelum ia sempat menyentuh kaki Raka, Davindra sudah berdiri tepat di belakangnya, memegang bahu Shania dengan erat—sebuah peringatan visual bahwa ia sedang mengawasi.

​"Laras, cepat ambil sarung tangan dan kasa di tas itu!" perintah Shania tegas.

​Laras, meski tangannya masih sedikit gemetar karena merasa terintimidasi oleh puluhan pasang mata pria-pria sangar yang menonton mereka, segera mendekat.

​"Ras, tolong gunting celananya di bagian yang luka. Kamu yang bersihkan lukanya dengan cairan NaCl, aku yang akan melakukan penekanan di arteri atas untuk menghentikan perdarahan," instruksi Shania.

​Sepanjang proses itu, Davindra tidak berkedip. Setiap kali tangan Shania bergerak mendekati paha Raka untuk mencari titik tekan, mata Davindra menyipit tajam. Raka sendiri, meski sedang menahan sakit luar biasa, sempat melirik Bosnya dengan tatapan memohon ampun.

​"Maaf... Bos... saya nggak sengaja..." rintih Raka.

​"Diam kamu, Rak. Urusan kecerobohanmu ini kita bahas nanti setelah kakimu tidak copot," balas Davindra dingin, namun tangannya yang lain tetap siaga memegang botol air minum untuk Shania jika istrinya itu kelelahan.

​Shania bekerja dengan sangat profesional. Di bawah sorotan lampu gudang yang keras, ia tampak seperti malaikat di tengah neraka. Para anggota geng yang biasanya bicara kasar kini terdiam seribu bahasa, terpesona melihat ketenangan dan kehebatan 'Ibu Negara' mereka.

​"Lukanya perlu dijahit, tapi ini tidak mengenai saraf utama. Dia hanya butuh beberapa jahitan dan antibiotik kuat," simpul Shania setelah sepuluh menit yang menegangkan. "Dav, tolong minta anak buahmu ambilkan tandu. Kita pindahkan dia ke ruang istirahat yang lebih bersih di atas."

​"Boni! Galang! Angkat dia pelan-pelan. Kalau dia jatuh lagi, kalian saya jadikan sasaran tembak!" teriak Davindra.

​Setelah Raka berhasil dipindahkan dan lukanya ditangani, suasana di markas sedikit mencair. Galang mendekati Davindra dan Shania sambil membawa dua kaleng kopi dingin.

​"Terima kasih banyak, Mbak Shania. Kami benar-benar nggak tahu harus gimana tadi. Raka, itu keras kepala, nggak mau ke RS takut bikin repot, Bos Davindra," ucap Galang tulus.

​Laras, yang mulai merasa aman karena melihat betapa hormatnya orang-orang itu pada Shania, mulai berani mengedarkan pandangan.

"Gila ya, Sha. Markas ini gede banget. Aku, kira cuma gudang kosong, ternyata dalemnya kayak pusat teknologi dan bengkel mewah."

​"Jangan coba-coba keliling sendirian kalau tidak mau tersesat di gudang senjata," sahut Davindra yang tiba-tiba sudah berada di belakang Laras, membuat gadis itu hampir melompat kaget.

​Davindra kemudian beralih pada Shania. Ia mengusap sisa keringat di dahi istrinya dengan sapu tangan sutranya.

"Sudah selesai, kan? Ayo pulang. Ini sudah terlalu malam untukmu."

​"Tunggu, Dav. Aku harus memastikan Raka tidak demam dalam satu jam pertama," protes Shania.

​"Boni, akan menjaganya. Kamu sudah melakukan lebih dari cukup."

Davindra menarik tangan Shania menuju mobil, tidak memberikan ruang untuk negosiasi.

​Sebelum masuk ke mobil, Davindra berbalik menatap seluruh anggota gengnya yang masih berkumpul di aula. Suaranya rendah namun menggema di seluruh ruangan.

​"Dengar semuanya. Malam ini adalah pengecualian. Jangan pernah ada lagi yang berani membuat istriku harus datang ke tempat ini di tengah malam karena kecerobohan kalian. Raka, akan mendapat hukuman setelah dia sembuh. Dan untuk kalian yang tadi menatap istriku terlalu lama saat dia bekerja..."

Davindra menjeda kalimatnya, memberikan tatapan yang membuat bulu kuduk mereka berdiri.

"Anggap saja kalian sedang meminjam nyawa malam ini."

​"SIAP, BOS!" jawab mereka serempak dengan nada gentar.

​Laras hanya bisa geleng-geleng kepala saat ia diantar pulang oleh Boni menggunakan mobil pengawal lainnya. Sementara itu, di dalam mobil sport hitamnya, Davindra kembali menggenggam tangan Shania erat.

​"Kamu, hebat tadi, Sayang," ucap Davindra lembut, jauh berbeda dari suaranya yang mengancam tadi.

​"Aku, cuma melakukan tugasku, Dav. Tapi tolong, jangan terlalu keras pada, Raka. Dia juga manusia, bisa melakukan kesalahan."

​Davindra mencium punggung tangan Shania lama.

"Aku, tidak marah karena dia kecelakaan. Aku, marah karena kecelakaannya merusak malamku bersamamu. Dan lebih marah lagi karena pria lain—meskipun itu Raka—bisa melihat sisi dirimu yang luar biasa itu."

​Shania menyandarkan kepalanya di bahu Davindra, menatap lampu-lampu jalanan Jakarta yang mulai meredup. Ia menyadari bahwa hidupnya memang tidak akan pernah normal. Ia adalah seorang calon dokter masa depan yang harus siap menjahit luka di bangsal rumah sakit pada pagi hari, dan menjahit luka para brandalan di markas rahasia pada malam hari.

​Namun, di atas segalanya, ia tahu satu hal: sejauh apa pun ia melangkah, sekeras apa pun dunia yang ia hadapi, ada satu 'resimen' yang selalu menjaganya—seorang pria posesif bernama Davindra Elangga yang menganggap keselamatan dan kehormatan istrinya adalah hukum tertinggi di dunianya.

​BERSAMBUNG ....

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh protektif banget
Saniaa96: hiii... makasih dah luangkan waktunya tuk baca🙏🙏☺️
total 1 replies
n
thor lanjut dong thor💪🤭 mau lihat posesif nya davindra..
Saniaa96: heee.. udah yaa dan mksh 🙏🙏☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!