NovelToon NovelToon
Psychopath Obsession

Psychopath Obsession

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: haniyahhputri

ADULT STORY!

Allferd Xander Maverick, seorang direktur perusahaan IT sekaligus chef ternama, siapa sangka jika sebenarnya Allferd adalah sosok yang berbahaya. Allferd adalah seorang psikopat.

Kemudian jiwa obsesi muncul dari psikopat tampan itu ketika melihat sosok aktris yang mirip dengan mendiang kekasihnya 8 tahun lalu.

"Presetan dengan cinta! Aku hanya ingin memilikimu saja. Apakah itu harus mengatas namakan cinta?"

"Keparat. Kau memang tak punya hati,"

Bagaimanapun caranya, Allferd harus membuat Stella menjadi miliknya karena Allferd tidak akan membiarkan dirinya sendiri untuk merasakan kahilangan lagi.

Apapun yang sudah berada di genggaman Allferd, tak akan semudah itu untuk Allferd lepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon haniyahhputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Psychopath Obsession - 25

Setelah kejadian tadi, Stella sama sekali tak ingin mengubah posisinya. Stella hanya ingin berada dalam dekapan Allferd, bahkan wanita itu tak mau melangkahkan kakinya sedikitpun.

Melihat Stella yang seperti ini, membuat Allferd ikut sedih. Mungkin jika hal itu terjadi kepada Allferd, ia akan menganggap hal itu sepele. Tapi kali ini Stella lah yang harus mengalaminya meskipun peluru tak menusuk bahunya, apa lagi selama ini Stella sangat awam dengan hal-hal seperti itu, hidup Stella selama ini sangat jauh dari kata 'berbahaya' hingga akhirnya bertemu dengan sosok Allferd.

Setelah Jade dan Allferd membujuk Stella agar mau masuk ke dalam mobil bersama Allferd, akhirnya Stella mau melangkahkan kakinya meskipun terasa berat.

Selama di perjalanan kembali ke hotel, Stella tetap bergeming, diam saja tak mengeluarkan suara sedikitpun. Allferd meraih tangan Stella lalu menggenggamnya, berharap dengan cara itu ia bisa mengurangi rasa takut Stella.

"Tenanglah, sekarang kau aman."

Hingga akhirnya tanpa sadar Stella sudah terlelap di samping Allferd yang sedang mengemudi, bahkan saat Stella terlelappun raut wajahnya tidak tenang.

Allferd memberhentikan mobilnya  di depan pintu masuk hotel, ternyata sudah ada Damian menunggu. Allferd menurunkan kaca mobil, segera Damian menghampiri.

"Tidak usah khawatir, kita masih punya waktu selama tiga puluh enam jam." Damian memberikan laporan.

Allferd mengangguk mengerti. "Bisakah kau memarkirkan mobil di basemant? Stella sudah tidur,"

"Tentu,"

Allferd keluar dari mobil, membuka pintu samping lalu membawa Stella ke dalam hotel dengan cara menggendong, bisa saja Allferd membangunkan Stella, tapi dalam kondisi seperti ini ia tak tega jika harus membangunkan wanita itu.

Meski Allferd sudah berhati-hati, Stella tetap terbangun karena menyadari ada pergerakan, Stella mengalungkan kedua tangannya di leher Allferd, semakin merapatkan posisi mereka.

Allferd membaringkan Stella di atas kasur, sedikit menyingkap baju Stella agar ia bisa melihat bagaimana kondisi bahu Stella lalu di sentuhnya bagian bahu Stella yang memerah.

"Apakah ini sakit?" memang tak ada luka cukup dalam namun melihat ekspresi Stella yang tak tenang membuat Allferd khawatir.

Stella menggeleng pelan, "hanya perih." gumamnya.

Allferd beranjak hendak mengambil kotak obat, Stella menarik tangan Allferd agar pria itu tak pergi jauh darinya. Menyadari Stella yang masih ketakutan, Allferd mengusap puncak kepala Stella.

"It's okey, you're safe now."

Stella terdiam, tidak menjawab perkataan Allferd, tangannyapun masih menggenggam tangan Allferd.

"Lebih baik kau tidur sekarang, aku tidak akan kemana-mana."

Stella menggeser posisinya, memberi ruang untuk Allferd ikut berbaring di sampingnya. Allferd menarik Stella ke dalam pelukan, mengecup kening Stella lalu berbisik,

"Sleep tight mi princesa."

***

"Kau belum makan sejak semalam, jam sembilan nanti kau harus syuting,"

Kalimat itulah yang Stella dengar saat membuka matanya. Allferd menghampiri Stella dengan nampan makanan di atas tangannya.

"How do you feel?"

Stella menghela napas, "be better," jawabnya.

"Makanlah lalu mandi, aku akan mengantarkanmu ke lokasi syuting." Stella hanya menjawabnya dengan anggukan, memilih untuk menuruti setiap perkataan Allferd karena ia sedang tidak berada dalam suasana hati ingin memberontak.

"Apa yang kau ingin lakukan setelah pekerjaanmu berakhir?" Andai saja Stella tidak dalam kondisi seperti ini, Allferd tidak akan mencari topik pembicaraan dan membicarakan topik yang tak ada artinya.

"Ini adalah syuting terakhirku di tahun ini, aku menolak tawaran syuting untuk sisa akhir tahun dan biasanya aku akan melakukan beberapa pemotretan majalah,"

Sepertinya pemikiran Allferd barusan itu salah, bukan karena kondisi Stella yang memprihatinkan malah kondisi Stella sudah lebih membaik dari pada semalam. Mungkin membicarakan apa rencana yang ingin mereka lakukan adalah topik pembicaraan yang mulai Allferd sukai sejak saat ini.

"Lalu kau ingin melakukan apa untuk menghabiskan sisa waktu tahun ini?"

Dengan mulut yang masih sibuk mengunyah makanan, tampaknya Stella masih sibuk berpikir.

"Aku berencana kembali ke dunia entertainment tahun depan, aku ingin beristirahat sejenak dan pergi berlibur aku pikir itu pilihan terbaik. Pergi menenangkan diri sejauh mungkin, menjauhi segala bahaya sejauh mungkin, tabunganku sangat mencukupi jika hanya untuk liburan dengan fasilitas mewah," jelas Stella lalu kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

"Berlibur? Aku juga berpikir itu adalah ide yang bagus. Baiklah aku sudah memutuskan jika kita akan pergi berlibur setelah kau menyelesaikan pekerjaanmu, aku akan mengatur sisanya."

"Kita? Hanya berdua? Aku dan kau? Tidak ada Damian?" Tanya Stella memastikan, tak menyangka jika Allferd menginginkan pergi berlibur berdua

Allferd mengangguk, sepertinya ini adalah pilihan terbaik untuk sementara ini. Mungkin terdengar seperti seorang pengecut yang lebih memilih untuk melarikan diri dari sebuah masalah yang harusnya mereka badapi, tapi Allferd sendiri butuh waktu untuk berpikir, memikirkan rencana apa yang harus Allferd lakukan untuk melindungi Stella. Lagi pula masalah mereka bukanlah masalah yang tidak bisa di sepelekan, baik nyawa Allferd maupun nyawa Stella kini sedang terancam kapanpun dan di manapun.

"Iya, kita akan pergi hanya berdua saja. Kemana kau ingin pergi?"

Stella telah menghabiskan sarapannya, senyuman masih merekah dengan indah di bibir manis. "Aku akan memberitahumu selesai aku syuting hari ini,"

Stella beranjak lalu menarik tengkuk Allferd, memberikan pria itu sebuah kecupan di bibirnya. "Morning kiss untuk pria yang sudah merawatku semalaman,"

Jika kemarin Stella yang terkejut karena 'morning kiss' Allferd, maka hari ini Allferdlah yang terkejut, tak menyangka jika Stella akan melakukan hal ini.

Menyadari jika sebuah kecupan singkat tak cukup bagi Allferd, segera Stella menepuk bibir Allferd dengan sadis. "Jika kau melakukan ini maka aku akan telat datang ke lokasi syuting, aku harus mandi."

Stella langsung melesat masuk ke kamar mandi, meninggalkan Allferd yang masih tercenung karena perbuatan Stella.

Detik selanjutnya Allferd terkekeh, Aiden benar Stella adalah kelemahannya, bahkan Allferd baru sadar jika ia telah merelakan kepergian Julia dengan hadirnya sosok Stella.

Tapi kenapa ia baru menyadarinya di saat nyawa Stella sedang terancam? Kenapa tidak sejak dulu ia sadar dengan perasaanya? Sudah lama rasanya Allferd tak membuat harapan, dan mulai saat ini Allferd hanya berharap Stella selalu baik-baik saja, selalu tersenyum, bahagia, sehat, dan yang paling penting Stella selalu aman tidak terancam.

***

Selagi Stella sedang di rias untuk syuting, Allferd menghampiri Jade, berbicara sebentar lalu kembali lagi kepada Stella.

"Stella, aku harus pergi untuk menyelesaikan beberapa urusan penting. Tenang saja, ada Damian di sini yang akan menjagamu, Jade dan yang lainnya juga menjagamu jadi kau tak perlu khawatir."

Stella terdiam, tidak mungkin juga ia memaksa Allferd agar selalu di sampingnya lagi pula Allferd memiliki urusannya sendiri.

"Pastikan kau kembali, aku akan memberitahumu kemana kita akan pergi,"

Bibir Allferd mengukir sebuah senyuman, mengecup pelipis Stella lalu pergi dari hadapan Stella.

"Berapa sisa waktu yang kita punya?" Tanya Allferd setelah menghentikkan langkah kakinya saat melihat sosok Damiam.

Damian melirik jam tangannya. "Dua puluh tiga jam,"

"Cari titik selanjutnya!" Perintah Allferd kemudian pergi dari hadapan Damian.

Allferd mengemudikkan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan lokasi syuting. Sesekali matanya melirik maps digital yang berada di dashboard mobilnya, mengikuti petunjuk ke sebuah tempat yang hendak Allferd kunjungi.

Mobil hitam tersebut berhenti di depan sebuah gudang kecil, jalanan pun sepi hanya sesekali kendaraan yang berlalu lalang.

Allferd membuka pintu gudang menggunakan kakinya, dengan sekali tendangan pintu telah terbuka berhasil mengejutkan seseorang yang sedang tersekap di dalam.

Seorang pria dengan mulut tertutupi oleh lakban, kedua tangan dan kedua kakinya di ikat menggunakan tali. Allferd tersenyum miring, mencabut lakban dengan sekali gerakan yang amat kencang. Pria itu menahan ringisannya.

"Aku tidak suka berbasa-basi, kau bekerja kepada siapa? Jawab saja atau pisauku ini akan menancap di bagian tubuhmu,"

Pria itu masih terdiam, tak menjawab pertanyaan Allferd. Tidak berbohong, Allferd sudah mengeluarkan pisau lipatnya, rasanya sudah lama Allferd tidak bermain menggunakan pisau. Allferd mengeluarkan lima buah pisau lipat dari sakunya, bersiap menancapkan ke lima pisau itu secara berurutan.

"Aku tanya kau sekali lagi, kepada siapa kau bekerja? Untuk apa kau membunuh wanita itu!?" Suara Allferd meninggi, menendang perut pria itu dengan sekali gerakan hingga jatuh tersungkur.

Pria itu terbatuk-batuk, mengatur napasnya yang terasa sesak, sepatu Allferd terlalu keras jika di pakai untuk hal seperti ini, tapi Allferd tidak peduli.

"Jawab!" Suara Allferd semakin meninggi, menggenggam satu pisau di tangan kanannya. "Atau kau akan membiarkan pisau ini menancap di tubuhmu?"

Allferd menunggu, hingga sepuluh detik lamanya pria itu tak kunjung mengeluarkan suara sedikitpun.

"Jangan pura-pura bisu!" Bentak Allferd karena tak kunjung mendapatkan sebuah jawaban yang di butuhkannya.

Allferd menancapkan pisau ke paha pria itu, dirinya sudah terlalu sabar untuk menunggu jawaban.

Akhirnya pria itu mengeluarkan suara, meringis menahan sakit saat darah saat mulai keluar dari pahanya. "Masih tidak ingin menjawab?" Nada suara Allferd terdengar begitu dingin.

"Apa untungnya untukku jika aku menjawab semua pertanyaanmu?" pria itu menantang Allferd.

Allferd berjongkok tepat di hadapan pria yang masih meringkuk menahan sakit, dari bawah sini pria itu bisa melihat sorot mata Allferd yang dingin, tak terlihat sedikitpun jika Allferd sedang marah, emosi Allferd tak bisa di tebak.

"Apa untungnya untukmu?" Tanya balik Allferd dengan nada meremehkan.

"Setidaknya kau tidak akan mati bodoh seperti ini! Apa aku harus menawarkan sejumlah uang supaya kau mau menjawab semua pertanyaanku?" Senyuman Allferd terlihat menyeramkan, seraya memainkan empat buah pisau di tangannya dengan handal. Allferd suka bermain dengan pisau, baik di dapur untuk mengiris makanan ataupun di ruangan gelap untuk mengiris tubuh manusia.

"Aku pikir pilihan kedua lebih baik," sahut pria itu berani.

Allferd bangkit, menjauhkan diri dari pria itu, baiklah Allferd akan mengikuti permainan ini supaya Allferd bisa menguasai permainan bodoh ini.

"Berapa yang kau inginkan?"

"Sepuluh juta dollar."

Mendengar nominal yang di sebutkan oleh pria itu, Allferd tertawa kencang, terdengar seperti sedang tertawa jahat, menyeramkan untuk di dengar.

"Bahkan aku bisa memberimu lebih dari nominal yang kau inginkan, aku akan mengirimu cek jika kau telah menjawab semua pertanyaanku. Aku berjanji, bagaimana?"

Pria itu menganggukan kepalanya, "aku setuju."

"Tenang saja, pertanyaanku tak banyak." Allferd berdeham lalu memulai pertanyaannya.

"Kepada siapa kau bekerja?"

"Aku tidak tahu, dia hanya mengirimkan sejumlah uang yang besar kepadaku lalu memberikan foto wanita itu beserta sejumlah informasi, aku di suruh membunuh wanita itu apapun yang terjadi. Dia tidak pernah memberitahu nama jadi aku tak tahu siapa orang yang menyuruhku,"

"Adakah ciri-cirinya?"

"Kami hanya berkomunikasi melalui pesan, jadi aku tak pernah mendengar suara atau bertemu dengannya,"

"Apa alasannya sehingga kau di suruh untuk membunuh wanita itu?"

Pria itu menggeleng, "aku tidak tahu sedikitpun."

"BRENGSEK!" Teriak Allferd bertepatan dengan pisau Allferd yang kembali menancap di tubuh pria itu.

Pisau milik Allferd mendarat sangat tepat, yaitu menancap di bagian dada pria itu. Lihat saja pria itu mulai kehabisan napas dan terus meringis kesakitan, sorot matanya menatap Allferd penuh kedengkian karena Allferd malah membunuhnya setelah pria itu menjawab semua pertanyaan yang di berikan oleh Allferd.

"Apa? Kau ingin memakiku? Tidak ada gunanya jika aku membiarkan ******** sepertimu tetap berkeliaran di dunia ini!" Allferd menendang tubuh pria itu lalu menginjaknya, menekan agar pisau tajam milik Allferd semakin dalam menembus pria itu.

Allferd berdecih sinis saat melihat pria itu sudah mati tak berdaya, lalu Allferd menyeret jasad pria itu di masukkannya ke dalam lubang berada di belakang gudang itu yang sudah Damian siapkan sejak semalam. Kemudian Allferd menutup jasad pria itu dengan tumpukkan tanah, mengubur jasad pria itu dengan tak layak.

Setidaknya Allferd sudah mengurangi hama satu persatu, lihat tanggal mainnya dimana waktu yang tepat untuk Allferd membunuh Rodriguez menggunakan tangannya sendiri.

Lalu Allferd kembalh masuk ke dalam mobil dan melesat pergi meninggalkan gudang dengan kecepatan tinggi.

Allferd tidak langsung menuju lokasi syuting Stella, pria itu pergi ke sebuah toko untuk membeli beberapa pisau lipat. Allferd membelinya sebanyak sepuluh buah, ia masih punya banyak di dalam mobilnya.

"Begitu banyak kau membeli pisau lipat tuan," sahut sang kasir saat Allferd hendak membayar semua belanjaannya.

"Aku selalu membuang pisau lipat setelah menggunakannya, hanya satu kali pakai." Jelas Allferd seadanya, sang kasir memganggukan kepalanya lalu memberikan semua pisau lipat itu setelah Allferd membayarnya.

***

"Kau sudah selesai dengan urusanmu?" Itulah pertanyaan yang Stella ajukan sat melihat Allferd kembali dengan keadaan sama seperti sebelumnya.

"Ya begitulah, kau sudah selesai syuting?"

Stella menganggukkan kepala, "hampir selesai, adegan terakhirku akan di lakukan besok setelah itu kami akan berpesta merayakan selesainya proses syuting. Film akan di liris tahun depan jadi aku bisa ikut acara premier peluncuran film terbaruku,"

"Kau akan ikut acara perayaan besok malam?" Allferd menyanggahkan dagunya menggunakan tangan, menatap Stella  intens dengan posisi seperti ini. Rasanya Allferd tidak akan pernah bosan memandangi wajah Stella.

Stella menggelengkan kepala, "aku pikir tidak. Aku ingin langsung kita pergi berlibur."

Mendengar jawaban Stella, bibir Allferd membentuk sebuah senyuman. "Apa kau sudah memutuskan kemana kita akan pergi?"

"Aku sudah memutuskannya, kita akan pergi ke Yunani. Salah satu negara destinasi populer di Eropa, kota tertua di dunia, memiliki pantai abad pertengahan, aku rasa Yunani adalah pilihan bagus untuk kita melarikan diri sementara dari semua bahaya yang mengancam, kita akan menghabiskan waktu berdua selama di sana,"

Allferd tercenung mendengar alasan Stella, wanita itu benar sudah saatnya untuk mereka berdua melarikan diri.

"Aku tidak sabar, our paradise is waiting!"

1
namia khira
Ok bagus ceritanya /Good/
s
jarum yang menancap
s
tangannya ia lipat di depan dadanya
Hiatus
lah baru ketemu main sosor ya gimana gak emosi ceweknya.
Elin Damayanti
gatau knp tapi gw suka bgt baca novel tentang pyschopat obsessi gtu 😭❤️😊
haniyahhputri
excited banget sekarang udah bisa ketemu Victoria Aiden di My Bad Boy Bodyguard
yaty
tahniahhhh author
besttt
semangat author 💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Susila Wati
Samuel Anderson Lucifer sprtiny iblis atw vampir ya!🤔
Ajib Azam
lanjut up tor
Eva
mulai otw ...
....
stella punya mslah apa ama rodrigues
^⁠__⁠daena__⁠^
Kak haniyah aku kangen Maverick 😭😭😭
Setyawati Sukmara
aku suka cerita nya seru
raraprnc
saran aja ni buat author nya, klo nge sensor kata2 jgn di sensor semua misalnya:
"si*l*n banget tu orang" jgn di sensor semua "****** banget tu orang" jdnya kan pra readers kurfah srn aja,maaf klo mslnya nyakitin hati😭🙏
haniyahhputri: maaf yaa, untuk bagian sensor kata udah otomatis diubah waktu dipublikasikan 😁 aku engga seteliti itu buat ubah smua kata umpatan yg banyak bgt, alias dari aku pribadi gak pernah sensor, itu udah otomatis keganti sama servernya:")
total 1 replies
Sanni Abdillah
ini ngegantung thor mana lanjutannya aku tunggu2 lho udah lama sekaliiiii ...
abel
kapan up thorr, udah lama nunggu nii
Hesti Sagita
kayaknya seru klu ada cerita Aiden Victoria🤣🤣
haniyahhputri: emang ada ko ceritanya 😃 masuknya ke Maverick Series #2 yang ketiga versi Samuel
total 1 replies
Hesti Sagita
abis ngebunuh kakaknya besok tinggal emaknya Stella deh
Hesti Sagita
secara nggak langsung Stella pingin di lihat nyata bukan hny angan" oleh Allferd
Hesti Sagita
Caryn ada2 aja masa iya ada manusia kayak Samuel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!