Livia hidup dengan satu aturan: jangan pernah jatuh cinta.
Cinta itu rumit, menyakitkan, dan selalu berakhir dengan pengkhianatan — dia sudah belajar itu dengan cara paling pahit.
Malam-malamnya diisi dengan tawa, kebebasan, dan sedikit kekacauan.
Tidak ada aturan, tidak ada ikatan, tidak ada penyesalan.
Sampai seseorang datang dan mengacaukan segalanya — pria yang terlalu tenang, terlalu dewasa, dan terlalu berbahaya untuk didekati.
Dia, Narendra Himawan
Dan yang lebih parah… dia sudah beristri.
Tapi semakin Livia mencoba menjauh, semakin dalam dia terseret.
Dalam permainan rahasia, godaan, dan rasa bersalah yang membuatnya bertanya:
apakah kebebasan seindah itu jika akhirnya membuatnya terjebak dalam dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Setelah makan siang, Livia buru-buru kembali ke ruangan Narendra, ia harus datang tepat waktu, seolah ia tak ingin membuat kesalahan sedikit pun pada Ibu Narendra, Livia segan.
Ketika sampai di depan ruang kerja Narendra, Ia berdiri sejenak, menarik napas pelan untuk menenangkan dirinya sebelum mengetuk pintu. Ketika pintu terbuka, ia langsung melihat Naraya duduk dengan posisi tegak di sofa tamu, wanita paruh baya itu terlihat anggun, tenang, dan memancarkan wibawa yang membuat siapa pun refleks bersikap lebih hormat.
“Masuk,” ucap Naraya sebelum Livia sempat menyapa.
Livia melangkah masuk, menutup pintu dengan hati-hati.
“Selamat siang, Bu Naraya,” sapa Livia sopan. “Maaf, sudah membuat Ibu menunggu.”
Naraya mengangguk tipis, menatapnya dengan sorot mata yang tajam namun tidak bermusuhan.
“Duduk.”
Livia duduk berhadapan, membuka map yang sudah ia siapkan sejak tadi. Tangannya tenang, tak ada tanda gugup berlebihan.
Naraya tidak membuang waktu dengan basa-basi.
“Saya ingin bicara soal keuangan pribadi Narendra,” katanya datar. “Dan penggunaan dana perusahaan yang… bersinggungan dengan urusan rumah tangga.”
Livia sedikit mengangkat wajahnya karena sedikit terkejut, namun ia tetap profesional.
“Baik, Bu.”
Naraya menyilangkan tangan.
“Saya ingin memastikan satu hal. Apakah ada dana perusahaan yang dipakai untuk keperluan pribadi menantu saya? Misalnya tiket liburan, belanja barang mewah, pesta, atau hal-hal yang tidak relevan.”
Pertanyaan itu tajam. Langsung ke inti.
Livia membuka lembar pertama laporan.
“Sejauh pencatatan yang saya pegang, tidak ada penyalahgunaan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi, Bu. Semua pengeluaran yang berkaitan dengan Ibu Veronica tercatat sebagai dana pribadi Pak Narendra, bukan kas perusahaan.”
Naraya menyipitkan mata. “Kamu yakin?”
“Sangat yakin,” jawab Livia mantap. “Sistem perusahaan memisahkan akun operasional dan personal secara ketat. Saya sendiri yang melakukan pengecekan rutin.”
Ia lalu menunjuk beberapa baris angka.
“Pengeluaran besar memang ada, tapi bersumber dari rekening pribadi. Tidak ada transfer silang ke kas perusahaan.”
Naraya memperhatikan caranya menjelaskan, yang ringkas, terstruktur, tanpa berusaha menyenangkan lawan bicara.
“Lalu bagaimana dengan biaya perawatan, salon, acara sosial?” tanya Naraya lagi.
“Itu bukan angka kecil.”
“Benar, Bu,” Livia mengangguk. “Namun semua masuk kategori personal expense. Bahkan ada batasan internal yang ditetapkan Pak Narendra sendiri agar tidak menyentuh dana operasional.”
Naraya terdiam sejenak.
Ia bersandar, menatap Livia lebih lama, bukan lagi menilai, melainkan mengamati.
“Kamu berbicara seperti orang yang mengerti risiko,” katanya pelan. “Tidak semua karyawan berani setegas ini.”
Livia tersenyum tipis profesional.
“Saya hanya menjalankan tanggung jawab saya, Bu. Keuangan itu soal kepercayaan. Sekali rusak, dampaknya panjang.”
Naraya tersenyum kecil. Kali ini lebih tulus.
“Kamu tahu,” katanya, “banyak perempuan muda di kantor besar seperti ini lebih sibuk mencari perhatian daripada bekerja.”
Ia menatap Livia lurus.
“Sepertinya, Kamu tidak seperti itu.”
Livia sedikit terkejut, tapi tetap rendah hati.
“Terima kasih, Bu.”
Naraya melanjutkan, nada suaranya kini lebih santai.
“Kamu sudah lama bekerja di sini?”
“Hampir empat tahun.”
“Dan kamu betah ?”
“Iya,” jawab Livia jujur. “Karena saya menyukai pekerjaan saya.”
Naraya tertawa kecil, terdengar singkat, elegan.
“Kamu langka, bahkan kamu sudah bekerja sebelum posisi Pimpinan perusahaan ini belum di pegang oleh Narendra.”
Ia lalu menutup map laporan itu perlahan.
“Baik. Jawabanmu cukup. Bahkan lebih dari cukup.”
Livia mengangguk. “Jika Ibu ingin detail tambahan—”
“Tidak perlu, Livia” potong Naraya lembut. “Saya percaya.”
Keheningan sejenak tercipta, bukan lagi tegang, melainkan hangat.
Naraya mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
“Satu hal lagi, Livia.”
“Iya, Bu?”
Naraya menatapnya dengan sorot mata seorang ibu, tajam, namun penuh pengalaman.
“Hati-hati di kantor ini. Terutama pada hal-hal yang terlihat sepele.”
Livia memahami maksudnya, meski tak diucapkan secara langsung.
“Saya mengerti.”
Naraya tersenyum puas.
“Bagus. Saya senang hari ini bertemu kamu.”
Naraya menatap Livia beberapa detik lebih lama setelah mendapat penjelasan Livia dengan puas. Sorot matanya kini tak lagi setajam sebelumnya, bahkan lebih lembut, seolah sedang menimbang sesuatu yang lain selain angka dan laporan.
“Kamu tahu, Livia,” ucap Naraya sambil menyandarkan punggungnya, “sudah lama saya tidak merasa nyaman mengobrol dengan orang baru.”
Livia sedikit terkejut, tapi tetap menjaga sikap.
“Saya senang jika bisa membantu, Bu,” jawabnya hati-hati.
Naraya tersenyum kecil.
“Bukan soal membantu.”
Ia menatap Livia dengan lebih santai. “Kamu enak diajak bicara. Tidak banyak basa-basi, tapi juga tidak kaku.”
Livia tersenyum tipis, nyaris canggung.
“Terima kasih, Bu.”
Naraya terdiam sejenak, lalu melirik jam di pergelangan tangannya.
“Setelah selesai jam kantor nanti, apakah kamu punya waktu senggang?”
Livia refleks mengangkat wajahnya.
“Waktu senggang, Bu?”
“Mm,” Naraya mengangguk. “Saya ingin melanjutkan obrolan kita. Tidak resmi. Mungkin kita bisa sambil minum kopi, atau apa saja.”
Permintaan itu datang begitu alami, namun justru membuat Livia sedikit panik. Ia sama sekali tidak pernah berniat mencuri perhatian siapa pun, apalagi ibu dari Narendra. Pertemuan ini sejak awal murni urusan kerja, tak lebih.
Ia menimbang cepat dalam hati. Menolak terasa tidak sopan. Mencari alasan pun terasa sia-sia.
“Saya… sebenarnya tidak ada agenda penting setelah jam kerja,” jawab Livia akhirnya, nada suaranya jujur. “Jika Ibu memang berkenan, saya bisa meluangkan waktu.”
Naraya tersenyum puas.
“Bagus.”
Livia mengangguk pelan, pasrah. Bukan karena terpaksa, melainkan karena ia benar-benar tak kuasa menolak wibawa Naraya yang begitu alami. Ada sesuatu dalam diri wanita itu yang membuat orang merasa kecil, tapi sekaligus ingin didengar.
Naraya berdiri, mengambil tas mewahnya.
“Kita tidak perlu lama-lama. Saya hanya ingin mengobrol. Tentang banyak hal. Sudah lama saya merasa tidak punya teman, apa kamu keberatan Livia ?”
Livia ikut berdiri.
“Baik, Bu. Saya tidak keberatan selama Ibu nyaman bicara dengan saya.”
Naraya tersenyum lalu mengangguk, tapi sebelum ia melangkah pergi, Naraya sempat berhenti di depan pintu, menoleh sebentar.
“Dan satu hal lagi, Livia.”
“Iya?”
Naraya menatapnya penuh arti.
“Percayalah, saya bisa membedakan perempuan yang bekerja dengan tulus… dan yang memiliki agenda tersembunyi.”
Livia menahan napas sejenak.
“Saya tidak punya niatan apa pun, Bu,” ucapnya lirih tapi mantap.
Naraya tersenyum lagi.
“Itu sebabnya saya nyaman denganmu.”
Pintu tertutup perlahan di belakang Naraya.
Livia berdiri beberapa detik di tempatnya, menghela napas panjang.
Ia sama sekali tak merencanakan ini.
Tak ingin menjadi pusat perhatian siapa pun.
Namun ia juga tak menyangka, tanpa usaha apa pun, langkahnya justru semakin dalam ke pusaran yang bernama keluarga Narendra.
Pertemuan itu berakhir bukan sebagai atasan dan bawahan, melainkan dua perempuan yang saling mengenali kecerdasan satu sama lain.
Dan tanpa mereka sadari, seolah ikatan kecil telah terbentuk, ikatan yang kelak akan mengguncang lebih dari sekadar laporan keuangan.
...🥂...
...🥂...
...🥂...
...Bersambung......
lanjut dong🙏🙏🙏