Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Satu minggu berlalu dengan cepat. Malam grand opening butik haute couture milik Tyche Vance di Fifth Avenue berubah menjadi salah satu acara paling eksklusif dan diperebutkan di seluruh Manhattan. Para sosialita papan atas, konglomerat media, dan para elit global berlomba-lomba mendapatkan undangan VVIP untuk menyaksikan kembalinya sang ratu mode setelah dua tahun vakum.
Di ruang ganti belakang panggung, Tyche berdiri di depan cermin besar, merapikan setelan blazer sutra hitam berpotongan tajam yang membalut tubuhnya. Tangannya sedikit bergetar bukan karena gugup, melainkan karena antusiasme yang membuncah. Seluruh koleksi yang ia rancang adalah manifestasi dari kebebasan, kekuatan, dan ketegasan wanita, sebuah cerminan dari jiwanya sendiri.
Ceklek.
Pintu ruang ganti terbuka, dan sesosok wanita berambut chesnut brown melangkah masuk dengan anggun, mengenakan gaun malam hitam elegan berpotongan tegas yang langsung memancarkan aura dominasi mutlak. Di sampingnya, Hades berjalan dengan setelan tuksedo klasik, menggandeng tangan kecil Zeus yang tampil menggemaskan dengan jas mini senada.
Tyche berbalik, menatap sahabatnya dengan senyuman lebar.
"Kulihat kau tidak datang terlambat, darling," sapa Tyche setengah menggoda.
Percy melangkah mendekat, lalu memeluk singkat tubuh sahabatnya itu. Manik mata amber Percy menyapu sekeliling ruangan yang dipenuhi deretan gaun mahakarya Tyche.
"Aku tidak mungkin melewatkan hari di mana sahabatku menaklukkan Manhattan," jawab Percy tenang, namun penuh apresiasi.
Hades melipat kedua tangannya di dada, manik mata kelabunya menatap Tyche dengan pandangan menilai sebelum akhirnya mengangguk kecil. "Pertunjukan yang bagus, Vance. Pastikan saja tidak ada desainer lain yang mencoba mencuri perhatian istriku malam ini."
Tyche mendengus jenaka, menggelengkan kepala. "Tenang saja, Tuan Sterling. Malam ini, semua mata hanya akan tertuju pada mahakaryaku dan tentu saja, pada ratumu."
Lampu panggung utama mulai meredup, menandakan acara peragaan busana akan segera dimulai. Tyche menarik napas panjang, memberikan senyuman penuh keyakinan kepada Percy dan Hades sebelum ia melangkah keluar menuju balik panggung, siap menyambut lembaran baru kejayaannya di bawah sorotan lampu runway yang menyilaukan.
Lampu-lampu sorot di Grand Ballroom Fifth Avenue meredup, menyisakan satu garis cahaya putih menyilaukan yang membentang di sepanjang panggung runway. Dentum musik orkestra modern berpadu dengan ketukan bas yang elegan mulai menggema, memecah kesunyian di antara ratusan penonton dari kalangan elit global, kritikus mode, dan para sosialita yang duduk terpaku di kursi baris depan.
Di kursi VVIP utama, Hades Sterling duduk dengan postur tegap, sebelah tangannya merangkul pinggang Percy yang mengenakan gaun malam hitam dengan potongan asimetris yang memukau. Di pangkuan Percy, Zeus kecil duduk tenang, kedua matanya yang berwarna kelabu tajam menatap takjub ke arah lampu-lampu sorot yang bergerak ke sana kemari.
Model pertama melangkah keluar dari balik tirai beludru hitam, membawakan gaun sutra merah darah dengan potongan tegas yang memancarkan aura kekuatan mutlak. Tepuk tangan riuh langsung bergemuruh di seluruh ruangan.
Di balik panggung, Tyche Vance berdiri di sisi tirai, manik matanya berbinar tajam mengawasi setiap model yang berjalan melenggang keluar. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena keraguan, melainkan karena kepuasan yang luar biasa. Setiap jahitan, setiap potongan kain, dan setiap detail kecil dari koleksi ini adalah bukti bahwa ia telah bangkit sepenuhnya, merebut kembali dunianya sendiri setelah dua tahun tertidur di balik bayang-bayang benteng Sterling.
Saat deretan model terakhir keluar secara bersamaan untuk menutup sesi peragaan busana, lampu utama panggung kembali menyala terang.
Tyche melangkah keluar dari balik tirai, berjalan anggun menyusuri runway dengan setelan blazer sutra hitamnya. Ia tersenyum penuh percaya diri, melambaikan tangan singkat ke arah kerumunan penonton yang kini berdiri memberikan standing ovation yang panjang.
Di barisan depan, Percy ikut berdiri, memberikan tepuk tangan paling meriah sambil melemparkan senyuman penuh kebanggaan kepada sahabatnya. Hades pun mengangguk kecil, memberikan penghormatan langka dari seorang penguasa imperium kepada wanita yang telah berdiri di atas kakinya sendiri.
Malam itu, di bawah sorotan lampu Manhattan yang berkilau, Tyche Vance membuktikan bahwa ia tidak hanya mampu bertahan di dunia yang kejam, tetapi juga mampu memimpinnya dengan caranya sendiri.
Gemuruh tepuk tangan masih memantul di dinding-dinding Grand Ballroom ketika Tyche melambaikan tangan terakhirnya di ujung runway, lalu menghilang di balik tirai beludru hitam. Sambutan meriah itu menjadi stempel resmi atas kembalinya sang ratu mode ke singgasana industri haute couture Manhattan.
Di kursi VVIP, Hades menurunkan tangannya dari pinggang Percy, lalu mengecup singkat puncak kepala istrinya.
"Koleksi yang tidak buruk untuk ukuran seseorang yang sempat menjadi pengasuh bayi selama dua tahun," ucap Hades dengan nada datar yang diselipi sedikit gurauan langka.
Percy mendengus geli, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu suaminya. "Jangan meremehkan Tyche, Hades. Dia wanita yang membangun imperiumnya sendiri sebelum kau bahkan sempat memintanya tinggal di mansion."
Zeus kecil menguap kecil di pangkuan ibunya, rasa lelah mulai menyerang bocah dua tahun itu setelah seharian menemani orang tuanya di tengah keramaian. Hades langsung mengangkat tubuh putranya dengan sigap, mendekapnya erat dalam pelukan kokoh seorang ayah.
"Sudah saatnya kita pulang, Ma chérie," ujar Hades, manik mata kelabunya menatap tajam ke arah pintu keluar privat yang telah dijaga ketat oleh barisan pengawal pribadi mereka.
Sementara itu, di ruang ganti belakang panggung, Tyche disambut oleh para staf dan asistennya yang membawa botol-botol champagne kualitas terbaik. Mereka bersorak gembira, merayakan kesuksesan besar malam itu.
Tyche meneguk sedikit gelas champagne nya, menikmati rasa dingin yang menyegarkan tenggorokannya. Kesuksesan ini membuktikan bahwa dirinya telah sepenuhnya melangkah keluar dari bayang-bayang masa lalu baik dari masa-masa tegang di mansion Sterling maupun dari angan-angan liar tentang pelarian bersama Percy yang sempat ia impikan di ruang rumah sakit.
Namun, di tengah gelak tawa dan riuhnya perayaan kecil di ruang ganti, pintu belakang yang terhubung langsung ke area parkir pribadi mendadak terbuka perlahan. Angin malam Manhattan berhembus masuk, membawa serta bayangan sesosok pria berjas gelap yang berdiri di ambang pintu, menatap tajam ke arah Tyche dengan senyuman misterius yang menyembunyikan agenda berbahaya.
Suara denting gelas champagne dan tawa para staf di ruang ganti mendadak teredam oleh keheningan dingin yang dibawa oleh angin malam. Tyche, yang baru saja hendak meletakkan gelasnya di atas meja rias, merasakan bulu kuduknya meremang.
Ia mendongak, memantulkan pandangannya ke arah cermin besar di depannya. Di sana, terpantul sosok seorang pria berbalut mantel panjang gelap yang berdiri tanpa diundang di ambang pintu belakang.
Cahaya lampu neon dari luar memantul di atas bingkai kacamata perak milik pria itu, memperlihatkan senyuman tipis yang tidak mencapai matanya sebuah senyuman penuh rahasia dan ancaman terselubung.
"Selamat atas kesuksesan besar malam ini, Vance," suara bariton yang tenang namun mencurigakan itu menggema di ruangan yang mendadak sunyi. Para staf Tyche langsung membeku ketakutan, mundur perlahan menjauhi sosok misterius tersebut.
Tyche meletakkan gelasnya dengan gerakan lambat dan terkontrol. Ia membalikkan tubuhnya sepenuhnya, menatap tajam pria di ambang pintu tanpa menunjukkan secercah pun rasa gentar. Di dunia hitam putih para elit Manhattan, Tyche tahu betul bahwa tidak ada kesuksesan yang datang tanpa menarik perhatian para pemangsa.
"Kulihat pengamanan luar butikku tidak sebaik yang kuharapkan, atau kau memang memiliki cara khusus untuk merusak malam pertamaku, Christian?" desis Tyche, menyebut nama pria dari masa lalunya, seorang tokoh bayangan dari sindikat rival Sterling Global yang menganggap kebangkitan Tyche sebagai celah untuk menyusup ke dalam lingkaran kekuasaan keluarga Sterling.
Christian melangkah masuk perlahan, mengabaikan tatapan mematikan dari para staf. Ia merapikan kerah jasnya, lalu berhenti tepat beberapa langkah di hadapan Tyche.
"Kau pikir dengan kembali ke dunia mode dan meninggalkan mansion Sterling, kau bisa melepaskan diri dari permainan ini begitu saja?" bisik Christian pelan, matanya menatap tajam manik mata Tyce. "Hades sibuk menjaga ratunya di singgasana yang rapuh. Tapi aku tahu... rahasia kecil apa yang selama ini kau simpan rapat-rapat di balik senyummu."
Jantung Tyche berdegup kencang, namun wajahnya tetap mempertahankan topeng dingin setajam silet. Kalimat itu tentang rahasia kecil hanya bisa berarti satu hal rencana pelarian dan bisikan-bisikan tersembunyi yang ia utarakan di sisi ranjang koma Percy selama dua tahun terakhir ternyata tidak sepenuhnya terhapus dari dunia gelap.
Jauh dari hiruk-pikuk Fifth Avenue, di dalam kamar utama mansion Sterling yang megah, suasana malam jauh lebih tenang namun sama mencekamnya.
Hades berdiri di depan jendela kaca raksasa, mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung sebatas siku. Di ranjang besar di belakangnya, Percy sudah tertidur lelap bersama Zeus yang berada di dalam pelukannya, kelelahan setelah seharian menemani peragaan busana.
Ponsel satelit di atas meja kerja Hades bergetar pelan. Sebuah pesan singkat bersandi khusus dari jaringan mata-mata internal Sterling muncul di layar.
Aktivitas mencurigakan terdeteksi di area belakang butik Vance. Target lama terlihat mendekati subjek.
Manik mata kelabu Hades menyipit tajam. Kegelapan di luar jendela seolah menyatu dengan aura dingin yang mendadak menguar dari tubuh penguasa imperium tersebut. Jika ada seseorang yang berani mengusik lingkaran terdekatnya terutama sepupunya, orang yang pernah merawat istri dan putranya maka malam ini akan menjadi malam eksekusi tanpa ampun di bawah bayang-bayang imperium Sterling.