NovelToon NovelToon
Leibe Dich Für Immer

Leibe Dich Für Immer

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Komedi
Popularitas:133.5k
Nilai: 5
Nama Author: ende

Cinta? Apakah rasa itu akan hadir? Padahal posisinya hanya pengganti kakaknya sebagai pengantin pria, terlebih pernikahan itu juga karena perjodohan tidak ada istilah mengenal apalagi pacaran.

Namanya Azzam, dia sosok yang berhati lembut, tidak dingin bagaikan es dan salju.
Lalu, akankah cinta itu tumbuh bersamaan dengan interaksi yang sering ia lakukan bersama istrinya? Terlebih istrinya belum menginjak usia 20 tahun.

"Dasar pedofil" begitulah kalimat yang sering keluar dari mulut istrinya.

Kelanjutkan kisahnya? stay tuned ajaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ende, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Bukan Bang Toyib

Happy Reading:*

***

Keesokan harinya, kala langit berubah menjadi jingga, dan matahari mulai tenggelam di ufuk Barat. Maira dan Azzam kembali ke bandara. Azzam menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang. Tapi sesekali dia menyalip mobil yang sedikit lamban.

"Mai... kamu jaga diri baik-baik yaaa... Aku ga ngelarang kamu berteman sama laki-laki tapi inget jaga kehormatan kamu sebagai perempuan yang sudah bersuami" ujar Azzam sembari fokus dengan kemudinya.

"Iyaa kakak... Maira inget kok kalau engga lupa hehe" jawab Maira sedikit bergurau.

"Mai... kakak serius kamu malah becanda!" hardik Azzam dengan tegas. Sedangkan Maira malah nyengir kuda seperti tidak menggubris perkataan Azzam.

"Tapikan bener tah jawaban Maira... kalo inget berati ga lupa..." Maira mengucapkan kalimat itu tanpa merasa berdosa, padahal Azzam sudah mulai berapi-api dengan gurauannya. "Iya-iya kak tenang aja, lagian siapa juga yang mau deket-deket sama Maira" Maira langsung meralat ucapannya agar Azzam kembali seperti manusia yang normal dengan lemah lembutnya.

"Ya... mana kakak tahu. Tapi kayanya kamu deket sama temen-temen cowok yang seorganisasi bareng kamu yang satu jurusan juga. Kakak kan perhatiin mereka waktu diacara resepsi itu"

"Itu cuma temen kak ga lebih lagi Maira juga belom pernah pacaran kok" ujar Maira dengan jujur, Azzam menoleh ke Maira.

"Kamu serius belom pernah pacaran?" tanyanya dengan rasa keingintahuan tinggi.

"Serius belum pernah kakak... penjaga ku kan banyak. Ada kak Fathan ada Ayah, setiap yang main ke rumah aja diintrograsi udah kaya duduk di depan hakim" terang Maira pada Azzam. Maira yang ingat beberapa kejadian masa lalu saat teman laki-lakinya bermain ke rumah langsung bergidik ngeri. Dia ingat tatapan tajam sang penjaga sudah seperti ingin membunuh mangsanya.

"Sukur deh berati aku nanti yang jadi pacar pertama sekaligus suamimu" Azzam mengulum senyum, dia ber-iyes ria dalam hatinya. Sepertinya dia memang benar-benar sudah terinjeksi virus Maira. Virus yang begitu ganas, kecil tetapi sanggup mengrogoti hatinya.

"Hmmmm" Maira berdehem tidak menjawab perkataan Azzam lagi.

"Oiya kakak lupa,.. Minggu kakak udah balik, terserah kamu mau jemput kakak atau engga" Padahal dalam hatinya menginginkan Maira untuk menjemputnya.

"Kenapa ga balik hari Sabtu kalo Jumat udah selesai sidang?" tanya Maira.

"Kan kakak harus ngurus administrasi juga Mai... ngembaliin buku ke perpus. Belum lagi buat revisi sama tanda tangan di lembar pengesahan. Ya... insyaallah deh minggu pagi kakak udah selesai"

"Wooow udah magister tapi masih ambis, keren, keren..." Maira mengajungkan kedua jempolnya pada Azzam

"Aku aja yang S1 ambis udah puyeng geh hahaha" Maira tertawa terbahak-bahak.

"Hmmm ya bukan gitu kan kakak pake program beasiswa jadi ya mau ga mau harus ngasih yang terbaik dong. Dedikasi itu penting loh Mai"

"Iya kak iyaaa... jangan lupa yaa bawain Maira oleh-oleh hehe" Azzam mencibir sementara Maira memasang muka penuh harap padahal Azzam pun tidak menoleh karena fokus mengemudi.

"Kamu giliran oleh-oleh nomer wahid..." Azzam mengerucutkan bibirnya. Maira yang melihat itu semakin ingin tertawa, bagaimana bisa seorang laki-laki tanpa rasa malu melakukan hal konyol seperti itu di hadapan wanita.

Eh tapi tunggu, dia bebas dong mau melakukan apapun kan aku sekarang istrinya. Mana ada dia merasa malu, huuh gumam Maira dalam hatinya.

Pas setelah Adzan Magrib berkumandang yang terdengar dari ponsel mereka berdua, mobil mereka memasuki terminal 3 bandara Soetta.

"Mai, kakak shalat dulu ya... kamu mau tunggu dimana?" tanya Azzam setelah selesai memarkirkan mobilnya.

"Tunggu di sini aja deh Maira males keluar... nanti sendirian lagi kaya orang ilang"

"Yaudah tunggu yaa kakak solat dulu" Azzam keluar dari mobil dan menuju mushola. Semntara Maira sudah sibuk dengan ponselnya, berselancar di media sosialnya.

***

Azzam Pov

Setelah selesai solat magrib sekaligus safar Aku langsung bergegas menemui Maira, takut kalau dia bosan ditinggal sendirian di dalam mobil. Ternyata dugaan ku salah, dengan jarak 3 meter aku bisa mendengar suara cekikikan Maira yang berada di dalam mobil. Dari kaca depan pun telihat Maira sedang tetawa sambil memegangi ponselnya yang menyala terang.

"Yaampun apa coba yang dia lihat sampai tetawa begitu"

Aku mendekati Maira dari pintu samping, tetapi Maira tetap tidak memperhatikan gerakan ku. Aku mengintip dari kaca apa yang sebenarnya Maira lakukan, ah ternyata hanya video call tapi kenapa sampai terbahak-bahak? Apa mungkin sedang menertawakan ku? Hmmm, itu sepertinya tidak mungkin. Kenapa tingkat percaya diriku semakin tinggi jika menyangkut Maira, huuuh. Ku ketuk kaca jendelanya, tuk-tuk-tuk, dia menoleh langsung menurunkan kaca jendelanya.

"Kakak udah selesai? Kenapa engga masuk?" tanyanya setelah kaca itu terbuka.

"Ehmm engga papa" jawabku, ternyata dia belum mematikan video callnya.

"Hai pak bos... makasih ya oleh-olehnya..." suara wanita yang terdengar dai ponsel Maira. Ah anak ini ternyata sudah bercerita pada teman-temannya.

"Oiya say hi kak... ini Rena sahabat dari jaman orok hahaha" Maira menghadapkan ponselnya ke arah ku. Ekspresiku jangan ditanya... gelagapan seperti maling ketahuan mencuri.

"Eh hai Rena, iya sama-sama semoga suka yaa itu yang milih semua oleh-olehnya Maira" Jawabku tersenyum simpul.

"Hehehe iya kak thank you" dia tersenyum, kemudian Maira mengambil alih percakapn lagi.

"Udah dulu ya beb... gue mau nganter kak Azzam nih bentar lagi boarding. Assalamualaikum..."

"Waalaikum salam" jawab Rena dari sebrang telepon. Klik, Maira memutuskan panggilannya.

"Ayuk kak ke dalem... bentar lagi boardingkan?" Aku menganggukkan kepala, Maira mengambil tas ku dan mengambil kunci mobil yang masih tertancap di sana.

"Sini Mai biar kakak aja yang bawa tasnya, nanti malah lupa lagi..." Maira memberikan tasku, lalu kami berjalan masuk ke dalam.

"Mai kamu jangan kangen kakak ya... kakak cuma 4 hari kok di Malay" Ucapku stelah sampai di depan area check in. Maira malah tertawa cekikikan, membuatku gemas. Kutangkupkan kedua tanganku pada mukanya, sampai pipi chubby itu semakin menonjol.

"Kaa..kkk lepasin ih... malu diliat orang" ucapnya dengan aksen mulut yang membulat. Akhirnya ku lepaskan tangkupan itu.

"Iya iyaaa... tenang aja Maira ga bakal kangen, lagi juga kakak bukan 3 kali lebaran ga pulang-pulang" imbuhnya, sepertinya aku pernah mendengar kalimat akhirnya dimana yaa? Ah astaga itu lagu bang toyib. Aku bekap mulutku menahan tawa.

"Memang aku bukan bang toyib Maira... tapi aku Abang Azzam yang siap melanjutkan hidup bersamamu"

"Halah gombal. udah sana ih buruan nanti ketinggalan aja" gerutunya. Ku dekatkan tubuhku padanya dan hap ku peluk tubuh itu. Masa bodoh dengan orang-orang yang menatap kami, yang penting aku bisa melepas rindu untuk beberapa waktu yang akan datang.

"Kak... malu ih di tempat umum" Dia berusaha melepaskan pelukanku, ah baiklah aku juga sudah merasa malu, bukan malu karena memeluk Maira tapi malu karena Maira tidak membalas pelukanku. Akhirnya ku lepaskan pelukan itu sebagai gantinya ku kecup keningnya. Sepertinya aku memang sudah benar-benar gila, seorang Azzam takluk pada wanita yang lebih muda darinya. Hah, ini sama sekali tidak masuk dalam ekspektasiku.

"Sudah kak.. buruan kakak masuk!" perintahnya

"Oke baiklah... ingat jangan nakal! kakak pergi dulu yaaa.... Assalamualaikum" Maira menyalami tanganku dan mengecup punggung tanganku dengan takzim, ah membuat dadaku bergemuruh.

"Waalaikum salam.. kakak hati-hati ya...." ucapnya kemudian mendorongku untuk masuk ke boarding room. Ku lihat tangannya sudah melambai-lambai tapi tidak lama karena dia segera membalikkan badannya dan pergi.

Tak lama suara anouncement terdengar aku buru-buru naik ke pesawat. Setelah aku duduk disana aku baru tersadar jika tidak memiliki nomor telepon Maira. Arghhhhh tunggu kenapa aku sampai lupa...  Aku merutuki kebo**hanku. Ah, yasudahlah besok pagi saja aku minta nomornya pada mama. Sekarang waktunya istirahat untuk waktu yang agak panjang ini.

***

Happy Tuesday, semoga sisa hari ini menyenangkan yaa guys:)

1
Rabiatul Addawiyah
Lanjut thor
Hestri Surya
lanjuuut..
Dwi Amini
akhirnya up lg,,lanju kak
Wida Listiani
lanjut....
Chikko Yuan
akhirnya nongol....
Nurularswar
Alhamdulillah, terimakasih udah update kak
Rahmayani
akhirnya muncul juga,,,,,
Sriandra Can Cann
aku nungguin thorr😘😘😘😘
Sari Rahayu
ini udah ga dilanjut lg kah tor?
Chikko Yuan
kok gak up up ???
Chikko Yuan
ini ceritanya kapan up thor???
Faza Alila
kok blm up thor
Wida Listiani
smg sehat terus ya...lanjut ..
Dwi Amini
semoga sehat selalu thor,,ditunggu lanjutanya
Rabiatul Addawiyah
semoga sehat terus ya thor... biar bisa up tiap hari 😁
Purwanti Inung
lamaa bener upnya....
Yayah Armand S
knp gak pernah up thor
Dwi Amini
ditunggu up ny thor
Fitria Berkisah
seruuuu
Wida Listiani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!