Karya asli!!!
on-Going
Salah satu Sovereign tertinggi di Alam Semesta yang Tak Terbatas ini, ia segera menjalani Jalan menuju Dao tertinggi di alamnya, mereka mengetahui dari catatan kuno, jika seseorang bisa melewati batas Penguasa Tertinggi, ia bisa menjadi God King.
Namun siapa sangka, Wanita yang ia anggap mencintainya, dikhianati olehnya. Saat itu ia hendak menerobos melewati batas itu, namun saat menerobos ia sempat terdampak oleh Tribulasi Hukum. Saat itulah kesempatan wanita itu menusuknya dengan Kabut beracun yang asalnya tidak diketahui, bahkan melukai Primordialnya.
Jadi, sisa jiwanya ia bereinkarnasi menjadi pangeran muda dengan nama yang sama "Huang Di", namun jalan takdir yang ia jalankan sangat bertengtangan dengan sifat Ke Angkuhannya sebagai Absolute. Bagaimana perjalanannya menjalankan takdir ini?
Di kebaradaan Dimensional yang lebih tinggi bahkan God King itu hanya seperti Dewa biasa!
"Jika Takdir mempermainkanku! aku akan memandang rendah Semuanya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arceusssxara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 integration Dao - hukum baru yang menguncang Dunia asal
Cahaya kelabu yang menyelubungi tubuh Huang Di akhirnya menghilang.
Saat matanya terbuka, ia menemukan dirinya berdiri di atas hamparan tanah tak bernama—tanah yang tak memiliki ujung, dikelilingi oleh langit berwarna kelam dengan garis-garis cahaya bergelombang seperti denyut nadi semesta.
Di sini, waktu tidak bergerak secara linear.
Di sini, napas adalah kehendak, dan kehendak adalah hukum.
Dunia Asal.
Tempat di mana segala sesuatu bermula.
Tempat di mana segalanya juga berakhir.
Tubuh Huang Di langsung bergetar hebat. Bukan karena tekanan eksternal, tapi karena jalinan hukum dari dunia fana sebelumnya perlahan melepaskan diri dari raganya. Api Kekacauan Mutlak, Hukum Dimensi, dan semua teknik Void Manifestation mengelupas dari eksistensinya seperti lapisan kulit yang ditanggalkan.
“Aku kembali... dengan tubuh kosong,” gumamnya pelan.
Dao Integration telah dimulai. Di Dunia Asal, tidak ada yang bisa mempertahankan hukum lama. Siapa pun harus membentuk ulang eksistensinya dengan cara yang paling murni—menciptakan hukum pribadi, memahat jalan dao dari awal, bukan mengikuti jejak orang lain.
Langit di atasnya tiba-tiba bergetar.
Sebuah siluet turun dari angkasa—makhluk humanoid setinggi gunung, berjubah kabut kosmik, dengan wajah tertutup topeng yang hanya memiliki satu garis lurus sebagai mata.
“Huang Di.”
Suara itu menggema tidak hanya di ruang, tetapi di dalam jiwanya sendiri.
“Karena kau melangkah ke Dunia Asal... maka kesaksian pertama dimulai.”
Tanpa peringatan, medan di sekelilingnya berubah. Daratan berganti menjadi lautan pusaran hukum, dan langit berubah menjadi mata tak terhitung jumlahnya, mengamati langkah pertamanya.
“Bentuklah Dao-mu sendiri... atau lenyaplah sebagai pecahan waktu.”
Dari tubuh Huang Di, muncul cahaya samar—bukan kekuatan, tapi inti kehendak. Sebuah nyala kecil dari Kekosongan Sejati yang belum berbentuk.
Ia duduk bersila, mata terpejam, dan mulai menggali inti terdalam eksistensinya. Apa arti kekuatan? Apa arti kehendak?
Di tengah kehampaan, ia melihat bayangan dirinya terdahulu—Huang Di yang perkasa, yang tak terkalahkan di dunia fana.
Tapi semua itu kini hanyalah ilusi.
“Jika aku ingin menjadi yang tertinggi... maka aku tak akan meniru siapa pun. Aku akan menciptakan hukum yang belum pernah ada.”
Dan dengan itu, garis pertama terbentuk di ruang sekitarnya. Sebuah dao baru, tanpa nama, namun penuh aura kelahiran.
Ruang kosong di sekeliling Huang Di mulai menyusut, membentuk kubah eksistensi yang tak terlihat oleh makhluk biasa. Di sanalah ia duduk bersila, dalam pusaran hening mutlak, saat hukum-hukum lama mengelupas dan kehendaknya mulai menyalin ulang struktur eksistensialnya.
Namun di balik ketenangan itu—ada lubang.
Sebuah kehampaan.
Api Kekacauan Mutlak, yang selama ini menjadi inti dari semua teknik dan kekuatan Huang Di, telah ditanggalkan oleh sistem hukum Dunia Asal. Ia terputus darinya… terkunci di antara batas realitas yang kini tak dapat dijangkau oleh kekuatan biasa.
Hingga…
“Ding…”
Sebuah suara familiar menggema dalam jiwanya—dingin, namun menyelamatkan.
Sistem.
[Sistem Pemulihan Eksistensi – Diaktifkan.]
Fragmen Energi Tertinggi: Api Kekacauan Mutlak – Terdeteksi di Lapisan Kehampaan Ketiga.]
Otorisasi: Diperoleh kembali oleh Hak Integrasi Mutlak.
Memulai Protokol Pemanggilan Balik…
Langit bergemuruh. Garis retak muncul di atas kubah eksistensi tempat Huang Di duduk.
Dari celah itu, muncul aliran api kelam—bukan merah, bukan biru, melainkan hitam keunguan dengan inti abu-abu yang tampak seperti bintang mati. Api itu berdenyut seperti makhluk hidup, menjerit dan mengamuk, seolah menolak untuk diikat kembali.
Huang Di membuka matanya.
Tatapannya tajam menusuk kehampaan.
Tangannya terangkat perlahan, dua jari membentuk segel Void, dan dalam satu tarikan napas, ia mengucap:
“Kembali.”
Api itu meraung. Seluruh dunia bergetar. Namun sistem memaksa jalur pengembalian terbuka sepenuhnya:
[Otorisasi Penuh Diberikan. Menggabungkan kembali Api Kekacauan Mutlak ke dalam inti Dao.]
[Menyesuaikan struktur hukum Dunia Asal: Variabel baru—Dao Kekacauan Murni.]
Api Kekacauan Mutlak menyatu kembali ke dada Huang Di, membentuk simbol mandala yang rumit dari tiga unsur: Void, Chaos, dan Origin. Simbol itu tak hanya menyala, tetapi memancar dalam delapan arah, memaksa ruang sekitar untuk menyesuaikan eksistensinya sesuai dengan hukum baru yang ia bentuk.
Seketika, tekanan luar biasa menyelimuti seluruh area.
Para entitas dari Dunia Asal yang tersembunyi di balik lapisan-lapisan dimensi memperhatikan dengan waspada. Tak banyak yang mampu memaksa Dao Dunia Asal menyesuaikan diri—dan hanya segelintir makhluk dalam sejarah yang bisa menciptakan hukum pribadi yang tidak ditolak oleh dunia itu.
Namun Huang Di…
Ia tidak sekadar menciptakan hukum.
Ia memaksa dunia menerima keberadaannya kembali sebagai poros.
Huang Di mengembuskan napas. Api yang menyala di sekeliling tubuhnya kini tidak lagi mengamuk. Ia patuh. Ia tunduk. Karena kini, ia bukan lagi manifestasi dari kehancuran…
Melainkan fondasi bagi hukum baru.
Huang Di telah menetapkan langkah pertama Dao-nya—Dao Kekacauan Murni.
Namun ia tahu ini baru permulaan. Di hadapannya terbentang sembilan tingkat dimensi Dunia Asal, masing-masing dijaga oleh eksistensi puncak, dan untuk menyusun Dao-nya sepenuhnya, ia harus menaklukkan setiap tingkatan itu.
Dan di balik semua itu…
Seseorang menunggunya.
Yang pernah mencuri jiwanya.
Yang kini memegang separuh kebenaran semesta.
Setelah Api Kekacauan Mutlak menyatu kembali, tubuh Huang Di memancarkan aura yang mengguncangkan batas ruang-waktu. Tapi belum selesai. Di tengah pusaran energi itu, satu kekuatan lain berdenyut… menyimpan kehendak tertinggi yang selama ini tersembunyi di balik lapisan pemahamannya:
Sovereign Eye of Law.
Mata yang bukan sekadar melihat.
Tapi menentukan.
[Deteksi: Sovereign Eye of Law belum terintegrasi penuh.]
[Status: Tertahan oleh batasan hukum Dunia Asal.]
[Solusi: Memulai Pemurnian Inti Mata Hukum.]
Tubuh Huang Di bergetar. Dahinya memanas, lalu terbuka dengan retakan halus di antara alisnya. Dari sana, cahaya ungu keperakan memancar—berputar seperti pusaran bintang yang tak memiliki pusat.
“Sovereign Eye, bangkitlah…” ucapnya lirih.
Dari celah tersebut, sebuah mata vertikal perlahan terbuka. Mata itu tampak seperti permukaan cermin surgawi, namun di dalamnya terdapat hukum-hukum yang terfragmentasi: hukum waktu, hukum kehidupan, hukum kehancuran, dan bahkan hukum asal mula eksistensi itu sendiri.
Namun di antara semua itu…
Ada satu hukum yang tak dapat dipecahkan oleh siapapun:
Hukum Mutlak Kedaulatan.
Seketika, sistem beraksi.
[Menggabungkan Sovereign Eye ke dalam Dao Kekacauan Murni.]
[Menyesuaikan parameter integrasi: Strukturisasi Hukum Tingkat Mutlak – Diinisiasi.]
Langit Dunia Asal berguncang.
Ratusan ribu simbol hukum mulai mengalir menuju tubuh Huang Di dari segala arah. Simbol-simbol itu menjerit, berusaha menolak kekuatan integrasi yang melawan tatanan eksistensial tertinggi.
Namun Sovereign Eye hanya melirik…
Dan simbol-simbol itu terdiam.
Luluh.
Tunduk.
“Dengan mata ini, aku tak melihat dunia… tapi dunia yang melihat melalui aku.”
Suara Huang Di menggema, dan dengan satu kedipan matanya, hukum ruang patah, hukum waktu membeku, dan hukum jiwa terurai. Tidak satu pun kekuatan di sekitarnya bisa bertahan di hadapan Sovereign Eye of Law yang kini telah berevolusi menjadi bentuk barunya:
[SOVEREIGN EYE OF ABSOLUTE LAW – AKTIF.]
[Kemampuan: Hak Mutlak untuk Mendefinisikan, Mengubah, dan Menetapkan Ulang Hukum Apapun di dalam Ranah Pandangan.]
Mata itu kini bukan sekadar alat untuk memahami hukum.
Ia adalah hukum itu sendiri.
Dan dalam integrasinya, Huang Di tak lagi bergantung pada hukum dunia mana pun. Ia menulis hukum pribadi yang bahkan tidak bisa ditolak oleh struktur tertinggi Dunia Asal.
Simbol integrasi terbentuk.
Tiga pilar utama Dao Kekacauan Murni akhirnya terkunci:
Void Origin – Ketidakadaan yang melahirkan segalanya.
Chaos Flame – Api awal mula yang membakar semua batas.
Sovereign Eye – Penglihatan yang menetapkan semua hukum.
[Integrasi Tahap Kedua Selesai.]
[Stabilitas Esensi: 62%]
[Kekuatan Aktif: Sovereign Chaos Realm]
Langit di atas Dunia Asal mulai menampakkan Celah Takdir, tanda bahwa eksistensi baru tengah ditulis ulang di bawah pengawasan entitas yang belum pernah ada sebelumnya.
Sementara itu…
Di kejauhan…
Seorang entitas berjubah putih berdiri di atas Gerbang Kehendak Kosmik, menatap langit yang retak dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
“Jadi… kau yang akan mematahkan Langit Sembilan dan menulis hukum baru?”
“Huang Di…”
gaassss....