Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.
Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.
Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.
Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Aku jatuh cinta
Hugo terus memperhatikan Ana, ia melihat Livia menggandeng lengan Ana dan membawanya melangkah bersama. Ada keraguan di hatinya sesaat melihat sikap ramah Livia yang tampak tak biasa di matanya, tapi senyum lembut Ana berhasil membuat dirinya sedikit lebih tenang. Hugo lalu bergabung bersama teman-temannya dan dalam sekejap larut ke dalam canda juga tawa bersama setelah sekian lama tak bersua.
Livia menggandeng lengan Ana, mereka berjalan melewati banyak meja dan berhenti di salah satu meja yang berada di tengah-tengah ruangan. Livia melepas pegangan tangannya lalu menyuruh Ana duduk di sana. Ana mengangguk ramah pada sekumpulan wanita-wanita cantik berpenampilan wah dan memesona di depannya itu. Mereka menoleh padanya secara bersamaan, hanya sesaat kemudian berpaling kembali. Salah seorang dari mereka dengan gerakan tangan tanpa bersuara menawarkan tempat kosong di sebelahnya.
“Terima kasih.” Ana tersenyum lalu duduk manis bersama mereka. Begitu saja, dan setelahnya mereka tak bertanya apa-apa lagi padanya.
Ana mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan melihat semua orang di tempat itu tengah fokus menatap ke arah panggung utama di mana sang pembawa acara tengah bicara dengan salah satu pengisi acara.
Matanya menatap lurus ke meja yang ada di bagian pojok dekat dengan pintu keluar sebelah kanan, di sana Hugo dan teman-temannya tengah tertawa bersama. Ana tersenyum melihatnya, dan saat mata Hugo menangkap pandangannya, lelaki itu mengedipkan sebelah matanya. Ana tersipu malu dan menolehkan wajahnya ke arah lain.
“Livia,” panggil Ana pada Livia yang duduk di deretan depan, tapi wanita itu seperti tak mendengar panggilannya padahal jarak mereka hanya terhalang oleh meja. Ana mengernyit melihat Livia malah berdiri membelakanginya dengan sebelah tangan merangkul bahu temannya.
“Siapa sih, dia?” Salah satu dari mereka berbisik dan bertanya pada Livia dengan menarik lengannya. Alih-alih mengenalkan Ana pada teman-temannya, Livia malah balas berbisik lalu tersenyum miring melirik pada Ana sambil menutup mulutnya.
“Benarkah? Bagaimana bisa, pasti dia melakukan hal bodoh untuk menjerat Hugo.”
Ana jelas mendengar bisik-bisik mereka, dan ia merasa jadi orang yang sedang diperbincangkan apalagi setelah mendengar nama Hugo disebut lalu pandangan kedua wanita itu beralih menatapnya sinis.
“Aku yakin seperti itu, apa Kau tak melihat bagaimana penampilannya. Huh, norak banget!” cibir Livia melirik sekilas pada Ana.
Ana mulai merasa tak nyaman dengan sikap Livia. Wanita itu yang mengajaknya bergabung bersama teman-temannya, tapi malah tak peduli padanya dan terlihat sibuk menyapa dan bicara tentang dirinya pada teman-temannya. Ana merasa begitu asing di tengah-tengah mereka, tak ada yang mengajak bicara bahkan hanya sekedar bertanya padanya siapa namanya.
Ana menghela napas, ia memutuskan untuk beranjak dari sana beralasan hendak pergi ke toilet. Toh niatnya tadi hanya sekedar ingin menyapa teman-teman Livia. Lalu seseorang datang dan berdiri di sampingnya, menahan langkahnya. Seorang wanita cantik mengenakan gaun seksieh warna hitam yang memperlihatkan punggung mulus juga belahan di bagian da danya.
“Hai,” sapa wanita itu seraya mengulurkan jemari tangannya yang putih terawat pada Ana. “Apa Aku mengenalmu?”
Awalnya Ana bingung, ia diam sesaat. Tapi wanita cantik itu menggerak-gerakkan tangannya dengan gaya lucu di depannya. Ana tersadar dan tersenyum senang, akhirnya ada juga yang datang menyapanya. Dengan antusias Ana menjabat erat tangan si wanita.
“Hai, Aku Ana.” Sapa Ana ramah dengan tersenyum lebar.
“Hmm, jadi Kau yang bernama Ana itu?”
“Iya, Aku Ana. Boleh Aku tahu siapa namamu?” Ana balas bertanya.
Wanita itu menarik pelan tangannya dari genggaman Ana, lalu menatap Ana dari kepala hingga ujung kaki seolah sedang menilai penampilannya. “Lumayan,” ucapnya balas tersenyum miring.
Ana menaikkan satu alisnya, “Apa Kau sedang menilai penampilanku?”
Wanita itu mengibaskan tangannya di depan Ana, lalu menggerakkan telunjuknya memberi isyarat pada Ana untuk mendekat padanya. “Aku Lea. Apa benar Kau tadi datang bersama seorang lelaki tampan bernama Hugo Denis?”
Ana mengernyit, kenapa wanita-wanita di sini terus menyebut nama Hugo. Lea menjawil lengannya lalu mengarahkan telunjuknya ke arah Hugo. “Tenang saja, Aku dan Hugo adalah bestie sejak lama. Kau aman bersamaku.”
“Oh, ya?”
Lea mengangguk, “Hayuk, gabung bersamaku saja. Aku tahu, Kau pasti tak nyaman bersama dengan mereka.”
Ana tersenyum, ia menurut saat Lea mengajaknya bergabung di mejanya yang hanya berisi beberapa orang saja. Sempat dilihatnya Livia memberengut sebal melihat mereka berdua, tapi Lea seperti tak peduli. “Gantian, memang cuman dia yang bisa cuek sama orang. Kesian deh lo!” olok Lea melenggang sambil menggoyangkan jarinya, membuat Ana harus menahan senyum melihatnya.
“Bukankah kalian saling mengenal dengan baik, tapi kenapa sikapmu padanya seperti itu?” tanya Ana penasaran.
“Livia sudah sejak lama mengincar Hugo, sayangnya Hugo tak pernah menanggapi dan hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Aku pikir dia akan menyerah setelah sekian lama, tapi ternyata tebakanku salah. Livia masih terus mengejar Hugo sampai sekarang, dan belum akan berhenti sebelum melihat Hugo menikah dengan wanita pilihannya.” Ungkap Lea.
“Kau sepertinya mengenal mereka berdua dengan sangat baik?” tanya Ana, ia mengangguk ketika pelayan datang dan menawarinya minuman yang sama dengan Lea.
Lea mengangkat gelas minumnya dan menye sapnya pelan. Ia letakkan kembali ke atas meja sebelum melanjutkan bicaranya pada Ana. “Aku mengenal Hugo saat kami kuliah dan mengambil jurusan yang sama. Aku pikir Hugo bercanda ingin mengenalkan tunangannya padaku malam ini, dia menghubungiku lewat telepon sore tadi dan memintaku untuk menemuimu. Dia bilang namanya Ana.”
Wajah Ana merona mendengar cerita Lea barusan, mengatakan kalau dirinya adalah tunangan laki-laki itu.
“Aku kasih tahu, ya. Lebih baik jangan dekat-dekat dengan Livia, dia sering membuat ulah yang aneh-aneh agar bisa menarik perhatian Hugo. Dia selalu marah setiap kali Hugo dekat dengan wanita lain. Mamanya juga sama, dan sikapnya jadi menakutkan karena berani mengancam orang lain untuk tidak mendekati Hugo. Aneh bukan, jelas-jelas ditolak tapi masih saja ngeyel.” Jelas Lea.
“Tenang saja, Aku yakin bisa menanganinya dengan baik.” Sahut Ana kalem. “Aku juga tidak takut padanya, buktinya Aku masih tetap ada di sini.”
“Yang penting, Aku sudah memperingatkanmu. Lebih baik jangan berurusan dengannya, baiknya yang waras mengalah dari pada malu-maluin.”
Ana tertawa mendengarnya, obrolan mereka berlanjut dan Ana tampak senang berkenalan dengan Lea. Teman Hugo yang berprofesi sebagai model dan memiliki usaha kafe yang menjual kopi dan kue kekinian. Begitu asyik mereka berbincang hingga Ana tak menyadari Hugo sudah berada di dekat meja mereka, berdiri bersama si pembawa acara.
“Ada permintaan dari teman-teman di meja sana, ya. Yeay, tepuk tangan dulu buat pasangan kita malam ini.” Ujar si pembawa acara.
Ana tersentak dan langsung menoleh kaget begitu melihat Hugo di dekatnya. Lebih terkejut lagi saat Hugo menundukkan wajah dan mengecup pucuk kepalanya di hadapan semua orang.
“Dia Ana, lengkapnya Renjana Maheswara. Tunanganku, calon istriku. Sebentar lagi kami menikah, dan Aku ingin menyanyi untuknya sebagai ungkapan hatiku yang sekian lama terpendam padanya.”
Ana menggigit bibir, tak menyangka Hugo akan bicara tentang hubungan mereka. Ana membuka mulut, dan menggelengkan kepala. Tapi Hugo tak mengindahkan malah menggerakkan jarinya di depan wajah Ana, memintanya untuk diam. Ia lalu melanjutkan bicaranya.
“Hubungan kami layaknya pasangan pada umumnya, putus nyambung. Satu hal yang harus kalian tahu, kami pernah menikah empat tahun yang lalu. Tapi pernikahan kami hanya bertahan satu tahun. Kami berpisah dan takdir mempertemukan kami lagi. Dan Aku sadar, ternyata selama ini Aku salah menilai perasaanku padanya. Aku mencintainya, dan baru menyadarinya setelah perpisahan kami."
Semua orang terdiam, dan semua mata sedang tertuju pada mereka berdua. Lea menepuk tangan Ana dan tersenyum padanya, ia bisa melihat wajah Ana yang berubah pucat. Hugo tahu itu, ia meraih tangan Ana, mengecupnya lembut lalu membawanya berjalan ke atas panggung diiringi tepuk tangan meriah para tamu yang terkesima oleh pengakuan Hugo barusan.
Di sudut ruangan, Livia mengepalkan tangannya. Tak menyangka kalau wanita masa lalu Hugo adalah Ana. Dengan hati penuh kecewa ia keluar ruangan dan tak kembali lagi hingga lagu Hugo selesai dinyanyikan.
Awalnya kutak mengerti apa yang sedang kurasakan, segalanya berubah dan rasa rindu itu pun ada. Sejak kau hadir di setiap malam di tidurku, aku tahu sesuatu sedang terjadi padaku.
Sudah sekian lama kualami pedih putus cinta, dan mulai terbiasa hidup sendiri tanpa asmara. Dan hadirmu membawa cinta sembuhkan lukaku, kau berbeda dari yang kukira.
Aku jatuh cinta kepada dirinya, sungguh-sungguh cinta oh apa adanya. Tak pernah kuragu, namun tetap selalu menunggu. Sungguh aku jatuh cinta kepadanya.
Coba-coba dengarkan apa yang ingin aku katakan, yang selama ini sungguh telah lama terpendam. Aku tak percaya membuatku tak berdaya, tuk ungkapkan apa yang kurasa.
Aku jatuh cinta kepadanya ...
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹