SPIN OFF Ayah Untuk Safira
Dihadapkan dengan kenyataan bahwa status dirinya merupakan anak rahasia, membuat Safira harus extra hati - hati untuk bersikap dengan seorang pria. Belum lagi sikap sang ayah yang seolah enggan menganggap keberadaannya. Semakin membuat Safira membenci sosok ayah biologisnya.
Beruntung Safira masih memiliki sosok laki - laki yang bisa ia jadikan sosok panutan. Laki - laki yang nantinya akan menjadi role mode nya untuk mencari tambatan hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrijawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapture 25.
Malam ini, sesuai permintaan Bima. Safira sedikit merias wajahnya dengan make up tipis namun mampu membuat wajahnya semakin terlihat cantik. Ia mengenakan midi dress selutut warna navy dipadukan dengan sneakers putih. Rambut panjangnya di kuncir setengah dengan poni yang dibiarkan menutupi sebagian keningnya.
Safira termasuk gadis yang tak terlalu feminin. Ia lebih suka mengenakan kaos atau kemeja oversize. Namun untuk malam ini, khusus untuk pertemuannya dengan Bima, gadis cantik itu mengenakan gaun.
"Cantik banget dedek Fia. Jadi pengen Babang karungin." celutuk Bima yang langsung mendapat tatapan tajam dari Rendy.
"Canda, Om. Santai. Jangan dibawa serius. Peace." ucap pria itu lagi sambil tertawa pelan.
"Bunda mana, Pa ?" tanya Safira sambil melongokan lehernya ke arah ruang keluarga.
"Bunda lagi nenangin Skye. Ngeliat Bima disini dia jadi ngerengek pengen ikut. Gak lucu 'kan kalo nanti dia ikut kalian dan ngerusak moment yang udah dirancang sama BimBim." jelas Rendy membuat putri semata wayangnya itu mengangguk paham.
"Ya gak papa, sih, Om. Jatuhnya 'kan nanti kalo orang liat kita kayak keluarga bahagia." celetuk Bima sambil tertawa pelan.
"Kuliah yang bener. Baru mikiri keluarga bahagia."
"Sip, Om. Kalo itu gak usah diragukan." ucap Bima mantap. "Kalo gitu... Izin bawa anak gadisnya dulu, ya, Om."
Tangan Bima terulur untuk menyalami tangan Randy. Lalu mengulurkan tangannya lagi pada Safira. "Ayo, Tuan Putri. Kita kencan dulu. Babay Baginda Raja." selorohnya sambil melambaikan tangan.
"Fia pergi dulu, Papa." ucap Safira yang juga ikut melambaikan tangannya.
"Jaga baik - baik anak gadis saya. Kalo sampek ada yang lecet..."
"Langsung dinikahkan 'kan, Om ?" sela Bima yang langsung mendapat tatapan tajam dari Rendy.
"Jangan macem - macem kamu." ancam Rendy seloroh.
"Ampun, Om. Mana berani saya macem - macem. Semacem aja, Om kalo sama Fia." sahutnya sambil berlari kecil menyusul Safira yang sudah masuk ke dalam mobilnya lebih dulu.
"Jangan pulang malem - malem." pesan Rendy
"Pulang subuh, kok, Om." pekik Bima membuat Rendy mengumpat kesal di tempatnya.
"Berandal satu itu." ucap Rendy sambil menatap mobil Bima yang telah melewati gerbang kediamannya. "Semoga selalu bisa membuat Fira bahagia."
"Mereka udah pergi ?"
Rendy menoleh saat mendengar suara istrinya. "Udah. Baru aja. Skye gimana ?" tanyanya sambil merangkul pinggang istrinya
"Lagi video call sama satria. Jadi lupa kalo ada Bima." sahut Risa. Kepalanya menyandar pada bahu kekar suaminya. "Gak terasa, ya. Safira udah segede ini. Papanya aja sampek udah mulai was - was buat milih calon mantu."
Rendy tertawa pelan mendengar sindiran sang istri. Ia memang sangat protektif dengan putri sambungnya itu. Tentu ia tak ingin pria sembarangan yang menjadi pendampingnya kelak.
"Sejauh ini BimBim, sih udah lolos seleksi. Tinggal mantau aja." sahut Rendy membuat sang istri tertawa pelan.
"Aku boleh minta tolong, gak ?"
"Minta tolong apa, sayang ?" tanya Rendy sambil mendekap erat istrinya. "Kita masuk, yuk. Ngobrol di dalem aja."
"Cari tau siapa Arsena. Fira udah tanya Arya tentang Arsena. Tapi kayaknya Arya juga gak tau pasti. Soalnya Arya bilang kalo Arsena bukan adiknya. Tapi feeling aku bilang kalo mereka itu masih saudara. Mungkin aja Arya gak tau tentang adiknya yang lain. Kamu tau sendiri 'kan gimana Arya ? Dia gak akan peduli tentang hal - hal yang kayak gini. Apalagi menyangkut Fira."
Rendy mendengarkan cerita istrinya dengan baik. Bukan hal yang sulit baginya mencari tahu tentang suatu hal. Mengingat pekerjaan dan koneksinya yang sang luas hingga memudahkannya mendapat informasi.
"Aku usahain, ya." ucapnya seraya mengecup pelipis sang istri.
***
"Tumben ngajak ke resto ?" tanya Safira saat mobil yang dikemudikan Bima memasukan pelataran sebuah restoran mewah.
Sebelum menjawab, Bima melirik gadis cantik di sampingnya seraya tersenyum manis. "Menyesuaikan sama pakaian kamu, Fi. Gak lucu 'kan kalo aku ngajak kamu makan di pinggir jalan."
Pria tampan itu membuka pintu kemudi untuk keluar. Setelahnya berlari memutar untuk membuka pintu tempat Safira duduk.
"Silahkan, princess." ucap Bima sambil mengulurkan tangannya ke arah keluar.
Safira tertawa pelan melihat tingkah pria tersebut. "Cosplay jadi pengawal ?"
"Pengawal pribadi sampai akhir nanti. Assekk." sahut Bima sambil tertawa pelan.
Pria itu lantas mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Safira. Menggenggam erat tangan lembut yang begitu kecil dalam genggamannya.
"Romantis gak tempatnya ?" tanya Bima saat mereka sampai di lantai dua.
Kafe bertema outdoor dengan banyak lampu temaram yang menggantung. Beberapa tanaman hias berada disudut ruang terbuka.
"Lumayanlah." sahut Safira membuat pria disamping mendengus sebal.
Safira tertawa pelan melihat ekspresi menggemaskan Bima. "Ini kita gak duduk ? Berdiri aja gitu ?" tanyanya seloroh.
"Iya. Berdiri aja biar hemat biaya." sahut Bima asal.
Tak seperti ucapannya, pria itu menuntun Safira untuk duduk di kursi paling sudut dekat pembatas.
"Kita duduk disini aja. Kalo misal kamu mual terus pengen muntah karena liat aku, kamu bisa langsung muntahin ke bawah. Dan dari sini aku juga bisa langsung mantau mobil aku. Masih aman atau enggak."
Safira menggelakan tawanya. "Prepare bangetnya sama tempatnya."
"Babang Bima gitu, loh." sahut Bima sambil menepuk - nepuk dadanya bangga.
Seorang pelayan datang dan menyerahkan list menu ke meja mereka.
"Chicken steak ? Atau Baked salmon with asparagus ? Biasanya kamu paling suka sama asparagus 'kan ? Ini pakek garlic lemon butter sauce. Mau ?" tanya Bima pada Safira membacakan menu ditangannya.
Safira mengangguk pelan. "Itu aja, deh. Minumnya aku mau lemon squash."
"Oke." Bima langsung menoleh pada pelayan. "Udah di catet, Mas ?"
Pelayanan pria itu tersenyum ramah. "Saya ulangi, ya, Mas. Baked salmon with asparagus and garlic lemon butter sauce dua. Minumannya lemon squash dua."
"Itu aja, Fi ?" tanya Bima lagi sebelum mengiyakan ucapan pelayan tersebut.
Safira hanya mengangguk pelan menatap Bima lalu beralih pada pelayan pria tersebut.
"Baik, Mas, Mbak. Mohon ditunggu sebentar pesanannya. Saya permisi dulu."
"Kenapa liatin aku terus ? Terpesona, ya sama ketampanan Babang Bima ? Ngaku lo ?" tanya Bima seraya menaik turunkan kedua alisnya.
"Iya. Malam ini kamu ganteng. Keliatan dewasanya. Tapi gak sama kelakuannya."
Wajah Bima seketika memberengut sebal. "Ibarat aku udah kamu naikkan tinggi banget. Terus tiba - tiba kamu hempasin aku ke bumi. Tega kamu, Fi."
Safira tertawa pelan. "Aku udah ngomong jujur loh, Bim. Kamu emang ganteng. Ganteng banget malah. Ya, meskipun masih gantengan Papa, sih."
"Udah, deh, Fi. Males banget aku denger pujian kamu." sahut Bima kesal.
Safira meraih tangan pria dihadapannya dan menggenggamnya lembut. "Jangan ngambek, dong Abang Bima yang ganteng. Nanti jeleknya keliatan. Dede Fia jadi ikutan sedih."
Bima mengulum senyumannya. Mana bisa ia berlama - lama marah pada gadis cantik itu. Bima menarik tangan Safira dan mendekatkannya ke bibir. Mengecup lembut punggung tangan gadis cantik itu lalu mengulas senyuman.
"Sayang pakek banget sama Safira Mazayya."