Yang dikejar tak akan pernah lari. Walaupun tidak di cari namun ia akan hadir sendiri. itulah Jodoh!!
Siapakah yang akan menjadi jodoh Mila?
Dengan siapakah dia berdiri di pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERASAAN ANEH
Setibanya di dalam kamar Gilang langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, mengganti baju dengan baju tidur.
Sedangkan Mila entah apa yang sedang di pikirkannya, dia termenung duduk bersandar di tempat tidur. Tanpa terasa air matanya menetes membasahi pipinya.
Gilang memperhatikan Mila kemudian mendekatinya, " kenapa sih?" tanya Gilang.
Mila langsung mengusap air mata di pipinya, kemudian menggeleng-gelengkan kepala sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
Gilang membantu mengusap air mata yang masih tersisa di pipi istrinya itu dengan lembut, "gak mau cerita?" ucapnya dengan hangat, Gilang menyentuh dagu Mila mendongakkannya.
Mila menatapnya kemudian berkata, "aku teringat ayah dan ibuku juga nenek" ucapnya lalu menunduk lagi, tanpa terasa air matanya mengalir kembali bahkan semakin deras.
"Tiba-tiba" ucap Gilang yang heran tiba-tiba saja Mila memikirkan orang tua yang sudah lama meninggal.
"Melihat perlakuan Papah dan Mamah kepadaku, membuatku menjadi serakah memikirkan seandainya Ayah dan Ibuku masih hidup maka aku akan merasakan kasih sayang seperti yang diberikan orang tuamu kan, bahkan bisa lebih" ujar Mila.
Gilang masih memperhatikan gadis yang berada dihadapanya ini yang dia kenal sebagai gadis yang periang, optimis dan jarang mengeluh. Bahkan dia jarang melihatnya menangis seperti ini.
Mila memang wanita yang selalu berpikiran positif walaupun dia lahir di keluarga yang hidup dengan sederhana, ditinggalkan oleh kedua orang tuanya saat dia masih sangat kecil, dan dibesarkan hanya oleh seorang nenek, hidup dengan pas-pasan namun dia tidak pernah meratapi hidupnya, dia selalu bersyukur, selalu optimis dan tak pernah menunjukkan dirinya yang lemah.
Awalnya Gilang berpikir bahwa Mila memang wanita yang tegar tapi melihatnya seperti ini memberitahukannya bahwa Mila juga hanya manusia biasa yang mempunya sisi rapuh, yang tak pernah dia perlihatkan mungkin takkan mau dia perlihatkan.Karena Mila tidak suka dikasihani oleh orang lain.
"Kamu akan terus mendapatkan kasih sayang orang tuaku Mila" ucap Gilang pada Mila, membuat Mila menatap wajah Gilang.
"Aku takut Gilang, aku takut jika ternyata kita tak ditakdirkan untuk bersama, maka aku mungkin harus pergi dan tak bisa merasakan kasih sayang mereka lagi" ucap Mila dalam hatinya yang masih menatap mata Gilang yang juga menatapnya.
Gilang berusaha untuk menenangkan Mila dengan memeluknya tapi di tahan oleh tangan Mila, "Kenapa?" tanya Gilang.
"Aku belum mandi" jawab Mila asal kemudian beranjak ke kamar mandi.
"Jangan terlalu baik sama gue Gilang, gue takut baper"
Setelah selesai memakai pakaian tidurnya Mila keluar dari kamar mandi, dilihatnya Gilang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Gilang" panggil Mila.
"Hm" jawab Gilang yang tak mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Kita balik ke apartemen yuk" ajak Mila.
Gilang menghentikan kegiatannya, menutup laptop dan melepas kacamatanya kemudian menoleh pada Mila, "kenapa lagi?"
"Ya enggak kenapa-kenapa, kan dah lama kita disini, aku juga dah baik-baik aja" jelas Mila. Sebenarnya alasannya adalah karena takut terlalu sayang sama keluarga Gilang kalo tetap terus tinggal di rumah Gilang, dia hanya mencoba untuk menjaga hatinya. Karena jujur saja dia benar-benar tidak tau akan seperti apa pernikahannya nanti dengan Gilang.
"Tadi kamu baru aja bilang senang dengan kasih sayang yang diberikan mamah dan papah, sekarang kok malah pengen balik ke apartemen?"
"Enggak ada hubungannya, kan kita masih bisa kesini" ucap Mila.
"Iya yaudah, kita bilang sama mamah besok, sekarang tidur dulu" pinta Gilang yang langsung naik ketempat tidurnya.
"Gilang" panggil Mila lagi ketika mereka sudah berada di atas tempat tidur.
Gilang baru saja memejamkan matanya, namun mendengar panggilan dari Mila ia kembali membuka mata, "iya" jawabnya
"Kenapa kamu gak suka sama Salsa? Aku liat dia baik, beda sama tante Sonya" jelas Mila.
"Jelas beda lah orang beda gen, diakan ponakan almarhum suaminya"
"Bukan wajahnya maemunah, tapi sifatnya" jawaban Mila membuat Gilang tersenyum.
"Emang kalo cewek baik terus aku harus suka?"
"Ya gak gitu juga, maksudnya kamu beneran gak suka? tadi aku liat kamu akrab banget sampe ketawa-ketawa gitu"
"Emang kalo aku ketawa-ketawa itu artinya aku suka?"
"BODO AMAT" ucap Mila kesal karena tanggapan Gilang yang gak serius, dia membalikkan tubuh membelakangi Gilang kemudian menarik keras bed cover hingga tubuh Gilang tak tertutup.
"Diiiih ngambek" Gilang ikut menarik juga bed cover ke tubuhnya, tak terima Mila kembali menarik lagi bed cover itu untuk menutupi tubuhnya , selama beberapa menit mereka saling tarik menarik dan tidak ada yang mau mengalah.
"Kita mau terus-terusan kayak gini?" tanya Mila.
"Dih siapa yang mulai?"
"Yaudah udahan"
"Bener nih?"
"iya" jawab Mila namun ketika Gilang melemaskan genggaman tangannya pada bed cover Mila menariknya lagi.
Gilang yang sudah siap siaga menahannya, "tuh kan boong kan?" ucapnya.
Mila malah tertawa, merasa malu triknya kebaca oleh Gilang, " yaudah iya, beneran udahan" tapi Mila kembali bohong.
Entah sampai berapa lama mereka seperti itu, sepertinya sampai mereka kelelahan.
"yaudah iya"
"lepas"
"kamu dulu"
"gak mau tar bohong"
"kamu tuh yang bohong"
"enggak"
" bodo"
"Gilang"
*****
Keesokan paginya Mila bersama Bu Riris dan para ART sudah sibuk membersihkan sampah dan perabot bekas kemarin.
"Pindahin sofanya susah Mil, harus ama laki-laki" kata Bu Riris pada Mila.
"Ah iya mah, aku gak nyangka ini bangku berat banget" ucap Mila yang sedang mencoba untuk mengangkat namun tak bergerser sedikitpun.
"Memang itu kan kayu jati jadi berat, sudah panggil Gilang aja sana" pinta Bu Riris.
"Mang Supri enggak ada mah?" Mila menanyakan keberadaan tukang kebun di rumah Gilang.
"Harus berdua Mil"
"Oh iya, kalo gitu aku bangunin Gilang dulu mah" Mila kemudian naik ke atas menuju kamarnya.
Ketika membuka kamar terdengar bunyi suara panggilan dari hanphone milik Gilang. Namun hanya sebentar tak lama kemudian ada satu pesan masuk, Mila melirik ke handphone Milik Gilang yang diletakkan di nakas samping tempat tidur, disana tertera nama DIANDRA.
Mila terdiam ketika melihat nama pengirim pesan, "jadi dia masih kontekan" gumam Mila yang merasakan perasaan aneh dalam hatinya. Mila mencoba mengabaikannya dan langsung membangunkan Gilang.
"Gilang bangun!!!" teriaknya sambil memukulkan bantal ke wajah laki-laki itu, sontak membuat Gilang terbangun seketika.
"Buset dah.... lembut banget neng bangunin laki" sindir Gilang yang masih mengatur nafas karena terkejut.
"Bodo" ucap Mila sambil melengos pergi, sebelum melangkah pada pintu dia berkata, "Bantuin Mang Supri angkatin bangku di bawah" kemudian melangkah, namun tak lama melongok kembali ke arah Gilang.
"Buruan" teriak Mila ketika melihat Gilang belum juga beranjak dari tempat tidurnya.
"Iya iya... galak amat sih? masih ngumpulin nyawa ini masih ambyar" ucap Gilang segera turun dari ranjangnya dan keluar kamar tanpa mencuci muka terlebih dahulu.
Gilang memperhatikan Mila yang berjalan terus tanpa menoleh, "kenapa sih dia?" tanya Gilang dalam hatinya.