NovelToon NovelToon
Single Parent

Single Parent

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Chicklit
Popularitas:216.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Praditya Dita

Setelah kepergian suami tercinta menghadap yang maha kuasa, kondisi Diandra sangat terpuruk. Dia harus mengurus dua anak yang masih kecil, Faris (anak pertama berusia 9 tahun) dan Fanisha (anak kedua berusia 6 tahun). Belum lagi kondisi Diandra yang sedang hamil 7 bulan.

Diandra benar-benar merasa kehilangan sehingga dia menghabiskan hari-harinya hanya menyendiri di kamar dan menangis.

Hingga di hari kesepuluh kepergian suaminya, Diandra melihat Faris anak pertamanya sibuk mengurus adiknya Fanisha. Di situ membuat Diandra tersadar kalau selama ini dia telah menelantarkan anaknya. Diandra memeluk kedua anaknya dan meminta maaf.

Diandra berjuang dengan anak-anaknya, dari sisa harta suaminya yaitu sebuah mobil. Diandra menjual mobil dan memulai semuanya dari awal.

Bagaimana kelanjutan perjuangan Diandra menjadi seorang single parent?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Praditya Dita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Kejadian kebakaran kecil beberapa waktu lalu cukup membuat setengah ruang keluarga menjadi gosong. Diandra menghubungi Mang Ano seorang kuli bangunan yang biasa memperbaiki rumahnya kalau ada kerusakan.

Syukurnya Mang Ano bisa untuk segera merenovasi ruang keluarga. Saat melihat kondisinya Mang Ano hanya ketawa dan tidak banyak komen. Mang Ano pun tau apa yang Diandra mau karena dia sudah bekerja cukup lama dengan Diandra.

Mang Ano kerja sendiri tanpa anak buah, karena sekitar dua hari pun sudah selesai. Sebenarnya kerusakan hanya pada setengah bagian, yaitu di bagian TV sedangkan di bagian sofa tidak ada masalah. Jadi untuk sementara anak-anak mau nonton TV di kamar Diandra dulu.

Walaupun seharian kerja, Mang Ano tetap menjalankan puasa. Hanya saja kalau Mang Ano lelah beristirahat dulu setelah itu lanjut lagi. Walau usianya sudah tidak muda lagi tapi tenaganya masih tetap berjiwa muda.

"Aki... Agi apa?" tanya Fatih yang bergaya seperti seorang mandor. (Aki... Lagi apa?)

Tanpa harus menoleh, Mang Ano pun tau kalau yang ajak dia ngobrol adalah Fatih. "Ehh ada anak bageur... Aki lagi benerin rumah Patih." kata Mang Ano dengan logat Sundanya.

"Adek bantuin ya?"

"Boleh... Adek bantu mantau aja dari sopa ya." kata Mang Ano.

"Ciap Aki!" Fatih langsung duduk di sofa pantau kerjaan Mang Ano walau akhirnya Fatih malah tertidur di sofa.

Diandra yang dari tadi perhatikan apa yang dilakukan Fatih sampai akhirnya tertidur. Di gendongnya Fatih lalu di bawa ke kamar karena kondisi ruang keluarga dan sekitarnya sangat berdebu.

Setelah pengerjaan dua hari rumah Diandra kembali rapih seperti sedia kala. Diandra pun minta sekalian di cat ulang ruang tamu dan ruang keluarga biar bersih sebelum lebaran nanti.

Semua perkabelan di rumah juga di cek Mang Ano takutnya ada yang korslet lagi. Setelah Diandra memberikan upah ke Mang Ano yang pekerjaannya tidak pernah mengecewakan, Mang Ano pun langsung pulang.

Diandra dan anak-anak kerja bakti membersihkan rumah yang berdebu dari renovasi ruang keluarga kemarin. Walau terasa lelah tapi mereka cukup puas melihat rumah yang kembali bersih dan rapih.

Libur sekolah telah tiba. Faris dan Fanisha lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk melakukan ibadah.

"Besok di masjid ada Pesantren Kilat (Sanlat) kalian nggak ikutan?" tanya Diandra ke Faris dan Fanisha saat sedang duduk di ruang keluarga menunggu beduk Magrib.

"Ohh iya kemarin mas lihat brosurnya di papan pengumuman masjid, tapi mas lupa kasih tau bunda. Emang boleh kita ikutan bunda?" tanya Faris yang sangat antusias.

"Kakak juga mau ikutan bunda."

"Ya boleh dong, selama hal positif bunda dukung."

Faris dan Fanisha bersorak senang. Walau di lingkungannya jarang ada anak seumurannya, tapi dengan adanya sanlat mereka bisa mengenal anak seumurannya dari tempat lain. Karena sanlat kali ini akan bermalam tiga hari dua malam di sebuah villa. Disana anak-anak akan beribadah dan bermain.

Selesai sholat tarawih, Faris dan Fanisha langsung mendaftar sanlat yang juga dikenai biaya setiap anak 100 ribu. Dilihat dari list sudah ada 45 anak yang sudah mendaftar. Acara sanlat akan di mulai pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu, bertepatan dengan puasa ke 20, 21 dan 22. Faris dan Fanisha juga diberi selembaran yang isinya perlengkapan dan peralatan yang harus disiapkan selama akan ikut sanlat.

Diandra melihat isi selembaran. Isinya tidak memberatkan karena sangat standar untuk anak-anak belajar mandiri. Seperti baju, peralatan sholat, peralatan tulis, Al Qur'an, peralatan makan, dan masih banyak lagi.

Dalam waktu dua hari semuanya harus siap di bawa. "Jangan sampai ada yang kelupaan nih." kata Fanisha yang kroscek barang-barangnya yang dia bawa harus sesuai dengan selembaran yang di kasih.

"Kalian harus nurut apa kata pembina, ustad dan siapapun yang mengurus acara." kata Diandra yang juga bantu kroscek kesiapan anak-anaknya.

"Iya bunda." jawab Faris dan Fanisha.

Setelah semuanya sesuai, dipinggirkan koper yang akan mereka bawa besok. Karena pukul 6.00 sudah harus berkumpul di Masjid. Baju yang akan mereka pakai besok pun sudah rapih, bergantung di balik pintu kamar masing-masing.

Selesai sholat subuh, Faris dan Fanisha sudah siap dengan baju terbaik mereka dan koper. Diandra juga masukin beberapa snack ke dalam koper. Faris dan Fanisha pamit ke Diandra, kedua anak itu minta doa untuk keselamatan dan kelancaran selama sanlat.

Sebelum pukul 6.00 Diandra dan Fatih mengantar Faris dan Fanisha ke masjid. Fatih yang masih mengantuk di gendong Diandra. Di depan bis sudah terlihat ada dua bis yang akan mengantarkan anak-anak pesantren kilat.

Faris dan Fanisha absen kehadiran lalu mereka di kasih topi berwarna putih setelah itu mereka masuk bis. Sudah banyak anak seumuran mereka duduk manis di bis.

"Pak titip anak-anak ya selama pesantren kilat." kata Diandra ke bapak panitia yang mengabsen anak-anak sebelum masuk bis.

"InSyaa Allah Bu."

Setelah absen full dan anak-anak sudah duduk manis di bis. Terdengar suara panitia meminta semuanya untuk berdoa dari pengeras suara di dalam bis. Terlihat dari kaca jendela semua anak sedang berdoa. Setelah itu bis berangkat.

Fatih yang sudah bangun langsung dadah ke Faris dan Fanisha yang sudah ada di dalam bis. Semua orang tua yang juga mengantar anak-anaknya langsung bubar pulang ke rumah masing-masing.

Di dalam bis semua anak-anak terlihat dengan dunianya masing-masing, ada yang ngobrol, melanjutkan tidur bahkan ada yang asik melihat pemandangan dari luar jendela.

"Ingat pesan bunda ya dek, kita harus nurut sama perintah pembinanya." kata Faris mengingatkan Fanisha.

"Iya mas." jawab Fanisha. "Dari semua yang ada di bis nggak ada yang kita kenal ya mas."

"Iya nggak papa, kita bisa nambah teman. Kalau yang baik di temani, yang jahat jauhi ya dek."

"Iya mas."

Mereka kembali menikmati jalanan di pagi hari. AC bis yang menyejukkan membuat mata Fanisha merem melek, sehingga akhirnya Fanisha tertidur.

Faris tetap melihat ke jalan, namun sesekali melihat ke sekitar bis yang sudah sepi hanya terdengar suara murotal dari radio bis.

Satu setengah jam perjalanan, bis memasuki sebuah area perkebunan.

"Adik-adik yang Sholeh dan Sholehah sebentar lagi kita sampai. Persiapkan diri kalian." kata bapak pembina yang tadi ngurusin absen kehadiran.

Faris membangunkan Fanisha. Keduanya melihat keluar bis yang terlihat di depan mereka sebuah villa yang sangat klasik dan bagus.

Bis terparkir di halaman villa. Bapak pembina minta semua anak untuk turun dari bis. Faris menggandeng tangan Fanisha agar selalu bersama. Mereka berbaris di depan villa. Dengan barisan cewek dan cowok di pisah.

"Assalamualaikum adik-adik yang Sholeh dan Sholehah." ucap salam Pak Edi, dia ketua DKM masjid di dekat rumah Faris.

"Waalaikumsalam."

"Alhamdulillah kita sudah sampai di villa dengan selamat. Perkenalkan saya Pak Edi ketua pelaksana acara. Disini juga ada delapan orang pembina kalian. Untuk Akhwat ada kak Shella, kak Citra dan kak Bunga. Dan untuk Ikhwan ada kak Arif, kak Sendi, kak Davi, om Dika dan om Krisna." Kata Pak Edi memperkenalkan pembina mereka selama sanlat.

"Kegiatan kita hari ini adalah di mulai pukul 8.30, kalian semua sudah harus berkumpul di ruang tengah untuk kita bersama sholat Dhuha lalu lanjut tilawah Al Qur'an juz 30." lanjut Pak Edi menginformasikan kegiatan pertama setelah mereka sampai. "Kalian sekarang bisa masuk kamar masing-masing yang di pintu kamar sudah ada nama kalian. Kalian bisa taruh tas dan bersiap untuk kita sholat Dhuha berjamaah. Mengerti?"

"Mengerti pak."

Semua anak-anak di bubarkan lalu mengambil tas dan koper yang sudah dikeluarkan dari bagasi. Mereka sibuk mencari kamar masing-masing.

"Kamar Ikhwan di lantai dua ya," kata pembina wanita yang bernama kak Shella. "Kamar Akhwat di lantai satu."

Faris mencari kamarnya yang ada di lantai dua. Di setiap pintu ada nama masing-masing peserta sanlat. Pada kamar nomor tiga namanya tertulis. Di situ tertulis ada enam orang di kamarnya. Pintu di buka sudah ada dua orang anak yang seumuran dengannya.

"Assalamualaikum... Nama saya Faris."

"Waalaikumsalam... Aku Azka."

"Aku Rizky."

Mereka bertiga saling memperkenalkan diri, lalu datang lagi anak-anak yang sekamar dengan mereka.

"Chiko disini kamar kita," teriak seorang anak yang berbadan gendut. "Hai... Nama aku Fahmi."

"Assalamualaikum... Aku Chiko."

Faris, Azka dan Rizky pun memperkenalkan dirinya ke Fahmi dan Chiko. Mereka menentukan kasur yang akan mereka tempati. Karena semua kasur ada di lantai jadi tidak masalah dimanapun posisinya buat Faris.

"Assalamualaikum... Aku Gilang. Aku tadi muter-muter cari dimana kamarku ternyata disini. Hahaha..."

Satu persatu saling memperkenalkan diri ke Gilang. Karena Gilang datang terakhir jadi dapat posisi kamar yang paling ujung dekat kamar mandi. Syukurnya setiap kamar ada kamar mandi di dalamnya.

Sebelum turun ke ruang tengah semua anak ngantri berwudhu, lalu ambil sajadah dan Al Qur'an untuk nanti tilawah setelah sholat Dhuha.

Mereka ke lantai satu yang disana masih sepi karena sekarang baru pukul 8.15. Kelompok kamar Faris langsung duduk di posisi sajadah yang ternyata sudah di gelar. Tidak lama kelompok kamar Fanisha ikutan duduk di barisan Akhwat.

Faris melihat adiknya dan teman sekamar Fanisha yang usianya tidak terlalu jauh dari Fanisha.

Tepat pukul 8.30 semua baru berkumpul dan duduk di sajadah yang kosong. Lalu sholat Dhuha pun di mulai, di pimpin oleh Pak Edi.

*****

Selesai sholat Dhuha, kelompok Akhwat di pisah dengan kelompok Ikhwan. Setiap kelompok sudah ada pembina masing-masing.

Lalu mereka membentuk lingkaran dan pembina mereka yang paham dengan Al Qur'an duduk bersama mereka. Anak-anak membuka Al Qur'an juz 30, mereka baca mulai dari surah An-Naba. Masing-masing anak harus baca perlima ayat. Karena Faris duduk pas di samping pembina maka dia mulai terlebih dahulu.

Di kelompok Akhwat pun melakukan hal yang sama, hanya saja posisi Fanisha cukup jauh dari pembinanya. Kalau ada kesalahan cara mengucapkan huruf dan tanda baca maka akan langsung di koreksi oleh pembinanya.

Fanisha bersyukur belajar tajwid dengan Faris yang galak kalau dia salah mengucapkan aja langsung kena omelan. Jadi saat seperti ini Fanisha dapat membaca Al Qur'an dengan baik.

Pukul 10.30 kelompok Ikhwan sudah selesai tilawah terlebih dahulu, lalu disusul kelompok Akhwat pukul 10.45.

"Adik-adik... Waktu kalian bebas. Tapi nanti kita sholat Zuhur berjamaah di ruang tengah lagi ya. Setelah itu kita akan ada kuis selesai sholat. Silahkan kalian istirahat." kata pembina selesai mengakhiri tilawah pagi ini.

Semua anak bubar dan kembali ke kamar masing-masing. Mereka bersantai sejenak sebelum waktu Zuhur.

Fanisha tiduran di kasurnya. Dia sekamar dengan lima anak lainnya yang ternyata seumuran dengannya, kecuali Dinda dan Aisyah karena mereka kelas 6 SD sama seperti Faris. Teman kamar Fanisha ada Bella, Aisyah, Tica, Wulan dan Dinda.

Mereka pun rebahan di kasur mengikuti Fanisha. Sambil sesekali mereka bercerita dimana rumah dan sekolah mereka.

Fanisha pun baru tau kalau di komplek rumahnya ada anak seusianya, hanya saja beda RT makanya dia tidak pernah melihatnya.

Dari cerita teman-temannya, Fanisha pun tau kalau ternyata Dinda teman sekolahnya Sophia tapi sayangnya mereka tidak dekat karena Sophia jarang bergaul dengan temannya di sekolah.

Fanisha hanya mengangguk dan mendengarkan lagi cerita teman-teman sekamarnya. Fanisha pun baru tau kalau Wulan itu anaknya sangat lucu dan sangat heboh kalau bercerita terutama kalau cerita horor, membuat yang lain ikut penasaran dengan ceritanya.

"Ahh masa sih di sekolah kamu ada hantunya?" tanya Fanisha yang mulai terlihat takut.

"Tapi kan emang dimana aja pasti ada." jawab Tica. "Contohnya diruangan ini pasti ada, hanya aja mereka nggak ganggu karena kita kan rajin ibadah."

Semua mengangguk membenarkan perkataan Tica. Lalu mereka membahas lain yang diminta Aisyah untuk ganti topik.

Bersambung...

1
༄𝑓𝑠𝑝⍟Lisa𝓜§
kapan dilanjutin lagi thor
Rizky Ivan
lanjut dong kak
༄𝑓𝑠𝑝⍟Lisa𝓜§
ini kapan dilanjutin
Al^Grizzly🐨
sampai segitunya berduka...10 hari mengurung di kamar...tanpa memperhatikan anak anaknya apa sudah makan atau kenapa''...aneh ya...kalau memang sudah di tinggal mati..ikhlaskan semuanya...kalau seperti itu kelakuannya berarti tidak ikhlas namanya...nggak segitunya juga ya bu...sampai 10 hari berduka.
Hj. Raihanah
kasihan dengan rumi yang di lahir kan saja tanpa ada perhatian dan kasih sayang tapi beruntung nya dia tidak terjerumus pada pergaulan bebas bisa memilih jalan yang terbaik untuk diri nya
rumi heavy👍👍👍
Hj. Raihanah
sungguh keluarga berkah krisna dan Diandra😍😍😂
Hj. Raihanah
semangattt
Hj. Raihanah
cerita nya aja bikin hati senang apa lagi kalau ada foto nya
Hj. Raihanah
lanjut 💪💪💪
Hj. Raihanah
semoga lancar semuanya
lanjut their💪💪💪
Hj. Raihanah
cerita nya memberi inspirasi buat aku yang baca....... hidup itu bila dekat dengan pencipta nya akan lebih bahagia
Hj. Raihanah
untuk apa punya anak kalau tidak di perhatikan mereka tidak butuh uang aja tapi juga perhatian dan kasih sayang
Hj. Raihanah
hebat jadi Ibu diandra tidak membedakan anak meskipun itu hanya teman anak nya
Hj. Raihanah
enak ya punya anak yang pengertian perhatian sholeh dan sholehah lagi❤
Hj. Raihanah
alhamdulillah dapat rezeki lagi😁
Hj. Raihanah
bahagia nya krisna karna anak anak nya diandra bisa menghargai
Hj. Raihanah
keluarga kecil bahagia
Hj. Raihanah
bahagia terus diandra dan krisna apa lagi sudah di lengkapi anak anak yang sholeh sholehah
Hj. Raihanah
alhamdulillah
Hj. Raihanah
mikir nya jangan kelamaan ndra sebab kamu cinta pertama nya krisna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!