Jauh di lubuk hatiku, aku menolak pernikahan ini. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa mengecewakan kedua orang tuaku.
Aku terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai sama sekali. Ini di karnakan, pacarku yang akan menikah denganku, menghilang. Bisakah aku mengubah rasa terpaksa ini menjadi rasa cinta pada suamiku? Haruskah aku bertahan dengan orang yang dingin seperti Adya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Lima belas menit berlalu, mobil baru sampai ke rumah sakit. Dengan cepat kami membawa Maya masuk kedalam untuk segera mendapatkan pertolongan.
Maya masih tergeletak tak sadarkan diri. Entah apa yang sedang terjadi padanya saat ini, aku juga tidak mengerti. Yang aku tahu, selama kami berteman baik, Maya hanya mengatakan kalau ia punya riwayat sakit kepala.
Tapi aku tidak pernah melihat ia selemah ini. Ia selalu terlihat kuat saat kami bersama. Ia selalu ada saat aku butuhkan. Kapan pun dan dimana pun, Maya akan selalu ada. Kecuali saat hari pernikahan aku dan Adya. Itu adalah pertama kali ia tidak ada saat aku butuh dia.
Aku munda mandir di depan kamarnya. Menunggu dokter yang merawat Maya keluar dari ruangan. Saat itu, aku melihat mama Maya berjalan cepat menuju kearah ku.
"Tante." Aku langsung menyapa mama Maya.
"Kaila. Kamu juga ada di sini? Bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanya tante dengan wajah bingung.
"Aku tidak sengaja bertemu Maya di cafe. Maya pingsan dan orang-orang membawanya ke rumah sakit. Aku mengikutinya," kataku menjelaskan apa yang terjadi.
Kami tidak melanjutkan pembicaraan, karena pintu kamar terbuka saat aku selesai bicara. Tante segera berjalan untuk menghampiri dokter yang baru saja keluar dari kamar itu.
"Bagaimana keadaan Maya, Dok?" tanya tante dengan wajah cemas.
"Kondisinya semakin memburuk. Tekanan yang ia rasakan semakin membuat beban berat di otaknya. Hal itulah yang menyebabkan ia pingsan barusan."
"Maya." Panggil tante sambil menangis.
Dokter itupun pamit meninggalkan kami berdua. Aku yang masih bingung dengan apa yang dokter itu katakan, semakin di buat bingung lagi dengan tante yang sedang menangis sambil terduduk di kursi tunggu.
"Ada apa sebenarnya, tante? Apa yang sebenarnya terjadi pada Maya?"
Tante menatap wajahku lekat. Air mata masih saja mengalir terjun bebas melewati pipi tuanya.
"Kaila. Selama ini, Maya itu sedang mengidap kanker otak. Dan sekarang, kankernya sudah stadium akhir. Umur Maya tidak akan lama lagi. Dokter memprediksi, kalau Maya hanya mampu bertahan tiga bulan, atau kurang dari tiga bulan."
Seakan ada beban berat yang sedang menimpa dadaku. Aku merasakan dada ini sangat sesak sehingga tidak bisa bernapas dengan bebas.
Ini tidak mungkin. Sangat tidak mungkin. Aku dan Maya sudah berteman sangat lama. Kenapa aku tidak tahu kalau ia sedang sekarat selama ini. Aku hanya tahu, kalau ia punya riwayat sakit kepala yang terkadang kambuh tiba-tiba. Aku tidak tahu kalau penyakitnya separah ini.
Aku berusaha mengumpulkan semua kesadaran ku untuk bicara pada tante. Hati jahat ini terkadang sulit untuk percaya apa yang orang lain katakan. Tapi tidak mungkin tante bohong soal apa yang baru saja ia bicarakan. Untuk apa dia bohong padaku tentang nyawa anak kesayangannya ini.
"Tan-tante, sejak kapan Maya sakit? Kenapa aku tidak tahu kalau dia sedang sa-sakit?" kataku sambil menahan rasa sesak di hati ini.
Aku memegang dadaku saat bicara. Aku berharap, kalau Maya sedang berbohong untuk mendapat kepercayaan ku kembali. Jujur saja, aku tidak ingin kehilangan seorang teman hanya karena marah akibat laki-laki.
"Kaila. Maya sakit sudah sangat lama. Sejak ia remaja, ia sudah menderita dengan penyakitnya. Hanya saja, ia tidak ingin orang lain tahu kalau ia sedang sakit. Ia berusaha kuat di hadapan semua orang. Sampai saat ini, dia juga tidak ingin kamu tahu, kalau dia sedang sakit, Kaila."
"Tidak. Maya tidak boleh seperti itu padaku. Aku tidak ingin Maya bohong soal apapun padaku. Aku tidak ingin dia bohong soal penyakitnya padaku tan. Tidak. Aku tidak terima," kataku dengan nada sedih bercampur kesal.
Tante hanya terdiam saja. Ia mungkin tidak tahu harus berkata apa padaku. Aku yang terlihat seperti orang yang sedang frustasi saat ini. Berharap apa yang aku dengar sekarang bukanlah sebuah kenyataan.
Tiba-tiba, ponselku berbunyi. Tertera jelas nama pak Yahya di layarnya. Aku segera mengangkat telpon dari pak Yahya. Aku melupakannya tadi, karena aku terlalu panik saat melihat Maya pingsan di tempat umum.
"Iya pak Yahya."
"Non Kaila dimana, non? Bapak pusing nyariin non Kaila sekarang. Apa non Kaila masih belanja atau sudah selesai?"
Pertanyaan yang bertubi-tubi ia lontarkan padaku. Membuat kepala ini bingung mau jawab yang mana satu.
"Aku di rumah sakit, pak."
"Apa!" Pak Yahya terdengar sangat kaget ketika aku mengatakan dimana aku saat ini. Sampai-sampai, telingaku berdengung sakit kuatnya suara pak Yahya barusan.
Untuk antisipasi. Aku segera menjelaskan apa yang terjadi pada pak Yahya. Aku tidak ingin ia bertanya terlalu banyak lagi padaku. Aku tutup saja telponnya dan bilang kalau aku baik-baik saja. Tentunya, setelah ia lebih tenang dan bergerak menuju aku di rumah sakit.
APA KATA BRAM TADI? CINTA SESAAT.. PENGEN NGAKAK AKU,APA BRAM AMNESIA? MALAH WAKTU ITU DIA SENDIRI NGAKU DENGAN MAYA DIA GAK MENCINTAI KAMU,NIKAH JUGA ORTU YG MAKSA,DIA BILANG TERGILA-GILA DENGAN MAYA,UDAH MAU NIKAH AJA MASIH SELINGKUH,ORANG KALO SEKALI SELINGKUH TETAP AKAN SELINGKUH,APAPUN ALESANNYA,DIA SUDAH MEMPERMALUKAN PIHAK KELUARGA WANITA..🙄🙄🙄