Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Cahaya fajar mulai menyusup dari celah jendela kamar rawat, membawa udara dingin pagi hari yang menusuk.
Jam dinding menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit.
Fatma yang sudah terjaga sejak sebelum azan subuh, berusaha duduk meski punggungnya masih terasa perih.
Ia menatap ranjang di sebelahnya, di mana Adrian masih terlelap dalam posisi telentang.
"Mas... bangun..." bisik Fatma pelan, mencoba menyentuh ujung kaki Adrian dengan kakinya.
Adrian menggeliat, namun hanya mengeluarkan suara gumaman tidak jelas.
"Hmmm..."
"Mas, bangun. Salat subuh," Fatma mencoba lagi, suaranya sedikit lebih keras.
Adrian kembali bergumam, kali ini dengan kalimat yang membuat Fatma mengelus dada.
"Iya, nanti ada proyek Yogyakarta sama Surabaya... tunggu sebentar lagi..."
"Astaghfirullah, Mas! Malah mengigau proyek!"
Fatma menggelengkan kepala, merasa gemas sekaligus prihatin.
Dunia suaminya memang benar-benar tertutup rapat oleh urusan pekerjaan hingga terbawa ke alam mimpi.
Fatma akhirnya bangkit dari ranjangnya. Ia berjalan tertatih mendekati ranjang suaminya.
"Mas, bangun! Ini sudah waktunya Subuh!"
Ia mengguncang bahu Adrian pelan.
Adrian tersentak dari tidurnya, namun dalam keadaan setengah sadar, gerakan tangannya begitu cepat.
Ia menarik tangan Fatma—tangan yang bebas dari jarum infus dan tidak terluka—dengan sentakan yang cukup kuat hingga tubuh Fatma kehilangan keseimbangan dan nyaris tersungkur ke atas ranjang Adrian.
Wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat.
Fatma bisa merasakan napas Adrian yang hangat, dan detak jantungnya sendiri mendadak berpacu kencang, berdegup liar di balik dadanya.
Ia tidak tahu apakah itu rasa takut, kaget, atau sisa-sisa perasaan yang ia coba kubur dalam-dalam.
"Mas, bangun!" seru Fatma, sedikit gugup.
Adrian membuka matanya lebar-lebar. Ia terperangah melihat sosok Fatma di depannya, lalu matanya tertuju pada tangan istrinya yang ia genggam.
Detik itu juga, kesadarannya kembali sepenuhnya.
Ia melepaskan tangan Fatma seolah-olah kulit istrinya adalah bara api.
Pria itu terduduk dengan napas memburu, wajahnya yang lebam menampakkan ekspresi penyesalan yang mendalam.
"Maaf, Aku minta maaf," ucap Adrian terbata-bata, menatap Fatma dengan pandangan yang kosong dan bergetar.
"Aku tidak bermaksud kasar. Aku hanya masih kaget. Maafkan aku, Fatma."
Fatma menarik napas panjang, menenangkan debaran jantungnya yang belum juga reda.
Ia berdiri tegak, mencoba mengabaikan rasa nyeri di tubuhnya.
"Sudah, jangan banyak bicara. Cepat ambil air wudhu. Kita salat subuh di masjid rumah sakit sekarang. Kamu harus segera membiasakan diri."
Adrian tertegun. Bola matanya melebar, menatap Fatma dengan binar harapan yang mendadak muncul di balik mendungnya rasa bersalah.
"Kita?" tanyanya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, memastikan apakah ia tidak salah dengar.
Fatma yang menyadari kekeliruan ucapannya langsung memalingkan wajah ke arah jendela. Pipinya bersemu tipis, merasa jengah atas kegugupannya sendiri.
"Hm, maksud aku Mas Adrian dan Bryan yang lekas ke masjid untuk salat subuh," ralat Fatma cepat, nadanya kembali datar dan dingin untuk menutupi debaran jantungnya yang belum sepenuhnya normal.
"Aku belum bisa banyak bergerak. Luka di punggungku masih terlalu perih untuk dibawa berjalan jauh ke masjid."
Mendengar ralat tersebut, binar di mata Adrian meredup, berganti dengan anggukan penuh kepasrahan.
Namun, tidak ada lagi bantahan atau keluhan dari mulutnya.
"Iya, Fatma," sahut Adrian patuh.
Adrian segera menyibak selimutnya. Sebelum melangkah, ia menatap baju koko putih dan sarung yang masih melekat di tubuhnya sejak semalam.
Meski kain itu terasa asing, ada rasa damai yang tak bisa ia jelaskan setelah mengenakannya.
Agar tubuhnya kembali segar dan bersih sebelum menghadap Sang Pencipta, Adrian memutuskan untuk masuk ke kamar mandi terlebih dahulu.
Ia mandi dengan cepat, memastikan sisa-sisa kantuk dan keringat semalam luruh sepenuhnya.
Setelah merapikan kembali pakaian kokonya dan menyisir rambutnya yang basah, ia melangkah keluar.
Di dekat pintu selasar, Bryan sudah berdiri tegap, siap dengan jaketnya.
Mantan anak buahnya itu mengangguk takzim, memberikan isyarat bahwa mereka harus segera bergerak sebelum ikamah berkumandang.
"Saya pergi ke masjid dulu, Nyonya," pamit Bryan sopan kepada Fatma.
"Iya, Bryan. Tolong jaga suamiku," jawab Fatma lirih.
Adrian sempat menghentikan langkahnya di ambang pintu.
Ia menoleh ke arah ranjang, menatap Fatma yang kini kembali bersandar.
"Aku ke masjid dulu, Fatma," pamitnya dengan nada lembut yang belum pernah ia gunakan sebelumnya.
Fatma hanya mengangguk pelan tanpa suara.
Adrian pun melangkah keluar dari kamar rawat, berjalan beriringan bersama Bryan menyusuri koridor rumah sakit yang masih sepi dan dingin menuju masjid.
Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, seorang Adrian melangkahkan kaki bukan untuk mengejar tender bernilai miliaran rupiah, melainkan untuk mengejar ampunan di atas hamparan karpet masjid.
Suasana masjid rumah sakit masih sangat tenang.
Cahaya lampu neon yang berpendar pucat memantul di lantai keramik yang dingin.
Begitu sampai di area tempat wudhu yang terbuka, Bryan langsung menepi ke salah satu kran.
Ia menyingsingkan lengan kemejanya, siap melakukan rutinitas paginya.
Adrian berdiri mematung di sampingnya. Ia menatap deretan kran yang mengalirkan air dengan bunyi gemericik yang konsisten.
Pikirannya sejenak melayang pada instruksi Fatma semalam, namun rasa groginya kembali muncul saat ia menyadari bahwa ia tidak akan diawasi langsung oleh istrinya sekarang.
Bryan melirik Adrian yang tampak bimbang. Ia mematikan krannya sejenak, lalu menoleh ke arah mantan bosnya itu dengan senyum tipis yang tersirat di sudut bibirnya.
"Sudah bisa, Pak, atau saya ajari lagi?" tanya Bryan, suaranya terdengar sangat tenang namun mengandung nada yang membuat Adrian merasa tertantang.
Adrian menoleh tajam. Sorot mata yang biasanya menghujam tajam saat menegur kinerja stafnya kini kembali muncul, meski tidak lagi disertai dengan gurat kebencian.
"Kamu menyindirku?" desis Adrian, merasa harga dirinya terusik.
Bryan tidak gentar. Ia justru tertawa kecil—sebuah tawa jujur yang bukan ditujukan untuk merendahkan, melainkan karena melihat ekspresi konyol Adrian yang masih berusaha keras menjaga gengsi di tempat suci.
"Bukan menyindir, Pak. Saya hanya memastikan Anda tidak salah langkah lagi seperti semalam," sahut Bryan santai, lalu kembali membuka krannya.
"Ingat, Pak Adrian, di sini, tidak ada jabatan direktur atau bawahan. Kita semua sama-sama pendosa yang sedang membasuh diri. Tidak perlu merasa malu jika memang masih belum hafal urutannya."
Adrian tertegun sejenak. Kata-kata Bryan menampar egonya lebih keras daripada cubitan Fatma semalam.
Ia terdiam, lalu perlahan menundukkan kepala dan mulai membuka krannya sendiri.
"Aku, sudah ingat," ucap Adrian pelan, suaranya kini jauh lebih rendah.
Dengan tangan yang sedikit gemetar namun yakin, Adrian memulai wudhunya.
Ia membasuh telapak tangannya, berkumur, menghirup air ke hidung, hingga membasuh wajah.
Meski gerakannya masih terlihat kaku dan tidak seefisien Bryan, Adrian berhasil menyelesaikan seluruh rukun wudhu tanpa satu pun kesalahan fatal.
Di sampingnya, Bryan memperhatikan dalam diam, lalu mengangguk puas.
Pintu hidayah itu benar-benar sedang terbuka lebar, dan untuk pertama kalinya, Adrian merasa lebih ringan daripada tumpukan utang pekerjaan yang biasanya memenuhi kepalanya.
Setelah melaksanakan salat Subuh berjamaah yang diimami oleh seorang ustadz sepuh berwajah teduh, para jemaah tidak langsung bubar.
Begitu pula dengan Adrian dan Bryan. Mereka berdua duduk bersila di barisan tengah, bersandar pada pilar masjid yang kokoh.
Adrian meluruskan kakinya yang terasa kaku, mencoba membiasakan diri dengan atmosfer ketenangan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.
Sang ustadz kemudian berbalik menghadap jemaah, memegang mikrofon, dan memulai kultum subuh pagi itu.
" Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..." suara ustadz itu bergema lembut, memecah keheningan fajar.
"Alhamdulillah, pagi ini kita akan sedikit mengulas tentang amanah terbesar yang ditaruh Allah di pundak seorang laki-laki. Yaitu peran sebagai kepala rumah tangga, sebagai seorang suami."
Mendengar kata 'suami', jantung Adrian mendadak mencelos.
Ia menegakkan posisi duduknya, mendadak merasa penceramah itu sedang menatap langsung ke arah matanya.
"Jemaah yang dirahmati Allah," lanjut Ustadz tersebut.
"Banyak laki-laki di luar sana yang merasa sudah menjadi suami yang sempurna hanya karena berhasil mencukupi kebutuhan materi istrinya. Memberi rumah mewah, uang belanja yang melimpah, dan fasilitas kelas satu. Mereka berpikir, dengan kekuasaan uang itu, mereka bisa berbuat sewenang-wenang di dalam rumah."
Ustadz itu menghela napas panjang, tatapannya menyapu seluruh ruangan.
"Padahal, di hadapan Allah, gelar Rijall—pemimpin—itu bukan diukur dari tebalnya dompet, melainkan dari ketebalan akhlak dan tanggung jawab spiritualnya. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, 'Khairukum khairukum li ahlihi'. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik perlakuannya kepada istrinya. Dan aku adalah orang yang paling baik kelakuannya kepada istriku."
Dada Adrian bergemuruh hebat. Setiap patah kata yang keluar dari pelantang suara itu terasa seperti godam yang menghantam kesombongannya yang tersisa.
"Seorang istri itu menjemput takdirnya bersamamu melalui kalimat perjanjian yang agung, yaitu kalimat ijab kabul. Demi Allah, laki-laki mengambil wanita dari orang tuanya dengan amanah Allah, dan menghalalkan kehormatannya juga dengan kalimat Allah. Lalu, bagaimana bisa seorang suami tega berlaku kasar? Bagaimana bisa tangan yang seharusnya memeluk dan melindungi, justru berubah menjadi cambuk yang menyiksa fisik dan batin istrinya?"
Deg!
Adrian memejamkan mata rapat-rapat. Cengkeraman tangannya pada kain sarung yang ia kenakan semakin mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.
Bayangan cambukan ikat pinggangnya pada punggung Fatma malam itu mendadak melintas, menyisakan rasa perih yang luar biasa di dalam hatinya sendiri.
"Ingatlah para suami, istrimu bukan budakmu. Istrimu adalah amanah. Jika kamu mendidiknya dengan kekerasan, ego, dan kebodohanmu sendiri tanpa menuntunnya dengan syariat agama, maka kelak di akhirat, istrimu akan menjadi orang pertama yang akan menarik lehermu ke dalam neraka. Kamu akan dituntut atas setiap tetes air mata dan darah yang keluar karena kebiadabanmu."
Suara Ustadz itu meninggi di akhir kalimat, menutup tausiah singkatnya dengan doa kafaratul majelis.
Di sampingnya, Bryan melirik Adrian yang kini menunduk dalam-dalam dengan tubuh yang bergetar.
Air mata Adrian kembali menetes, membasahi kain koko putihnya.
Tausiah Subuh itu seolah sengaja dihadirkan Allah untuk menampar kesadaran Adrian; bahwa dirinya bukan sekadar suami yang gagal, melainkan seorang pemimpin yang hampir membawa keluarganya menuju kehancuran abadi.
lanjut thor🙏
bikin jengkel aja thor 😡😡