Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Pemilik Restoran yang Cantik
Di dalam restoran, Cang Xuan dan Tuan Xin baru saja menghabiskan makanan mereka. Piring-piring di atas meja sudah kosong, bahkan hampir tidak ada sisa kuah maupun daging yang tertinggal. Cang Xuan menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengusap perutnya dengan ekspresi puas yang sulit disembunyikan.
"Makanan ini benar-benar luar biasa," katanya sambil mengembuskan napas panjang. "Ini pertama kalinya aku makan makanan seenak ini."
Melihat reaksinya, Tuan Xin hanya tersenyum kecil. Baginya, pemandangan seperti itu tidak terlalu mengejutkan. "Seharusnya memang begitu. Makanan seperti ini biasanya hanya ditemukan di Dunia Tengah atau Dunia Atas."
Perkataan itu langsung membuat Cang Xuan mengangkat alis.
"Jadi makanan ini sebenarnya bukan berasal dari Dunia Bawah?"
"Tidak." Tuan Xin menggeleng pelan sebelum melirik sisa menu yang masih berada di atas meja. "Justru itulah yang membuatku heran. Makanan kultivator seperti ini seharusnya tidak muncul di tempat seperti ini."
Cang Xuan langsung memperhatikan dengan serius.
Menurutnya, jika Tuan Xin sampai merasa heran, berarti memang ada sesuatu yang tidak biasa.
Tuan Xin kemudian melanjutkan, "Kemungkinan besar pernah ada kultivator dari Dunia Tengah atau bahkan Dunia Atas yang datang ke sini dan memperkenalkan cara memasak maupun bahan-bahan tersebut. Kalau tidak, sulit menjelaskan kenapa restoran kecil di Dunia Bawah bisa menyajikan makanan seperti ini."
Namun dibandingkan memikirkan asal-usul makanan itu, perhatian Cang Xuan justru tertuju pada hal yang jauh lebih sederhana.
Ia tertawa kecil lalu berkata, "Siapa peduli?"
Tuan Xin langsung meliriknya.
"Yang jelas makanan ini enak." Senyum lebar muncul di wajah Cang Xuan. "Kalau aku punya banyak koin, mungkin aku akan pesan satu porsi lagi."
Mendengar jawaban itu, Tuan Xin hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Pada saat itulah, suara pintu yang terbuka terdengar dari arah depan restoran.
Klek.
Perhatian beberapa orang di dalam ruangan langsung tertuju ke pintu masuk. Seorang gadis berjalan masuk dari luar dengan langkah tenang. Ia mengenakan pakaian berwarna biru muda yang tampak elegan, sementara rambut panjangnya terurai rapi hingga mencapai punggung. Penampilannya langsung menarik perhatian banyak orang, bukan hanya karena parasnya yang cantik, tetapi juga karena sikap para pelayan yang segera menyambutnya begitu ia memasuki restoran.
"Selamat siang, Bos!"
Beberapa pelayan membungkukkan badan dengan hormat.
Gadis itu tersenyum ringan sambil mengamati suasana restoran yang hampir dipenuhi pengunjung. Tatapannya menyapu meja-meja yang ramai sebelum akhirnya ia berkata, "Ternyata hari ini cukup ramai."
Salah seorang pelayan yang berdiri paling dekat langsung mengangguk dengan wajah penuh semangat. "Tentu saja, Bos. Karena makanan yang Bos perkenalkan sangat terkenal. Banyak orang datang karena penasaran, dan setelah mencobanya, mereka hampir selalu kembali lagi."
Mendengar laporan tersebut, senyum di wajah gadis itu semakin jelas.
"Itu bagus."
Nada suaranya terdengar cukup puas.
"Berarti restoran ini semakin berkembang."
Pelayan itu segera mengangguk berkali-kali.
Sementara percakapan tersebut berlangsung di dekat pintu masuk, sebagian besar pengunjung kembali melanjutkan aktivitas mereka seperti biasa. Tidak banyak yang menyadari bahwa gadis yang baru saja datang itu bukanlah pemilik restoran biasa.
Namun di salah satu sudut restoran, ekspresi Tuan Xin tiba-tiba berubah begitu melihat gadis yang baru saja masuk tersebut. Tangannya yang sedang memegang cangkir teh bahkan sempat berhenti di udara, sementara tatapannya tidak pernah lepas dari sosok berpakaian biru muda itu.
"Itu..." gumamnya pelan.
Sejak tadi ia tidak terlalu memperhatikan suasana restoran, tetapi setelah mendengar para pelayan menyapa gadis tersebut, pikirannya langsung terguncang.
"Ling Yue..."
Nama itu terasa sangat familiar baginya.
Tuan Xin kembali memperhatikan gadis tersebut dengan lebih saksama. Semakin lama ia melihat, semakin cepat jantungnya berdetak. Usianya tampak sekitar enam belas tahun, penampilannya sesuai dengan yang pernah ia dengar, dan bahkan namanya pun sama.
"Mustahil..."
Tatapannya perlahan berubah semakin rumit.
"Tidak salah lagi."
Kini ia hampir seratus persen yakin.
"Itu benar-benar Ling Yue dari keluarga itu."
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Desa Awan Timur, ketenangan yang selama ini selalu ditunjukkan Tuan Xin sedikit goyah. Berbagai kemungkinan langsung bermunculan di dalam pikirannya.
"Tapi kenapa dia berada di Dunia Bawah?"
Pertanyaan itu terus berputar tanpa menemukan jawaban.
Menurut pengetahuannya, seseorang seperti Ling Yue seharusnya tidak muncul di tempat seperti ini. Dunia Bawah terlalu jauh dan terlalu rendah bagi orang yang berasal dari latar belakang tersebut.
"Jangan-jangan dia melarikan diri?"
Semakin dipikirkan, kemungkinan itu justru terasa semakin masuk akal.
Keringat dingin mulai muncul di dahinya.
Masalahnya bukan karena keberadaan Ling Yue.
Masalah sebenarnya adalah dirinya sendiri.
Tuan Xin perlahan menundukkan kepala sambil berpura-pura menyesap teh, berusaha agar wajahnya tidak terlalu terlihat dari arah pintu masuk.
Karena jika dugaannya benar...
Jika gadis itu benar-benar Ling Yue yang ia kenal...
Maka ada kemungkinan besar Ling Yue juga mengenal dirinya.
Dan itu adalah sesuatu yang sama sekali tidak ingin terjadi saat ini.
Sementara itu, Cang Xuan yang sedang meminum sisa minumannya akhirnya menyadari perubahan aneh pada ekspresi Tuan Xin. Sejak gadis berpakaian biru muda itu masuk ke restoran, lelaki tua tersebut terlihat tidak setenang biasanya. Karena penasaran, ia pun memanggilnya.
"Tuan Xin?"
Orang tua itu langsung tersentak dan menoleh seolah baru saja kembali dari lamunannya.
"Hah?" jawabnya cepat.
Cang Xuan mengernyit. "Ada apa? Kenapa ekspresimu aneh sekali?"
Namun alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, Tuan Xin justru berdiri dari kursinya. Tatapannya sekilas melirik ke arah pintu masuk restoran sebelum kembali menatap Cang Xuan.
"Minumanmu sudah habis?"
Pertanyaan mendadak itu membuat Cang Xuan sedikit bingung, tetapi tetap menjawab, "Iya."
"Bagus." Tuan Xin langsung menganggukkan kepala. "Kalau begitu kita harus segera pergi dari sini."
Kebingungan di wajah Cang Xuan semakin jelas.
"Kenapa?"
Tuan Xin menjawab dengan nada yang berusaha terdengar santai. "Kita juga harus mencari penginapan. Kalau terlalu lama, nanti semua kamar yang bagus keburu penuh."
Mendengar alasan tersebut, Cang Xuan berpikir sejenak sebelum mengangguk.
"Benar juga."
Meski begitu, ia masih merasa ada sesuatu yang aneh. Biasanya Tuan Xin tidak pernah terlihat terburu-buru seperti ini.
Tanpa menunggu lebih lama, Tuan Xin mengeluarkan dua belas koin emas dan meletakkannya di atas meja.
"Nih, bayarkan makanannya."
Ia kemudian menunjuk ke arah kasir di dekat pintu masuk.
"Aku akan menunggumu di luar."
Sebelum Cang Xuan sempat mengajukan pertanyaan lain, lelaki tua itu sudah berbalik dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Langkahnya jauh lebih cepat dibandingkan biasanya, seolah benar-benar ingin meninggalkan tempat itu sesegera mungkin.
Cang Xuan hanya bisa memperhatikan punggungnya dengan tatapan bingung.
"Aneh sekali..." gumamnya pelan sambil mengambil koin-koin yang ditinggalkan di atas meja.
Semakin dipikirkannya, semakin tidak masuk akal perilaku Tuan Xin barusan.
Tatapannya tanpa sadar beralih ke arah pintu masuk restoran, lalu ke arah tempat Tuan Xin tadi duduk, sebelum akhirnya menggelengkan kepala.
"Kenapa dia terlihat seperti sedang menghindari seseorang?"
Pertanyaan itu terus berputar di benaknya. Namun karena tidak menemukan jawabannya, Cang Xuan akhirnya berdiri dan berjalan menuju tempat pembayaran, sama sekali tidak menyadari bahwa penyebab seluruh tingkah aneh Tuan Xin masih berada di dalam restoran yang sama.
End Chapter 13