•Disarankan untuk membaca setidaknya sampai ch.6 sebelum pindah ke novel lain!
Dua orang putri dari Kekaisaran Elgion telah lama terkenal karena mereka tidak pernah mendapatkan tunangan.
Untuk itu, tepat setelah hari kelulusan kedua nya, seorang Ksatria yang menyandang gelar terkuat dan tak terkalahkan - Zone Kursdizt - pun di beri tugas untuk mendidik keduanya agar dapat menemukan pasangan yang layak bagi keduanya oleh sang Permaisuri.
Sementara dirinya masih harus menjaga kondisi perang yang memanas di perbatasan Kekaisaran, Zone harus mengawasi kedua putri yang eksentrik.
Bagaimanakah kisah Zone sang Kesatria terkuat dalam menangani semua masalah yang datang mengancam kedamaian Kekaisaran? Yuk, ikutin terus novel ini!
#Karya orisinil ku sendiri. NO COPY DAN PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aze07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Cara meraih mimpi(1)
"Zone Kursdizt..."
"Nona Lumina...?"
Keesokan harinya, Lumina yang berlinang air mata datang ke kantor tempat Zone bekerja. Wajah gadis berumur 18 tahun itu terlihat putus asa ketika dia menundukkan kepalanya seolah apa yang akan dia katakan selanjutnya sangatlah sulit untuk diucapkan olehnya.
"Aku... Memiliki sebuah permintaan."
Lumina mulai menceritakan pada Zone apa yang terjadi setelah Zone meninggalkan Paradise. Apa yang dia bicarakan pada Amertha, ibunya. Tentang mimpinya. Tentang kenyataan bahwa ternyata mimpi itu adalah hal yang mustahil bagi Lumina sang putri kedua Kekaisaran. Bahkan ibunya, Amertha, dan ayahnya, Rodwiell, pun melarangnya.
"Hei... A-apa... Apakah aku harus melepaskan mimpiku ini...?"
Air mata menetes di wajah cantik Lumina yang terlihat berantakan bahkan lebih dari kemarin. Tak hanya kelelahan, keputusasaan telah ditambahkan pada wajah Lumina.
Gadis ini... Dia bahkan datang kepadaku, yang jelas tidak terlalu dia kenal baik untuk ini karena orang tua nya telah menolak mimpinya. Apakah dia benar-benar sudah seputus asa itu?
Kemudian, Zone kembali teringat bahwa Lumina adalah seorang penyendiri. Dia pasti tidak punya orang lain yang bisa dia jadikan tempat mencurahkan isi hatinya selain Zone yang sejak awal sudah mengetahui nya.
Zone menghela napas ringan. Dia merapikan dokumen-dokumen yang ada di mejanya, menyerahkannya pada para pejabat militer lain yang saat ini sedang menatap Lumina dalam kebingungan, bertanya-tanya kenapa bahkan seorang putri sepertinya datang ke hadapan Zone.
Karena tempat ini jelas bukanlah tempat yang cocok untuk membicarakan hal seperti ini, Zone membawa Lumina ke anjung taman Istana yang penuh dengan tanaman hias yang tak kalah indah dengan apa yang ada di Paradise.
Mempersilahkan Lumina untuk duduk di sana di seberang nya, Zone lalu bertanya: "Nona Lumina menyukai menulis, benar?"
Lumina mengangguk pada pertanyaan itu, membawa Zone untuk menanyakan satu pertanyaan lagi.
"Jadi, anda ingin menjadi seorang penulis? Novelis, contohnya?"
"Mmm..." Lagi-lagi, Lumina hanya mengangguk sebagai respon.
Sebagai seorang putri, Nona Lumina pasti dilarang untuk mencoba untuk meraih mimpi nya karena pada akhirnya, Nona Lumina akan dinikahkan kepada seorang putra dari bangsawan berpengaruh atau pangeran dari negara sahabat. Untuk sekarang seharusnya baik-baik saja, tapi jika memikirkan masalah pernikahan, khususnya bangsawan... Bisa saja hobi menulis Lumina dijadikan sebuah skandal atau cara untuk melecehkan nya. Tuan putri kedua Kekaisaran mengabaikan suami nya dan hanya memperdulikan kertas dan alat tulis, misalnya.
Menatap wajah gelap Lumina, Zone mulai memikirkan berbagai hal didalam kepalanya.
Memang benar bahwa masalah semacam itu hanya akan mengganggu hubungan pernikahan Tuan putri, dan hanya itu saja. Namun, itu hanya diawal. Lama-kelamaan, masalah itu akan memicu lebih banyak minat para bangsawan serakah yang mulai menyadari bahwa masalah ini dapat mereka gunakan untuk menjatuhkan Tuan putri serta menaikkan pengaruh mereka disaat yang bersamaan. Pada akhirnya, Tuan putri yang pada saat itu berada jauh dari Ibukota akan kehilangan cara untuk melawan semua itu, dan benar-benar jatuh.
Zone menyadari bahwa masyarakat bangsawan bukanlah sebuah tempat dimana seseorang dapat mendapatkan kemewahan karena mengatur uang rakyat demi kota. Masyarakat bangsawan lebih kompleks, kejam, dan dingin, dari apa yang mungkin semua orang bayangkan.
Masyarakat bangsawan adalah tempat perkumpulan orang-orang serakah yang menginginkan uang dan kekuasaan lebih dari apapun.
Jika kau memiliki sebuah kelemahan yang mudah ditemukan, maka selesai sudah. Kelemahan itu akan menjadi sebuah luka terbuka tempat para bangsawan menyerang tanpa belas kasihan.
Jadi, Zone menduga bahwa alasan dari Amertha dan Rodwiell menolak mimpi Lumina adalah demi kebaikan dirinya sendiri. Mereka tidak ingin anak perempuan mereka mengalami hal seperti itu, yang sangat dapat dimengerti walau sangat menyakitkan ketika kau menjadi pihak yang tertolak.
Namun... Itu hanya jika orang-orang mengetahui bahwa Lumina adalah sang penulis.
Zone memikirkan sebuah ide cemerlang di dalam kepalanya.
"Kalau begitu..." Zone memulai, tersenyum pada Lumina. "Gunakanlah nama lain, Nona Lumina!"
"... Nama lain? Apa maksudmu?" Lumina masih terlihat putus asa, tetapi ada cahaya harapan yang muncul di kedalaman mata biru itu.
Demi menjawab harapan itu dan karena menjaga mental Lumina juga mungkin adalah bagian dari tugas yang dia terima dari Permaisuri, Zone mulai menjelaskan ide nya pada Lumina.
Mata Lumina melebar mendengar perkataan Zone. "Apa itu akan berhasil?"
"Jika tidak berhasil, maka anda tidak memiliki pilihan lain selain menyerah, ya."
"Kau...!" Jawaban Zone terkesan sangat enteng seolah dia bahkan tidak terlalu peduli akan risiko dari rencana nya membuat Lumina kesal dan mencoba untuk memukul Zone, yang secara mengejutkan diterima oleh kesatria yang seharusnya sangat kuat hingga serangan seperti itu bisa dia hindari seperti bernapas.
Zone tersenyum.
"Jangan terlalu terburu-buru, Nona," ucap Zone, menggenggam tangan Lumina yang ia pakai untuk memukulnya dengan lembut.
"T-tapi-" Zone langsung menutup mulut Lumina dengan jari nya sebelum dia dapat mengeluh lagi.
"Melihat dan mengamati juga sebuah cara untuk mencapai keberhasilan, Nona. Mari kita lakukan secara perlahan dan pasti."
Zone secara tulus berempati pada kesulitan Lumina meskipun dia biasanya menjaga jarak dengan para bangsawan demi untuk terhindar dari perselisihan ala bangsawan yang merepotkan. Lagipula Zone juga adalah seorang pemimpi yang mimpinya pernah pupus di masa lalu. Bukan hanya tentang dirinya yang ingin menjadi seorang penyihir... Tetapi juga tentang orang yang pernah dia cintai...
Jadi, Zone sangat mengerti dengan perasaan frustasi dan putus asa yang Lumina rasakan.
... Jadi dia juga dapat tersenyum seperti ini, ya.
Perasaan tulus Zone muncul di wajahnya, membuat ekspresi wajahnya secara halus lebih lembut dari biasanya, yang ditemukan sangat mengejutkan bagi Lumina.
Namun, Zone tidak menyadari nya, dan tetap melanjutkan kata-kata nya.
"Jadi, bagaimana, Nona Lumina? Apakah anda ingin mengikuti saran saya untuk tetap mengejar mimpi anda dengan semua risiko yang mungkin ada di depan sana, atau tidak dan menyerah, lalu melupakan mimpi pertama anda yang berharga hanya untuk menyesal di kemudian hari?"
"Uh!"
Pertanyaan Zone terdengar menjebak bagi Lumina. Cara Zone mengatakan nya terdengar seolah bahwa satu-satunya pilihan bagi Lumina adalah untuk mengikuti saran nya. Lumina sendiri pun, jujur sangat ingin menyetujui nya.
Namun, sebelum itu, Lumina, yang sekarang sudah mendapatkan kembali energi nya yang biasa, harus memastikan sesuatu terlebih dahulu pada Zone.
"Zone, kau juga akan membantuku dalam rencana ini, bukan?"
"Hm? Tidak, saya hanya memberikan saran-" Di saat Zone sedang berusaha untuk menyangkal pertanyaan Lumina, Lumina langsung mendekatkan tubuhnya ke tubuh Zone. Senyuman memaksa tumbuh di bibirnya.
"KAU AKAN MEMBANTU, BUKAN?"
Dengan begitu, beban pekerjaan Zone pun kembali bertambah.