Freya tidak pernah menduga ia harus melepaskan sang kekasih, menyakiti perasaan pria yang ia cintai dan juga mengubur dalam perasaannya demi menikah dengan seorang Billionaire yang tidak ia kenal sama sekali.
Takdir seperti apa yang akan Freya jalani dan apa alasan dibalik ia bersedia menikah dengan pria asing tersebut? Lalu bagaimana jadinya jika ternyata pria yang sudah menjadi suaminya ternyata memiliki seorang istri yang artinya Freya hanya dijadikan sebagai istri kedua. Akankah Freya mempertahankan pernikahannya atau justru mengakhirinya dan kembali kepada kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ny.Laura dan Freya
Hai..hai semua😃 Jangan lupa tekan jempolnya sebelum membaca, berikan jempol merah dan tinggalkan komentar juga ya😁 dan untuk kesekian kalinya terima kasih bagi yang sudah menyumbangkan votenya. Kalian luar biasa🤗
Selamat membaca❤❤❤
.
.
.
Freya sedang berada di kamar Ny.Laura, membantu wanita tua itu mengemas pakaiannya. Freya sedang beristirahat di kamar setelah Daniel memberinya obat pereda mabuk, tapi belum sempat memejamkan mata kembali, Ny. Laura datang dan meminta bantuannya. Mau tidak mau Freya, akhirnya pun beranjak dari ranjangnya dan di sinilah dia di kamar wanita tua itu.
"Melihat betapa banyak pakaian yang kau kemas, sepertinya kau akan pergi ke tempat yang sangat jauh dalam jangka panjang, Nenek" Freya memasukkan pakaian terakhir yang dikemasnya ke dalam koper.
"Ya, aku akan mengunjungi temanku di Skotlandia" jawab Ny. Laura seraya memeriksa keperluan surat-suratnya.
"Wow, apakah temanmu itu keluarga dari kerajaan?"
"Bisa dikatakan seperti itu" Ny.Laura menatapnya sekilas, menyunggingkan senyum tipis lalu kembali melanjutkan kegiatannya memastikan bahwa surat-suratnya sudah lengkap.
"Aku berharap kau membawa Whisky dari sana sebagai ucapan terima kasihmu karena aku sudah membantumu packing. Aku dengar Skotlandia terkenal dengan Whisky-nya, bukan"
Ny.Laura menatap Freya, menatapnya dalam dan teduh, "Jangan menyiksa dirimu dengan mengkonsumsi alkhol jika tubuhmu tidak kuat"
"Aku tidak tahu kau sangat perhatian padaku, Nenek" Freya tersenyum lebar, seakan ia sudah melupakan kesedihannya, ia hanya tidak ingin menunjukkan kesedihannya di hadapan orang lain, ia benci tatapan iba dan penuh kasihan yang akan didapatkannya jika ia menunjukkan keterpurukannya.
"Apa kau sungguh tidak mengingat wanita tua ini?"
Freya kembali mempersembahkan senyum terindahnya, "Tentu saja aku mengingatmu, Nenek"
Ny. Laura tampak terkejut dengan jawaban ringan Freya, "Lalu kenapa kau bertingkah seakan tidak mengenalku saat kau menyapaku, di meja makan?"
"Ayolah Nenek, pertemuan kita sudah satu tahun yang lalu, aku kira kau sudah melupakanku, bukankah wanita tua biasanya rentan akan ingatannya" jawaban jujur, polos dan terang-terangan Freya membuat Ny. Laura tergelak.
"Jawabanmu seperti sedang menghina wanita tua ini"
"Tapi kau tahu aku sedang tidak menghinamu, bukan?" Freya mengerling jenaka. "Aku berbicara sesuai fakta" imbuhnya kemudian dan kembali membuat wanita tua itu tergelak.
"Terima kasih waktu itu sudah menuntunku menyebarangi jalan, dan terima kasih sudah menyelamatkanku dari pencuri tersebut" ucapnya tulus mengenang saat pertama kali mereka bertemu. Saat itu ia sedang ingin menghadiri rapat direksi di perusahaan yang dipimpin oleh Daniel, dan mobil yang dikendarainya rusak, dan mengharuskan ia naik taksi. Dan disitulah ia bertemu dengan Freya. Freya yang kebetulan berada di tempat yang sama tidak sengaja melihat seseorang dengan gelagat aneh mengikuti wanita tua itu, dan benar saja pria itu mempunyai maksud terselubung, ia berniat jahat untuk mencuri tas Ny.Laura.
"Jika aku tahu kau sekaya ini, aku akan membiarkan pencuri itu mengambil beberapa barangmu agar dia bisa memberi makan anak istrinya" pungkas Freya.
"Ya, aku melihat kau memberi uangmu pada pencuri itu" timpal Ny.Laura dan hal itulah yang membuatnya jatuh hati pada Freya, jatuh hati pada pandangan pertama.
"Dan percayalah Nenek, itu adalah uang sakuku selama satu bulan" ringis Freya, mengingat hal itu ingin rasanya ia menangis. Satu bulan tanpa uang jajan. Dan Ayahnya juga tidak mau tahu akan hal itu.
"Aku senang kau menikah dengan cucuku" Kini Ny.Laura sudah duduk bersisihan dengannya, menggenggam tangan Freya dengan sangat lembut, Freya terkejut untuk sesaat, sentuhan lembut seseorang sudah tidak pernah ia dapatkan, dan ia bisa merasakan wanita tua itu tulus padanya.
"Nenek, kesenanganmu berbanding terbalik denganku" ringisnya. "Aku terpaksa menikahi cucumu" lanjutnya lagi.
"Ck! Ucapanmu harusnya menyakitiku, tapi aku malah senang mendengarnya. Kau sangat terus terang dalam berucap. Aku berharap kau dan Daniel bahagia"
"Nenek" erang Freya, menurutnya itu adalah hal yang tidak mungkin. Hidup bahagia bersama seorang gay, Big No! Tidak akan ada kebahagiaan di sana, tapi makan hati. Freya membatin. Freya sungguh terharu atas keinginan mulia Ny.Laura yang menginginkan kebahagiaannya, tetapi di sisi lain kebahagiaannya tidak bisa disandingkan dengan Daniel. Mereka berlawan arah, tidak akan mungkin bersatu.
"Segeralah berikan aku cicit" pinta wanita itu mengabaikan erangan Freya.
"Ya Lord" Freya kembali mengerang. "Nenek, aku tidak mencintai cucumu, begitu pun Daniel. Aku tidak tahu kenapa aku ada di sini, tapi yang pasti aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu, tidak mungkin bagiku dan juga Daniel memproduksi bayi disaat alat produksi kami tidak mampu untuk bekerja sama, Nenek. Dengan tegas aku menolak dan harus mematahkan keinginanmu itu"
Lagi dan lagi Ny.Laura terbahak dibuatnya, disaat wanita itu memang mematahkan harapannya. "Kalau begitu lakukan disaat kau dan Daniel saling mencintai" imbuhnya dengan santai.
"Dan itu tidak akan mungkin terjadi, Nenek!" tegas Freya dengan sikap keras kepalanya.
"Siapa yang bisa menebak ke mana arah mata hatimu berlabuh, Nona muda?"
"Hati ini sudah tidak utuh lagi, Nenek. Ia sudah hancur berkeping-keping, akan sulit menyatukannya kembali" gumam Freya, sebelah tanganya menyentuh dadanya. Ia mengigit bibirnya menahan tangisannya agar tidak lepas begitu mengingat kembali pengkhianatan Sean, dan pria itu bahkan sampai sekarang belum menghubunginya. Pria itu benar-benar bertindak seperti pria brengsek. Freya menarik napas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar, berharap apa yang ia lakukan mampu menetralisir perasaannya yang berkecamuk. Freya menatap Ny.Laura lalu memaksakan diri untuk tersenyum "Aku hanya menunggu cucumu untuk menceraikanku, dan aku memutuskan akan menjadi biarawati, Nenek"
"Oh, gadis yang malang, ucapanmu membuatku sedih. Aku harap cucu brengsekku itu mampu membuat niatmu itu berubah" Ny.Laura membelai wajahnya dengan lembut. Mereka tidak menyadari kehadiran pria yang berdiri di ambang pintu sejak tadi mendengarkan perbincangan mereka, bahkan sesekali ia ikut terkekeh mendengar ucapan blak-blakan Freya.
Dasar, wanita keras kepala, batinnya. Tapi yang membuatnya juga heran adalah sikap Neneknya yang biasa keras dan angkuh, ia tidak melihatnya saat bersama Freya. Bahkan Neneknya berulang kali tertawa sekalipun wanita itu membantahnya. Bukan hanya Will, yang menyukainya, sepertinya Nenek juga.
"Nenek aku tidak akan pernah menyukai cucumu!" sergah Freya, Nenek tua ini sepertinya sengaja membuatnya kesal.
Tidakkah ia tahu cucu yang ia banggakan itu seorang penyuka sesama jenis.
"Kau kira aku juga menyukaimu?"
Freya dan Ny.Laura kompak menoleh ke sumber suara. Daniel melangkah masuk dengan santainya. Tatapannya tertuju pada Freya, tepatnya di bibir wanita itu. Sial, itu hanya kecupan seorang wanita mabuk, rutuknya dalam hati.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Seperti yang kau lihat"
"Ini ada berapa?"Daniel menunjuk jarinya yang membentuk huruf 'V'.
Freya memutar bola mata jengah, "Dua" jawabnya dengan nada malas.
"Good. Itu artinya kewarasanmu sudah pulih" imbuhnya. "Aku khawatir kau tiba-tiba menyerangku kembali"
"Kapan aku menyerangmu?" Freya menatapnya penuh selidik. Ia memang sangat kacau saat mabuk, dan kebiasaan buruk lainnya adalah ia bahkan tidak bisa mengingat apa yang terjadi saat ia sedang mabuk. Bahkan kenapa ia bisa sampai di rumah Daniel, ia juga tidak tahu.
"Kau memuntahkan semua kotoranmu dipakaianku" bohong Daniel, tidak mungkin baginya mengatakan wanita itu menciumnya.
"Oh, kalau begitu kotoranku tahu dimana tempatnya" tukasnya lempeng, tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Kau tahu kau sangat menyebalkan?" sengit Daniel.
"Ya, itu memang keahlianku" Freya tersenyum mengejek, sengaja untuk memprovokasi Daniel.
Daniel menghela napasnya, "Nenek, apa kau sudah siap?" Daniel mengalihkan fokusnya pada Neneknya yang dari tadi menikmati perbincangan unfaedah suami istri yang tidak diharapkan itu. Ny.Laura terkekeh lalu menganggukkan kepalanya. Daniel pun membawa koper Neneknya, ia yang akan mengantar Neneknya ke bandara.
"Jaga kesehatanmu, di sana dan terus hubungi aku"
"Ya" jawab Ny.Laura singkat. Ia berharap begitu ia kembali dari libur panjangnya, Daniel dan Freya sudah menjalin hubungan seperti yang diharapkannya.