"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5.
Wajah Luis sangat menyeramkan, saat Nigel menarik tangan Laura.
"Siapa kamu?!" tanya Luis marah.
"Aku pacar Laura," sahut Nigel.
Luis sedikit terkejut, lalu tatapannya beralih ke arah Laura.
Laura hanya menundukkan wajahnya.
Sementara semua anggota tim basket dan cheerleader SMA Bintang juga nampak terkejut, dengan ucapan Nigel yang mengaku sebagai pacar Laura.
Karena setahu mereka, Laura jarang sekali keluar rumah atau terlihat nongkrong di cafe dan mall.
Mengingat status Laura sebagai anak pelayan rumah Luis, darimana dia mengenal Nigel yang notabene juga tuan muda kelas atas dikota Utara?
Tanda tanya besar itu juga mengganjal di otak semua orang yang mengenal Laura.
Sementara para murid yang menjadi penonton di tribun, malah kegirangan melihat aksi Nigel yang terlihat begitu romantis.
Melihat Laura diam, Nigel segera membawa Laura meninggalkan lapangan basket dan membawanya menuju UKS.
Sementara Luis menatap punggung Nigel dengan tangan terkepal, "Laura sepertinya aku terlalu meremehkan mu! Jangan-jangan pria yang membuatmu hamil adalah Nigel!" Gumam Luis dalam hatinya, semakin membayangkannya hatinya malah semakin terasa sakit.
Emma bingung dengan reaksi Luis. Ia lalu berjalan mendekat dan mengambil botol air mineral yang jatuh.
"Luis, kamu nggak usah marah. Aku yang akan membawa botol ini!" ujar Emma dengan senyuman manis.
Saat ia hendak berjongkok, Luis menghentikannya. "Menjauhlah!" ucapnya dengan nada marah. Beberapa anggota tim basket saling berpandangan.
Walaupun Luis sering bersikap dingin pada Emma, tapi ia belum pernah membentaknya.
Sontak Emma pun terkejut, "Apa?"
Luis akhirnya tersadar, untuk apa ia marah dan melampiaskannya pada Emma.
"Lebih baik kamu kembali ke timmu. Aku yang akan membereskannya," kata Luis, yang langsung membuat Emma tersenyum.
Gadis itu salah paham, mengira Luis sangat perhatian dan tak mengizinkannya membawa botol-botol air mineral maupun handuk handuk miliknya, karena biasanya barang-barang itu sudah dibawakan oleh petugas lapangan.
Mengingat SMA Bintang termasuk salah satu sekolah elite.
Padahal Luis cuman tidak ingin slayer milik Laura yang terjatuh dipegang orang lain, tapi agar tidak membuat yang lain curiga.
Laki-laki itu pura-pura mengambil beberapa botol air mineral, agar teman-temannya yang lain tidak menaruh curiga.
Sementara itu di ruang UKS.
Nigel duduk dengan hati-hati di bangku UKS, tangannya yang hangat dan cekatan membersihkan luka lecet di siku Laura dengan kapas yang dibasahi antiseptik.
Wajahnya tampak tenang namun penuh perhatian, sorot matanya tak pernah lepas dari luka yang sedang ia rawat.
Laura menatapnya dengan mata yang masih sedikit bingung dan lelah, rasa sakit di tubuhnya mereda sedikit karena sentuhan lembut Nigel.
"Kenapa kamu baik dan sangat peduli padaku?" suara Laura lirih, diselingi napas pendek.
Matanya menatap dalam ke arah Nigel, mencari jawaban dari kebaikan yang tak biasa dia rasakan sejak kehilangan ingatannya.
Selama ini, hanya ayahnya yang selalu menyayanginya tanpa syarat, namun kini ada sosok lain yang membuat hatinya hangat.
Nigel tersenyum ringan, menatap Laura dengan penuh kehangatan. "Udah aku bilang, kita tumbuh bersama sejak kecil. Bukankah katanya kamu ingin jadi istriku?"
Ucapan Nigel sontak membuat pipi Laura memerah. "Apakah benar dulu aku bilang begitu? Soalnya aku hanya anak haram ..."
Laura benar-benar sulit mempercayai ucapan Nigel, mengingat dirinya hanya anak haram.
Tadi beberapa temannya banyak yang membicarakan Nigel, dia termasuk jajaran keluarga konglomerat dikota Utara. Tidak mungkin kedua orang tua Nigel membiarkan putra semata wayangnya bertumbuh bersama dengan anak haram seperti dirinya.
Laura malah merasa tidak mempercayai ucapan Nigel.
Nigel malah bingung dengan ucapan Laura, yang membahas anak haram. Tapi saat ingin menjelaskan.
Wajah Laura malah berubah murung dan pucat.
"Maaf tadi aku mengaku jadi pacarmu." Suaranya mengandung nada bercanda, namun ada kejujuran di balik candaan itu yang membuat suasana menjadi lebih akrab.
Laura menggeleng pelan, bibirnya membentuk senyum tipis yang tulus. "Terimakasih," ucapnya singkat, tapi penuh makna.
Tiba-tiba Laura merasa pusing, bahkan pandangannya menggelap.
Nigel pun memilih menelpon rumah sakit miliknya agar menyiapkan tempat, dan membawa Laura kesana dengan mobilnya.
Di lapangan basket, pertandingan akan segera dimulai.
Tapi salah ketua tim basket SMA Garuda mengumungkan jika ketua tim mereka tidak bisa ikut bertanding, karena ada urusan yang mendesak.
Hal itu membuat para penonton kecewa.
Bukan hanya para penonton saja, melainkan dengan Luis juga.
Luis berkata pada Aron, "kamu juga katakan pada panitia. Kalau aku juga nggak bisa ikut tanding, ayahku tiba-tiba menelponku."
Aron pun mengangguk. Tanpa menaruh curiga.
Hal itu sontak membuat semua penonton bertambah kecewa, tak kecuali Emma.
Ntah kenapa Emma merasakan ada yang janggal dengan kepergian pacarnya, tapi dia memilih mengabaikan perasaannya.
Mengingat ayah Luis sangat sibuk dengan bisnisnya yang banyak, semua bisnisnya diurus sendiri, mengingat Lucian Wilson putra tunggal dikeluarganya. Dan masuk ke dalam jajaran orang terkaya di kota Utara.
"Mungkin ada urusan mendesak," gumam Emma seraya memandang punggung pacarnya.
Luis dengan amarah berkobar berlari ke UKS, tapi sayang disana Laura tidak ada.
Ia ingin menelpon, tapi tidak punya nomor ponsel Laura.
Luis membuka daftar blokir, tapi nomor yang ia blokir banyak sekali. Ia bingung yang mana nomor Laura.
Ditengah kebingungannya, ia mendapatkan telepon dari ayahnya.
Lucian sangat marah pada Luis, karena tidak menjaga Laura dengan baik dan menyebabkan Laura sekarang ini berada dirumah sakit.
Luis mengemudikan mobilnya dengan kecepatan 200 km/jam guna meluapkan amarahnya yang sudah sampai ubun-ubun. "Kamu pura-pura sakit karena hari ini nggak mau jadi pesuruhku, dan pastinya agar kamu bisa berduaan dirumah sakit dengan pacar sialanmu itu-kan Laura?"
Mobil mewah Luis berkilauan di bawah sinar matahari pagi, terparkir rapi di area VVIP rumah sakit Utara.
Langkahnya yang jenjang dan mantap menghentak aspal, jersey basket SMA yang membungkus tubuh atletisnya membuatnya tampak seperti raja di lingkungan sekolah.
Wajahnya penuh amarah yang terkendali saat ia menapaki lorong menuju ruang perawatan Laura.
Di dalam ruangan yang berbau antiseptik itu, Laura masih mengenakan seragam SMA yang kusut, matanya yang semula kosong mulai terbuka perlahan.
Tubuhnya yang lemah seketika tegang ketika tangan Luis tiba-tiba melingkar erat di lehernya, cekikan yang tidak hanya menyakitkan secara fisik, tetapi juga melukai harga dirinya.
"Laura," suara Luis berat, penuh dendam dan kecurigaan yang membara, "sepertinya di balik kepolosanmu itu, kamu benar-benar sosok yang liar. Nigel adalah ayah dari bayi yang kamu gugurkan, bukan?"
Mata Laura membelalak, dadanya naik turun berusaha menarik napas dalam-dalam agar tidak pingsan lagi.
Ia menggeleng keras, suara seraknya nyaris tak terdengar, "Aku sudah bilang berkali-kali… ASI-ku keluar karena kelebihan hormon. Bukan karena itu."
Namun ketegangan di wajah Luis tidak surut.
Tatapannya yang dingin menusuk seperti pisau, seolah menuntut kebenaran yang belum ia terima.
Tubuh Laura gemetar, bukan hanya karena cekikan, tapi juga karena beban tuduhan yang menghancurkan hatinya perlahan.
Di balik rasa sakit itu, matanya menyimpan ketakutan dan keputusasaan yang dalam, terjebak dalam pusaran amarah dan kesalahpahaman yang belum menemukan titik terang.
"Aku mati kalau kamu nggak melepaskannya," ujar Naura di sisa-sisa tenaganya.
Tiba-tiba pintu dibuka, orang yang baru masuk terkejut melihat Luis mencekik leher Laura.